Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.
Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air mata yang terucap
"Adekk", Suara Owen terdengar tegas.
"Jaga bicaramu. Nggak sopan ngomong begitu sama orang yang lebih tua."
Ell langsung menatap Owen dengan wajah kesal. "Kakak itu aja nggak jaga ucapan. Kenapa harus Ell yang jaga ucapan?"
Ruangan kembali hening. Di tengah suasana itu, Lily perlahan berdiri dari sofa.
"Lily... mau ke kamar."
Matanya mulai berkaca-kaca. Sejak tadi ia sudah berusaha menahan air mata agar tidak jatuh di depan semua orang. Namun ternyata ia tidak sanggup lagi.
"My honey bunny sweetie...", Suara Malik terdengar penuh kekhawatiran.
"Jangan ikutin aku", Nada suara Lily terdengar tegas tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
Detik berikutnya...
Ia langsung berlari menuju lantai atas. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir tanpa henti. Semua orang hanya terdiam melihat kepergiannya.
Sesampainya di kamar, Lily langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Tangisnya pecah. Ia memeluk bantal erat sambil sesekali mengusap air matanya.
Beberapa menit kemudian, Lily meraih ponselnya. Orang pertama yang ingin ia hubungi hanyalah satu.
Papi
📱 Papi 💸 📱
Lily
- Pih...
- Papi pulang kapan?
Jaya
- Ada apa, Sayang?
- Papi pulang nanti sore
Lily
- Papi cepet pulang ya...
Jaya
- Kenapa, Nak?
- Abang sama Wafa gangguin kamu?
Lily
- Bukan cuma mereka, Pih...
- Tapi juga teman-temannya juga
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
Jaya
- Papi usahain pulang secepatnya
Melihat balasan itu, Lily kembali menangis. Ia benar-benar merindukan sosok papinya.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara ketukan terdengar dari balik pintu.
"Dek..., buka pintunya", Suara Owen terdengar lembut, dari balik pintu.
"Nggak, Lily nggak mau, Kak Owen sama aja kayak mereka."
Owen menghela napas pelan. "Maafin Kakak ya, Dek."
"Yuk kita keluar, jalan-jalan."
"Nggak."
"Kita beli es krim."
"LILY BILANG LILY NGGAK MAU, KAK!"
"PERGI!"
Bentakan itu membuat Owen terdiam. Ia hanya mampu menundukkan kepala. Rasa bersalah mulai memenuhi hatinya.
Di tempat kerja. Jaya membaca pesan Lily berulang kali. Raut wajahnya berubah penuh kekhawatiran dan amarah. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengirim pesan ke grup keluarga.
📱 Keluarga Sayang Mami 📱
Jaya
- Kalian apain anak gadis Papi?!
Satu per satu notifikasi mulai bermunculan.
Rafa
- Kita cuma bercanda, Pih
Wafa
- Ya cuma Lily aja yang sensi
Owen
- Bercanda kalian udah kelewatan
- Gue jadi ikut kena juga
Ell
- Papi buruan pulang
- Ell bakal ceritain semuanya
- Pokoknya Papi harus hukum mereka!
Wafa
- Apa sih lu Cil
- Ikut-ikutan banget
Ell
- Papi juga harus hukum temen-temen abang
- Bang Malik sama abang sok ganteng itu
Jaya
- Iya, Sayang
- Papi usahain pulang lebih awal
- @ Owen
- Papi kan udah nitip adik-adik ke Kakak
- Kok bisa jadi kayak gini?
Owen
- Maaf, Pih
- Ini salah Kakak
Jaya
- Papi jadi nggak tenang kerjanya
Owen
- Maaf, Pih
Beberapa detik kemudian... Pesan baru kembali muncul.
Jaya
- Temen-temen kalian jangan ada yang pulang sebelum ketemu Papi
- Kak Owen sama Adek Ell tolong jagain mereka, Jangan sampai ada yang kabur
Ell
- Bagus, Pih
Owen
- Oke, Pih
Wafa
- Matilah gue...
Ell
- Syukurin 🤪😏
- Biar tau rasa
Jaya menambahkan satu pesan terakhir.
- Jangan ada yang berani kabur
- Kalau kabur...
- Hukuman kalian bakal Papi tambah
Semua yang membaca pesan itu langsung saling berpandangan.
Di dalam kamar. Ponsel Lily kembali berbunyi.
📱 Kino Temen Adek 📱
Kino
- Kak
- Kakak baik-baik aja?
- Kino lagi di depan kamar Kakak
Lily langsung terkejut.
Lily
- Kamu ngapain di depan kamarku, No?
