kisah perjalanan hidup seorang gadis yang terpisahkan dari orang tuanya dan di besarkan oleh seorang mafia yang ternyata adalah pamannya yang pernah ingin membunuhnya.
bagaimana perasaan Diah Permata Ningrum apabila dia tau kisah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titian1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
"Mumpung kita ada di kota ini bagamana kalau kita ziarah ke makam Bram?" Sebastian mengajak Abraham ziarah ke makan Bramantyo,
"Ayo.., aku juga ada niat mau kesana Bass!" Abraham menyetujui ajakan Bastian, sebelum dia mampir ke taman bermain Abraham memang niat ingin berziarah kemakam sahabatnya itu.
Mereka tiba ke pusat pemakaman Kerta Mukti dan tidak lupa membeli bunga dan air mawar di depan makam.
Di depan pusaran Bram, kedua sahabatnya itu membaca yaasin, tahlil juga doa,
Sebastian : "Assalamualaikum Bram, maaf kami berdua baru sempat datang berziarah ke tempatmu".
Abraham : "Iya Bram, karena kesibukan kami sampai tidak sempat berkunjung ke sini. aku dan Sebastian tidak sengaja bertemu loh di taman tempat kita bermain dulu, kita berdua sudah membaca semua surat harta karun kita."
Sebastian : "Kamu tau Bram kini kita sudah baikan, kita akan selalu menjadi sahabat seperti isi suratmu itu."
Abraham : "Dan aku janji akan berubah menjadi lebih baik lagi dan gak mau egois lagi."
Sebastian : "Aku juga berjanji Bram, Aku akan selalu menjaga dan menyayangi putramu dan keluarganya seperti aku menyayangi anakku sendiri."
Abraham terkejut mendengar perkataan Sebastian, pria itu menatap tajam ke sahabatnya seakan meminta penjelasan dari perkataannya itu.
Abraham : "Apa maksudmu Bass, putra yang mana?"
Sebastian : "Kamu ingat waktu acara reunian SMA Bram datang bersama keluarganya dan dia menggendong anak laki-laki berusia 3th?"
Abraham : "Iya, terus kemana anak itu Bass?"
Sebastian tersenyum mendengar Abraham menanyakan putra kandung dari sahabatnya itu.
Sebastian : "Dia Haryo, putra angkatku yang kini menjadi CEO di Mentari Mega Jaya."
Abraham menatap seakan tak percaya dari perkataan Sebastian, dia penasaran dan menuntut penjelasan apabila itu benar.
Abraham : "Jangan bercanda Bass, selama ini kamu tidak pernah memberitahuku kebenaran itu."
Sebastian : "Bagaimana mau memberitahumu kau aja tidak pernah mau menyapaku bahkan aku datang menemuimu kau selalu menghindar."
Abraham membenarkan ucapan Sebastian, waktu itu dia sanga membenci sahabatnya itu bahkan ingin menyingkirkannya. Dan perbuatannya itu membuat Abraham menyesal karena anak yang ingin dia singkirkan adalah anak dari sahabatnya Bramantyo.
Abraham : "Jadi anak yang selama ini aku ingin celakai adalah anaknya Bram? Astaga... jahatnya aku hanya karena cemburu menghantuiku membuat aku ingin membunuh hingga tidak mengenal putramu bram."
Abraham menangis menyesali perbuatannya, pria itu selalu mengucapkan kata maaf pada pusaran sahabatnya itu.
Sebastian merangkulnya untuk menenangkan Abraham.
Sebastian : "Sudahlah Ham, yang berlalu biarlah berlalu sekarang ini Haryo tumbuh menjadi anak yang sehat dan sukses."
Abraham : "Aku malu Ham, aku sangat bersalah sama Bram karena aku sudah jahat sama putranya, maafkan aku Bram andai aku tau kalau Haryo anakmu aku tidak akan pernah memarahinnya, dan aku juga tidak akan mencuci fikiran Cahyo untuk membencinya."
Sebastian terkejut mendengar kejujuran sahabatnya yang bilang sudah menghasut putranya untuk membenci saudaranya sendiri dan keluarganya.
Sebastian : "Apa maksudmu bicara begitu? Jadi kamu yang menghasut anakku untuk membenci keluarganya.
Abraham : "Maafkan aku Bass!, sakin bencinya aku sama kamu membuat aku jadi jahat dengan keluargamu. Aku menghasud Cahyo untuk menentang ayahnya, aku juga yang mengatakan kalau ayahnya lebih menyayangi anak angkatnya, aku juga yang menyuruh Cahyo menghambur-hamburkan uang buat berjudi dengan alasan supaya ayahnya mau memperhatikannya.
Sebastian : "Astaga Ham...., kamu tau berapa lama aku kehilangan putraku? Kamu tau betapa sedihnya aku melihat anakku menjadi anak yang liar dan susah di nasehati? Dan kamu tau betapa kerasnya anak itu hingga pergi dari kami lebih dari 20tahun? Aku dan keluargaku tersiksa ham! Hingga kini Cahyo tidak pulang aku tidak tau kabarnya sama sekali."
Sebastian menangis, pria itu tidak menyaka kepergian anaknya di sebabkan hasutan Abraham sahabatnya, karena sangat membencinya hingga Abraham tega membuat dirinya kehilangan anak satu-satunya.
Abraham bersimpuh di kaki Sebastian dan meminta maaf, bahkan pria itu tidak mempedulikan dimana dia berada dan sekotor apa pakaiannya mereka masih di pemakaman Bramantyo.
Abraham : "Maafkan aku Bass aku mohon, aku akan membantu mencari keberadaan putramu Bass... Aku janji aku akan menyuruh semua anak buahku untuk mencari Cahyo dan menjelaskan padanya tentang masalah ini."
Sebastian : "Aku sudah mencarinya kemana-mana Ham, aku sudah memerintahkan semua anak buahku untuk mencarinya dan aku juga sudah memasang iklan di semua media tapi Cahyo belum bisa di temukan.
Abraham terdiam, dia yakin kalau Cahyo masih ada dan sehat, Abraham meyakinkan sahabatnya itu kalau Cahyo pasti pulang ke rumahnya.
Abraham : "Aku yakin Bass, aku sangat yakin Cahyo pasti pulang ke rumah kalian, Cahyo anak yang cerdas, dia tidak akan hidup sengsara di luar sana Bass."
Sebastian : "Aamiin... Semoga dia selalu sehat, aku dan keluarga masih sangat berharap dia akan pulang.
Abraham : "Sekali lagi maafkan aku Bass, dan aku berjanji akan terus mencari Cahyo dan membujuknya pulang ke rumahmu."
Sebastian : "Ya sudahlah Ham, di sesali juga percuma karena semua sudah terlanjur terjadi, mendingan sekarang kita pulang kasihan keluarga kita pasti semua pada sibuk mencari kita.
Akhirnya Abraham dan Sebastian memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing karena hari sudah hampir malam, mereka berjanji akan saling mengunjungi satu sama lainnya dan sama-sama mencari Cahyo.
Di Sebuah Pulau
Cahyo tiba-tiba merasa kangen sama keluarganya, dia melihat foto ayah dan bundanya yang sedang mengendongnya foto keluarga itu selalu dia simpan di dalam dompetnya dan selalu memandangnya apabila Cahyo merindukannya.
Cahyo : "Bunda,ayah... Aku kangen sama kalian, semoga kalian selalu dalam keadaan sehat dan bahagia.
Bulan masuk ke kamar papanya dan melihat sang papa melamun sambil melihat sebuah foto, Bulan menghampiri sang papa.
Bulan : "Papa sedang apa, Bulan daritadi manggil-manggil papa tapi tidak ada sahutan."
Cahyo segera menyimpan foto itu kembali dan memasukan dompet itu ke sakunya.
Cahyo : "Papa gak ngapa-apa sayang, maaf papa tadi tidak dengar Bulan manggil."
Bulan : "Papa tadi lihat foto siapa?"
Cahyo : "Bulan siapa-siapa sayang, oh iya ada perlu apa kamu datang ke kamar papa?"
Bulan : "Papa dari siang belum makan, Bulan cuma mau ingetin papa aja buat makan. Bulan gak mau nanti papa sakit karena kelelahan.
Cahyo : "Oh iya ... Yuk kita makan, papa jadi lapar nih!.
Cahyo dan Bulan akhirnya keluar kamar dan menuju meja makan, di ruang makan Erlangga dan kakek juga nenek Bulan sudah menunggu mereka.
Makan malampun akhirnya berjalan dengan kekeluargaan di pulau itu, Cahyo merasa bersyukur dengan kehadiran Bulan dan keluarganya membuat dia memiliki keluarga yang hangat begitupun Bulan. Gadis itu merasa bersyukur mempunyai seorang papa yang sangat menyayanginya dengan sepenuh hati walaupun Bulan bukan anak kandung pria itu.
Erlangga yang menyaksikan keharmonisan keluarga Bulan membuat dia jadi merindukan keluarganya.
semoga ada kelanjutan ya thoor
Sungguh Cahyo memang selalu bisa luluh bila hidapkan dengan hal2 membuatnya seperti dirinya dulu apalagi sekarang dia harus mencari anak kandungnya yang jelas2 sudah ada didepan mata yaitu Erlangga anak angkat Haryo dan Mawar. Semoga kalian segera dipertemukan kembali bersama Cahyo Dewi dengan anak kalian Erlangga. 🤲🤲🤲
Huuh bulan kalau ngasih kode lihat sikon neng jadi kesedak tuh bunda sama papamu 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭🙈🙈🙈🙈