NovelToon NovelToon
Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Tersembunyi Di Balik Pelukan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Arya Satria, pemimpin organisasi bayangan terkuat di Semarang yang dikenal dingin, kejam, dan tak kenal ampun. Dunianya hanya tentang kekuasaan, balas dendam, dan menjaga rahasia kelam yang tak boleh terkuak. Hingga ia bertemu Nayara Adiswara, gadis polos yang tak sengaja menyaksikan kejadian yang seharusnya tak pernah ia lihat. Demi menjaga rahasia organisasinya, Arya memaksa Nayara tetap tinggal di sisinya. Namun perlahan, di balik pelukan yang awalnya hanya cara untuk mengawasi, tumbuh rasa yang tak pernah ia bayangkan. Dan di saat yang sama, Nayara mulai menyadari bahwa ada banyak hal tersembunyi di balik sosok Arya—rahasia yang bisa menyelamatkan nyawanya, atau menghancurkan mereka berdua selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Rumah Mewah Penjara Emas

Sinar matahari semakin tinggi, menembus jendela kaca besar yang memantulkan cahaya ke seluruh sudut rumah yang begitu luas. Setelah selesai makan, pintu kamar terbuka dan Bima masuk dengan senyum tipis yang tetap sopan.

"Silakan ikut saya, Nona Nayara. Tuan Arya mengizinkan Nona melihat sekeliling rumah, dengan syarat tidak melangkah ke area yang dilarang," ucapnya pelan.

Nayara mengangguk, menyusul langkah pria paruh baya itu keluar dari kamar. Langkah kakinya ragu, matanya tak henti memandangi setiap sudut yang ia lewati. Lorong yang panjang dilapisi marmer hitam mengkilap, dindingnya dihiasi lukisan-lukisan bernilai tinggi yang gaya lukisannya begitu gelap dan mendalam. Di setiap ujung lorong selalu ada pria berpakaian serba hitam yang berdiri diam bagaikan patung, menatapnya sekilas dengan tatapan waspada sebelum kembali memandang lurus ke depan.

"Ini ruang tengah," tunjuk Bima saat mereka memasuki ruangan yang sangat besar. Langit-langitnya tinggi, ditopang pilar-pilar kokoh. Di tengahnya ada perapian besar yang kini sudah dingin, dan sofa kulit hitam yang terlihat sangat nyaman namun tak ada yang berani duduk di sana sembarangan. "Tuan Arya biasanya menerima tamu di sini. Tapi Nona dilarang masuk ke ruang kerja, ruang rapat, dan lantai dasar sebelah barat."

Nayara menelan ludah. "Kenapa ada begitu banyak larangan, Pak Bima? Padahal ini rumah..."

Bima berhenti sejenak, menatap ke arah jendela yang menghadap ke halaman belakang yang luas. "Bagi orang biasa, rumah adalah tempat beristirahat. Tapi bagi Tuan Arya, rumah ini adalah benteng. Setiap sudutnya menyimpan rahasia, setiap pintunya menyembunyikan bahaya. Tuan hanya ingin Nona aman, walau caranya mungkin terasa kaku."

Mereka berjalan menuju dapur yang bersih dan modern, lalu ke ruang makan yang mejanya saja sepanjang lima meter. Di ujung lorong sebelah kiri, Nayara sempat melihat pintu kayu besar yang sedikit terbuka. Dari celahnya, ia melihat tumpukan berkas berlabel rahasia dan peta yang dipaku di dinding. Tanpa sadar ia melangkah hendak mengintip lebih jauh, namun tangan Bima segera menahannya dengan lembut namun tegas.

"Jangan ke sana, Nona. Itu ruang kerja Tuan Arya. Tidak ada yang boleh masuk tanpa izin beliau, bahkan saya sekalipun."

Belum sempat Nayara meminta maaf, suara berat yang sudah sangat ia kenali terdengar dari belakang mereka.

"Kau melangkah terlalu jauh."