Kino
- Kino khawatir sama Kakak
Lily
- Kamu nggak lagi sama Ell?
Kino
- Enggak
-Ell ada di kamarnya, dia ngunci diri
- Tadi habis Kak Lily pergi, Ell sempet marah-marah
Raut wajah Lily langsung berubah cemas.
Lily
- Tapi Ell nggak apa-apa, kan?
Kino
- Dia baik-baik aja, Kak
Lily mengembuskan napas lega. Tak lama kemudian, ia membuka pintu kamar. Kino yang sejak tadi duduk di depan pintu langsung berdiri.
"Kak..."
Lily mengangguk pelan.
"Yuk", Lily menarik tangan Kino, mereka berjalan menuju kamar Ell. Pintu kamar ternyata tidak terkunci.
Saat Lily membukanya...
Ell sudah tertidur pulas. Masih tampak bekas air mata di kedua pipinya. Lily tersenyum sedih. Ia mengusap pelan rambut adiknya.
"Maaf ya, Dek..."
Kino yang berdiri di belakangnya ikut merasa iba.
"Kak..., kita ke balkon aja yuk, cari angin", ajak Kino.
Lily mengangguk. Mereka pun menuju balkon lantai dua.
Angin sore berembus pelan. Mereka mengobrol tentang sekolah, guru-guru yang menyebalkan, hingga cerita-cerita kecil yang tanpa sadar membuat Lily kembali tersenyum.
"Makasih ya, No", Lily menatap Kino. "Udah mau nemenin Kakak."
Kino ikut tersenyum. "Kino malah seneng, soalnya..."
"Kak Lily sekarang mulai nyaman cerita sama Kino."
Lily hanya membalas dengan senyum tipis.
Di ruang tamu, Sean berdiri sambil membawa kameranya.
"Waf, Gue pulang ya, dicariin Mama."
"Oh", Wafa mengangguk. "Iya hati-hati ya, Yan."
Sean lalu menoleh kepada semua orang. "Sean pamit dulu, Kak."
"Iya dek, hati-hati", jawab Owen.
Sean kembali menoleh ke arah Malik yang menyandarkan tubuhnya di sofa dengan tatapan mata kosong.
"Lik, Gue pulang duluan ya", Malik membalas dengan melambaikan tangan sambil tersenyum kecil.
Menjelang sore, sekitar pukul lima. Ponsel Lily kembali berbunyi.
📱 ADEKK 🦕 📱
Ell
- Kak...kak...kak...
- Kita beli es krim yuk
Lily
- Ayo
Ell
- Tapi Ell ajak Kino nggak apa-apa, kan?
Lily
- Iya, nggak apa-apa
Beberapa menit kemudian...
Setelah berganti pakaian, Lily membuka pintu kamarnya. Ternyata Ell dan Kino sudah berdiri rapi di depan pintu.
"Kalian udah siap?"
Ell mengangguk semangat. "Ayo!"
Mereka bertiga berjalan menuruni tangga. Di ruang tamu, Owen masih duduk santai menonton televisi.
"Kalian mau ke mana, Dek?"
Ell dan Lily diam.
Tak ada yang menjawab.
Akhirnya Kino yang angkat suara. "Kita mau beli es krim, Kak."
Owen mengangguk pelan. Tadi siang ia sempat melihat Lily dan Kino mengobrol cukup lama di balkon.
Sudah lama ia tidak melihat adiknya bisa setenang itu saat berbicara dengan orang lain. Tanpa sadar, Owen tersenyum kecil.
Ia mendekat ke arah Kino lalu berbisik pelan. "Kakak tadi lihat kamu sama kak Lily ngobrol, kak Lily nggak biasanya begitu."
"Kayaknya, dia cukup nyaman sama kamu."
Wajah Kino langsung memerah. "Iya, Kak...", jawabnya gugup.
Owen tersenyum tipis. "Yaudah, hati-hati di jalan."
"Iya, Kak"
Tak lama kemudian...
Mereka bertiga sampai di toko es krim langganan Lily. Suasana kembali dipenuhi tawa. Ell sibuk memilih rasa favoritnya. Kino sesekali mengajak Lily bercanda.
Sementara Lily mulai kembali menikmati harinya, meski rasa sedih tadi siang masih belum sepenuhnya hilang. Saat mereka sedang menikmati es krim...
Ting!
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Ell.
📱 Papi 💸 📱
- Papi udah di rumah, Dek
Ell
- Oke, Pih
- Ell OTW pulang
Membaca pesan itu, ketiganya saling berpandangan. Mereka tahu, sesampainya di rumah nanti, suasana tidak akan lagi dipenuhi tawa. Jaya telah pulang, dan semua orang yang terlibat dalam keributan siang tadi harus bersiap menghadapi pertanggungjawaban.
