NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Perjodohan / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:22.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: misshel

Teruntuk Moms, Single Moms, dan seluruh wanita yang sedang berjuang bagi anak-anaknya. Jangan sedih ... kamu hebat, kamu kuat! Aku di sini bersamamu!



"Jangan menyerah di awal, karena tidak ada awalan yang sempurna"

Warning!! 21 Area!!

Akira Shofie harus bertahan ditengah kerasnya kehidupan saat ia harus membesarkan ketiga anaknya seorang diri setelah suaminya menceraikannya dan menelantarkan mereka.

Namun, kehidupannya berubah total ketika ia terpaksa menikah dengan anak dari atasan mantan suaminya.

Akira yang lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa saat suaminya berselingkuh, akhirnya menemukan keberanian membalas sakit hatinya dulu dengan dukungan suaminya yang sangat perhatian dan menyayanginya juga ketiga anaknya.

Akankah Akira sanggup membalas dendam yang telah lama bersarang di hatinya? Ataukah ia berhasil berdamai dengan dendam dan hidup dengan baik bersama suami dan ke enam anaknya? Temukan jawabannya di dalam kisah ini.



NOTE : Ceritanya ngga bagus-bagus sangat...B ajah...hehehehe....

ig: misshel_88

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

First Night

Johan membuka pintu untukku yang membuatku malu. Entahlah aku terlalu banyak berpikir kemarin sehingga melupakan ini.

Aku segera masuk, dan Johan menutup pintu di belakangku. Pertama ku dengar adalah suara gemericik air dari kamar mandi. Aku tahu dia pasti sedang mandi.

Aku duduk di sofa, menunggu giliranku mandi. Aku tidak berharap apapun ya, aku hanya ingin membersihkan badanku yang lengket.

Aku harus tahu diri, si pemilik kamar tidak ada. Lancang sebenarnya aku masuk begitu saja tanpa izin. Aku melihat sekeliling kamar yang luasnya beberapa kali luas kamarku.

Di sini tercium aroma wewangian yang menenangkan, membuatku menghirupnya dalam-dalam. Sungguh menenangkan. Tidak ada dekorasi spesial di sini. Ke dua kalinya menikah aku tidak mendapat kamar seperti kamar pengantin pada umumnya. Tidak penting juga sih untuk sekarang. Aku tidak berharap apapun dari pernikahan ini.

Pelan-pelan aku melepas hiasan di kepalaku. Sedikit sakit ketika rambutku ikut tertarik. Aku menoleh kanan kiri, mencoba mencari tisu basah atau apapun untuk menghapus makeup yang melekat di wajahku. Sayangnya aku tidak menemukan apapun.

Sekilas aku melihat tas dan koper berjajar tak jauh dari ranjang besar di tengah-tengah ruangan. Milik siapa? Apa dia akan bepergian?. Aku juga melihat tas miliku di sana. Ponselku ada di dalamnya. Ingin aku mengambilnya tapi aku takut.

Akhirnya karena tak kuat menahan lelah, aku merebahkan diri di sofa. Nyaman sekali rasanya. Baru saja aku memejamkan mata, terdengar teriakan dari pemilik kamar.

"Siapa yang menyuruhmu masuk?" Suara menggelegar di belakangku mengagetkanku. Aku pun terbangun dari rebahanku. Apa dia sejenis hantu? Kapan dia membuka pintu? Apa dia punya ilmu meringankan tubuh sehingga tidak terdengar langkah kakinya?

Pria yang sudah sah menjadi suamiku itu terlihat segar setelah mandi. Memakai piyama tidur berwarna biru tua, kontras dengan kulitnya yang bersih. Oke, dia memang tampan. Mau tak mau aku sejenak mengaguminya.

"Johan" jawabku singkat. Aku masih dalam keterkejutanku.

"Apa kau mau tidur dengan pakaian seperti itu?" Teriaknya lagi.

