Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.
Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.
Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.
Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
"Duduklah" ucap Yua mempersilahkan Jinsei.
"Bagaimana keadaanmu saat di Desa Okaya?."
"Ya begitulah, tak tidur siang malam hanya karena memburu makhluk kutukan itu."
"Pasti sangat lelah ya."
"Hahaha, andai saja aku menjadi Ratu, pasti akan sangat santai."
Mendengar perkataan Yua, Jinsei terdiam dan berkata kata di dalam hatinya "Bersabarlah Yua."
Jinsei berkata, "Oh iya, bagaimana kalian mengalahkan makhluk Kutukan itu?."
"Aku sempat diterkam makhluk kutukan itu, waktu itu aku teringat akan perkataanmu yang lalu. Aku berfikir bahwa kalimat terakhirmu pasti (cahaya). Jika makhluk itu hanya keluar pada malam hari, pasti karena dia menghindari cahaya matahari. Maka dari itu pasti kelemahannya adalah cahaya, jadi kami bisa membunuhnya."
Jinsei terdiam sejenak lalu berkata di dalam hatinya, "Untungnya kau paham Yua walau aku tidak sempat mengatakannya."
"Terimakasih atas peringatan yang kau sampaikan Jinsei, kalau tidak pasti akan sangat sulit. Tapi bagaimana kau tahu kelemahan makhluk itu?."
"Hahaha itu hanya asumsiku saja, jika dia hanya keluar di malam hari, apa lagi kalau bukan karena cahaya matahari."
"Benar juga mengapa aku tidak kepikiran dari awal aghhh."
---
Ryujin dan Haru bertemu Master Seijun dan membicarakan sesuatu.
Haru berkata kepada Master "Master, kami ingin membicarakan sesuatu denganmu".
"Baiklah silakan".
"Tentang makhluk itu, aku rasa makhluk Kutukan tidak bekerja sendiri."
"Bisa kau jelaskan."
"Makhluk itu keluar saat menjelang malam. Namun disaat kami akan membunuhnya, makhluk itu seolah mengulur waktu lama untuk keluar. Seakan ada seseorang yang memberitahunya jika para pemburu sudah datang ke Desa Okaya."
Ryujin berkata "Benar Master, makhluk itu juga mengatakan bahwa, Ini semua bukan sepenuhnya kesalahanku, saat hendak kami bunuh."
Master Seijun menjawab,"Jika memang benar dia bekerja sama dengan orang lain, tapi siapa dan apa motif dibaliknya."
"Kemungkinan dia mempunyai atasan" sahut Ryujin.
Master Seijun berkata, "Begini saja, jika ada kemunculan makhluk kutukan lagi, sebaiknya kita menyegelnya saja dulu, kita memerlukan pengakuan makhluk itu."
"Baik Master."
Master Seijun berkata "Tapi aku berharap tidak akan ada makhluk-makhluk kutukan lagi."
Master Seijun melihat sekeliling dan menyadari tidak ada Yua disana. Dia berkata, "Aku tidak melihat Yua bersama kalian dimana dia?"
"Dia bersama Jinsei, Master" sahut Ryujin.
Master Seijun terdiam sejenak.
"Bagaimana kalian tahu kelemahan makhluk kutukan itu?" tanya Master.
"Yua yang mengatakan kelemahan makhluk itu, yaitu cahaya."
"Ternyata pemikiranku dengannya sama, cahaya adalah kelemahannya. Lagi pula mengapa dia hanya keluar malam hari jika bukan karena menghindari cahaya".
"Kenapa Master tidak mengatakannya dari awal?" sahut Ryujin.
"Aku hanya ingin tahu sejauh mana kalian bisa mengatasi masalah ini hahaha" jawab Master sambil tertawa.
Haru dan Ryujin saling bertatapan dan hanya bisa menghela nafas.
---
Yua yang akan menuju kediamannya tiba-tiba berpapasan dengan Tuan Yamato di jalan.
Yua memberikan salam kepada Tuan Yamato.
Dengan tatapan dingin, Tuan Yamato berkata, "Selamat atas kemenanganmu."
"Terimakasih."
Setelah itu Tuan Yamato melanjutkan langkahnya untuk menemui Jinsei.
Dengan raut wajah kesal Tuan Yamato berkata "Lupakan gadis itu, kau ingin merusak rencana ayah?. Jika kau terlalu dekat dengannya, itu sama saja kau menghancurkan hidup kita secara perlahan, jangan melupakan rencana kita putraku!!"
"Terserah apa yang kulakukan ayah, lagi pula apa ayah tidak mempercayaiku."
"Tapi pada dasarnya kau harus menikah dengan Tuan Putri Hikari!"
Dengan nada tinggi Jinsei berkata "Keinginan siapa?? aku yang akan menentukan dengan siapa aku menikah nanti!"