"Kita pulang"
Begitu pintu rumah terbuka, Lily langsung melihat sosok yang sejak tadi ia tunggu.
"Papi..."
Tanpa berpikir panjang, ia berlari menghampiri Jaya dan langsung memeluk tubuh ayahnya erat.
Jaya membalas pelukan itu dengan penuh kasih sayang. Tangannya mengusap pelan punggung Lily, lalu meraup kedua pipinya yang masih basah oleh sisa air mata.
"Adek..."
Jaya mengecup lembut puncak kepala putrinya. "Coba cerita sama Papi. Sebenarnya tadi terjadi apa?"
Lily belum sempat menjawab.
"Ell yang cerita, Pih," ucap Ell.
Anak bungsu itu pun menceritakan semuanya dari awal. Mulai dari candaan Malik, godaan Javin, cerita buatan Wafa, sampai Lily yang akhirnya menangis dan mengurung diri di kamar.
Sesekali Kino ikut menambahkan bagian yang terlewat.
Semakin lama mendengar cerita mereka, wajah Jaya berubah. Rahangnya mengeras. Tatapannya penuh kemarahan.
Semua orang di ruang tamu mulai menelan ludah.
"KALIAN SEMUA...", Suara Jaya menggema di seluruh rumah.
"PUSH UP SERATUS KALI!"
"SETELAH ITU LARI KELILING RUMAH LIMA PULUH PUTARAN!"
Suasana langsung membeku.
"Tapi, Pih..." Wafa mencoba membela diri. Tatapannya sempat beralih ke arah Lily.
Melihat itu, Kino langsung berdiri. "Bang Wafa, jangan lihat Kak Lily kayak gitu, lagian ini semua memang salah kalian."
Jaya langsung menatap Wafa tajam.
"Masih berani membantah?, hukumannya Papi lipatkan dua kali."
"Ayo!"
"Katanya laki-laki, kok selemah itu?"
Tak ada yang berani menjawab.
Rafa, Wafa, Owen, Malik, Javin, bahkan teman-teman yang ikut terlibat segera mengambil posisi.
Owen pun ikut menerima hukuman karena merasa lalai menjaga adik-adiknya.
Hitungan demi hitungan mulai berjalan.
"... empat puluh delapan..."
"... empat puluh sembilan..."
"... lima puluh..."
Bruk!
Tubuh Javin ambruk ke lantai. Napasnya tersengal-sengal.
Jaya hanya menyilangkan tangan. "Baru lima puluh udah tumbang?"
"Lemah"
Tatapan Jaya menyapu satu per satu wajah mereka. "Hukuman ini belum ada apa-apanya dibanding apa yang kalian lakukan ke Lily."
"Kalian sadar nggak?"
"Tadi kalian sama saja sudah mempermalukan dan merendahkan harga dirinya."
Wafa yang mulai kelelahan berhenti di hitungan ketiga puluh. "Kita cuma bercanda, Pih"
"Cuma bercanda?"
Jaya tertawa pelan. Namun tawa itu terdengar begitu pahit. "'Ciuman', 'pelukan', godaan seperti itu..."
"Kalian masih bisa bilang itu bercanda?, papi nggak pernah ngajarin kalian bercanda sampai menjatuhkan martabat perempuan."
Emosi Jaya akhirnya memuncak. Ia mengambil sebuah tongkat yang berada di sudut ruang tamu.
"Papi, stop!"
Lily buru-buru berlari. Ia merebut tongkat itu dari tangan ayahnya lalu melemparkannya jauh ke samping.
"Papi..."
"Papi udah janji sama Mami, Papi nggak akan pernah kasar lagi sama kita."
Kalimat itu membuat Jaya membeku. Tangannya perlahan turun.
Namun...
Di tengah keheningan itu...
Wafa justru tertawa.
"Hahaha..."
"Ly..."
"Kalau dari awal Lo anggap itu cuma bercanda, semuanya nggak bakal seribet ini."
Lalu ia menoleh ke arah Ell.
"Dan Lo..."
"Stop berlagak jadi anak paling nurut, Gue tahu kok, Papi cuma sayang sama Lo dan Lily."
Ucapan itu membuat suasana kembali mencekam. Jaya mengepalkan tangannya. Ia mengambil kembali tongkat yang tadi dibuang Lily.
Kali ini benar-benar mengangkatnya.
Namun...
Sebelum tongkat itu sempat mengenai Wafa...
Lily berdiri tepat di depan adiknya. Tanpa sedikit pun rasa takut. Jaya langsung menghentikan ayunannya. Matanya membelalak.
