NovelToon NovelToon
Young Master Vincentes

Young Master Vincentes

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.

Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.

Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cincin di Tengah Malam

Malam telah larut. Bulan sabit menggantung di langit Ragonves seperti sabit perak yang siap menebas kegelapan. Angin malam berhembus dingin, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang berguguran. Halaman depan kediaman keluarga Vincentes tampak sunyi, hanya diterangi oleh lampu-lampu taman yang redup.

Dua sosok bergerak dengan hati-hati di antara semak-semak, berusaha menghindari sorotan lampu dari jendela-jendela rumah. Langkah mereka pelan, nyaris tidak bersuara, seperti dua bayangan yang menyusup di malam hari.

Grey merunduk di balik pagar taman, matanya mengamati setiap sudut rumah. Ia menahan napas, mendengarkan apakah ada suara langkah kaki atau suara ayahnya yang marah dari dalam.

"Tuan," bisik Ressa di belakangnya, suaranya nyaris tak terdengar, "mengapa kita harus sembunyi-sembunyi?"

Grey menoleh, meletakkan jari telunjuk di bibirnya. "Biar aman saja," jawabnya singkat. "Ayahku pasti sudah menunggu sejak sore. Jika ketahuan aku baru pulang sekarang, dia akan bertanya banyak hal."

Ressa mengangguk, meskipun hatinya penasaran. Ia mengikuti Grey dengan langkah hati-hati, berusaha meniru gerakan pemuda itu.

Mereka mencapai pintu utama. Grey meraih gagang pintu dengan perlahan, memutar dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berdecit.

Pintu terbuka.

Dan Grey langsung membelalak.

Di kursi ruang tamu, di bawah cahaya lilin yang redup, Gran Vincentes duduk dengan tenang. Secangkir teh masih mengepul di tangannya, dan matanya yang tajam langsung tertuju pada Grey.

Wajah tua itu tidak marah—tetapi tatapannya cukup membuat Grey bergidik.

"Darimana saja kau, Grey?" tanya Gran, suaranya datar namun penuh tekanan. "Beberapa hari kau menghilang tanpa kabar. Aku sudah mengirim utusan ke mana-mana."

Grey meneguk ludahnya, berusaha tersenyum cerah. "Ayah, aku—"

Gran mengalihkan pandangannya ke belakang Grey. "Ressa? Kau membawa Ressa juga?" Alisnya berkerut. "Apa-apaan dengan sikapmu ini, Grey? Apa kau memanfaatkan gadis ini untuk sesuatu?"

Grey segera menggeleng cepat. "Bukan, Ayah! Kita hanya berlatih teater. Ya, teater. Untuk acara jamuan minggu depan. Benarkan, Ressa?"

Ia melirik ke arah Ressa dengan tatapan memohon.

Ressa yang masih berdiri di ambang pintu segera mengangguk dengan mantap. "Benar, Tuan Gran. Kami berlatih teater bersama. Tuan Grey tidak punya masalah apa pun. Saya bersumpah."

Gran menyipitkan matanya. Pandangannya beralih dari Ressa ke Grey, lalu kembali lagi. Ia mengamati raut wajah putranya—masih sama seperti biasanya, cerah dan ramah.

Namun, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tetapi bisa ia rasakan. Ada kilatan kecil di mata Grey—kilatan yang mencoba disembunyikan.

"Ada yang disembunyikan anak ini," pikir Gran dalam hati. "Tapi aku tidak bisa memaksanya sekarang."

"Baiklah," ucap Gran akhirnya, menghela napas panjang. "Kalau begitu, Ayah percaya padamu, Grey."

Grey menghela napas lega, bahunya tampak turun. "Terima kasih, Ayah. Aku berjanji tidak akan menghilang lagi tanpa kabar."

Gran hanya mengangguk singkat. "Kau sudah dewasa, Grey. Aku tidak bisa terus mengawasimu. Tapi ingat, nama keluarga Vincentes ada di pundakmu."

Grey menunduk. "Aku tahu, Ayah."

---

Lorong Sunyi

Grey dan Ressa berjalan berdampingan di lorong yang gelap menuju kamar-kamar mereka. Lampu dinding menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding.

"Hari ini panjang sekali," gumam Grey pelan.

Ressa hanya mengangguk, masih diam.