“Aku tak punya baju ganti” Aku berkata jujur. Memang aku tak punya baju ganti. Harris menggelengkan kepalanya. Sepertinya dia mau mengataiku bodoh karena tidak membawa baju ganti.

Dia menunjuk koper yang berada di dekat ranjang. “Itu semua baju milikmu, apa tidak ada yang memberi tahumu?” Dia menatapku dengan pandangan kesal. Aku menggeleng sebagai jawaban. Di sini tidak ada yang memberitahuku apapun, sehingga membuatku bingung.

“Segeralah mandi, kita harus bicara” ucapnya tegas. Sorot matanya selalu tajam dan mengerikan. Lebih mengerikan dia daripada Papanya.

“ Sekarang saja, kalau begitu”

“Tidak, aku tidak bisa bicara dengan seseorang yang belum mandi, kau terlihat kacau” Dia melotot ke arahku. Kedua bola matanya seperti hendak keluar.

Tak menunggu dua kali aku segera beranjak ke kamar mandi setelah mengambil salah satu koper yang isinya baju wanita.

“Jangan lama-lama, aku tak suka menunggu” Ucapnya sambil membuka ponselnya. Aku sama sekali tak menjawabnya, aku segera masuk ke kamar mandi.

15 menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dengan memakai piama yang tersedia di kamar mandi. Karena isi koperku sungguh memalukan, semua bajunya kekecilan, kurang bahan dan sebagian seperti jaring ikan. Aku bergidik ngeri melihatnya.

“Apa ini? Kau menggunakan piama milikku?” Dia melotot lagi. Pelit sekali orang ini, pinjam piama saja tidak boleh.

“Aku pinjam dulu, besok aku cuci dan aku kembalikan. Dalam keadaan utuh” aku membalasnya tak kalah garang.

“Memangnya bajumu kemana?” Serunya lagi.

“Kekecilan, semua baju anak TK” jawabku seraya duduk lagi di sofa tempatku rebahan tadi. “Apa yang ingin kau bicarakan?” Aku menggerai rambut panjangku yang basah sehingga air menetes dari ujungnya.

“Apa kau tidak tau cara mengeringkan rambut?” Lagi-lagi dia berteriak. Membuat telingaku berdengung.

“Ini masih terlalu basah, nanti aku keringkan lagi” Jawabku tak kalah keras.

“Keringkan dulu, aku tidak suka rambut berantakan seperti itu” Dia melemparkan handuk tepat di kepalaku. Entah dari mana dia mendapatkan handuk kering.

“Apa rambutku lebih penting dari yang akan kau katakan? Kalau kau keberatan pejamkan saja matamu itu” aku benar benar kesal dengan dia. Apa-apa tidak suka, apa-apa teriak. Aku tidak tuli, Tuan.

“Jika kau tidak mengeringkan rambutmu sekarang, aku tidak akan berbicara dan kau tidak boleh tidur” Ancamnya.

“Iya, iya” Aku benar-benar seperti anak kecil. Semua diatur oleh Tuan Pengatur. Aku mengambil pengering rambut dan mulai mengeringkan rambutku. Biar tahu rasa dia, rambutku panjang, pasti butuh waktu lama untuk mengeringkannya.

“Lama sekali” Teriaknya lagi. Namun aku tak peduli, apa yang dia mau sudah aku ikuti, jika protes aku akan menggunakan perintahnya untuk menyerang balik.

Dia tampak berdecak kesal. Aku melihatnya berjalan ke arahku melalui cermin di meja rias. Rupanya dia mencabut kabel pengering rambut dari stop kontak sehingga pengering rambutnya mati.

“Kenapa lama sekali?” Dia bertanya sambil meletakkan tangannya di pinggang. Dia menatapku penuh kemarahan.

“Aku sudah selesai, mari kita bicara” aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju sofa. Mau tak mau dia mengikutiku menuju sofa.

“Jadi, aku tak mempermasalahkan latar belakangmu, siapapun kamu, tidak penting bagiku. Masa lalumu adalah milikmu, aku tak berhak mempertanyakannya” Harris terdiam sejenak, sebelum melanjutkan lagi ucapanya yang mendapat perhatian penuh dariku. “ Aku juga tidak tahu hubunganmu dengan Papa, Rio dan Rian. Tak peduli kau wanita baik-baik atau bukan. Disini aku hanya mengikuti permintaan Papa. Aku hanya ingin kau tahu, aku tidak mengadakan perjanjian apapun. Jika urusan materi yang menjadi alasanmu menerima tawaran Papa, menikah denganku, oke, akan aku beri. Aku tidak akan mengikatmu sekian tahun, aku juga tidak akan menceraikanmu, tapi jika kau bosan, tidak tahan dengan sikapku, atau kau bertemu dengan orang yang kau cintai, bilang padaku. Kita bisa mengajukan gugatan cerai dan kau tidak akan kekurangan materi setelahnya. Apa kau mengerti?”

Aku mengangguk ragu. Tapi aku setuju dengan usulnya. Ku kira dia akan mendiamkanku, menulis surat perjanjian atau sejenisnya. Rupanya tidak, dia sangat terbuka dan menurutku dia orang yang berpandangan luas.

“Okey, bisa diterima, tetapi aku agak bingung” Jawabku akhirnya.

“Pikiranmu pendek” ledeknya. Sepertinya aku memuaskan pemikirannya tentangku, melihat ekspresinya yang penuh ejekan.

“Begini, jika definisi wanita baik-baik adalah wanita yang menghabiskan waktu di rumah, jelas, itu bukan aku. Aku setiap hari keluyuran untuk bekerja, karena uang tidak datang sendiri padaku” Aku menarik nafas sebentar. Mataku awas memandang ke arahnya yang masih menatapku dengan penuh keseriusan.

“Aku wanita dengan 3 anak, aku juga tidak tahu mengapa aku yang harus menikah denganmu, kita belum pernah bertemu sebelumnya, jadi aku tidak terlalu kaget jika kau tidak akan menerima ini dengan mudah, aku bisa mengerti” Aku menyudahi apa yang menjadi beban di hatiku. Lebih baik begini, daripada saling menyakiti. Keterbukaan adalah awal dari sebuah hubungan. Entah antara teman, sahabat, ataupun pasangan. Namun bagiku, yang terakhir, jelas bukan.

“Aku pernah melihatmu 2 kali, di rumah sakit dan di rumahmu, apa kau ingat?” Harris menyandarkan badannya di sandaran sofa. Kelihatannya obrolan malam pertama kamj sangat menarik. Ups!

“Oh, aku salah kalau begitu, aku yang belum pernah bertemu denganmu” Aku mengendikkan bahu, aku sama sekali enggan mengingat ingat. “Jadi, kau bersama Johan waktu itu?”

“Ya, waktu itu kami terburu-buru, kekasihku pulang dan aku ingin segera bertemu dengannya” Ucapnya santai namun ekspresi wajahnya tidak bisa menipu, dia terlihat bahagia ketika mengatakan ini.

“Oh begitu, kau sangat mencintainya, kurasa” Aku mencoba menebak, bukan, aku hanya mengatakan apa yang kulihat. Sorot mata yang berbinar itu mengatakan segalanya.

“Begitulah, sampai dia kami memutuskan untuk merenungi diri kami masing-masing” Tiba-tiba saja binar itu menghilang, sepertinya dia sudah dikecewakan dan kehilangan harapan terbesarnya.

“Oke, aku tak ingin membahas kekasihmu, jika akan melukaimu, aku turut prihatin tapi jika kau masih mencintainya, kau harus mengejarnya kembali” Bodoh, kenapa mengatakan ini? Batinku menampar mulutku. Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat, melihat raut wajahnya yang mulai gelap.

