Kecelakaan mengerikan membuat Pelangi Jingga Cakrawala lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup dan harapan akan mimpinya menjadi seorang balerina terkenal. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.
Sebagai terapis andal, Lentera Bentang Nirbatas yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi bocah itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Pelangi yang penuh amarah, perlahan-lahan Lentera mampu membuat Pelangi mau membuka diri.
Hal itu membuat Rimba Fajar Cakrawala jatuh hati pada Lentera. Akankah Rimba mampu meyakinkan jika cinta yang ia tawarkan bukanlah atas balas budi karena telah membuat anaknya bisa berjalan lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
"Apa yang yang kau lakukan di sini?!" suara Rimba terdengar berat dan menakutkan. Membuat Lentera bergidik ngeri, namun dia berusaha tetap tenang sebab tak ada obrolan penting yang terjadi antara dirinya dan Jagat.
Jagat tersenyum sinis tanpa menatap Rimba, ia beranjak dari tempat duduknya sembari meraih berkas yang ia letakan di atas meja makan sebelum dia menghampiri Lentera di dapur.
"Pagi ini aku akan ke Bogor menemui Pak Rudi," Jagat berjalan menghampiri Rimba. "Aku kemari hanya ingin menyerahkan berkas yang kau minta aku mengerjakannya kemarin." tepat di hadapan Rimba, ia menyerahkan berkas itu.
Jagat menoleh ke belang dan tersenyum pada Lentera. "Aku pergi dulu," ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kediaman Rimba.
Setelah Jagat pergi, Rimba mendekat ke arah Lentera. "Raa, sebetulnya aku kemari ingin mengucapkan banyak terima kasih karena kau telah membuat Pelangi kembali shalat. Padahal sebelumnya aku sudah berkali-kali membujuknya tapi dia sama sekali tak mau."
"Pada dasarnya Pelangi anak yang baik dan penurut, hanya saja kecelakaan itu menghancurkan segalanya. Kini setelah dia bisa berdiri kembali, perlahan emosinya mulai stabil, dia akan kembali menjadi Pelangi yang dulu seiring dengan kesembuhan kakinya."
Rimba mengangguk, sekali lagi ia mengucapkan terima kasih pada Lentera. Rimba berdeham sebelum mengganti topik. "Raa, pernikahan Rembulan sekarang berada di ujung tanduk, aku harap kau tak melakukan apa pun yang dapat mendorongmu masuk ke dalam masalah rumah tangga mereka. Rembulan masih sangat mencintai Jagat, dia pasti merana jika kehilangan Jagat.”
“Aku bukan perusak rumah tangga orang atau wanita murahan,” balas Lentera dengan sakit hati, ia berbalik cepat-cepat dan pergi ke dapur.
“Raa!!” Rimba mengejar. "Raa.. Aku hanya mengingatkanmu, karena aku tak ingin salah satu dari mereka melibatkanmu."
"Terima kasih sudah mengingatkanku, tapi aku bukan anak kecil, aku tahu apa yang aku lakukan!!" Lentera meninggikan nada bicaranya, karena seharusnya Rimba tahu bahwa Jagatlahlah yang datang menghampirinya.
Kemarahan Lentera seketika surut ketika mendengar suara Pelangi. "Apa kalian sedang bertengkar?" tanya di ambang pintu.
Rimba dan Lentera langsung menoleh ke arah Pelangi, tadinya Lentera ingin menghampiri Pelangi namun Rimba sudah terlebih dahulu. "Tidak sayang, kami hanya sedang berdiskusi," ia membungkuk di hadapan Pelangi. "Apa ada yang kau butuhkan?"
"Ya, aku kesulitan mengambil buku yang ada di bagian atas meja belajar. Apakah Papa bisa membantuku?" Pelangi menoleh ke belakang tubuh Rimba, menatap Lentera.
"Tentu saja," jawab Rimba. "Kami sudah selesai." ia langsung mengerti putrinya ingin menanyakan apakah dirinya dan Lentera sudah selesai berdiskusi. "Ayo kita ke kamarmu," Rimba mendorong kursi roda Pelangi keluar dari dapur.