"Lily!"
Wafa berdiri perlahan. Ia menatap Lily sambil menyeringai tipis.
"Kenapa?"
"Mau lindungin gue?, mau sok jadi pahlawan?", Kalimat itu menjadi batas kesabaran Lily.
Brak!
Lily langsung mencengkeram kerah baju Wafa erat.
"Wafa!"
"Lo nggak akan pernah tahu gimana rasanya jadi gue!", Air matanya kembali jatuh. Tangannya mengguncang tubuh Wafa berkali-kali.
"Gue cuma jatuh!, Gue nggak pernah ngelakuin hal yang Lo bilang!", tangis Lily semakin pecah.
"Dengan Lo ngomong kayak gitu..."
"Lo sama aja fitnah gue!, fitnah gue ngelakuin sesuatu yang bahkan nggak pernah terjadi!"
"Lagian, gue bahkan nggak kenal sama dia!"
Lily menunjuk dadanya sendiri. "Gue...". "Kakak Lo!", Lalu telunjuknya berpindah menunjuk dada Wafa.
"Lo pernah mikir nggak sih deh, gimana perasaan kakak sendiri?"
Untuk pertama kalinya...
Wafa benar-benar diam.
Ia tidak membalas.
Tidak melawan.
Tidak bercanda.
Ia hanya menundukkan kepala. Entah karena merasa bersalah... Atau karena baru kali ini melihat Lily semarah itu.
Air mata memenuhi wajah Lily. Setelah meluapkan semua emosinya kepada Wafa...
Ia beralih berdiri di depan Rafa.
Jaya hanya memperhatikan. Di sudut bibirnya justru muncul senyum tipis. Putrinya akhirnya berani mengungkapkan isi hatinya.
"Bang..."
"Sekarang giliran Lily"
Rafa tetap menundukkan kepala.
"Abang capek ya, lindungin Lily?"
Tak ada jawaban.
"Abang pernah janji sama Mami, Abang bilang bakal selalu jagain Lily"
"Tapi..."
"Yang Lily rasain, Abang malah sering marahin Lily", Tangis Lily kembali pecah.
"Setiap Abang marahin Lily..."
"Lily nangis"
"Lily takut"
"Kalau Mami masih ada..."
"Pasti Mami udah marahin Abang habis-habisan", Perlahan Lily menyandarkan kepalanya di dada Rafa.
"Setiap Lily chat minta Abang pulang..."
"Susah banget"
"Padahal Lily cuma butuh teman di rumah, tapi Abang lebih milih nongkrong"
"Padahal Abang tahu, Lily nggak bisa ditinggal sendirian"
Air mata Rafa akhirnya jatuh.
"Maafin Abang, Dek"
"Selama ini..."
"Abang belum bisa jadi kakak yang baik", Rafa mengambil tangan Lily. Lalu meletakkannya di pipinya sendiri. "Kalau itu bisa bikin kamu lega..."
"Pukul Abang."
Lily menatap kakaknya lama. Lalu tersenyum kecil sambil menggeleng.
"Nggak"
"Nanti Mami marah"
Rafa langsung memeluk adiknya erat. Tangis keduanya pecah di ruang tamu. Suasana menjadi hening. Tak ada lagi yang berani bercanda.
Beberapa saat kemudian, Lily melepaskan pelukannya. Ia berjalan menghampiri Malik. Tubuh Malik yang tadi begitu percaya diri kini malah gemetar.
"Kak..."
"Maafin Malik, Malik janji nggak bakal manggil Kakak pakai 'my honey bunny sweetie' lagi."
"Maafin Malik ya, Kak"
Tatapan Lily yang semula tajam mulai melunak. "Kakak nggak marah sama Malik"
"Tapi..."
"Jangan terlalu berharap sama Kakak, apalagi setiap main selalu bawain makanan buat Kakak."
Malik tersenyum malu. "Tapi..."
"Malik memang suka sama Kakak."
"Soalnya Mama bilang..."
"Kalau main ke rumah
orang yang kita suka, harus bawa makanan."
Ucapan polos itu membuat beberapa orang yang tadi tegang akhirnya tersenyum kecil.
Di sisi lain, Jaya berdeham pelan sambil menyembunyikan senyumnya.
'Berani juga nih bocah,' batin Jaya. 'udah berani terang-terangan ngedeketin anak gadis gue'
Meski begitu, untuk pertama kalinya sejak pulang ke rumah, amarah di hati Jaya perlahan mulai mereda. Ia sadar, hari itu bukan hanya menjadi pelajaran bagi anak-anaknya, tetapi juga menjadi hari ketika semua perasaan yang selama ini dipendam akhirnya terucap.
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat