"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.2 - TRANSAKSI DI BALIK LUKA
Aylin mematung di lorong IGD. Matanya terus terpaku pada pintu, menunggu sosok yang tadi ia dengar suaranya. Saat pria itu muncul, jantung Aylin berdegup kencang. Wajah itu... terasa tidak asing, tapi ia terlalu kalut untuk mengingatnya sekarang.
Begitu langkah kaki pria itu melewatinya, Aylin bertindak di luar nalar. Ia mencegat dan langsung menyambar lengan pria itu.
"Lancang." Suara berat dan dingin itu menusuk kesadaran Aylin.
"Eh! Maaf, Tuan!" Aylin buru-buru melepas genggamannya. Wajahnya memanas, sadar betapa memalukannya tindakannya barusan.
"Tuan, tunggu!" serunya lagi saat pria itu hendak melenggang pergi.
Aksara menghentikan langkah, menatap Aylin dengan tatapan menghakimi. Dalam hati ia membatin, Makhluk aneh dari mana lagi ini? Laki-laki atau perempuan? Namun, suara lembut yang bergetar itu jelas milik seorang gadis.
"Ada apa? Cepat katakan, aku sibuk," ketus Aksara.
Aylin menelan ludah. "Tuan... apa Anda sedang mencari seorang gadis?"
Aksara memicingkan mata, memindai penampilan Aylin dari atas ke bawah. Wajah kusam, rambut acak-acakan, kemeja kebesaran, dan dada yang rata. Tidak ada sedikit pun kesan feminim.
"Ya, aku mencari gadis. Tapi bukan gadis jadi-jadian seperti kamu," cibirnya pedas.
Deg. Rasanya perih, tapi Aylin tidak punya waktu untuk sakit hati.
"Tuan! Saya perempuan sungguhan! Hanya... penampilan saya saja yang begini."
Aksara hendak pergi, namun kata-kata Aylin berikutnya menghentikannya.
"Saya dengar Tuan butuh gadis untuk dibawa ke hadapan Kakek anda. Saya bisa melakukannya. Saya bisa jadi siapa pun yang Tuan mau."
Aksara berbalik sepenuhnya, menilai setiap inci wajah Aylin yang tersembunyi di balik gaya tomboinya.
"Siapa namamu?"
"Aylin, Tuan. Saya perempuan. Kalau tidak percaya, Tuan bisa cek sendiri!" Tanpa diduga, Aylin menarik tangan Aksara, hendak mengarahkannya ke dadanya sendiri demi membuktikan identitasnya.
Aksara tersentak dan segera menyentak tangannya menjauh.
"Dasar gila! Apa yang kamu lakukan?"
"S-supaya Tuan percaya," cicit Aylin malu-malu, nyalinya menciut melihat kilat amarah di mata Aksara.
Aksara mengusap wajahnya, mencoba meredam emosi. "Baiklah. Apa maumu?"
Aylin menjelaskan semuanya dengan suara gemetar—tentang ibunya, operasi pen, dan kemiskinan yang mencekiknya.
"Saya janji akan menggantinya, Tuan. Apa pun syaratnya, saya terima."
Melihat keputusasaan di mata itu, sisi manipulatif Aksara bekerja. Gadis ini butuh uang, dan aku butuh tameng.
"Bawa aku ke ibumu," perintah Aksara.
“Baik, Tuan. Ibu saya masih di IGD, belum ditangani.”
Tanpa banyak bicara, Aksara melangkah masuk diikuti Aylin. Mereka berhenti di hadapan seorang perempuan paruh baya di ranjang. Rosalind, ibu Aylin, membuka mata dan tersenyum melihat anaknya.
“Mama...” bisik Aylin, menggenggam tangan sang ibu.
“Sayang, maafkan Mama... buat kamu repot lagi,” lirih Rosalind.
“Enggak, Ma. Aku cuma mau Mama sembuh,” jawab Aylin, menahan air mata.
“Siapa dia, sayang?” tanya Rosalind, pandangannya bergeser pada Aksara. Biasanya, Aylin selalu datang bersama Olivia, teman yang sering digosipkan dekat dengannya.
“Dia... anu, dia—”
“Calon suami Aylin, Tante.” Suara Aksara terdengar mantap.
Rosalind terbelalak. “Aylin, maksudnya apa, Nak?”
Aylin panik. Ia ingin menjelaskan, tapi lidahnya kelu.
“Saya dan Aylin sudah lama menjalin hubungan,” Aksara menimpali cepat, “tapi saya sempat pergi ke luar negeri untuk pendidikan. Sekarang saya kembali... untuk menikahinya. Iya kan, Sayang?”