"Hilangkan perasaan mu terhadapnya dan ingat rencana kita!"
Dengan kesal Jinsei meninggalkan Tuan Yamato sendiri.
Tuan Yamato berkata "Jika kau tidak bisa melupakannya, maka aku akan melakukan sesuatu."
Teringat akan hukumannya, dengan kesal Jinsei pergi menemui Tuan Putri Hikari untuk minum teh bersama.
Dengan senyum manisnya, Putri Hikari menyambut kedatangan Jinsei. "Terimakasih sudah datang, kupikir kau akan lupa."
Jinsei melamun kesal dan tidak menjawab pertanyaan Putri Hikari.
"Jinsei, kau tidak mendengarku?."
"Ha? apa yang kau katakan?."
"Kau terlihat tidak senang, apa ada masalah?."
"Tidak ada."
"Hmm baiklah, karena kau sudah menepati permintaan yang kuberikan, aku mengampuni mu."
"Lebih baik seperti itu" ucap Jinsei didalam hatinya.
Malam tiba, angin berhembus kencang, hawa dingin menyelimuti istana. Perampok yang menjarah pasokan bahan pangan dari Okinawa berhasil ditangkap, namun hanya 2 orang yang tersisa karena 13 orang lainnya ditemukan mati misterius. Entah apa yang terjadi dengan mereka.
2 orang perampok tersebut berada di penjara, seorang misterius memakai jubah hitam memasuki penjara. Orang misterius itu menghampiri 2 tahanan tersebut.
Orang misterius itu berkata "Seharusnya tidak ada tikus yang lolos."
"Siapa kau?."
"Jika kalian ingin keluarga kalian tetap hidup, maka bungkam saja mulut kalian selama investigasi besok."
"Memangnya keselamatan kami terjamin??."
"Itu tergantung kalian sendiri."
Orang misterius itu pergi meninggalkan 2 tahanan tersebut tanpa memperlihatkan wajahnya. Hanya terdengar suara laki-laki. Para perampok mengira dia adalah atasannya (orang yang membayar mereka).
Setelah orang misterius itu meninggalkan penjara, seorang pelayan datang menghampirinya. Orang misterius itu meneteskan racun ke dalam makanan. Pelayan menuju penjara untuk memberikan makanan itu kepada tahanan.
Dan pelayan itu memberikan makanan tersebut kepada 2 orang tahanan perampok itu. Karena tidak ada kecurigaan apapun, mereka memakannya karena lapar.
Perampok ke 2 berkata "Dia tadi hanya mengancam kita, tetap saja besok kita akan dieksekusi. Dari pada kita mati sendirian, lebih baik kita mengakui kebenarannya saja."
Perampok ke 1 menjawab "Benar, setidaknya dia juga harus menerima hukuman."
Setelah agak jauh dari penjara, orang misterius itu menemui seorang pria, namun wajah pria itu tertutup kipas. Orang misterius itu memanggilnya Tuan.
Orang misterius berkata "Aku sudah menyelesaikannya Tuan."
"Belum selesai.."
"Apa maksud Tuan?."
Tiba-tiba seseorang menyayat leher orang misterius itu dari arah belakang. Orang misterius itu pun mati. Dan orang yang membunuhnya segera membawa pergi jasad orang misterius itu.
Sambil tertawa, Tuan berkata "Ini baru selesai hahaha."
Dan benar dugaan kalian, orang yang menutupi wajahnya dengan kipas adalah Tuan Yamato.
Keesokan harinya penjaga penjara menemukan 2 perampok tahanan itu sudah tewas. Mulut mereka berbusa menandakan bahwa mereka telah diracuni. Investigasi pun tidak jadi dilaksanakan.
Mereka juga menemui pelayan yang memberikan makanan itu juga tewas dengan luka sayatan di leher. Alhasil tidak ada bukti ataupun kesaksian yang tersisa. Para hakim mencurigai bahwa pelayan dan 2 perampok tersebut dihabisi atasan mereka untuk menghapus bukti-bukti.
Kasus ini membuat Kaisar curiga adanya keterkaitan dengan makhluk kutukan.
Di sebuah ruangan, Kaisar dan Master Seijun sedang berbincang. Kaisar menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya.
“Mengapa setiap hari selalu saja muncul masalah baru...” ucapnya dengan nada lelah.
“Jika sebuah pohon menghasilkan buah yang busuk, maka akar itulah yang harus ditebang terlebih dahulu agar kebusukannya tidak menyebar ke mana-mana.” jawab Master Seijun.
"Kedua perampok dan pelayan itu sudah tewas, kita tidak memiliki bukti-bukti untuk memotong akarnya."
"Disaat Kaisar membantu rakyat, sepertinya ada seseorang yang mencoba menggagalkannya."
