Riani, tak pernah berpikir kalau dia akan menjadi janda diusia 18 tahun. Seminggu setelah pernikahannya, ia ditinggalkan oleh sang suami yang kabur dengan wanita lain hanya karena ia anak kampung.
Riani pun bangkit dan melanjutkan hidupnya setelah ia melahirkan anaknya. Ia menutup hatinya untuk pria manapun sampai akhirnya ia ketemu dengan Jack Almond, pria asal Inggris yang melamarnya setelah dua minggu mereka bertemu.
Setelah mereka menikah dan pindah ke Inggris, rahasia kehidupan suaminya terungkap dan membuat Riani terkejut dan berpikir, apakah aku sudah salah menikah dengan orang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Tak Diharapkan
Jack tak banyak bicara ketika mereka pulang kembali ke rumah. Ia bahkan tak makan saat mereka mampir di sebuah restoran. Ia hanya minum secangkir kopi untuk menahan dirinya dari rasa mengantuk yang mungkin bisa menyerangnya dalam perjalanan pulang.
Riani sendiri tak bisa menahan dirinya dari rasa lelah dan mengantuk.
"Tidurlah, sayang. Nanti aku bangunkan kamu saat kita sudah tiba di rumah." kata Jack melihat bagaimana istrinya berusaha menahan rasa mengantuk.
"Nanti kamu bosan tak ada yang bisa diajak bicara."
Jack tersenyum. "Aku tak akan bosan jika kamu ada di sampingku."
Riani mengambil tangan Jack dan mencium punggung tangan suaminya itu dengan lembut. Ia kemudian memejamkan matanya.
*********
Pagi sudah menjelang. Salju pun semakin tebal menutupi halaman rumah dan jalan.
Ketika Riani bangun, ia terkejut saat menyadari kalau waktu sudah menunjukan pukul 8 pagi dan ia sudah berada di kamar. Jack tak ada di sampingnya. Riani pun bangun dan ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci mukanya, ia juga mengganti pakaiannya lalu segera keluar kamar. Ia terkejut melihat Jack ada di ruang tamu sambil menghiasi sebuah pohon cemara.
"Good morning!" sapa Jack saat melihat istrinya.
"Good morning." Riani mendekat lalu memperhatikan apa yang dilakukan suaminya. "Kau mau menghias pohon natal?"
Jack mengangguk. "Aku lebih suka memakai pohon asli dari pada yang imitasi. Memang sih kalau pohon ini selesai natal pasti akan layu."
"Kamu memotongnya di mana?"
"Di belakang rumah ini. Aku menanam pohon Cemara setiap tahunnya."
Riani memperhatikan Jack. Ada lingkar hitam di bawa mata suaminya yang menandakan kalau ia kurang tidur.
"Sayang, jam berapa kita sampai semalam?"
"Jam 11. Kamu tidurnya sangat nyenyak. Aku tak tega membangunkan mu."
"Lalu jam berapa kamu tidur?":
"Entahlah. Lupa aku."
"Lalu jam berapa kamu bangun pagi ini?"
Jack tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. "Aku baik-baik saja, istriku. Lebih baik kau sarapan. Aku membuat pancake dan telur mata sapi."
"Kamu tak sarapan?"
"Aku sudah sarapan tadi."
Riani memeluk suaminya dari belakang. "Aku nggak mau kamu larut dalam kesedihan. Bagilah ceritamu padaku jika kau sedih."
Jack membalikan badannya. Ia menatap wajah cantik Riani yang polos tanpa polesan apapun. Kecantikan alami. "Di temani olehmu sudah membuat aku bahagia. Oh ya, tuan John dan nyonya Elisa tadi datang membawakan kue dan menyampaikan turut berdukacita. Ia juga mengatakan bahwa kamu dapat mengambil cuti sebanyak yang kamu inginkan."
"Aku besok akan masuk."
Jack mengecup bibir istrinya sekilas. Ia kemudian kembali menggantung hiasan pohon natal. Riani pun memilih ke dapur dan menikmati sarapannya.
"Sayang, aku pikir, Cassie harus tahu kalau opanya sudah meninggal."
Jack yang masih terus menghias pohon natal sejenak menatap istrinya. "Tunggu saja jika waktu libur musim dinginnya. Mungkin Minggu depan ia sudah libur."