Tiga puluh menit kemudian mereka kembali dengan pakaian yang sudah rapih, dan menu sarapan pun sudah terhidang di meja makan. Sarapan berlangsung dengan tenang, tak ada obrolan yang terjadi antara Rimba dan Lentera, terlebih Senja datang menjenguk cucunya sekaligus memberikan dasi yang Lentera belikan saat di mall kemarin.
Lentera bernapas lega, saat Rimba mengenakan dasi pemberiannya meski yang Rimba tahunitu adalah pemberian ibunya. Tapi Lentera tak mempermasalahkan itu, yang terpenting tak ada masalah yang terjadi di rumah itu.
...****************...
Hari demi hari berganti, Lentera semakin menjauh dari Rimba meski terkadang ia merasakan Rimba sering mengamatinya ketika mereka bersama.
Dalam waktu lebih cepat dari prediksi Lentera, Pelangi bisa berdiri sendiri tanpa bantuan tangan. Mula-mula tubuhnya limbung sesaat, tapi kakinya tidak goyah dan dia berhasil mempertahankan keseimbangan.
Pelangi berlatih lebih keras dari semua pasien yang pernah Lentera tangani, Pelangi memiliki tekad yang besar untuk mengakhiri ketergantungannya pada kursi roda. Namun di sisi lain setiap malam, Pelangi harus membayar kegigihan tekadnya dengan mengalami kram menyiksa, meski demikian Pelangi sama sekali tidak melonggarkan target yang dia tetapkan. Pelangi merasa aman karena dia tidur dengan Lentera, Lentera akan langsung mengatasi sakit pada kakinya setiap kali kram menyerangnya.
Lentera tidak lagi mengatur sesi terapi Pelangi, sekarang Pelangi sendiri lah yang memaksa dirinya untuk berlatih, bahkan ia tidak tidur siang. Sekarang Lentera hanya bisa mencoba mencegah Pelangi berlatih terlalu keras sehingga mencederai dirinya, dan membantu melenturkan otot-otot Pelangi pada sesi akhir latihan dengan pijatan dan sesi latihan di kolam renang.
Tidak lama lagi program terapi akan berakhir, dan Lentera akan melanjutkan menangani pasien lain. Pelangi yang sekarang adalah bocah yang seratus persen berbeda dari yang pertama kali Lentera lihat hampir lima bulan lalu.
Sekarang tubuh Pelangi semakin berisi, berat tubuh Pelangi kembali seperti dulu, hal itu tentunya membuat Lentera sangat bangga, bahkan ada perasaan memiliki bocah itu. Lentera tak pernah sesayang ini dengan pasien lainnya, bahkan ia begitu mengenal bocah itu, mengenal celotehannya, mengenal sifatnya yang menggemaskan dan bocah itu selalu menerima tantangan apa pun sambil tertawa-tawa. Lentera begitu mengenal kecerdasan Pelangi yang tajam dan selalu bergerak cepat, serta kelembutan hatinya. Pelangi menjadi bagian dari hidup Lentera sehingga, saat Lentera mengizinkan dirinya memikirkan masa akhir terapi Pelangi, Lentera ketakutan sendiri.
Dari hari ke hari Pelangi makin tidak membutuhkannya, suatu hari nanti, atau tak lama lagi, Pelangi akan kembali ke sekolah dan kelas balet yang telah menantinya. Di saat itu Lentera pun akan pergi, untuk pertama kalinya Lentera merasakan sakit saat berpikir akan pindah ke pasien lain.
Lentera menyukai hari-hari yang ia habiskan di kolam bersama Pelangi, tertawa bersama, latihan berjam-jam, bahkan keringat dan air mata, semua itu menempa sebentuk ikatan batin yang membuat Pelangi tersangkut di hidup Lentera dengan cara yang menurut Lentera sangat indah.
Tidak mudah baginya untuk mengakui bahwa ia menyayangi Pelangi seperti darah dagingnya, ia ingin menjadi bagian dari bocah itu, tapi bayangan kesakitan di masa lalu terus menghantuinya hingga akhirnya ia harus mengubur perasaan itu. Terlebih apa yang di katakan Jagat ada benarnya, Rimba memiliki selera wanita yang tinggi.
