Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Mendengar hal itu, Julian kembali dibuat terperanjat. Matanya seketika membelalak menatap pantulan wajah Darius dari spion tengah.
"Pernikahan?" ucap Julian dengan nada tidak percaya. "Tapi... Nona Adelina itu sudah memiliki pasangan, Tuan."
"Pasangan?" Darius mengulang kata itu dengan tenang. Sorot matanya tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun.
"Benar, Tuan," sahut Julian cepat, suaranya diwarnai kehati-hatian. "Pasangannya itu bernama Devran Zavian.
"Devran Zavian..." Darius menyebut nama itu pelan, seolah sedang mengecap rasa asing di lidahnya. "Siapa dia?"
Julian mengangguk pelan, memperhalus laju mobilnya saat mendekati lampu merah. "Devran Zavian adalah seorang direktur Garuda Nusaraya, Tuan."
"Dia bukan hanya direktur, Tuan," lanjut Julian dengan raut wajah yang semakin serius. "Beredar rumor di kalangan elite bahwa Devran memiliki hubungan dengan Kelompok Naga Hitam."
Darius mendengarkan penjelasan Julian tanpa mengalihkan pandangannya dari balik kaca jendela. Senyum miring yang tipis dan dingin kembali terukir di sudut bibirnya.
"Kelompok Naga Hitam..." ujar Darius mengulang nama itu dengan nada yang datar.
Ia lalu menyilangkan jemarinya di atas pangkuan. Sorot matanya yang tajam menembus kegelapan malam di luar jendela.
"Keluarga Adhitama rupanya sangat lihai," lanjut Darius dengan sebuah kekehan dingin. "Selain ingin memanfaatkanku, ternyata mereka juga menjadikanku umpan."
Julian mengepalkan tangannya di atas kemudi, matanya berkilat penuh kemarahan atas perlakuan keluarga Adhitama terhadap Darius.
"Apakah Anda ingin saya membatalkan perjodohan ini, Tuan?" tanya Julian dengan suara penuh ketegasan. "Ataukah Anda ingin saya membereskan Devran Zavian dan Kelompok Naga Hitam?"
"Tidak perlu," potong Darius tenang namun sarat ketegasan yang tak terbantahkan. "Biarkan mereka tetap mengira sedang menjebakku."
Darius memalingkan pandangannya kembali ke arah jalanan, menyiratkan bahwa pembahasan mengenai masalah ini sudah berakhir sepenuhnya.
"Baik, Tuan," sahut Julian sigap, menahan kekesalannya dan patuh sepenuhnya pada keputusan Darius.
Lampu lalu lintas berganti hijau. Mobil Maybach hitam itu kembali melaju mulus membelah keheningan malam. Setelah beberapa saat hening, Julian melirik spion tengah.
"Tuan," buka Julian dengan suara rendah penuh penghormatan. "Setelah ini kita mau ke mana, Tuan? Apakah Anda ingin kembali ke kediaman Keluarga Adhitama?"
Darius terdiam sejenak. Sorot matanya menatap tajam ke arah kegelapan malam di luar jendela, menimbang opsi yang ada di hadapannya.
"Antarkan aku kembali ke sana," jawab Darius sambil mengalihkan pandangannya menatap Julian yang sedang mengemudi.
"Baiklah, Tuan," sahut Julian seraya mengangguk singkat. Suaranya terdengar tenang dan penuh hormat.
Sekitar lima belas menit kemudian, mobil Maybach hitam itu berhenti sekitar dua ratus meter dari kediaman Keluarga Adhitama, persis di titik Julian menjemput Darius.
Setelah itu, Darius merapikan kemeja hitamnya sejenak, lalu membuka pintu mobil Maybach itu tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
"Tuan," panggil Julian sebelum Darius melangkah keluar. "Saya akan terus bersiap di balik layar. Jika terjadi sesuatu di dalam sana, beritahu saya."
Darius hanya tersenyum dingin ketika mendengar hal itu. Setelah itu, ia keluar dan menutup pintu mobil dengan amat perlahan.
Satu detik kemudian, Darius melompati tembok pagar kediaman Keluarga Adhitama setinggi tiga meter tanpa mengeluarkan bunyi sedikit pun.
Ia lalu memanjat bagian luar kediaman megah itu, hingga akhirnya tiba di balkon lantai tiga, tepat di area kamar yang disediakan Keluarga Adhitama untuknya.
Dengan gerakan lincah, Darius melangkah masuk melewati pintu balkon yang terbuka, lalu menutupnya kembali dengan perlahan.
Darius lalu menarik napas panjang, melonggarkan kancing kemeja hitamnya dan berjalan menuju tempat tidur berukuran king-size di tengah kamar.
