Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.
Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".
Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 - Aturan dan Aturan Lagi
...ARGO ROMANOV...
Dia lari ke kamar mandi sambil memegangi vaginanya sendiri, yang tadi mencengkeramku begitu ketat sampai aku masih merasakan jepitannya. Darahnya keluar sedikit, tapi aku tahu dia kesakitan.
Aku duduk di kursi berlengan dan mulai mengurut penisku. Malam ini bocah itu tamat, karena aku mau meniduri dia lagi. Aku bangkit, memakai kondom baru, lalu mengetuk pintu kamar mandi, cemas karena dia lama sekali.
"Kamu baik-baik saja?"
"Sebentar." Dia membuka pintu dan melirik ereksiku.
"Sakit?"
"Sedikit."
"Takut?"
"Tidak, kenapa harus takut?"
Kucengkeram bokongnya dan kuangkat dia ke pangkuanku. Kuisap jariku sendiri dan kumasukkan ke dalam dirinya, membuatnya mengerang. Fiorella mulai merengek pelan di telingaku sementara aku duduk di ranjang dan mendudukkannya di atas pahaku, menghadapku. Jari-jariku mulai basah, berlumur cairannya. Dia masih sangat sempit, dan itu membuatku mabuk.
"Kuatkan dirimu, Barbie."
"Kenapa?"
Kuposisikan penisku yang berdenyut di pintu masuknya dan kuisi dia sepenuhnya. Dia memegang wajahku dan berbisik di sela erangan dan rasa sakit.
"Kenapa kita tidak boleh... berciuman?"
"Aku cuma melarangmu."
"Melarang apa?"
"Sst, berhenti bicara." Kupegang pinggang mungil itu dan kupaksa dia duduk dengan keras, kurasakan penisku dalam sekali di tubuhnya.
Payudara bulat yang indah itu bergoyang di depan wajahku. Kuisap kuat putingnya yang merah muda, seperti dua stroberi ranum. Lidahku menjelajahi tubuh mungil itu. Dia memegangi perutku, bahuku, kurasakan kukunya mencakarku. Si seksi ini bakal menghancurkanku kalau meninggalkan bekas di tubuhku, jadi kutahan kedua tangannya di punggungnya. Fiorella mulai mengerang lebih keras, suaranya membuatku makin bergairah. Kubuat dia menunggangiku dengan kuat, tanganku menuntun pinggangnya, aku meluncur dengan mudah dan merasakan sesuatu yang hangat mengalir.
"Kamu klimaks, Fiorella?"
"Ma-maaf." Dia masih mengerang.
Tidak kusangka bocah ini klimaks lagi, di penisku pula. Gadis ini masih banyak yang harus dipelajari dan aku tidak sabar mengajarinya. Argo Romanov mengajari seorang gadis bercinta, kiamat sudah dekat.
"Ulangi setelah aku, Barbie: aku..."
"Aku..."
"Akan jadi gadis baik..."
"Akan jadi... gadis baik..."
"Dan tidak akan pernah lagi melanggar..."
"Tidak akan pernah lagi melanggar..."
"Perintah Tuan Argo."
"Perintah..."
"Lanjutkan, Fiorella."
"Perintah Tuan Argo."
"Bagus! Anak pintar." Kata-kata itu membuatku gila dan tak lama kemudian aku juga klimaks.
"Aku mau mandi," katanya ketika aku keluar pelan-pelan dari dalam tubuhnya.
Untuk kedua kalinya, dia berlari ke kamar mandi. Kondomnya lagi-lagi ternoda darah, bukti kesuciannya, keperawanannya. Aku bisa saja lebih lembut, tapi itu bukan aku.
...FIORELLA FERRAZ...
Dia menghancurkanku. Kurasa aku bahkan tidak bisa duduk, mencuci area intimku saja hampir tak sanggup, sakit sekali, sialan! Tapi aku bahagia, aku tahu dia akan kasar, hanya tidak menyangka sampai segitunya. Pengalaman pertamaku tidak mungkin lebih baik, bersama pria yang paling kuinginkan, meski dia kasar. Mimpiku selalu malam pertama yang romantis, seseorang menciumku dan bilang mencintaiku, tapi itu terlalu muluk untuk anak yang lahir di keluarga Ferraz.
