NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Jangan Jatuh Cinta Pada Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan dan ungkapan perasaan.

PANTAI - JAM 5.10 SORE

Setelah sesi foto selesai, Jayden merasa tidak tenang. Ia masih terbayang paras cantik gadis di hadapannya ini.

Tiba-tiba muncul ide agar Jayden tidak menjadi canggung.

"Eh Chey, liat deh." Jayden menunjuk ke arah kerang di pasir. "Itu mirip lo."

Cheyrin mengerutkan dahi. "Apanya yang mirip?"

"Keras di luar, kosong di dalam." jawab Jayden cepat sambil lari.

"JAYDEN!!!" Cheyrin langsung mengejarnya. "Kurang ajar lo ya!"

Mereka berlari di atas pasir. Jayden sengaja berlari zig-zag. Cheyrin berusaha mengejar, tapi dia tidak mampu menandingi lari nya Jayden.

"Berhenti! Gue serius!" teriak Cheyrin.

Jayden berhenti di kejauhan. Ia membalikkan badan sambil terengah. "Lah, lambat banget larinya"

Cheyrin menyerah. Ia berjalan ke arah bebatuan dan langsung duduk. "Udah ah. Capek."

Jayden mengintip dari jauh. Melihat Cheyrin benar-benar diam, ia jadi merasa bersalah.

"Yaudah tunggu sini." katanya pelan.

Tidak lama kemudian Jayden kembali dengan membawa dua botol air mineral dingin. Ia duduk di samping Cheyrin, memberi jarak sekitar satu kepalan tangan.

Mereka terdiam. Hanya ada suara ombak dan angin.

Langit berubah menjadi oranye keemasan. Matahari hampir tenggelam sepenuhnya.

Jayden melirik. Cheyrin sedang menatap ke arah horizon. Matanya kosong. Bibirnya tidak tersenyum seperti biasanya.

"Kenapa?" tanya Jayden. "Mikirin hasil foto gue yang jelek?"

Cheyrin tersenyum kecil. "Bukan. Liat deh sunsetnya bagus."

Jayden menghela napas. "Gausah bohong. Lo gak ahli dalam hal itu."

Cheyrin terdiam. Ia memeluk lututnya.

"Dulu..." ucap Cheyrin pelan. "Gue sering ke pantai kayak gini sama Papa sama Mama. Kita kejar-kejaran juga. Terus duduk bareng sambil liat sunset."

Suara Cheyrin tercekat. "Sekarang momen itu cuma jadi kenangan. Soalnya mereka udah pisah."

Dada Jayden terasa sakit. Ia tidak tahu harus berkata apa.

Akhirnya Jayden mengulurkan tangannya. Di telapak tangannya ada seekor kepiting kecil.

"Nih." kata Jayden mencoba mencairkan suasana. "Temen baru lo."

Cheyrin terkejut. "IH JAYDEN!!!" Ia langsung melonjak berdiri dan berlari.

Giliran Jayden yang mengejar sambil membawa kepiting itu. "Sini sini, dia pengen kenalan!"

"Taruh itu! Taruh gak!" Cheyrin tertawa sambil lari.

Sore itu ditutup dengan tawa.

Di antara bercanda dan luka, mereka menemukan cara untuk tetap saling ada.

JAM 20.12 MALAM

Sebelum pulang, mereka mampir makan dulu. Jayden bersikeras.

"Gak mau lo pulang kelaparan." katanya waktu memesan nasi goreng dua porsi.

Setelah selesai makan, mereka langsung pulang.

Namun baru 10 menit berkendara, angin tiba-tiba terasa sangat dingin. Awan hitam menutupi langit. Rintik hujan mulai turun.

Jayden tidak mau mereka basah. Ia segera menepikan motor di depan sebuah ruko kosong yang pintunya sudah tertutup.

Dengan sigap Jayden membukakan helm Cheyrin. Rambut Cheyrin yang dicepol langsung terurai karena angin.

Hujan semakin deras saat mereka berteduh. Untungnya mereka tidak terlalu basah. Jalanan di wilayah itu sunyi. Tidak ada kendaraan yang lewat.