Sampai di depan pintu kamar Grey, ia berhenti. Ia menoleh ke arah Ressa, dan untuk sesaat, wajahnya tampak lembut.

"Tunggu, Ressa."

Ressa menoleh, bingung. "Ada apa, Tuan?"

Grey mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya—sebuah cincin perak kecil. Tidak mewah, tidak berhiaskan permata, tetapi berkilau indah di bawah cahaya lampu. Ukiran bunga mawar kecil menghiasi permukaannya, sederhana namun elegan.

"Ini untukmu," ucap Grey, tersenyum kecil. "Hadiah karena kau mau menemani hariku hari ini. Dan karena kau membantuku di depan ayahku tadi."

Ressa terkejut. Matanya membulat. "Tuan, saya tidak bisa menerima—"

Namun sebelum ia bisa menolak, Grey sudah menggenggam tangannya dan memasangkan cincin itu ke jari manisnya. Gerakannya lembut, hati-hati, seperti ia sedang menangani sesuatu yang berharga.

Ressa terdiam. Ia menatap cincin di jarinya—perak berkilau, ukiran mawar kecil, pas sempurna.

"Terima kasih," ucapnya akhirnya, suaranya hampir berbisik.

Grey mengangguk. "Kalau begitu, istirahatlah. Aku tak ingin kau lelah karena memaksakan diri."

Ia menatap Ressa sekali lagi, lalu berbalik dan masuk ke dalam kamarnya. Pintu tertutup perlahan, meninggalkan Ressa sendirian di lorong.

Ressa masih berdiri mematung, menatap cincin di jarinya dengan rasa tak percaya.

"Tuan Grey..." gumamnya pelan, "dia berubah?"

Ia masih mengingat hari-hari sebelumnya—Grey yang selalu memuja Keilla, Grey yang rela melakukan apa pun demi gadis itu, Grey yang matanya berbinar setiap kali nama Keilla disebut. Dan sekarang... Grey bahkan tidak memikirkan Keilla lagi.

Ressa menggenggam erat cincin itu, merasakan dinginnya logam di kulitnya.

"Tapi aku tidak punya alasan mencampuri masalah mereka," pikirnya. "Aku hanya pelayan."

Namun, ia teringat pada peringatan Sebastian. Saat pertama kali ia mulai bekerja di rumah ini, kepala pelayan tua itu memanggilnya ke ruang kerjanya.

"Ressa, ingatlah pesanku," kata Sebastian waktu itu, suaranya serius. "Tuan Grey bukanlah pemuda biasa. Dia sangat ahli menyembunyikan ekspresinya, meskipun dalam keadaan berbahaya sekalipun. Hati-hatilah jika kau terlalu dekat dengannya."

Ressa tidak mengerti maksud Sebastian saat itu. Namun sekarang, ia mulai melihatnya.

Grey tersenyum, tetapi matanya kosong. Grey tertawa, tetapi suaranya tidak sepenuhnya tulus. Ada dinding yang ia bangun di sekeliling hatinya, dinding yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun.

"Dia menyembunyikan sesuatu," sadar Ressa. "Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pengkhianatan Keilla."

Ia menatap cincin di jarinya sekali lagi, lalu berjalan menuju kamarnya di ujung lorong.

"Aku tidak bisa melihat sisi Grey lebih dekat," pikirnya, "karena aku tidak pantas berada di dekatnya secara langsung."

Namun di dalam hatinya, ada rasa penasaran yang terus tumbuh.

"Siapa sebenarnya Grey Vincentes?"

Di balik pintu kamarnya, Grey duduk di tepi ranjang, menatap langit-langit kamar yang gelap.

Jari-jarinya menyentuh cincin yang tersisa di sakunya—cincin kedua, serupa dengan yang ia berikan pada Ressa.

"Aku tidak tahu mengapa aku memberikannya padanya," pikirnya bingung. "Tapi ada sesuatu tentang Ressa yang membuatku ingin melindunginya."

Ia menggelengkan kepala, mencoba membuang pikiran itu.

"Fokus, Grey. Dendammu pada keluarga Sienta belum selesai."

Namun, bayangan Ressa tetap menghantui pikirannya.

Di luar, angin malam berdesir, membawa bisik-bisik tak terdengar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!