Khaira yang hamil saat kuliah terpaksa tidak melanjutkan cita cita nya, ia hamil terbuai oleh rayuan kakak kelas yang playboy.
Namun setelah menikah nasib Khaira justru tragis karena Sam, suami nya yg meneruskan kuliah bermain api dengan teman kampus nya.
Sementara di sisi lain ada Bram kakak Sam yang memberi perhatian kepada Khaira.
Akankah Khaira mengakhiri pernikahan nya? dan melanjutkan scandal yang di buat dengan Bram?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chariz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Mikha berjalan dengan anggun menuju apartemen milik Bram, yang sekarang ia tinggali. Wanita cantik dengan tubuh proporsional yang memang seorang model itu, kini melenggang masuk setelah menempelkan kartu akses nya.
"Sudah malam tapi kenapa Bram belum pulang juga?" Mikha bertanya pada diri sendiri.
Ia kemudian pergi ke dapur untuk minum terlebih dahulu, kemudian pergi ke kamar nya tempat ia dan Bram beristirahat.
Saat Mikha sedang melakukan perawatan malam nya nampak Bram muncul membuka pintu.
"Dari mana?" tanya Mikha sembari mengoleskan krim di wajah nya.
"Aku ada urusan dulu" kata Bram datar, ia kemudian ke ruang ganti untuk membawa pakaian ganti.
Mikha duduk di atas ranjang memainkan ponsel nya, sembari menunggu suaminya mandi.
"Kamu baru pulang?" Bram menggosok rambutnya yang masih basah.
"Iya"
Bram langsung berbaring di samping Mikha, tak lama dengkuran halus terdengar.
'Bukan seperti ini pernikahan yang aku mau, Bram' batin Mikha.
Mikha berusaha memejamkan matanya, ia masih berharap Bram memaafkan kesalahan dirinya di masa lalu.
*****
Pram berjalan ke ruangan anak nya, terlihat Bram tengah duduk sengaja menunggu Papa nya.
"Papa, berangkat sekarang?" tanya Bram
Pram mengangguk.
Keduanya berjalan beriringan, mereka seperti kembar yang berbeda generasi. Suasana kantor sudah sepi, hari ini tidak ada yang lembur hanya satpam yang setia berjaga.
Kedua nya menyapa satpam yang sudah lebih dari 10 tahun mengabdi di perusahaan nya.
"Hati-hati Pak" ucap Pak Diman sambil kembali menutup gerbang kantor yang menjulang tinggi.
Kini Pram dan Bram tiba di kediaman Wiratama, Pram turun terlebih dahulu. Terlihat pintu depan yang terbuka lebar, namun telinga nya menangkap suara yang sangat ia kenali. Buru-buru Pram mengajak Bram untuk masuk.
"Pak Pram" ucap Linda yang sedang membawa beberapa cemilan.
"Malam Bu Linda" Sapa Pram.
Linda mempersilahkan duduk kepada Pram dan Bram, yang di sebut bunda oleh Edric adalah ibunya Sasha.
Linda sangat menyayangi Edric seperti anak kandung nya sendiri, terlebih setelah kepergian mendiang kakak nya yang tak lain Papa nya Edric.
"Kebetulan Pram, tadi nya aku juga ingin menemui mu" ucap Kakek Agung yang datang ikut berkumpul.
"Ada hal apa sehingga mengantarkan mu kesini?" tanya kakek Agung.
Pram melirik Bram sekilas.
"Maaf jika kedatangan kami berdua mengganggu, saya ingin menanyakan kerjasama yang di tolak oleh Pak Edric?"
"Oh proyek pembangunan resort, maaf saya masih sibuk jadi belum menjadwalkan pertemuan untuk menjelaskan nya" Edric merasa bersalah, sampai rekan bisnis nya itu harus mendatangi rumah nya.
"Jadi begini Pak, kawasan tempat proyek resort nya masih belum selesai tahap pembebasan lahan, bukan di batalkan namun di tunda sampai lahannya di selesaikan" tutur Edric.
Pram dan Bram mengangguk.
"Kalau begitu saya undur diri, maaf kalau sudah mengganggu di waktu yang tepat"
"Tidak apa-apa, oh ya pak Pram saya ingin mengajak keluarga anda untuk makan malam bersama" kata kakek Agung.
"Maaf kapan pak Agung?" tanya Pram kembali duduk sebentar, sementara Bram sudah menunggu di dalam mobil.
"Kalau bisa ya minggu ini, tidak ada apa-apa hanya ingin mempererat tali silaturahmi" kakek Agung tersenyum tipis.
"Baiklah, saya menunggu kabar selanjutnya" Pram menyalami Edric dan kakek Agung, kemudian bergegas menghampiri Bram.
Bram melajukan mobilnya keluar dari kediaman Wiratama. Pram hanya menatap ke arah depan membiarkan putranya fokus mengemudi.