NovelToon NovelToon
The Alpha'S Secret Girl

The Alpha'S Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Bab 24: Hari-Hari Pertama di Bawah Atap yang Sama

Matahari pagi di awal musim hujan menyapa kota dengan rintik air gerimis yang menempel di kaca jendela kamar lantai dua. Udara terasa begitu sejuk, membawa aroma tanah basah yang menenangkan ke dalam ruangan berukuran sedang bernuansa putih dan abu-abu muda itu. Di atas tempat tidur king size yang tertata rapi, Rangga Dewantara Aldebaran perlahan mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari pagi yang mulai menembus tirai tipis kamar.

Rangga menarik napas dalam-dalam, merasakan sensasi asing namun sangat menenangkan di dadanya. Tidak ada lagi dering alarm ponsel mewah berisik, tidak ada lagi bayangan kamar megah berdebu di rumah keluarga Aldebaran yang terasa dingin dan kaku, dan yang paling penting—tidak ada lagi rasa gelisah atau amarah yang mendominasi pikirannya setiap kali membuka mata di pagi hari.

Ia menolehkan kepalanya ke sisi sebelah kanan. Di atas bantal putih bersih di sebelahnya, sesosok wanita dengan selimut rajut abu-abu tampak tertidur pulas. Wajah Keisha Zahra Aurellia—yang kini telah resmi bergelar sebagai Nyonya Aldebaran—tampak begitu tenang, damai, dan cantik alami tanpa polesan makeup sedikit pun. Jemari tangan kanan wanita itu melingkar erat di atas selimut, memperlihatkan kilau cincin perak pernikahan yang melingkar sempurna di jari manisnya.

Rangga tersenyum tipis. Perasaan hangat menyelimuti sekujur tubuhnya. Semalam adalah malam pertama mereka resmi tinggal di rumah sewaan baru yang lebih layak—sebuah rumah petak modern minimalis di kawasan perumahan tenang dekat kampus, hasil dari tabungan keringatnya sendiri selama bekerja di bengkel dan tunjangan awal proyek perusahaan ayahnya. Meskipun rumah itu tidak sebesar istana keluarga Aldebaran, tempat itu memiliki nyawa dan kehangatan yang tidak pernah bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.

Dengan sangat berhati-hati agar tidak membangunkan istrinya, Rangga mengangkat tubuhnya perlahan dari tempat tidur. Ia mengenakan kaos oblong hitam polos dan celana training abu-abu, lalu melangkah pelan keluar kamar menuju area dapur kecil di lantai bawah untuk membuat dua cangkir kopi hitam dan menyiapkan sarapan sederhana.

Suasana pagi di lingkungan rumah baru itu terasa sangat asri. Suara rintik hujan berpadu dengan kicauan burung gereja di dahan pohon mangga milik tetangga sebelah menciptakan melodi damai yang mengawali pagi hari pertama mereka sebagai suami istri. Rangga mulai meracik dua cangkir kopi, memotong beberapa lembar roti tawar, dan menggoreng telur mata sapi di atas kompor gas kecil.

Belum selesai ia menata sarapan di atas meja makan kayu minimalis, terdengar suara langkah kaki ringan menuruni anak tangga kayu.

Rangga menoleh ke arah tangga dan melihat Keisha berjalan turun. Wanita itu mengenakan gamis rumah rumahan berwarna sage green dengan. Wajah Keisha tampak sedikit merona malu, menyadari bahwa ia baru saja bangun agak kesiangan di hari pertama mereka tinggal bersama.

"Pagi, suami... eh, Kak Rangga," sapa Keisha kikuk, menghentikan langkahnya sejenak sambil merapikan letak rambutnya dengan salah satu tangan.

Rangga meletakkan spatula di tangannya, lalu tersenyum lebar menghampiri Keisha. Ia merangkul pinggang ramping istrinya dengan lembut, membawa wanita itu mendekat ke arahnya.

"Pagi juga, istriku tercinta," bisik Rangga tepat di dekat telinga Keisha, mengecup sekilas puncak kepala wanita itu. "Tidurmu nyenyak malam tadi?"

Keisha mendongak, menatap manik mata kelam suaminya dengan senyuman manis yang merekah di bibirnya. "Nyenyak banget, Kak. Rasanya tenang... kayak nggak ada beban sama sekali." Keisha mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dapur dan ruang tamu mungil yang tertata rapi. "Aku bahkan sempat mikir, ini beneran nyata atau aku lagi mimpi indah."

"Ini nyata, Keish," jawab Rangga mantap, menggenggam kedua tangan Keisha di dadanya. "Mulai hari ini, dan seterusnya, rumah ini adalah istana kita. Apapun yang terjadi di luar sana, di sinilah tempat kita pulang."

Keisha merasakan matanya sedikit menghangat. Haru membuncah di dadanya mengingat bagaimana jalan panjang yang harus mereka tempuh untuk bisa berada di titik ini. Dari ancaman geng motor, pertentangan keluarga yang keras, hingga air mata ketakutan di masa lalu—semuanya kini terbayar lunas dengan kedamaian sederhana di bawah satu atap.

"Ya udah, yuk sarapan dulu sebelum keburu dingin. Hari ini kan Kak Rangga harus masuk kantor pagi buat meeting pertama divisi teknik, dan aku juga harus ke kampus ngurus jadwal KRS semester baru," ajak Keisha melepaskan pelukan perlahan, lalu membantu suaminya menyiapkan piring dan cangkir di atas meja makan.

