Clark hanya dianggap sebagai tumbal pelunasan hutang dalam pernikahannya dengan Dante, pemimpin mafia berdarah dingin, namun saat peluru nyasar menembus dadanya di pesta keluarga, ia baru menyadari tatapan pria itu yang penuh air mata, sungguh pemandangan tak pernah ia bayangkan ada pada sosok yang begitu kejam.
Lalu bagaimana jika takdir memberikan kesempatan kedua? Membuat Clark kembali terbangun enam tahun silam, tepat saat ia dipaksa menikah dengan pria yang kini ia tahu sangat mencintainya meski dulu ia hanya melihatnya sebagai sosok mengerikan yang harus ia hindari sebisa mungkin.
Kali ini, ia berjanji tak akan membiarkan tragedi yang sama terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Di tengah musim panas, saat matahari bersinar terang benderang di angkasa, sinar panasnya tak menyurutkan semangat Clark menjelajahi deretan kios yang berjejer di pesisir pantai, tak jauh dari resor tempat mereka menginap.
Dari satu kios ke kios lainnya, ia bergerak lincah bagai kelinci kecil. Sementara Dante, berjalan di belakangnya dengan kewaspadaan tinggi, sesekali menarik lengan istrinya agar tak terlalu jauh melangkah. Namun Clark begitu gesit melompat ke sana-sini, membuat Dante harus semakin waspada agar tak ada yang berani melirik istrinya dengan pandangan tak sopan.
Tanpa sadar, kehadiran mereka menarik perhatian banyak orang. Keduanya tampak begitu memesona, Clark dengan wajah cantik nan manis yang membuat siapa saja terpukau, apalagi saat tersenyum memperlihatkan dua gigi kelincinya yang khas.
Sedangkan Dante, meski berwajah dingin dan datar, ketampanan serta aura dominannya tak bisa disembunyikan. Hanya saja ia terlihat tak ramah, jika ada yang tak sengaja menyenggol atau melirik istrinya terlalu lama, raut wajahnya semakin mengerikan, seolah memberi peringatan bahwa berani sentuh, nyawa taruhannya.
"Silakan dilihat-lihat. Ini kerajinan tangan asli buatan warga sekitar," tawar seorang penjual kepada Clark.
"Kak, lihat yang ini! Menurutmu mana yang paling bagus?" Clark meminta pendapat suaminya.
"Semua terlihat bagus, asalkan kau yang memakainya," jawab Dante tenang.
"Ini bukan untukku, tapi untuk Kakak Chlara dan Kakak Ipar."
Mendengar itu, wajah Dante seketika berubah masam. Kecemburuannya kembali muncul, ia tak suka jika perhatian istrinya terbagi pada orang lain.
Melihat perubahan ekspresi suaminya, Clark tersenyum kecil. "Aku juga ingin beli untuk kita berdua. Lihat! Gelang ini terlihat seperti gelang pasangan."
"Benar sekali, Nyonya! Ini memang gelang pasangan. Kaum muda di sini banyak yang memakainya. Konon gelang ini bisa mempererat dan menjaga kelanggengan hubungan. Ini barang paling laris di kios saya," tambah penjual itu dengan semangat.
"Baiklah, saya ambil tiga pasang!" seru Clark antusias. Ia berniat memberikannya untuk Hudson dan Yuna, serta untuk Chlara dan Jackson.
Penjual segera mengemasnya dengan gembira. Clark menoleh pada Dante, "Kak, dompetmu." Tanpa ragu Dante menyerahkannya. Clark mengeluarkan uang seikhlasnya, baginya uang suami adalah uang istri, sedangkan uang istri tetap milik istri. Lagipula suaminya begitu kaya, takkan keberatan untuk apa pun yang ia inginkan.
"Kak, aku lapar. Yuk makan itu!" Clark menunjuk kedai ramen yang dipenuhi antrean panjang. Dante sebenarnya enggan keramaian, tapi tak tega menolak permintaan istrinya.
"Kau duduk dulu di sini. Biar Kakak yang antre," perintahnya lembut. Clark mengangguk patuh sambil menatap suaminya yang kini mengantre dengan tertib.
Hatinya terasa hangat sekaligus teriris sedih, Dante yang terbiasa dilayani dan hanya perlu menjentikkan jari untuk mendapatkan apa pun, kini rela mengantre berdesak-desakan hanya demi semangkuk ramen untuknya. Namun baginya, apa pun dilakukan demi orang yang dicintai adalah hal yang paling wajar.
"Hei! Kursi ini sudah ada yang punya. Cari tempat lain!" bentak seorang pria asing yang tiba-tiba duduk di sebelah Clark.
"Tapi hanya ini yang kosong," jawab pria itu tak peduli.
'Sombong sekali orang ini! Belum pernah dipukul pakai kursi kali ya?!' batin Clark kesal. Ia ingin sekali meluapkan amarah, tapi tak ingin memancing keributan. Akhirnya ia mencari kursi lain yang masih kosong.
"Sekali saja kau pergi!" Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Clark kuat-kuat. Clark menatapnya tajam, memberi peringatan agar melepaskan cengkeramannya.
"Aku takkan melepaskannya. Duduk dan temani aku!" perintahnya.
"Lepaskan! Atau kau akan menyesal!" ancam Clark.
Pria itu tersenyum meremehkan. "Kau galak sekali... tapi aku suka."
'Dasar kurang ajar! Cepat lepaskan, atau malaikat maut benar-benar akan menjemputmu hari ini!' batinnya. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Dante melihatnya.
"Sini, duduk saja. Aku yang traktir," pria itu menarik tangan Clark kembali, lalu menjentikkan jari. Seorang pria berbadan tegap segera muncul. "Pesan dua porsi ramen, tambah dagingnya banyak!"
"Aku bilang lepas! Siapa yang mau makan bersamamu? Aku tak sudi!" tolak Clark tegas, namun cengkeraman itu tak berkurang sedikit pun.
"Jangan senyum-senyum begitu. Awas saja nanti kau tak bisa tersenyum lagi."
"Benarkah?" tantangnya.
"Sudah kubilang kau keras kepala... lihat saja nanti.." Belum selesai Clark bicara, sosok yang ditakutinya sudah berdiri di hadapan mereka dengan wajah menggelap.
Dan... BYUUR!
Mangkuk ramen panas itu langsung terbalik tepat di atas kepala pria itu, kuah dan isinya membasahi seluruh tubuhnya.
Clark segera melepaskan tangannya, lalu berdiri di samping Dante untuk menenangkan pria yang sedang meledak emosinya.
"Cih... menjijikkan," pria itu mendecak sambil menyeka wajahnya yang basah kuyup. Meski panas, ia seolah tak merasakan sakit.
Seketika sekelompok pria berbadan besar berdiri mengelilingi mereka. Pengunjung lain pun segera menjauh menjaga jarak. Tampaknya pria itu bukan orang sembarangan.
"Kak..." Clark mulai cemas, jantungnya berdegup kencang.
Dante berdiri tegak, bukan karena takut, tapi karena ia harus melindungi orang yang paling berharga di sisinya. "Tetap di belakangku," perintahnya pelan namun tegas, lalu menyembunyikan tubuh Clark di balik punggungnya yang lebar.
😱😱😱😱
sakit perut adek bang ,,,
😂😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣
koq pemuda trus nyebutnya 🤭🤭🤭🤭