Alicia Delmora adalah wanita mandiri sejak kecil, dia menjadi tulang punggung keluarga semenjak ayahnya meninggal dunia dan hanya tinggal bersama ibu dan kakak tirinya yang hanya bisa mengandalkan Alicia untuk membayar hutang-hutang mereka.
Kehidupan Alicia berbanding terbalik dengan saudara kembarnya yang bernama Alice, kembarannya itu hidup bergelimang harta bersama kedua orangtuanya dan memiliki seorang kekasih yang sangat terkenal di kota tersebut bernama Nicholas.
Alicia yang tidak tahu bila dia memiliki saudara kembar begitu juga sebaliknya, kehidupannya berubah setelah orang asing masuk dalam kehidupannya dan menjadikan dia sebagai wanita tawanan dari Pria asing tersebut yang menganggap dirinya sebagai Alice.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anggi (@ngie_an), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi yang menyiksa.
Malam hari sebelum pernikahan, Grey begitu emosi mengetahui bahwa sampai saat ini dia belum juga berhasil menemukan wanita yang dia cari. Tidak dapat lari dari kenyataan kalau dia akan menikah dengan wanita yang sama sekali belum pernah dia temui.
"Dasar kalian bodoh! Begitu saja kalian tidak becus mencari seorang wanita!" Grey memukul salah satu anak buah yang disuruh oleh Peter.
Tidak hanya anak buah yang mendapat amukan dari seorang pengusaha sukses di usia mudanya, tetapi asisten pribadi yang bernama Peter pun menjadi sasaran amukannya.
"Aaaakkh!" teriak Grey ketika dia mau tidak mau harus menikah dengan perempuan pilihan kedua orang tuanya yang sudah mengeluarkan duit lima miliar.
"Maafkan kami, Tuan!" ucap serempak anak buahnya yang bersimpuh memohon ampunan pada Grey.
"Peter! Setelah menikah, kirim wanita itu ke sebuah desa! Aku tidak mau tahu, pokoknya aku tidak akan pernah mau melihat dia menunjukkan wajahnya!" pinta Grey.
Grey pun langsung melangkah meninggalkan semuanya, usai puas melampiaskan emosi amarah atas kegagalan yang dilakukan oleh Peter dan anak buahnya.
Mobil mewah itu pun melaju ke arah rumah, tepat Grey memarkirkan mobilnya usai sampai di apartemen miliknya, dia melihat seseorang tengah terduduk di depan pintunya dalam keadaan tidur.
Sudut bibir Grey menukik ke atas saat mengetahui bahwa orang itu adalah Marvel—keponakannya yang tengah mabuk berat, tanpa perduli pada pemuda itu Grey justru menendang Marvel hingga terjatuh ke lantai untuk mempermudah dia masuk ke dalam apartemennya.
Namun, langkah kaki Grey dihadang oleh Marvel sebelum dia masuk ke dalam. Pria dengan memiliki jenggot tipis langsung menghela napasnya dengan kasar kemudian terpaksa membawa Marvel masuk ke dalam.
"Gue udah bilang sama lo, kita ini nggak dekat! Jadi jangan pernah coba-coba untuk mengakrabkan diri sama gua!" tutur Grey pada keponakannya.
Bukan menjawab apa yang dikatakan oleh pamannya, Marvel justru menangis mengeluarkan segala kesedihannya pada Grey.
"Dia mau nikah besok!" ucap Marvel yang menangis meneteskan air mata saat sorot matanya terus melihat ke arah bawah dengan tatapan kosong.
"Gue nggak peduli!" sahut Grey yang menatap sinis ke arah Marvel. "Setelah gua balik lagi ke sini, gua harap lo udah keluar dari apartemen!"
Marvel langsung menangkap tangan Grey lalu kembali berkata, "Gue sayang banget sama dia! Tapi bodohnya gue, udah buat dia terluka! gue nyesel udah selingkuh dari dia! Sekarang apa yang gua harus lakuin? Gue nggak mau kehilangan dia!"
Lagi-lagi Grey hanya membuang napasnya dengan kasar, dia menghempaskan tangan Marvel lalu duduk kembali di depan pemuda itu.