"Kasus ini sangat mencurigakan."
"Pada saat Makhluk Kutukan itu sekarat, dia mengatakan bahwa dia tidak sepenuhnya salah, berarti dia tidak bekerja sendiri."
Master Seijun dan Kaisar saling beradu tatap. Mereka menyadari ada kejanggalan dalam kasus ini, mereka merasa ada dalang di balik semua kejadian ini.
Di dalam hati, Master Seijun berkata "Apa ada penghianat berkeliaran di Istana?."
Tiba-tiba hujan turun dengan deras, disertai gemuruh petir yang menggelegar di langit malam. Hawa dingin perlahan menyelimuti seluruh area istana, menciptakan suasana mencekam.
Di tengah cuaca buruk itu, Haru berjalan sendirian menuju kediamannya. Langkah kakinya bergema pelan di lorong istana yang sepi.
Namun entah mengapa, Haru merasa seperti ada seseorang yang sedang mengikutinya dari belakang.
Haru segera menoleh, tetapi tak ada siapa pun di sana. Hanya hembusan angin dingin yang berembus melewati tubuhnya hingga membuat bulu kuduknya merinding.
Perasaannya mulai tidak tenang. Tanpa sadar, Haru mempercepat langkahnya sambil terus menahan rasa waspada. Dia segera mempercepat langkahnya.
Ryujin yang sedang berjalan sendirian juga merasakan hal yang sama. Seolah ada seseorang yang terus mengawasinya dari balik kegelapan.
Entah siapa itu, tetapi Ryujin dapat merasakan aura negatif yang menyelimuti sekitarnya. Hawa dingin terasa semakin menusuk hingga membuat suasana malam menjadi mencekam.
Ryujin menghentikan langkahnya. Tanpa sedikit pun rasa takut, dia perlahan membalikkan badan sambil mencabut katananya.
Sreettt...
Dengan tatapan tajam dan penuh waspada, Ryujin kembali menyusuri jalan yang tadi ia lewati sambil memperhatikan keadaan di sekelilingnya.
Hujan terus mengguyur deras, sementara suara petir sesekali menggelegar memecah keheningan malam.
Tiba-tiba, dari sudut ekor matanya, Ryujin melihat sosok seorang wanita berdiri tak jauh darinya. Tubuh wanita itu basah kuyup, rambut hitam panjangnya terurai menutupi sebagian wajahnya. Sosoknya diam tak bergerak di tengah gelapnya malam, menciptakan suasana yang begitu menyeramkan.
Ryujin bertanya "Siapa di sana?".
Tidak ada jawaban sedikit pun dari wanita itu. Dia hanya berdiri diam dengan rambut basah yang menutupi wajahnya.
Hal itu membuat Ryujin semakin penasaran. Dengan tetap menggenggam erat katananya, dia perlahan menghampiri sosok wanita tersebut.
Namun saat jarak mereka tinggal beberapa langkah lagi,
Tep!
Seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang.
Ryujin sontak terkejut. Refleks dia langsung membalikkan badan sambil mengarahkan katananya ke belakang.
"Yua, mengagetkanku saja."
"Kaget kenapa? seperti melihat hantu saja, kenapa masih diluar? disini dingin."
Ryujin menoleh kedepan lagi, dia terdiam mendapati wanita itu menghilang. Ryujin bertanya," Darimana kau?."
"Aku dari penjara untuk menyelidiki kasus ini, tapi tiba-tiba hujan datang, jadinya kulanjutkan besok saja."
"jadi begitu."
Yua berjalan sendirian menuju kediamannya sambil bersenandung pelan. Dia menyanyikan lagu pop favoritnya semasa hidup di zaman modern dahulu, membuat langkahnya terasa lebih ringan di tengah dinginnya malam.
Namun di tengah senandungnya, samar-samar terdengar suara tangisan seorang wanita. Yua perlahan menghentikan nyanyiannya. Langkahnya ikut terhenti saat dia mulai memperhatikan suara tangisan itu dengan wajah bingung dan waspada.
Yua berkata, "Siapa ya malam-malam hujan seperti ini menangis."
Dia melihat sekeliling namun tidak ada orang di sekitarnya.
"Ahh pasti seseorang sedang patah hati, tidak ada bedanya kan masa depan dan masa lalu."
Yua berpikir positif dan mengabaikan suara tangisan tersebut. tak terasa Yua sudah sampai di kediamannya dan langsung beristirahat.
Saat Ryujin hendak tidur, dia teringat dengan wanita misterius yang ditemuinya tadi.
Ryujin berkata "Siapa wanita tadi dan mengapa dia basah kuyup seperti itu, apa dia kehujanan?, tidak mungkin tadi Yua, rambut dan pakaian Yua juga tidak basah. Aku penasaran dengan wanita itu?."