"Terserah kamu, deh. Oh ya, ada yang bisa aku bantu?"
Jack menggeleng. "Sudah hampir selesai. Tinggal memasang bintangnya saja."
"Mau ku buatkan kopi?"
Jack mengangguk. Dan Riani pun membuatkan kopi untuk suaminya itu.
"Besok kamu masuk kerja juga?" tanya Riani saat keduanya sudah duduk di depan perapian.
"Iya." jawab Jack lalu melingkarkan tangannya di bahu Riani.
"Aku jadi kangen dengan Arma. Biasanya kalau memasuki bulan Desember, dia akan mulai dengan ujian semester. Seminggu kemudian mereka akan menerima raport. Arma pasti juara. Dan dia akan meminta aku untuk mengajaknya ke kota. Kami akan bermain seharian di mall atau ke taman sari. Lalu esoknya pasti ke kota lagi untuk membelikan baju natal untuknya."
Jack mengusap lengan istrinya. "Kita berdoa saja, sayang. Semoga tak sampai SMP, Arma mau tinggal dengan kita di sini. Cassie pasti senang karena ia akan memiliki adik."
"Itu juga yang aku inginkan, Jack."
"Kita jalan-jalan yuk!"
"Jalan-jalan ke mana? Di luar sedang turun salju."
"Benar juga. Jadi kita di rumah saja? Kamu nggak bosan?" tanya Jack.
"Mengapa harus bosan kalau ada pria setampan ini di sisiku?"
Jack menatap istrinya sambil mengangkat alisnya. "Waw, aku baru tahu kalau istriku ini pintar juga merayu."
Riani agak tersipu. "Aku nggak merayu sayang. Kamu memang tampan."
"Tampan mana aku sama Daniel?"
"Tampan kamulah."
"Benarkah?"
"Nggak percaya? Duh, aku nggak punya foto Daniel lagi."
"Sosial medianya?"
"Aku nggak berteman lagi dengannya."
Jack mengambil ponselnya lalu membuka akun IG nya. "Apa nama IG nya?"
"Daniel77."
"Kenapa 77?"
"Karena ia sangat suka angka 7."
Jack mengetik nama itu. Dan munculah gambar seorang pria. Tinggi, badannya atletis. Terlihat elegan dan berkelas sebagai seorang pengusaha muda. Ia juga mengunggah beberapa fotonya saat beraktifitas, juga ada dua foto dirinya bersama seorang wanita.
"Kamu lebih ganteng kan sayang?"
Jack tersenyum penuh kemenangan walaupun ia agak cemburu juga karena Riani ternyata masih hafal nama Daniel, dan alasan dibalik namanya itu.
"Ya. Aku lebih ganteng." kata Jack dengan sombongnya membuat Riani gemas lalu mencium pipi suaminya.
Jack langsung menarik istrinya agar duduk di pangkuannya. Keduanya saling berhadapan. Mata mereka saling beradu membuat Riani sedikit memalingkan wajahnya saat mereka saling bertatapan.
"Kenapa sih sayang setiap kali kita bertatapan seperti ini kamu bawaannya jadi malu?" tanya Jack sambil menyingkirkan anak rambut Riani yang menutupi wajahnya.
"Tatapan matamu tajam. Menebus sampai ke hatiku."
Jack tertawa kecil. Ia mencubit sedikit pipi istrinya itu. "Duh sayang, kata-kata mu manis..."
"Gula kali manis."
Mereka pun tertawa bersama dan saat tawa itu berakhir, entah siapa yang memulai, keduanya langsung berciuman dengan sangat mesra, saling berbagi kehangatan melawan salju yang semakin tebal di luar rumah.
**********
Air mata Cassie tak tertahankan lagi saat ia menangis di depan makan opanya. Tak peduli dengan salju yang mulai membasahi tubuhnya, gadis remaja yang sudah duduk di kelas 7 itu nampak mengusap batu nisan sang opa.
Jack yang melihatnya tertegun. Ia tak menyangka kalau anaknya akan terpukul mendengar berita kematian sang opa.
"Cassie sayang, opa sudah tenang di atas sana. Jangan bersedih lagi ya nak?" Riani mengusap pundak anak sambungnya itu. Cassie pun memeluk Riani dengan tangis yang semakin dalam.