Aksara merangkul Aylin dengan tenang. Tubuh Aylin menegang. Tangannya terkepal kuat di sisi tubuh, tapi ia tak berani menolak.
“Begitu ya?” Rosalind tersenyum lega. “Kenapa kamu gak cerita, Aylin?”
“Aku kira dia gak akan kembali, Ma,” jawab Aylin gugup.
“Saat ini yang terpenting Tante sembuh dulu,” ucap Aksara lembut. “Setelah itu, saya akan melamar Aylin secara resmi.”
Rosalind mengangguk bahagia, tak sadar senyum pura-pura Aylin mulai menurun.
Aksara segera memerintahkan asistennya mengurus administrasi rumah sakit. Tak lama, Rosalind dipindahkan ke kamar perawatan VIP.
“Ini terlalu mewah, Nak,” lirih Rosalind.
“Tidak apa-apa, Tante. Semua ini demi Aylin. Saya tidak ingin dia sedih,” ucap Aksara datar, namun tulus di telinga Rosalind.
Aylin melirik sekilas, hatinya berdesir aneh. Ia belum paham siapa sebenarnya lelaki itu—tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa sepenuhnya membencinya.
Menjelang sore, Rosalind menjalani operasi. Aylin menunggu dengan cemas di luar ruangan, menautkan kedua tangannya erat.
“Besok,” suara Aksara memecah keheningan, “kita akan menemui Kakek dan kedua orang tuaku.”
“Secepat itu?” tanya Aylin terkejut.
“Ya. Lebih cepat, lebih baik. Setelah ibumu sembuh, kita menikah. Dan aku akan memberimu pekerjaan, supaya bisa mencicil biaya rumah sakit.”
Nada suaranya tenang, tapi tegas.
“Baiklah,” jawab Aylin akhirnya, pasrah. Ia tak punya pilihan lain. Gadis miskin seperti dirinya hanya bisa menerima tangan siapa pun yang mau menolong.
Beberapa jam kemudian, operasi selesai. Rosalind berhasil melewatinya. Aylin menghela napas lega dan mengikuti suster yang membawa sang ibu ke kamar rawat.
Namun langkahnya berhenti mendadak ketika ia menabrak punggung seseorang.
“Aduh! Maaf, Tuan.”
“Makanya kalau jalan jangan melamun,” sahut Aksara datar. “Dan mulai sekarang, jangan panggil aku ‘Tuan’. Panggil aku Aksara.”
“Baik, Mas.”
Aksara hanya mengangkat alis, tidak menanggapi panggilan itu. Ia melangkah pergi setelah berpamitan.
“Sekali lagi makasih, Mas, udah bantu saya,” ujar Aylin tulus.
“Ya.” Jawaban singkat itu menjadi akhir pertemuan mereka malam itu.
Aylin menatap punggungnya yang menjauh, hatinya penuh tanda tanya.
“Huh, ya Tuhan... apa yang baru saja aku lakukan?” desahnya pelan.
Namun apa pun yang terjadi nanti, ia akan menjalani semuanya. Asal ibunya sembuh, tak masalah jika ia harus menanggung apa pun.
*
*
Pukul tiga dini hari, Rosalind terbangun. Ia menatap sekeliling—masih di rumah sakit. Ia baru saja bermimpi bertemu kedua orang tuanya di taman yang indah.
Pandangan matanya jatuh pada sosok Aylin yang tertidur di kursi, wajahnya lelah tapi damai.
“Maafkan Mama, Aylin,” bisiknya pelan, matanya mulai basah. “Mama terlalu lemah dan bodoh... sudah membuatmu menderita.”
Ingatan masa lalu berkelebat—tentang suami yang menceraikannya demi masa lalunya. Tentang keluarga suaminya yang lebih memilih berpihak pada lelaki itu. Tentang hari-hari saat dirinya kehilangan kewarasan dan menangis berhari-hari.
Rosalind baru bisa bangkit setelah melihat putrinya menjadi korban perbuatan keji seseorang ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Luka itu tak hanya meninggalkan trauma di tubuh, tapi juga di batin Aylin — luka yang membuatnya menutup diri dan takut disentuh siapa pun.
Setiap kali mengingat hari itu, dada Rosalind terasa sesak. Ia menyalahkan diri sendiri karena tak ada di sisi Aylin saat tragedi itu terjadi.
“Semoga lelaki bernama Aksara itu bisa menyembuhkan lukamu, Nak,” lirihnya pelan. “Dan semoga... tidak ada orang ketiga dalam hubungan kalian.”
Rosalind tersenyum kecil sebelum kembali memejamkan mata, sementara di luar jendela, cahaya dini hari perlahan menyapa langit yang tenang.
Bersambung ....
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