Dosen, tampan, muda dan... duda.
Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.
Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.
Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.
Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf
Hari-hari selanjutnya menjadi lebih berwarna bagi Adam. Di sela-sela bekerja, ia dapat melihat wajah Erica dengan leluasa. Menyapanya tanpa ragu dan merangkul tanpa malu. Semangat Adam meningkatkan berkali-kali lipat ketika mendapati Erica tersenyum khusus untuknya.
Adam dan Erica keluar dari dalam mobil yang sama. Adam turun lebih dulu, lalu memutar membukakan pintu untuk Erica.
"Silahkan, tuan putri," ucap Adam seraya sedikit membungkukkan badannya, membuat semburat merah menemani Erica keluar dari dalam mobil.
"Terimakasih."
"Kembali kasih, sayang."
Adam meletakkan tangannya di pinggang Erica lalu berjalan memasuki gedung fakultas ekonomi dan bisnis.
Lobby dan gazebo menjadi tempat favorit mahasiswa untuk melepas panas di siang bolong. Sebotol minuman dingin akan sangat menyegarkan untuk menemani menunggu kelas berikutnya tiba. Semua mata tertuju pada Adam dan Erica ketika mereka berdua melintas di hadapan mereka. Seketika rasa panas langsung menyergap setiap hati mahasiswi yang melihat, disertai ocehan dan bisikan yang terdengar penuh ketidaksukaan. Sepasang suami istri itu masih menjadi topik favorit untuk dibicarakan.
Sepertinya akan membutuhkan waktu yang cukup lama bagi Erica untuk membiasakan telinganya memerah mendengar bisik-bisik mereka. Hatinya selalu terbakar setiap mendengar ucapan yang sama sekali tidak benar, belum lagi tatapan tajam mereka yang seolah-olah ingin menelan Erica hidup-hidup.
"Sepertinya sebentar lagi mahasiswi disini akan menjadi kanibal."
Kening Adam berkerut-kerut mendengar ucapan Erica.
"Maksudnya?"
"Lihat saja tatapan mereka, seolah-olah ingin memakan ku."
Seketika Adam tertawa. Memang benar, beberapa hari ini mahasiswinya jadi lebih agresif dari biasanya. Keagresifan mereka meningkat sampai berkali-kali lipat setiap kali Erica disampingnya.
"Jangan dong. Masa Mas jadi duda dua kali."
"Ish!" Erica mendelik kesal. "Kayaknya sekarang Mas bangga ya jadi duda? Dikit-dikit jadi duda dikit-dikit jadi duda."
"Mana ada!" Elak Adam.
Mata Erica memicing menatap Adam penuh selidik. "Jujur saja, Mas!"
"Nggak, Ri."
"Mas jadi sering banget bahas duda akhir-akhir ini."
"Duda kan sedang jadi tranding topik di kampus kita, Ri."
"Mas kayaknya pengin jadi duda lagi."
"Kalau Mas jadi duda itu artinya kamu jadi janda. Emang kamu mau jadi janda?"
Erica maju beberapa langkah mendahului Adam. Tangannya di lipat di dadanya yang membusung. Dagunya ia naikkan sementara sorot matanya berubah menjadi tajam. Menunjukkan wajah sombong yang ia pelajari dari Mona. Ia berdehem pelan sebelum menjawab pertanyaan Adam.
"Kalau ditakdirkan merasakan jadi janda, ya kenapa nggak. Janda juga sama menggodanya dengan duda kok."
Seketika mata Adam membulat mendengar penuturan Erica.
"HEY!!" Tegur Adam seraya menepuk pundak Erica cukup keras, agar menyadarkan istrinya itu bahwa menjadi seseorang yang gagal mempertahankan ikatan janji suci tidaklah semenggoda yang dia dipikirkan.
"Jangan coba-coba ya kamu!" imbuh Adam sembari mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Erica. Menggertak gadis itu bahwa pemikirannya adalah salah. Tidak ada yang menggoda dari sebuah kegagalan. Bangkit dari kegagalan itu baru menggoda.
Dengan santai Erica menepis tangan Adam. "Doakan saja supaya aku tidak dimakan para fans mu itu Mas," ucap Erica kemudian berlalu berjalan memasuki kelasnya.
***
Mungkin benar apa yang dibilang para pujangga. Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Cinta mengubah segalanya. Penawar hati yang lara, mengubah arah tujuan hidup seseorang, memberi warna kehidupan, dan tak dapat dipungkiri pula dapat memberi luka.
Cinta dapat membutakan hati, meracuni hati, membuka mata hati, juga dapat membuat hati mati rasa. Sejatinya cinta itu ibarat api. Api yang kecil dapat menghangatkan dikala kedinginan, tapi api yang besar dapat menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya.
Cinta Syafiq bagi Erica berawal dari hal kecil, kemudian tumbuh, membesar, membesar disertai menggebu, hingga cintanya berada di satu titik disertai perasaan egois. Syafiq menginginkan Erica.
Sayup, Syafiq melihat kedatangan Erica dengan senyum yang masih menawan. Sayang senyumnya itu kini terasa begitu memuakkan. Tidak lagi menghadirkan getaran-getaran yang membuatnya semangat empat lima.
Pandangannya beradu, beberapa detik terdiam dalam diam. Saling memandangi dari kejauhan. Sedetik kemudian Syafiq memalingkan wajah. Tak membiarkan bom waktu kembali meledak dan meluluhlantakkan hatinya.
