Hati Fitri masih terikat oleh cinta di masa lalunya meskipun dia sudah memiliki suami.
Cinta di masa lalunya menjadi musibah terbesar dalam rumah tangganya, dan musibah itu membuat rumah tangga Fitri hancur berantakan.
Sanggupkah Fitri mempertahankan rumah tangganya atau dia akan kembali ke masa lalunya?
Lanjut baca ya di karyaku ini🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
“Assalamu’alaikum,” ucap Fitri saat dia sudah berada di depan rumah kedua orang tuanya.
Ada rasa takut untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, Fitri takut amarah keluarganya belum mereda karena dia memilih untuk mengikuti Dimas ke desanya.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Dina, kakak Fitri.
Kebetulan Dina sedang berkunjung ke rumah kedua orang tuanya.
Dina melangkah keluar untuk membukakan pagar rumah sederhana milik kedua orang tuanya.
“Fitri,” lirih Dina saat melihat sosok yang dirindukannya selama ini.
Fitri merupakan satu-satunya saudara perempuan Dina, dia bergegas membukakan pagar.
Dina langsung memeluk tubuh adiknya yang semakin hari semakin kurus.
“Kenapa kamu baru datang sekarang?” lirih Dina.
Suaranya mulai serak, Dina tak sanggup lagi menahan air matanya, rindu yang membuncah pada adiknya.
Fitri melepas pelukan sang kakak.
“Kenapa kakak menangis?” tanya Fitri.
“Tidak apa-apa, kakak Cuma merindukanmu,” jawab Dina.
Fitri merasa ada yang tengah disembunyikan sang kakak, hatinya mulai bertanya-tanya. Dia tak sabar untuk berjumpa dengan kedua orang tuanya.
“Ini Rasya,” lirih Dina membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan gadis kecil yang berdiri di samping Fitri.
Gadis kecil yang sedari tadi menatap heran pada Bundanya dan wanita yang berdiri di hadapan sang Bunda. DIa bertanya-tanya akan sosok Dina.
“I-iya,” jawab Rasya sedikit takut.
“Sayang, ini mama. Kamu sudah lupa, ya sama mama,” ujar Dina.
Dina terlihat sedih melihat Rasya yang tidak mengenal dirinya, wajar saja waktu Fitri dan keluarganya pindah ke desa Dimas, Rasya masih berusia 1 tahun. Dia belum terlalu mengenal sosok Dina, terlebih sejak mereka pindah ke desa Dimas, Fitri tak pernah datang menemui keluarganya karena dia masih takut dengan amarah keluarganya.
“Kak, Ibudan Ayah mana?” tanya Fitri.
Dia sudah tak sabar ingin berjumpa dnegan kedua orang tuanya walaupun di hatinya masih ada rasa takut yang mendalam.
“Ayah ada di dalam, ayo kita masuk,” ajak Dina.
“Ibu?” tanya Fitri.
“Ayo kita masuk ke dalam, Sayang,” ujar Dina mengabaikan pertanyaan Fitri.
Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah, Fitri melihat pria yang selalu menjadi pelindungnya sebelum hadirnya Dimas dalam kehidupannya tengah duduk di sebuah sofa di ruang keluarga sambil membaca koran.
Mata Fitri juga tertuju pada penataan ruang yang ada di rumah kedua orang tuanya saat ini yang sudah banyak berubah.
“Yah, lihatlah siapa yang datang,” ujar Dina.
Ucapan Dina membuat Ayah Fitri menghentikan kegiatannya, dia menurunkan koran yang ada di tangannya, dia melihat putri bungsunya. Seketika air mata mulai menggenang di pelupuk mata pria paruh baya itu.
Fitri berlari menghambur menghampiri sang ayah, Fitri bersimpuh di kaki ayahnya.
“Maafkan aku, Yah,” isak tangis Fitri pun pecah.
Dia menangis sejadi-jadinya di kaki sang Ayah, Fitri mengabaikan keberadaan gadis kecilnya yang hanya diam menatap sang bunda menangis.
Ibu satu anak itu meluapkan semua beban yang dirasakannya, dalam rindu yang mendalam dan luka yang tengah dihadapinya. Tubuh Fitri bergunjang melepaskan sesak di dadanya.
Dina ikut menangis terharu dnegan apa yang dilihatnya saat ini, dia melangkah menghampiri Fitri dengan menggandeng gadis kecil Rasya mendekati ayahnya.
Dina duduk di sofa di samping sang ayah.
“Maafkan aku, Yah. Aku sudah berdosa mengabaikan kalian,” isak Fitri sesenggukan.
