Naruto tidak dapat mengingat apa yang terjadi ketika dia terbangun di kamar yang bukan miliknya. Naruto ditemukan oleh Alicia, seorang gadis berambut hitam, putri kepala desa, gadis ceria berusia 12 tahun yang membantu Naruto dengan segala hal tentang Desa Pembatas. Dunia yang benar-benar berbeda di mana ada monster, dan ada orang-orang dengan kemampuan berbeda dari apa yang dia ketahui, ironisnya juga tidak ada Shinobi di dunia tempat dia berada saat ini. Dia bukan lagi Jinchuriki, selama dia merasakannya— aliran Chakra yang dia rasakan sebelumnya, dia hanyalah anak laki-laki normal dengan kekuatannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayang_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunangan
Naruto dan para kloning kini sedang sibuk dengan membersihkan jalan yang tertimbun di penuhi salju. Alicia ikut menemani Naruto yang sibuk menyuruh-nyuruh kloningnya. Ada kloning yang protes, ia merasa diperlakukan tidak adil oleh Naruto. Alicia tertawa kecil setiap ia ingat kalau kloning Naruto selalu ada saja yang protes atas perintah.
"Yang sana belum selesai, kenapa kau berhenti!" Naruto kesal.
"Jangan asal menyuruh saja, coba kau ikut bantu kami!" Kloning Naruto membentak.
"Sudah jangan banyak melawannya, dia itu bos kita." Kloning Naruto yang lain lebih penurut dan menasehati.
"Dengarkan dia, lebih penurut darimu!" Naruto mulai ceramah.
"Akh, aku pergi saja—ttebayo!" Plom!— kloning menghilang.
Alicia sedikit demi sedikit mendekati, gadis yang menginjak remaja kini berusia 15 tahun, ia seumuran dengan Naruto saat ini. Postur tubuhnya sudah terbilang tidak bisa disebut sebagai gadis kecil, terlihat menggoda bagi para lelaki. Naruto yang bodoh akan menilai kecantikan wanita, ia selalu sibuk tentang kekuatan yang akan ia banggakan.
"Tak terasa tinggal dua bulan lagi," gumam Alicia.
"Ternyata tiga tahun cepat, ya?" Naruto menoleh.
"Apakah aku boleh ikut lagi denganmu ke kota?"
"Tentu saja, kamu boleh ikut ke kota."
"Aku akan tinggal dengan Nona Camila kalau begitu."
"Kamu memilih tinggal dengannya?"
"Ya, kamu tahu sendiri, kalau aku sendirian akan mendapatkan ceramah dari ayah, soalnya aku sudah cukup dewasa ..." Alicia melirik Naruto diam-diam.
"Benar juga, kamu sudah banyak berkembang? Mmm... terlalu banyak..." Naruto memandangi Alicia.
Naruto jadi penasaran dengan semua rekannya, Naruto yakin kalau selain lebih kuat, mereka pasti banyak berubah dari segi penampilannya.
Alicia mengikuti saran dari penduduk desa. "Apa aku sudah terlihat sebagai wanita?" tanya Alicia yang menanyakan tentang dirinya layak seperti wanita dewasa.
"Bukannya kamu memang wanita?" Naruto merespon dengan polosnya.
"Sudahlah, kita lebih baik cepat pulang, udaranya semakin dingin."
"Kamu pulang duluan, aku nanti akan menyusul pulang."
"Baiklah, cepatlah pulang..." Alicia pulang sendirian.
Saat Alicia sampai di rumah, ia meminta izin ayahnya. Alicia akan ikut Naruto pergi ke Kekaisaran Ethan jika waktunya tiba. Roy sebagai seorang ayah, ia memiliki kecemasan akan hal yang semakin tak pasti. Naruto pulang sekitar dua jam kemudian, Roy bicara dengan Naruto tentang Alicia. Dunia ini untuk remaja usia 15 sudah layak menjalani rumah tangga jika mereka menghendaki, tentu sangat baik jika menikah diusia muda. Naruto terkejut saat ditawari untuk menikahi Alicia. Naruto masih tidak memikirkan tentang pernikahan, usianya terlalu muda untuk hal semacam itu.
"Bukannya terlalu cepat, aku akan kembali untuk jadi Petualang." Naruto panik.
"Sudah kuduga akan begini jadinya..."
"Kamu bilang akan bersamaku selamanya..." Alicia melihat Naruto dengan sangat sedih, matanya berkaca-kaca.
"Tentu saja, kita akan bersama selamanya, aku sudah janji padamu, aku janji!" Naruto merapatkan dua jari sambil mengangkat tangan. Naruto meminta maaf kepada Alicia dan Roy, dengan segala rendah hati, ia tidak tahu apa yang harus diketahui soal pernikahan, ia hanya tahu tentang menikah dari pembicaraan orang-orang yang pernah di desa dunia asalnya, ia hanya pernah mendengar tanpa tahu kejelasannya.