"Pertama, lo harus terima konsekuensinya! Kedua, kalau lo mau jadi laki-laki paling brengsek, ya tinggal lo rebut lagi lah! apa susahnya?" saran Grey pada Marvel, kemudian benar-benar meninggalkan pemuda yang tengah mabuk di kursi ruang tamunya.
Marvel mencoba memulihkan kesadaran saat mendengar perintah dari Grey, meski kesulitan akibat alkohol yang sudah menguasai tubuhnya. Dia terus memikirkan apa yang dikatakan oleh pamannya, langkahnya sudah terlambat. Bahkan dia pun belum sempat melihat nama calon suaminya.
"Akkkh, Alicia!" ucap Marvel, tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal lantas terjatuh di atas sofa dan tidak sadarkan diri.
***
Sementara di posisi Alicia, dia tengah menikmati waktunya bersama sang ibu mertua, di sebuah kamar hotel mewah yang dipesan oleh keluarga Dominic.
"Al, liat wajah Mama?" Agatha memperlihatkan wajahnya yang tengah di masker warna ungu hingga nampak lucu pada perempuan yang terlihat awet muda itu.
Alicia tertawa hingga terjerembab ke atas kasur empuk, melihat tingkah konyol sang ibu mertua. Keduanya tertawa bersamaan ketika berselfi riah dalam kamar tersebut.
Berbagi cerita tentang masa lalu Alicia dan juga Grey, Agatha begitu sedih mendengar cerita masa lalu calon menantunya itu. Berbeda dengan Grey, meski dari masalah yang sama menyedihkan. Namun, pria itu terlahir dengan kedua orang yang menyayanginya terutama bergelimang harta.
Grey yang selalu mendapatkan hujatan dari teman-temannya waktu sekolah sampai dibenci oleh semua keluarga Dominic, bukan hanya itu saja, bahkan sebagian masyarakat tidak menerima kehadirannya karena status Agatha sebagai pelakor.
"Mah, jangan sedih! Al jadi sedih, Mama jangan pikirin mereka ya, toh mereka semua tidak tahu posisi Mama seperti apa," ucap Alicia yang menyemangati ibu mertuanya.
Agatha melihat ke arah Alicia selalu membalas pelukan wanita muda itu, senyum pun mengembang di wajahnya hingga membuat retakan pada masker yang dia kenakan.
"Kamu jangan tertawa, Mama jadi ketawa nih! Maskernya retak begini masa?" Agatha tertawa melihat pantulan wajahnya di cermin.
"Abis Mama lucu, udah buka aja, Mah!" Tawa Alicia membawa kebahagiaan tersendiri pada wanita yang hampir memasuki usia lima puluh tahun.
"Al, kenapa kamu masih baik sama ibu dan Kaka tiri kamu? Toh dia sudah berbuat jahat sama kamu!" Agatha memakai krim malam usai mencuci wajahnya.
"Aku juga tidak tahu, Ma. Hanya saja
... aku ingin, di saat aku menikah, ada yang menyaksikan dari pihakku, walaupun mereka sudah berbuat—"
"It's oke, Mama ngerti kok maksud kamu! Yang penting setelah menikah, kamu sudah bisa terbebas dari mereka dan rumah peninggalan ayahmu biar Papa Dominic yang mengurus." Agatha memeluk tubuh Alicia.
"Terima kasih, ya Ma," ucap Alicia.
"Sama-sama, Sayang! Sudah, sekarang kamu jangan banyak pikiran, jangan sedih-sedih, biar besok fresh dan tidak kesiangan!" ujar Agatha pada Alicia.
Bagaikan anak kandung Agatha sendiri, Alicia begitu menurut padanya, mereka pun masuk ke dalam mimpi bersama dalam satu tempat tidur yang sama.
***
"Aaah ...." Suara yang membangkitkan gelora asmara membuat Grey semakin cepat memacu adrenalinnya yang sudah dia rindukan beberapa Minggu yang lalu.