Pria paruh baya itu memegangi lengan putri bungsunya, dia mengangkat lengan Fitri memberi isyarat pada putrinya untuk duduk di sampingnya.
“Sudahlah, Nak. Tidak ada yang perlu dimaafkan, kami sudah memaafkanmu,” ujar Pak Rahim.
Fitri pun bangun dan duduk di samping ayahnya, pria paruh baya itu mengusap air mata sang putri. Dia pun merangkul putri bungsunya yang kini terlihat kurus, wajahnya terlihat semakin berumur karena benan hidup yang dihadapinya
Fitri kembali menangis di dada bidang pria paruh baya yang sangat disayanginya itu, saat ini dia memang sangat butuh sebuah dada bidang untuk dia bersandar dari lelahnya perjalanan kehidupan yang dilaluinya.
Rahim membelai lembut kepala sang putri dengan penuh rasa kasih sayang.
“Ibu di mana, Yah,” lirih Fitri setelah meluapkan rasa sedihnya.
Dia teringat dengan keberadaan sang ibu karena sejak dia datang, ibunya belum terlihat sama sekali.
Rahim menoleh ke arah putri sulungnya, mereka saling bersitatap. Sorot mata Rahim seolah meminta Dina untuk menyampaikan perihal ibunya.
“Dek, ibu sudah tiada,” lirih Dina pelan.
“Tidak!” teriak Fitri histeris.
Dia tidak percaya wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya itu sudah pergi jauh meninggalkannya, Fitri memungkiri apa yang dikatakan Dina.
“Tidak, Yah, katakana ibu masih hidup,” isak Fitri histeris.
“kak, kamu jangan bohongi aku. Ibu masih hidup,” ujar Fitri.
Fitri berdiri, dia melangkah menuju kamar ibunya.
“Bu, ibu di mana?”
“Ibu?”
“Aku datang, Bu.”
“Ibu, aku merindukan ibu,” ujar Fitri melangkah mengelilingi rumah mencari sosok wanita yang paling berharga dalam hidupnya.
“Ibu, aku kangen ibu,” isak Fitri kembali pecah, dia terduduk di lantai menangisi kepergian wanita yang sudah melahirkannya.
Fitri menangisi kebodohannya yang tidak pernah berbagi kabar pada keluarganya, Fitri meratapi semua yang sudah terjadi. Dia menyesal tidak pernah datang mengunjungi keluarganya demi perintah sang suami.
Dia mengabaikan keluarganya demi suami yang kini terus melukainya, Fitri terus menangis. Dia tak sanggup menjalani semua ini.
Rasya juga ikut menangis melihat bundanya yang terus menangis. Gadis kecil itu menghampiri sang Bunda.
“Bunda,”lirih Rasya.
Rasya memeluk tubuh ringkih sang Bunda. Dia mengusap air mata yang membasahi pipi sang Bunda.
“Bunda jangan nangis, aku ikut sedih,” bujuk Rasya merasa kasihan terhadap sang Bunda.
Fitri langsung memeluk tubuh mungil gadis kecil yang selalu ada bersamanya.
****
Fitri kini duduk teras rumah menatap kosong ke luar pagar yang sesekali terlihat warga melintas di depan pagar tersebut. Sementara itu Rasya sudah tertidur di sofa ruang keluarga karena lelah, gadis kecil itu tertidur pulas di samping sang kakek.
Dina membawakan secangkir teh hangat pada adiknya.
“Fit, minum dulu ya, Dek,” lirih Dina.
“Dek, ini semua sudah takdir. Ibu meninggal sekitar satu tahun lalu, sebelum beliau pergi, dia memintaku untuk menyuruhmu kembali, tapi aku tidak bisa menghubungi kalian sama sekali. Sehingga ibu pergi dalam kerinduan yang mendalam padamu,” ujar Dina memberitahukan kondisi ibunya sebelum meninggal.
“Ibu meninggal hanya sakit biasa, sebelum dia meninggal dia berkata padaku, bahwa dia sudah memaafkanmu dan ingin kamu pulang,” ujar Dina lagi.
Dina menceritakan apa saja yang terjadi dalam keluarganya sejak kepergian Fitri dari desanya. Fitri hanya diam, tapi dia masih tetap mendnegarkan setiap kata yang diucapkan oleh kakak sulungnya, wanita yang selalu menjadi sahabat dan teman terbaik bagi Fitri dalam berbagi.
Bersambung…
sukses
semangat
mksh
mantap
chayo 👍👍👍
bagaimna kisah fitri dan reyhan thor
melakukan keburukan akan menerima ganjaran yg buruk juga.
ditunggu kelanjutannya