Bukan wanita seperti dirinya yang seorang gadis tapi sudah tidak suci lagi. Bukan hanya itu, Lentera pun merasa takut tak mampu memuaskan Rimba, karena tak bisa tersentuh oleh pria.
Lentera tidak ingin membebani Pelangi dengan belitan perasaan sayangnya kepada bocah itu dan juga Rimba, ia takkan membuat Pelangi merasa bersalah karena Lentera akhirnya jatuh cinta pada mereka berdua. Meski perasaan itu seakan membunuhnya, meski perasaan itu seakan mencabik hatinya, ia akan menjaga hubungan ini tetap stabil, membimbing Pelangi menjalani minggu-minggu terakhir terapinya, merayakan keberhasilan Pelangi bersama keluarganya ketika akhirnya Pelangi berhasil mengayunkan langkah pertama, yang terpenting dari semuanya, Lentera akan pergi diam-diam.
Lentera sudah bertahun-tahun melakoni pekerjaan ini, ia mencurahkan semua perhatiannya untuk pasiennya. Tapi tidak sebesar ia mencurahkan segalanya untuk Pelangi, dan Pelangi tidak tahu itu. Lentera akan mengucapkan selamat tinggal sambil tersenyum, angkat kaki dari rumahnya, dan Pelangi akan kembali menjalani kehidupannya. Mungkin kelak, sesekali Pelangi teringat dirinya yang pernah menjadi terapisnya, tapi mungkin juga TIDAK.
Mata Lentera seperti kamera, dengan rakus menjepret tiap moment kebersamaannya dengan Pelangi dan Rimba. Ia mengukir sketsa permanen di otaknya, di mimpinya, di setiap langkah kehidupannya.
Hingga suatu pagi ketika selesai Shalat subuh berjamaah, di musolah Pelangi telentang sambil menatap kakinya sendiri penuh konsentrasi. “Amma lihat!!” erang Pelangi. Butiran keringat muncul di wajah Pelangi, tangannya mengepal… dan jemari kakinya bergerak.
Pelangi melemparkan senyum kemenangan kepada Lentera dan Rimba, begitu bahagiannya Rimba melihat hal itu, sampai-sampai pria itu tak kuasa menitikan air mata harunya. Sentara Lentera sibuk mengabadikan kenangan itu dalam otaknya.
Dan di suatu malam sebelum tidur, Pelangi menyuguhi Lentera dengan wajah cemberutnya karena Lentera berhasil mengalahkannya dalam permainan coklak yang berlangsung cukup sengit setelah terapi.
Di situ Pelangi menunjukkan kemarahan yang sama besarnya seperti saat Pelangi tahu jika ternyata Lentera pernah mencuranginya. Entah sedang kesal atau tertawa, Pelangi adalah makhluk paling menggemaskan yang pernah memasuki kehidupan Lentera, dan ia terus mengamati Pelangi ketika tidur, mendekap hangat tubuhnya seolah ia mendekap darah dagingnya.
Lentera begitu terhanyut menyadari dirinya begitu menyayangi bocah itu, dan menyesali apa yang di inginkannya tak akan mungkin bisa terwujud.
berakhir bahagia utk semuaa..lentera juga sudah berhasil mngatasi trauma atas sentuhan laki2...
terimakasih Kak Irmaa utk karyanya..
mohon maaf baru bs menyelesaikan bab ini hingga akhir..🙏
Kau harusnya bs bangkit melawan traumamu dan jangan berpikiran buruk terus. Jika Pelangi saja bs smbuh dan bangkit..kaupun harusnya jg bisa.
Apalagi jika pelaku adalah org terdekat..alhasil mereka tdk mau mengungkapkan dan melaporkan ke Polisi.
Peraayaan ulang tahun Pelangi
Hamilnya Rembulan
dan akhirnya Lentera mau menerima lamaran Rimba dengan restu Senja..🥰🥰🥰
semoga tak ada lagi halangan utk mererka smua
Tak mungkin kan Eyang merusak kebahagiaan Pelangi...😉