Permainan yang panas membuktikan rasa rindu tak tertahankan ketika bertemu dengan wanita yang dia cari, tidak akan Grey sia-siakan dan lewatkan ketika dia sudah berhasil mendapatkan wanita itu.
"Tuan, Grey ...." ucap wanita itu dengan intonasi suara yang merdu.
"Yes, Honey?" sahut Grey dengan suara yang cukup parau, hasratnya semakin tinggi di detik-detik yang sudah dia tunggu.
Grey menikmati kecupan manis dari bibir wanita itu, begitu manis dan juga sangat aneh menurutnya. Entah mengapa rasanya sedikit asin dari awal yang terasa manis.
Namun, Grey tetap terus melanjutkan permainannya ketika napsu sudah berada di puncak asmara. Sampai ketika Wanita itu menampar pipinya berulang kali saat bibir mereka terus menyatu.
"Aaakkh!" Grey terkejut saat perutnya mendapatkan sakit luar biasa, hingga perlahan wajah wanita itu mulai memudar dari penglihatannya. "Hei, hei!"
Grey terbangun dari tidurnya, membuka mata karena sekitar dan melihat bibirnya tengah mengisap jemari Marvel sedangkan perutnya mendapat tindihan dari kaki pemuda itu.
"Akkkh!" Grey berteriak kencang, lantas menyingy tubuh Marvel dari atas tubuhnya. Dia pun meludah ke samping, membersihkan lidahnya yang terasa asin akibat menghisap jempol Marvel. "Cuih, cuih, cuih! Si al, pantesan asin. Tahu-tahunya tangan si kunyuk!"
Grey langsung menendang tubuh Marvel hingga terguling ke lantai, lantas bergegas ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri dari sisa-sisa lengket yang menempel pada bagian tubuhnya.
"Aaakhh, Grey! Bisa-bisanya sampai terbawa mimpi." Tangan Grey menggosok rambutnya saat air pancuran keluar dari shower. "Bikin nyiksa aja jadinya!"
Beberapa menit kemudian, Grey keluar dengan handuk yang melilit di atas pinggangnya kemudian melihat Marvel yang masih tertidur nyenyak di lantai bawah kasur.
"Gimana ni caranya tuh anak bisa sampai ke kamar gue?" tanya Grey pada dirinya sendiri. dia melangkahkan kaki Marvel untuk mengambil pakaian gantinya.
Kemudian, Grey duduk kursi sembari membuka laptopnya yang berada di atas meja dalam kamar apartemennya. Matanya melihat berbagai pesan dari beberapa wanita yang dulu pernah dia kencani akibat tua bangka bernama Dominic.
Satupun tidak pernah Grey balas, bahkan chat ribuan itu terus saja muncul saat dia online pada media sosialnya. Tertera pesan Agatha yang mengingatkan dirinya agar besok tidak datang terlambat di hari pernikahannya.
Setelah itu Grey menutup pesan Agatha kemudian melihat beberapa postingan yang lewat di berandanya, sorot matanya memperhatikan wajah sang Ibu tersenyum senang bersama dengan seorang wanita muda yang dia duga sebagai calon istrinya.
Sayangnya, mereka menggunakan masker sehingga tidak tampak jelas wajah wanita yang menjadi calon istrinya. Grey hanya fokus melihat wajah ibunya, ternyata wanita yang tidak jelas asal-usulnya itu berhasil membuat wanita yang dia cintai dari lubuk hatinya tersenyum gembira.
Tanpa sadar Grey pun ikut tersenyum melihat Agatha tersenyum dalam foto itu, sangat terlihat jelas di wajah tampan dengan kulit putih sawo matang, kalau dia begitu menyayangi sang ibu.
"Apakah kau tersenyum karena dia?" tanya Grey yang mengusap foto ibunya. "Baiklah, aku akan menikah dengannya besok, bila itu membuatmu selalu tersenyum, Mah!"
Grey menutup laptopnya, lantas kembali tertidur tanpa memikirkan Marvel yang masih tergeletak di bawah sana. Dia berharap bisa kembali memimpikan wanita itu dan mengulangi adegan yang sempat tertunda.
To be continued...
bolak balik ke sini belum up juga
semangat thord