"Fiorella, kita harus pergi." Argo memanggil dari luar.
Aku mematikan pancuran dan mengeringkan badan, sialnya gaunku ada di kamar.
"Tuan bisa ambilkan gaunku, tolong?"
"Malu? Aku sudah kenal tubuhmu, Fiorella." Meski begitu dia mengulurkan tangan lewat pintu dan menyerahkan celana dalam dan gaunku.
Celana dalamnya tidak kupakai, aku tidak tahan merasakannya bergesekan setelah apa yang terjadi. Waktu keluar, dia sudah memakai celana dan tubuhnya agak lembap, mungkin mandi di kamar mandi lain. Dia berbalik padaku dan merentangkan tangan.
"Bagaimana aku menjelaskan ini pada Loretha, Fiorella?"
Sial! Aku meninggalkan bekas kuku di sekujur dadanya. Aku menatapnya tanpa tahu mau bilang apa, kalau jadi dia aku pasti panik. Aku cuma melemparkan tatapan minta maaf. Dia berbalik dan mulai memakai kemejanya. Argo bertubuh lebar, betapa inginnya aku mencium dada dan perut itu, ingin punya lebih banyak waktu untuk menyentuhnya.
"Bagaimana kamu bisa menyelinap keluar?"
"Sebentar." Aku mengambil tasku dari ranjang.
"Kamu tidak berteleportasi, siapa yang membantumu?"
"Tidak ada yang membantu."
"Kamu tahu Blake kena serangan jantung?"
"Kena?" Aku kaget dan tanpa sadar membocorkan diri. "Dia baik-baik saja? Bilang dia tidak mati."
"Katanya sudah baik. Tapi kalau kamu tidak ceritakan semuanya, aku akan cari tahu sendiri dan mengambil tindakan."
Aku duduk di ranjang dengan lesu.
"Aku memasukkan obat tidur ke minumannya, cuma supaya dia tidur, bukan supaya kena serangan jantung."
"Kamu hampir membunuh prajuritku." Dia memakai mantel, memasang sarung pistol, dan mengambil senjatanya. Argo tidak tampak marah, kurasa seks tadi enak juga buat dia. "Siapa yang membantumu?"
"Tidak ada."
"Salah satu pelayan? Kupecat semuanya untuk jaga-jaga."
Aku bangkit, berjalan ke arahnya, dan mencengkeram bajunya erat-erat.
"Janji tidak akan melakukan apa-apa kalau aku ceritakan yang sebenarnya?"
"Janji."
"Jared yang membantuku." Dia menjauh dan amarah paginya kembali.
"Kubunuh bocah itu."
"Kamu sudah janji."
"Aku menyilangkan jari."
"Dia tidak bermaksud jahat, kalau kamu menghukumnya atau melabraknya, aku akan membencimu seumur hidup."
Dia menatapku dengan dahi masih berkerut marah.
"Baik, Fiorella. Aku akan mengabaikan fakta dia membantumu, anggap ini peringatan dan jangan ada lain kali." Dadaku terasa lega. Meski begitu aku kembali duduk di ranjang dengan lesu. "Kenapa?"
"Bagaimana nanti, kamu tidak mau menciumku dan melarang..."
"Aku tetap melarang, tidak ada yang boleh menyentuhmu."
"Kenapa kamu tidak boleh menciumku?" Dia berlutut di depanku dan memegang kakiku.
"Fiorella, ciuman jauh lebih intim daripada seks. Ciuman itu sensual, dalam hubungan artinya gairah. Itu hal terpenting antara pria dan wanita. Yang terjadi di sini hanya persetubuhan, hanya nafsu badan. Tidak ada gairah, tidak ada perasaan. Aku sudah menikah dan kamu akan menikah."
"Jadi tidak berarti apa-apa?"
"Aku hanya ingin menghindari masalah, Fiorella. Tanpa perasaan, tanpa komplikasi."