Pukul delapan pagi, hujan gerimis telah berhenti, meninggalkan udara segar berembun di sepanjang jalanan kota. Rangga mengantar Keisha terlebih dahulu ke gerbang utama universitas dengan motor matic sederhana yang mereka beli dari hasil cicilan halal pertama Rangga.

"Belajar yang bener ya, Bu Pengawas Akademik. Nanti siang lewat jam istirahat aku jemput buat makan siang di dekat fakultas ekonomi," ujar Rangga sambil merapikan helm bogo putih yang dikenakan Keisha.

Keisha tersenyum manis dari atas motor, merapikan jaket yang dikenakan suaminya. "Iya, Kak. Hati-hati juga di jalan bawa motornya ke kantor. Jangan ngebut-ngebut kayak waktu jaman masih jadi ketua geng motor."

Rangga terkekeh pelan mendengar ledekan istrinya itu. "Siap, laksanakan, Nyonya Aldebaran!"

Setelah menurunkan Keisha di depan gerbang kampus, Rangga memutar arah kendaraannya menuju gedung Aldebaran Engineering & Automotive Hub di kawasan bisnis pusat kota. Setibanya di basement gedung, beberapa pegawai dan staf keamanan menyambutnya dengan sapaan hormat. Meskipun Rangga adalah putra kandung sang pemilik perusahaan, tidak ada lagi sorot mata meremehkan dari para karyawan senior; mereka tahu persis bahwa pemuda di hadapan mereka kini adalah seorang kepala mekanik sekaligus direktur operasional muda yang turun tangan langsung memperbaiki mesin dan menguasai lapangan dengan keringatnya sendiri.

Begitu ia melangkah masuk ke ruang kerjanya di lantai sepuluh, sebuah dokumen laporan proyek mesin industri sudah tersusun rapi di atas meja kerjanya. Rangga melepas jaketnya, duduk di kursi kerjanya, lalu menarik napas panjang. Lembaran hidup yang sesungguhnya baru saja dimulai hari ini.

Sementara itu di lingkungan kampus, Keisha berjalan menyusuri koridor fakultas ekonomi bersama sahabat karibnya, Sintia, yang sudah menunggu di depan ruang sekretariat jurusan.

"Wihhh... bau-bau pengantin baru nih beda banget auranya!" ledek Sintia langsung begitu melihat kedatangan Keisha dengan senyuman cerah di wajahnya. "Gimana rasanya malam pertama tinggal serumah sama mantan ketua Black Raven yang kini jadi direktur muda, Keish?"

Keisha mencubit pelan lengan sahabatnya itu sambil tertutup malu-malu. "Ih, Sintia! Mulai deh kebiasaan jailnya."

"Eh, seriusan, aku tuh kagum banget sama perjalanan cinta kalian," lanjut Sintia dengan nada suara yang mulai melunak dan serius. "Jarang banget ada pasangan remaja zaman sekarang yang tahan banting ngelewatin badai sosial separah kalian, terus berakhir bahagia di pelaminan tanpa ninggalin kuliah."

Keisha menatap lurus ke depan, memperhatikan lalu-lalang mahasiswa lain di koridor kampus. Di dalam hatinya, ia sangat membenarkan ucapan sahabatnya. Cinta bukanlah tentang seberapa mewah fasilitas yang bisa diberikan, melainkan tentang seberapa besar keberanian dua orang manusia untuk saling menggenggam tangan di tengah badai, menolak menyerah pada keadaan, dan berani membangun masa depan dari nol dengan cucuran keringat sendiri.

"Bukan karena aku hebat, Sin," ucap Keisha lembut penuh kesungguhan. "Tapi karena Kak Rangga punya komitmen dan tanggung jawab besar untuk berubah menjadi pria yang layak dibanggakan."

Menjelang pukul dua siang, sesuai dengan janjinya, Rangga sudah menunggu di depan pelataran kantin kampus saat jam istirahat siang tiba. Mengenakan kemeja kerjanya yang lengannya dilipat hingga siku, pemuda itu tampak berdiri santai sambil memainkan kunci motor di tangannya.

Begitu melihat sosok wanita berjalan menghampirinya dengan membawa setumpuk buku catatan, sorot mata Rangga langsung melunak secara drastis. Senyuman hangat terkembang di bibirnya.

"Udah lama nunggu, Kak?" tanya Keisha sesampainya di hadapan Rangga.

Rangga menggeleng pelan, lalu merangkul bahu istrinya dengan penuh kasih sayang. "Belum kok, baru sepuluh menit. Mau makan siang di mana hari ini? Masakan kantin atau kita cari mi ayam langganan kita di ujung jalan?"

"Mi ayam langganan aja! Aku lagi pengin kuah hangat yang pedas," jawab Keisha antusias.

Rangga tertawa renyah, merangkul tubuh istrinya berjalan berdampingan meninggalkan area kampus di bawah terik matahari siang yang mulai menghangat. Tidak ada lagi bayangan masa lalu yang kelam, tidak ada lagi ketakutan akan hari esok. Yang ada hanyalah derap langkah pasti dari dua insan yang berjalan beriringan, merajut hari demi hari di bawah atap sederhana penuh berkah, cinta, dan harapan yang takkan pernah padam.

1
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak tetap semangat berkarya ya kak jangan patah semangat oh ya kak aku punya novel baru yang berjudul cinta tiada ujungnya tolong mampir ya kak terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!