"Daddy dan opa sudah saling memaafkan sebelum kematian opa. Begitu juga dengan Tante Juliana." Kata Jack membuat Cassie mendongak dan menatap papanya yang berdiri di samping Riani.
"Benarkah? Daddy dan opa tak marahan lagi?" tanya Riani.
"Nggak. Kami sudah baikan, sayang." ujar Jack membuat Cassie nampak bahagia. Ia menghapus air matanya, lalu melepaskan diri dari pelukan Riani dan langsung menubruk papanya dengan tangisan kebahagiaannya.
"Terima kasih daddy. Opa pasti senang karena daddy memaafkannya."
Riani pun tak dapat menahan rasa harunya melihat Jack menitikkan air mata saat memeluk anaknya.
"Daddy, kita akan ke London untuk mendengar pembacaan surat wasiat opa kan?" tanya Cassie saat mereka sudah berada dalam mobil.
"Daddy nggak akan pergi." ujar Jack lalu memasang sabuk pengamannya.
Cassie menatap Jack. "Kenapa dad?"
"Daddy tak mengharapkan apapun dari opa mu. Lagi pula perusahaan opa mu sudah lama bangkrut. Dan Daddy tak suka pergi ke London." Jack mulai menjalankan mobilnya.
"Sayang.....!" Riani yang duduk di samping Jack menatap suaminya dengan wajah penuh permohonan.
Jack sekilas melirik ke arah istrinya. "Aku nggak mau sayang."
"Pengacara Felix mengatakan kalau kamu dan Cassie harus ke sana. Karena pembacaan surat wasiat tak akan dimulai tanpa kalian." Kata Riani berusaha membujuk.
"Aku capek menyetir sendiri ke London." Jack beralasan.
"Kan nanti besok pembacaan suratnya." Riani tak putus asa membujuknya.
"Jangan memaksa. Aku tak suka." ujar Jack membuat Riani langsung diam.
Mereka pun tiba di depan toko kue tempat Riani bekerja. "Cassie, mommy kerja dulu ya? Nanti ketemu lagi sebentar sore." ujar Riani lalu mencium suami dan anak sambungnya itu secara bergantian sebelum akhirnya ia turun dari mobil.
"Kenapa Daddy membiarkan mommy bekerja?" tanya Cassie setelah Riani turun.
"Supaya mommy tak kesepian di rumah."
"Tapi dad, bukankah mommy berhak tahu....."
"Diam, Cassie. Tak baik mencampuri urusan orang tua." Jack menyela perkataan putrinya.
Cassie diam. Ia pun menatap keluar jendela saat papanya kembali menjalankan mobilnya.
Sementara itu, Riani yang sudah memasuki toko segera ke dapur produksi karena banyak pelanggan yang menanyakan kue coklatnya. Ia dengan penuh semangat membuat kue. Selama 2 jam di dapur, ia pun menyelesaikan pekerjaannya laku segera kembali ke dalam toko.
Ternyata sudah ada beberapa orang yang memesan kue coklat itu dan langsung di antar oleh tuan John sendiri ke beberapa rumah pelanggan yang letaknya tak jauh dari toko kue itu.
Riani segera membereskan meja saat melihat beberapa pelanggan pergi. Ia mengangkat gelas bekas kopi dan piring tempat kue.
Setelah itu ia ke dapur dan memberikannya pada nyonya Paulina, asik Nyonya Elsa yang ikut membantu juga di sini.
Ketika ia kembali ke depan, dilihatnya ada dua mobil yang memasuki toko kue itu.
"Selamat datang." ujar nyonya Elsa sementara Riani membelakangi pintu karena sedang membersihkan kaca etalase tempat kue dipajang.
"Excuse me, where's the restroom?"
Deg!
Suara itu!
Tangan Riani yang sedang membersihkan kaca terhenti. Ia berdiri, lalu membalikan badannya secara perlahan. Mata keduanya saling bertatapan dan dua pasang mata itu nampak membulat karena sama-sama terkejut.
"Riani?"
"Daniel?"
**********
Jeng.....jeng......
Pertemuan yang tak terduga.
Jangan lupa dukung emak terus ya guys