Masih ingatkah kalian dengan pasangan fenomenal Satria dan Sarah?
Kini mereka sudah memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Arkana.
Ya, kehidupan Arkana tiba-tiba saja berubah 360° saat dia harus bertanggungjawab dan menikahi seorang gadis yang tidak di kenalnya sama sekali.
Lalu bagaimana kehidupan mereka, akankah Arkana bisa menjadi suami yang baik, atah malah sebaliknya.
Simak cerita mereka dan sebelum itu baca dulu cerita sebelumnya oke.
My Wife Is, My sugar mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siluman Ular
Kini mereka sudah selesai makan malam. Tapi ada yang mencuri perhatian Sarah malam ini dengan penampilan menantunya.
"Cincin kamu baru sayang?" tanya Sarah melihat jatuh menantunya yang di hiasi cincin berlian yang begitu besar.
"Yoi. Bagus kan? Arkana yang milih itu. Katanya cuma ada 10 di dunia. Mantap kan anak mami ini?" jelasnya dengan bangga.
Tapi itu tidak berarti apapun dengan Sarah. Karena kesombongan Arkana itu turunannya.
"Masih ada 9 lagi kan berarti yang punya? Gitu aja bangga. Kalau tadi kamu gambar sendiri, terus costume baru mantap!" balas Sarah membuat senyuman Arkana luntur seketika.
"Tapi sayang, itu cincinnya terlihat bagus karena kamu yang pakai. Kalau bukan kamu yang pakai pasti jelek, sama kayak yang beli! Mana rambutnya kayak pesulap merah lagi. Dih, sok iye banget!" sindir Sarah.
"Gengsi banget mau muji anaknya. Padahal dulu sering muji anaknya diem diem. Kayak gak pernah ayang aja, sih mi." balas Arkana untuk sindiran maminya.
"Lagian itu gak seberapa di bandung koleksi siluman ular mama. Iya gak pih?" Arkana meminta dukungan pada papinya.
"Bener!" jawab Satria apa adanya, karena istrinya itu memang sangat menyukai siluman ular ular itu.
"Rania mau liat siluman ular punya mami katanya, mih."
"Eh, gak kok mih. Rania takut sama ular." jawab Rania cepat.
Dia tidak suka ular, dan sangat takut dengan ular. Ih, membayangkannya saja sudah membuat seluruh tubuhnya merinding hebat.
"Tenang cil, ini ularnya gak gigit, iya gak nih?"
Plak!
"Aduh, mami apa-apaan sih main pukul aja! sakit tau, mih " keluar Arkana ketika bahunya di pukul sang mami.
"Lagian mulut kamu itu kayak gak ada filternya ya. Manggil istri cal cil cal cil. Gak bagus tau gak!" sungut Sarah.
Putranya ini memang benar-benar sangat luar biasa sekali. "Kan sama kayak kamu, sayang!" sahut Satria tiba-tiba yang membuat Sarah pun kesal di buatnya.
"Halah, kalian itu memang sama aja! udah yuk sayang, ikut mami. Malam ini kamu tidur sama mami aja. Biarin deh tuh dua laki-laki tidur bareng!"
"No!" sahut mereka bersamaan.
Mana mau mereka di pisahkan dengan istri mereka. Tidak akan mau!
"Bodo amat!" jawab Sarah cuek, meninggalkan anak dan suaminya.
Sedangkan Rania, dia bawa ke dalam kamar ibu mertuanya entah untuk apa.."Mi, mami beneran pelihara ular di dalam kamar? gak takut mereka lepas, terus gigit mami? Kan serem sih, mi." ujar Rania yang membuat Sarah hanya tersenyum saja.
Menantunya ini sangat polos sekali. Sarah suka, apalagi kepribadiannya yang luar biasa itu. Sarah benar-benar merasa beruntung memiliki menantu seperti Rania. Walau jalan mereka bersatu itu karena jalur sesat Arkana, tapi dia tetap beruntung untuk itu.
"Sini, lagian mana ada ular beneran. Itu cuma akal-akalan suami sama papi kamu. Ular yang mereka maksudkan itu ini." tunjuk Sarah pada deretan koleksi siluman ular yang di maksud anak dan suaminya.
Rania terkejut melihat perhiasan itu. Bagaimana mungkin ada perhatian seperti ular dengan seluruh tubuhnya yang di lapisi berlian.
"Nah, ini yang paling mami suka. Cantik gak?" tanya Sarah pada menantunya ketika dia mencoba siluman ular itu.
Dengan begitu polosnya Rania menganggukkan kepalanya karena memang itu cantik sekali di pakai maminya. Tapi jika dia yang memakai pasti auranya berbeda. Karena dirinya ini orang miskin. Sedangkan mami mertuanya itu memang orang kaya raya sejak kecil.
"Ini cocok nih untuk kamu. Gak terlalu besar soalnya. Nah, buat kamu aja. Mami juga gak pernah pakai yang ini. Kayak terlalu muda untuk mami. Jadi untuk kamu aja deh."
"Eh, gak usah mih. Ini pasti mahal banget. Rania gak bisa terima ini, mih. Rania gak bisa." tolaknya dengan halus. Rania tidak ingin menyakiti hati mami mertuanya.
"Harus bisa dong! kamu mantu mami satu-satunya, jadi kamu harus terima ya. Lagian ini semua juga nanti bakalan buat kamu kalau mami udah gak ada."
"Mih, jangan ngomong gitu. Mami pasti sehat-sehat dan umur panjang." ujar Rania, karena jujur saja dia tidak nyaman saat membicarakan tentang kematian.
"Kalau mau mami umur panjang, sehat-sehat terus cepetan kasih mami cucu dong! Mami urus gak sabar liat perut kamu buncit terus disini ada calon cucu mami." ucap Sarah sambil mengusap perut menantunya dengan lembut.
"Udah di cicil kan?" tanya Sarah dan Rania mengangguk.
"Sip deh. Harus rajin-rajin mainnya biar jadi. Besok mami ajak ketemu temen-temen geng komplek rumah kita dulu. Sekarang kamu tidur, dan bawa kotak ini oke."
"Tapi, mi-"
"Udah sana pergi. Cicil calon cucu mami lagi, oke. Semangat sayangnya mamih. Lopyu..."
Cup...
Sarah mengecup kening menantunya itu. Suaranya bahagia sekali memiliki menantu seperti Rania dan Sarah benar-benar sangat beruntung untuk itu.
***
next my