Kepala Syafiq menunduk, menatap buku kuliahnya yang dipenuhi coretan dan gambar-gambar seorang gadis. Secepat kilat kertas itu robek, berubah menjadi gulungan-gulungan kecil yang dibiarkan berserakan di lantai.
"Rumah sakit jiwa penuh, bos," celetuk lelaki yang duduk di samping Syafiq, seolah menyadari jika teman sekelasnya itu mulai muncul tanda-tanda kelainan dalam jiwanya.
"Thanks udah ngingetin," sahut Syafiq lalu beranjak meninggalkan kelas.
Niat hati ingin menenangkan diri, baru beberapa langkah meninggalkan kelas Syafiq sudah dipertemukan dengan Adam yang menatapnya tanpa makna.
Syafiq mendengus kesal lalu balik kanan berniat mencari rute lain.
"Saya tahu saya telah menyakiti perasaan kamu."
Langkah Syafiq terhenti begitu mendengar suara Adam yang begitu nyaring.
"Saya minta maaf," ucap Adam.
"Saya maafkan."
Secepat itu kah Syafiq memaafkan Adam?
Terdengar helaan napas dari laki-laki berkemeja hitam itu. Bukan helaan napas lega yang dihembuskan, tapi didominasi helaan yang tidak dapat didefinisikan. Terlalu banyak perasaan yang tercampur.
"Mudah bagi saya untuk memaafkan bapak." Syafiq memutar tubuhnya, menghadap Adam yang tengah menatapnya tanpa ekspresi. "Yang sulit adalah memaafkan diri saya sendiri."
Pandangannya kosong lurus ke depan dengan kabut yang mulai menyelimuti, sementara bibirnya menyunggingkan senyum kecut.
"Harusnya saya menyadari, kenapa tiba-tiba bapak menyerang saya, memberi saya beberapa tinjuan yang sakitnya harus saya rasakan sampai beberapa hari ke depan. Kenapa saya berspekulasi bahwa bapak hanya berniat melindungi kaum perempuan dari kejahatan seksual secara umum, bukan melindungi Erica secara khusus. Kenapa saya tidak curiga saat bapak menjemput Erica untuk pulang. Kenapa juga saya masih mengagumi bapak sebagai sosok laki-laki yang Erica hormati?"
Pandangan Syafiq kini berpusat pada wajah Adam. Amarah, kekecewaan, dan keputusasaan bercampur menjadi satu dalam satu tatapan.
"Karena saya bodoh."
Adam terdiam, menunggu Syafiq melanjutkan bicaranya. Biar kali ini ia korbankan telinganya mendengar keluh kesah mahasiswanya itu, sebagai penebus rasa bersalah.
"Tidak ada yang salah dengan bapak. Saya yang salah karena telah mencintai perempuan yang salah."
Senyum kecut itu kini berubah menjadi sedikit lebih manis. Sorot matanya menghangat menatap Adam.
"Saya menghormati bapak, dan akan tetap begitu. Tidak akan saya biarkan rasa kecewa menyelimuti hati sampai berlarut-larut lamanya, apalagi sampai menjelma menjadi rasa benci."
Syafiq memang jauh lebih muda dari Adam, tapi kelapangan hati yang dimilikinya membuat Syafiq jauh lebih dewasa. Umur memang hanya tentang angka, tidak dapat mengukur tingkat kedewasaan seseorang.
"Kalau boleh, izinkan saya menimba ilmu dari bapak tentang bagaimana caranya membuat orang lain menutup mata dengan mata yang terbuka."
***
Waktu cepat sekali berlalu jika dihabiskan bersama dengan orang-orang terkasih. Rasanya waktu dua puluh empat jam sehari masih kurang lama.
Erica membaringkan tubuhnya di atas ranjang, merilekskan otot-ototnya yang menegang setelah menghabiskan berjam-jam untuk duduk di kelas menerima asupan materi akuntansi. Matanya terpejam, menikmati dinginnya AC mengelus wajahnya yang masih dipolesi makeup.
Tak lama kemudian Adam menyusul, membaringkan tubuhnya di samping Erica. Keduanya terlentang dengan mata terpejam rapat.
"Ri?" panggil Adam tanpa membuka matanya.
"Hmm," sahut Erica, malas.
"Kata siapa janda menggoda?"
Erica membuka sebelah matanya, melirik Adam. Lalu, ia kembali menutup mata. Ternyata Adam memasukkan gurauannya ke dalam hati.
"Aku tahu Bu Syahnaz selalu menggoda mu."
"Syahnaz?"
"Hmm."
"Mas tidak tergoda olehnya."
"Aku tahu."
"Lalu?"
"Dia janda, dan janda selalu tampil menggoda."
"Janda memang menggoda, tapi perawan lebih menawan."
Adam berguling kesamping, menindih tubuh Erica. Sontak Erica membuka mata mendapati pergerakannya sudah terkunci.
"Maaf, tapi Mas lebih memilih yang menawan saja."
Hembusan napas Adam yang mengungkung tubuh Erica menerpa setiap inchi kulit wajahnya.
"Maaf, tapi aku bukan perawan lagi."
"Tentu, karena Mas yang melakukannya."
Darah disekitar wajah Erica tiba-tiba mendidih. Ditambah tatapan mata Adam yang seolah ingin melahapnya semakin membuat semburat merah di pipinya tampak nyata.
"Mau Mas ingatkan lagi bagaimana rasanya?" tanya Adam dengan senyum yang berhasil membuat darah Erica berdesir.
Adam kamu harus sadar
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