Namun, tepat saat Darius hendak merebahkan tubuhnya di atas kasur, sebuah ketukan pelan dan ragu-ragu terdengar dari balik pintu kamarnya.
Tok... Tok... Tok...
Mendengar ketukan itu, Darius segera menyipitkan matanya. Ia lalu melangkah mendekati pintu dan membukanya perlahan.
Di balik pintu, berdiri Violetta dengan mamakai gaun tidur berwarna krem. Rambutnya dibiarkan terurai, menyebarkan aroma yang sangat familier di ingatan Darius.
"Violetta..." panggil Darius pelan, suaranya datar tanpa riak emosi sedikit pun.
Violetta meremas ujung gaun tidurnya. Ia menatap Darius dengan pandangan yang campur aduk antara rasa rindu, bersalah, dan penyesalan.
"Darius..." bisik Violetta lirih, takut suaranya memicu perhatian para pelayan. "Boleh... bolehkah aku masuk sebentar? Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu."
Darius tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap wanita di hadapannya itu dengan sorot mata yang dingin. Sebelum akhirnya membuka pintu kamarnya lebih lebar.
"Masuklah," ucap Darius dengan nada suara datar, tanpa intonasi hangat sedikit pun.
Violetta mengembuskan napas lega yang tertahan. Dengan langkah yang pelan dan ragu-ragu, ia melangkah melewati ambang pintu.
Darius lalu menutup pintu kamar tanpa menguncinya dan berjalan menuju sofa di sudut kamar dan mendudukinya sambil menatap Violetta yang masih berdiri dengan canggung.
"Katakan. Apa yang membuatmu datang ke kamar pria lain di malam hari seperti ini, Violetta?" tanya Darius langsung pada intinya.
Violetta meremas jemarinya semakin erat. Ia menunduk sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri menatap mata Darius.
"Darius... aku tahu kau membenciku karena dulu aku meninggalkanmu" buka Violetta dengan suara bergetar.
Violetta menahan napas sejenak, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Suasana di dalam kamar itu mendadak terasa begitu sempit dan menghimpit.
"Kau juga melakukan kesalahan, Darius!" lanjut Violetta dengan mata yang berkaca-kaca. "Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau adalah putra tertua Keluarga Adhitama."
Darius menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, lalu memiringkan kepalanya sedikit dengan tatapan yang sangat dingin.
"Salahku?" tanya Darius dengan nada yang sangat tenang. "Aku tidak pernah menyembunyikan identitasku padamu, Violetta. Kau yang tidak pernah bertanya kepadaku."
Mendengar ucapan menohok dari Darius, dada Violetta naik-turun menahan sesak. Air mata yang membendung di pelupuk matanya akhirnya menetes.
"Tapi tetap saja kau menyembunyikannya dariku, Darius!" sanggah Violetta dengan suara serak menahan tangis. "Jika... jika aku tau identitasmu yang sebenarnya, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Mendengar hal itu, Darius hanya terkekeh dingin, sebuah tawa tanpa nada humor yang terdengar sangat sinis di telinga Violetta.
"Jika kau tahu identitasku, kau tidak akan meninggalkanku?" Darius mengulang kalimat itu dengan nada merendahkan.
Ia menegakkan posisi duduknya, lalu menatap Violetta. "Itu artinya, kau hanya memandang harta semata, Violetta."
Violetta seketika tertegun. Kata-kata Darius langsung menusuk tepat ke dalam hatinya. Namun ia enggan menyerah begitu saja.
"Kau tahu kenapa aku meninggalkanmu, Darius?" potong Violetta. Air matanya kini mengalir makin deras. "Aku dipaksa... aku dipaksa oleh kedua orang tuaku untuk meninggalkanmu."
Darius menatap Violetta dengan sorot mata yang dingin. Tidak ada kekecewaan dan kemarahan, hanya ada tatapan kosong seolah wanita di hadapannya hanya orang asing.
"Dipaksa?" ujar Darius sambil mendengus pelan, sebuah kekehan sinis lolos dari bibirnya. "Dan kau menjadikan alasan itu untuk meninggalkanku?"
Violetta terperanjat. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, lalu melangkah maju mendekati sofa tempat Darius duduk dan mencoba menggapai tangan pria itu.
"Darius, dengarkan aku dulu! Waktu itu kau hanyalah pria miskin tanpa masa depan! Orang tuaku tidak setuju jika aku terus bersamamu!" jelas Violetta dengan terisak.
Namun, tepat ketika jemari Violetta hampir menyentuh tangan Darius, pria itu dengan cepat langsung memindahkan tangannya dengan santai.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
aku suka.
up terus yg banyak ya