"Kau akan menerima atau tidak, mau menikahinya atau tidak?!" Roy menaikkan nada suaranya.
"!... Aku tidak tahu..." Naruto menundukkan kepalanya.
Menurut Naruto bukan waktunya untuk menikah, ia terlalu rumit jika menikah, ia tidak tahu bagaimana melakukan hal yang benar sebagai orang yang menikah. Alicia sudah punya pengetahuan tentang sebagai seorang istri, dan apa yang akan ia lakukan, pengetahuan tersebut dari orang-orang di desa, dan para wanita yang pernah ia minta penjelasannya.
"Dasar maniak berkelahi, kau cuma bisa tahu caranya menjadi kuat saja." Roy pun memberitahukan Naruto, arti dari sebuah pernikahan dan keluarga. Naruto sampai tak menutup mulutnya saat mendengarkan cerita dari Roy. Naruto sangat bahagia mendengarnya, ia membayangkan punya keluarga sendiri.
"Jangan kecewa, lelaki yang kau suka hanya terlalu bodoh," kata Roy kepada Alicia, sebagai penjelasan untuk meluruskan.
Naruto merasa debaran jantung yang kacau ketika ia diminta untuk menjadi pacar Alicia. Roy tak mau putrinya kecewa lebih dari sekarang, dan melihat Naruto yang semakin bodoh butuh diberikan pengetahuan yang hanya bukan sekedar pacaran anak-anak yang Naruto bayangkan.
Naruto diberi waktu selama setahun untuk mempelajari tentang asmara dan percintaan, Naruto hanya tahu kalau orang pacaran akan berpelukan dan, Naruto tiba-tiba teringat saat tak sengaja mencium Sasuke Uchiha. Naruto teringat kembali perebutan ciuman pertama dengan kecelakaan yang memalukan disaksikan banyak teman-temannya.
"Aku jadi ingat sesuatu seperti itu," gumam Naruto, ia menutup wajah dengan satu tangan.
"Mm?" Roy tak mengerti oleh tingkah aneh Naruto.
Saat musim semi tiba, para penduduk desa berkumpul. Naruto dan Alicia dinyatakan sebagai pasangan yang sedang bertunangan. Naruto sangat senang dengan pemberian selamat dari para penduduk. Naruto diminta untuk menjaga Alicia lebih menjaga dirinya sendiri.
"Kenapa tidak menikahkan mereka saja?" tanya Eric pada Roy.
"Tidak mungkin akan menikah, bocah itu perlu pendidikan lebih, dia cuma badan saja yang dewasa."
"Jangan bilang kalau otaknya kosong?" Eric mengatakan sebuah kalimat untuk sindiran orang yang tak dewasa, masih bocah ingusan diusia yang dewasa.
"Dan juga seperti dia belum pubertas," kata Roy.
"Kepolosan sangat bahaya juga..." Eric mengangkat kedua bahu.
Seminggu berlalu, waktunya untuk kembali ke tujuan utama. Naruto dan Alicia pergi ke Ibukota Kekaisaran Ethan, keduanya terlihat romantis, namun hanya satu pihak yang duduk untuk memperdalam sebuah hubungan. Naruto merasa merinding dan panas-dingin, ia sangat gugup seakan ada aliran listrik yang mengalir di pembuluh darah.
"Kata ayah, kita bisa tinggal dalam satu kamar." Alicia mengambil inisiatif, ia peroleh dari ibu-ibu desa.
"A-aku pasti akan menggangu tidurmu jika kita sekarang, hehehe tidurku mendengkur..." Naruto sangat malu.
"Aku tahu tidurmu mendengkur," kata Alicia.
"Eh, kamu tahu, sejak kapan?"
"Dari dulu..." Alicia malu-malu
"Oh, anak muda begitu penuh semangat!" Pak Kusir bicara dengan nada seperti orang bernyanyi.
Sementara itu di sisi yang lain, Vivian, Samuel dan Caroline sudah saling berkumpul di Guild. Suara yang paling banyak menyindir ada Samuel yang berbicara dengan Caroline. Vivian menatap bosan ke arah Samuel dan Caroline, mereka berdua saling menggoda satu sama lain dengan tutur kata yang manis.
"Lebih baik kita pensiun dan menikah," kata Samuel.
"J-jangan bicara omong kosong, kita harus serius, kita harus jadi Petualang Peringkat S." Caroline yang sangat malu hanya beralasan.
"Sudah seminggu, dia belum juga muncul," gumam Vivian, ia mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk tangannya.
Samuel dan Caroline saling berpandangan, mereka berdua punya cara saling berkomunikasi hanya dengan saling menatap.