Jayden menghela napas. "Maaf ya."

Cheyrin tertawa kecil. "Ngapain minta maaf, emang lo yang nurunin hujannya?"

Jayden menggaruk tengkuknya. Ia melirik Cheyrin yang sedang memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan.

Tanpa pikir panjang, Jayden melepaskan jaket motornya dan menyampirkannya ke bahu Cheyrin.

"Dingin. Nanti lo masuk angin." ucapnya.

Cheyrin tersenyum kecil. "Makasih ya."

Hujan tidak kunjung reda. Justru semakin lebat. Angin bertiup kencang hingga air hujan mulai menerpa sisi tubuh Cheyrin.

Refleks, Jayden menarik Cheyrin mendekat ke arahnya. Satu tangannya merangkul bahu Cheyrin agar tidak terkena tempias.

Dari jarak sedekat ini, Cheyrin bisa mencium aroma parfum Jayden yang maskulin. Cheyrin masih memeluk tubuhnya karena udara semakin dingin.

"Kalau besok Lo sakit, gue minta maaf ya." kata Jayden pelan.

Cheyrin tertawa kecil. "Gue gak selemah itu."

Hening sejenak.

"Lo deg-degan ya?" tanya Cheyrin tiba-tiba sambil menatap ke depan.

Jayden langsung menoleh. "Hah?"

"Detak jantung lo kedengeran banget." lanjut Cheyrin.

Jayden mendesah. "Ya kalau gak kedengeran gue mati dong."

Mereka berdua tertawa. Suasana canggung sedikit mencair.

Tiba-tiba Jayden bersuara. "Chey."

Cheyrin mendongak. "Hm?"

Mereka saling menatap. Tangan Jayden masih merangkul bahu Cheyrin. Di luar, hujan dan gemuruh petir menjadi satu-satunya suara.

"Mau jadi pacar gue gak?"

Hening.

Pertanyaan itu kembali terlontar. Sama seperti dua tahun lalu. Ternyata Jayden tidak pernah menyerah.

Cheyrin berdehem untuk menghilangkan kecanggungan. Jayden langsung menarik tangannya.

"Sorry." ucapnya cepat.

Keduanya kembali menjaga jarak.

Sebenarnya, tanpa status pun orang lain akan mengira mereka sepasang kekasih. Tapi nyatanya tidak.

Apalagi sekarang Jayden mulai curiga Steven menyukai Cheyrin. Karena itulah ia memberanikan diri bertanya lagi. Sebelum Steven mendahuluinya.

Hujan masih turun deras di tengah keheningan keduanya.

Sampai pada.

JAM 22.00 MALAM

Hujan tidak kunjung berhenti.

"Udah, kita pulang aja." kata Jayden akhirnya. "Daripada nunggu gak jelas."

Mereka akhirnya memaksakan diri pulang. Kondisi basah kuyup.

Jayden melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Jaket motornya sudah ia berikan pada Cheyrin. Alhasil, tubuh Jayden hanya tertutup kemeja putih tipis yang kini mulai basah dan menempel di kulitnya.

Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan kos Cheyrin.

Sebelum Cheyrin membuka gerbang, ia buru-buru melepaskan jaket dan helm dari kepalanya.

"Tunggu." Jayden menahan. "Mau ngapain? Jangan."

"Jay, ini hujan deras banget loh." kata Cheyrin khawatir. "Masak lo gak pake jaket. Masuk angin lo ntar."

Jayden tetap bersikeras. Matanya menatap lurus ke arah gerbang. "Udah, cepet sana masuk. Nanti lo basah."

Ia menyuruh Cheyrin membawa jaket dan helm itu tanpa melepasnya.

Kecanggungan masih menggantung di antara mereka. Pertanyaan tadi belum juga mendapat jawaban.

Jayden menghela napas pelan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menyalakan mesin motornya. Suara Ninja meraung, membelah hujan yang semakin deras.

Dari kaca spion, ia melihat Cheyrin masih berdiri di depan pintu. Memeluk jaketnya erat. Basah. Dan masih membawa pertanyaan yang belum ia jawab.

Hujan menutupi semuanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!