“Kurasa tidak sulit bila aku belum menikah” Jawabnya ketus. Oke, baiklah, aku salah bicara. Aku tahu dia akan berkata seperti itu. Sepertinya obrolan malam pertama berakhir sekarang. Waktunya tidur.

“Maaf, bila aku mengacau, tapi aku juga tidak punya pilihan” Aku mengakhiri percakapan panjang ini.

Aku merebahkan badanku di sofa. Dan mulai memejamkan mata. Aku membiarkan Harris, yang masih duduk di seberangku. Aku tahu, dia juga berada di posisi sulit. Tapi aku juga tidak mau membuat dia semakin pusing. Setidaknya, kami tahu posisi masing-masing. Kami menikah karena memiliki kepentingan sendiri-sendiri.

“Tidurlah, kita masih punya banyak waktu untuk berbicara” Dia beranjak ke kasur king size nya. Apa yang ku harapkan? Berbagi kasur? Atau sekedar basa basi menawarkan? Tidak, aku cukup tahu diri. Jangan melampaui batas.

Akhirnya, tanpa di sadari, kami tidur bersama, dia di kasur aku di sofa. Tidur di ruangan yang sama.

Waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Dan aku sudah bersiap turun. Harris masih bergelung dengan selimutnya yang hangat. Aku sengaja berhati-hati agar tidak mengganggu tidurnya.

Ketika hendak membuka pintu, terdengar suara ketukan dari luar. Dan rupanya itu Johan.

“Selamat pagi Nyonya Bos” Johan tersenyum lebar.

1
Dwi Setyaningrum
berkali kali baca ulang crita ini tetap aja ikut mewek..
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya.🙏

Hai Kak, Baca juga di novel ku yang berjudul "TABIR SEORANG ISTRI"_on going, atau "PARTING SMILE"_The End, Biar lebih mudah boleh langsung klik profil ku ya, Terimakasih 🙏
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
kangen baca ulang thor...
Tiktok: misshel_author: Makasih udah baca ulang kak, aku temenin dr jauh😍
total 1 replies
Nur Wakidah
lhah siapa ini main peluk aja 😆😆😆 jangan Rio tolong 🙈🙈🙈
𝓹𝓮𝓷𝓪𝓹𝓲𝓪𝓷𝓸𝓱: halo kak baca juga d novel ku 𝘼𝙙𝙯𝙖𝙙𝙞𝙣𝙖 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙨𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙪𝙨 𝙧𝙖𝙝𝙖𝙨𝙞𝙖 atau klik akun profil ku ya😌
total 1 replies
Rasenniyya Mom
James dan Lily Potter nih? 😆
Rasenniyya Mom
Mau kasih kira lollipop ya, Ris??/Grin/
Kamiem sag
benar complicated
Kamiem sag
ya... Kiraterus terlena dgn pesona dan perhatian Haris sampai lupa tumbuh kembang anak anaknya
Haris juga sepertinya cuma butuh apem Kira gak butuh kehadiran anak anaknya maka dia bisa merajuk dan mengabaikan sapaan Jeje ( sakit tau anak sekecil itu merasa diabaikan dan gak dibutuhkan)
Kamiem sag
Jeje cerdas cumabelum tau aja dunia orang dewasa😄😄
Kamiem sag
memang gila si Haris mencintai Kira juga gila
Kamiem sag
sesal Rian makin bertambah
Kamiem sag
love you bang Haris
Kamiem sag
hancur
Kamiem sag
😲😮
Kamiem sag
kasih sayang ibu yg buat Viona jadi lebih baik
Kamiem sag
kupikir cuma Rio dan Jo yg patah hati ternyata Hendra juga
Kamiem sag
Kira itu hiena singa juga rubah betina😄😄😄😄😄
Kamiem sag
Evan ayah biologisnya Kristal??
Kamiem sag
aku gak coment
Kamiem sag
Viona berubah??
tersentuh oleh ibu??
Kamiem sag
😄😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!