Kisah petualangan para penyihir di Madriga.
Sebuah benua sihir yang hidup berdampingan dengan berbagai makhluk mitologi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida Anggraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : menolak perjodohan.
Halo semua !! Jangan lupa like dan komennya ya...
Happy Reading xx
......................
Candrasa dan Air masih mengobrol di dalam kamarnya, dia menjelaskan secara detail tentang alam ghaib yang dia datangi kemarin.
Air dengan seksama memperhatikan perkataan Candrasa, sesekali dia bertanya pada hal yang menurutnya diluar nalar. Padahal dia sendiri sudah mengalami hal diluar nalar saat di Hutan terlarang waktu itu.
Candrasa merasa sakit diperutnya tiba-tiba hilang, dia mulai berjalan mondar-mandir. Sedangkan, Air yang masih menyandar dikursi kayu jati dengan tangan didadanya hanya menatap sahabatnya datar.
"Jadi, pedang itu sudah tidak ada padanya? Dan juga, Raja itu adalah kakekmu? Astaga, sangat sulit untuk mempercayainya." Air mengacak rambutnya sendiri lalu duduk tegak sambil memegang kedua lututnya.
"Jadi kau tidak percaya padaku?" Candrasa mengernyitkan dahinya.
"Tenang-tenang, aku percaya Yang Mulia hahah." Air malah mengejek Candrasa sambil cekikikan layaknya seorang sahabat.
Persahabatan mereka tidak melulu kaku, walaupun Candrasa orang yang kikuk. Tapi, mereka selalu punya kesempatan untuk saling melempar candaan. Terlebih lagi, jika Hanada sudah bergabung, mereka akan sama-sama lupa waktu.
Ngomong-ngomong soal Hanada, Candrasa jadi merasa merindukan wanita itu. Dia menunduk sambil tersenyum, Air keherenan melihat sahabatnya yang seperti itu.
"Ada apa?" Tanya Air.
"Aku ingin bertemu Hanada, apa dia baik-baik saja?" Tanyanya pada Air.
"Candrasa.... Hanada, di keluarkan dari Akademi Sihir." Air akhirnya mengatakan hal yang sebenarnya pada Candrasa. Dia tidak bisa menutupi itu terus menerus padanya.
"Dikeluarkan? Kenapa?" Candrasa mengernyitkan dahinya.
"Dia... Berbohong soal identitasnya. Dia adalah seorang Putri dari Kerajaan Nahdara." Air memasang raut wajah sedih, dia juga tidak mau Hanada dikeluarkan dari Akademi. Jika seperti itu, sudah pasti mereka akan sulit beetemu dengannya.
Candrasa yang sudah curiga soal itu pun hanya tertegun diam, pantas saja Hanada berbicara seperti itu saat dia dalam kondisi Vegetatif. Air yang kebingungan melihat ekspresi datar Candrasa pun bertanya.
"Kau sudah tahu?" tanya Air penasaran, jika Candrasa mengatakan dia sudah tahu, sudah pasti Air akan kecewa.
"Belum, aku baru tahu setelah kau sampaikan. Lalu dimana dia sekarang?" Candrasa membuyarkan lamunannya lalu menatap Air.
"Di Nahdara." Kata Air singkat.
Candrasa mengangguk dua kali sebagai tanda dia mengerti, tapi didalam pikirannya dia terus berusaha mencari cara agar mereka dapat bertemu, agar dia bisa bertemu Hanada secara langsung dan bertanya tentang Kemukus kecil.
Jika dia mengatur pertemuan secara resmi, dia takut kunjungannya akan ditolak, atau bahkan pengajuannya ditolak oleh ayahnya. Candrasa mendengus pelan, dia masih berdiri disana.
Hari sudah semakin malam, Air sudah keluar dari kamar Candrasa, kini dia sedang berbincang dengan ayahnya diruangan Panglima.
"Elemen apa yang sudah kau kuasai?" Tanya pria itu sambil menyeruput teh hangat dari teko berwarna emas.
"Belum ada ayah." Air menunduk, dia tahu dia akan diceramahi panjang lebar oleh ayahnya.
"Air!!! Kau terlalu banyak bermain!!" Ayahnya mendengus pelan sambil mengernyitkan dahinya.
Aku memang tidak sehebat Ayah. Air membatin.
Air bergerutu di dalam hatinya, bagaimana bisa dia banyak bermain padahal waktunya dihabiskan berlatih di Akademi Sihir.
"Dulu, saat aku seusiamu. Aku bisa menguasai dua elemen. Aku tidak berada di akademi sepertimu sekarang. Aku hanya diajarkan oleh guruku seorang." Panglima Perang mengetuk-ngetuk buku latihan yang ada dimejanya.
"Kau punya guru? Siapa? Bolehkah aku berguru juga padanya?" Air malah mengalihkan pembicaraan. Apalagi kini dia menatap Panglima dengan tersenyum lebar.