Nayara menoleh dengan terkejut. Arya berdiri di sana, tangannya memegang selembar kertas, rahangnya mengeras. Wajahnya tidak menunjukkan amarah meledak-ledak, tapi justru ketenangan yang jauh lebih menakutkan.

"Saya... saya hanya penasaran, saya tidak bermaksud..." Nayara tergagap, mundur selangkah.

Arya melangkah mendekat, menatap tajam ke dalam mata gadis itu. "Keingintahuanmu itu yang akan membunuhmu, Nayara. Duniaku bukan tempat untuk kau telusuri sesukamu. Setiap hal yang tidak kau ketahui, justru itulah yang menjagamu tetap hidup."

Ia melewati samping Nayara, berhenti sejenak berbisik tanpa menoleh: "Jika kau ingin bertahan hidup di sini, pelajari aturannya. Atau kau akan menyesal telah melihat apa yang tak seharusnya kau lihat malam itu."

Setelah Arya masuk ke ruang kerjanya dan pintu tertutup rapat, tubuh Nayara terasa lemas seketika. Bima menghela napas pelan. "Jangan ambil hati perkataan Tuan, Nona. Beliau keras karena pernah kehilangan banyak orang yang disayanginya. Beliau tak ingin hal yang sama terjadi lagi pada Nona."

Siang berganti sore. Nayara duduk di teras belakang yang menghadap ke taman luas dan kolam renang yang jernih. Angin sepoi-sepoi berhembus membawa aroma bunga melati yang tumbuh rimbun di sudut taman. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat hamparan Kota Semarang yang mulai berwarna-warni seiring matahari yang mulai turun. Namun keindahan itu terasa begitu jauh, seolah ada dinding tak kasat mata yang memisahkannya dari dunia luar.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Arya duduk di ujung bangku kayu itu, tidak terlalu dekat namun juga tidak terlalu jauh. Ia memegang segelas kopi, menatap lurus ke arah cakrawala yang berwarna jingga kemerahan.

"Kau rindu rumah?" tanyanya tiba-tiba, tanpa menoleh.

Nayara mengangguk pelan, lalu sadar pria itu tidak melihatnya. "Sangat. Saya rindu suara Ibu yang memanggil saat makan, rindu tawa Ayah saat menonton televisi. Di sini... terlalu sunyi. Terlalu sempurna hingga terasa palsu."

Arya diam cukup lama. "Aku pernah merasakan hal itu. Dulu rumahku penuh suara tawa. Sampai satu malam, semuanya hilang dalam sekejap. Sejak saat itu, aku belajar bahwa kesunyian lebih aman daripada kebisingan yang bisa menyembunyikan musuh."

Ada getaran sedih yang samar dalam suaranya. Untuk pertama kalinya, Nayara berani menatap samping wajah pria itu dengan leluasa. Ia melihat garis halus di sudut matanya, bekas luka yang tak terlihat namun terasa begitu dalam.

"Siapa yang melukai Anda, Tuan Arya?" tanyanya lirih.

Arya menoleh perlahan, menatapnya. Kali ini tatapannya tidak lagi dingin, melainkan penuh peringatan namun lembut. "Banyak orang. Termasuk orang yang paling aku percaya. Dan itulah sebabnya aku tidak membiarkan siapa pun masuk terlalu jauh ke dalam hidupku. Sampai kau datang... secara tidak sengaja."

Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya, meninggalkan langit kelam yang mulai dihiasi bintang. Di rumah mewah itu, di antara kemewahan yang tak ternilai harganya, Nayara sadar ia memang hidup di dalam sebuah penjara. Namun entah mengapa, penjara itu dijaga oleh seseorang yang tampaknya lebih dulu dipenjara oleh masa lalunya sendiri.

Dan di balik tatapan tajam Arya, Nayara mulai menyadari satu hal: pria yang disebut kejam itu mungkin adalah orang yang paling kesepian yang pernah ia temui.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!