Panglima sangat terganggu dengan tingkah anaknya sendiri, padahal Air satu-satunya yang dia harapkan bisa menggantikan posisinya suatu saat nanti.
"Air !!! Maksudku, kau sudah hidup di tahun yang mudah tidak seperti ayah dulu. Ayah harus mencari guru sendiri. Sedangkan kau? Kau sudah memiliki lebih dari 5 guru berbeda-beda." Panglima menggeleng agak kesal.
"Hehehe maafkan aku ayah, aku berjanji akan berlatih lagi dengan lebih giat. Tapi sekarang hari sudah larut, aku mau tidur dulu ayah." Air berniat ingin kabur dengan alasan hari sudah larut, Panglima hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya.
"Oh iya... Ayah, kau ingat ruangan rahasia dirumah kita? Bukankah ayah berjanji padaku jika aku menguasai keempat Elemen, kau akan menunjukan ruangan itu padaku?" Air dengan semangat berbicara pada ayahnya.
"Hufttt... Kuasai saja dulu semua elemen baru menagih janji. Cepat sana tidur!" Panglima Doha memutar bola matanya, lelah menghadapi sikap anaknya yang masih seperti anak kecil.
Air tertawa kecil, dia berjalan keluar dari ruangan ayahnya lalu berjalan ke kamar tidurnya yang ada di Istana. Air juga sudah dianggap anak oleh Raja Jira II sehingga pria itu juga dapat ruangan khusus untuk beristirahat.
Sebagai sahabat Candrasa sejak bayi, Air juga mendapatkan fasilitas khusus di Istana. Terlebih, ayahnya adalah seorang panglima dan orang yang paling dipercayai Raja Jira II.
Kadang juga, Panglima Doha merangkap sebagai penasihat dadakan jika diperlukan. Seperti, kemarin.
Raja Jira II masih mengurung diri dikamar, dia melihat lukisan besar yang terpajang. Ya, lukisan permaisuri dara. Dia menatap lukisan itu, dia rapuh tanpa wanita itu disampingnya.
Bahkan, sekalipun Raja Jira II diperbolehkan mempunyai selir, dia tidak mau. Kesetiaan dan cintanya pada Permaisuri begitu dalam.
*
*
SUASANA KERAJAAN NAHDARA,
Setelah menyambut kedatangan tamu, Hanada ikut makan bersama dengan mereka. Sebenarnya tubuhnya masih lelah, setelah perjalanan mencari pedang itu. Dia bahkan tidak dibiarkan untuk rehat.
Acara itu seolah terasa seperti hukuman bagi Hanada, yang pergi tanpa restu dari Raja Nahda. Hanada beberapa kali menghela nafas panjang. Sedangkan, calon suami alias sepupunya, Isa. Selalu mencuri-curi pandang pada gadis itu.
Untuk saat ini, dia belum berkomentar apapun mengenai perjodohan mereka, Hanada menunggu salah satu dari yang paling dihormati mengangkat suara soal hal itu.
Ayah dari Isa pun mulai membicarakan hal itu, dia mengangkat gelas bercat emas lalu meminum air putih nya.
"Hanada, kau semakin cantik. Pantas saja Isa tidak bisa melepaskan pandangannya darimu. Kalian sangat cocok, tampan dan cantik. Keturunan kalian pasti akan sangat mempesona." Raja itu tersenyum sumringah disambut senyum istirnya, Ratu Naira.
Ayah Hanada hanya tertawa kecil, dia menatap Hanada yang hanya sibuk pada makanan di atas piring. Hanada masih belum berkomentar, menurutnya itu adalah hal konyol. Membicarakan pernikahan dengan sepupunya sendiri.
Hanada menghela nafas panjang, sekarang semua orang memperhatikannya. Hanada terlalu menunjukan ketidaksukaannya pada perjodohan itu.
Ratu Naira memperhatikan Hanada dengan tajam,
"Apa yang barusan aku lihat? Hanada?" tanya Ratu itu.
"Tidak ada Ratu," Hanada tersenyum tipis lalu menunduk melihat piringnya lagi.
"Kau terlihat tidak suka dengan perjodohan ini." Ratu Naira kini menatap Hanada dengan sinis.
"Hmm, sejujurnya aku memang tidak menyukainya." Hanada menyeringai seolah tidak masalah mengatakan perasaan yang sejujurnya.
"Kau ingin mempermalukan Isa didepan umum seperti ini?" Ratu itu memicingkan matanya, dia merasa terluka atas sikap Hanada.
"Hanada, cukup!" Raja Nahda berkomentar.
Tiba-tiba suasana yang tadinya hangat kini menjadi panas dan suram, Hanada tahu dia melakukan kesalahan besar.
...****************...
...****************...
kalau g nyantai ntar banyak Typo.😁
buat penyemangat, aku kasih sekuntum🌷 untk kakak opti yang cantik nan indah bagaikan burung camar😀