NovelToon NovelToon
Elvan

Elvan

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:327.2k
Nilai: 4.8
Nama Author: Fira Anjelita

"Jangan deket-deket!" teriak Aleta galak saat mengetahui Elvan cowok genit yang kerap dipanggil pecinta banyak wanita itu hendak meraih tangannya.

"Hari ini lo boleh nolak gue. Tapi lihat aja cepat atau lambat lo bakalan ngejar-ngejar gue!" Elvan berkata dengan nada meremehkan lalu terkekeh pelan. "camkan itu!" lanjutnya sambil mendorong pelan kening Aleta dengan jari telunjuknya.

"Gak akan!"

"Berani apa?"

"Gue bakalan tembak lo di depan lapangan upacara kalau sampe gue suka sama lo!" kata Aleta penuh keyakinan.

"Fine. Gue bakalan putusin semua cewek gue kalau sampai gue suka sama lo!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fira Anjelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

024

024

Pengumuman

"Gue sama Aleta udah dari kemarin pacaran."

.......

Siang begitu panas dengan terik matahari yang begitu terasa. Ets, jangan salah. Walaupun panas-panas begini anak SMA Angkasa Raya tetap semangat. Mereka semua sudah mulai merapat ke lapangan upacara, dari yang junior sampai senior, dari yang tukang kebun sampai kepala sekolah, semuanya sudah merapat dan berdesak-desakan.

Mau tau kenapa? Ah, bukan karena Aleta ataupun Elvan ngumumin mereka jadian kok. Tapi, karena sekarang Gavin dan Alam sedang asik joget sambil bawa toa mushola sekolah. Mereka sengaja membuat keributan untuk memancing perhatian seluruh penghuni sekolah.

Mau tau apa yang dilakukan Elvan dan teman lainnya? Mereka asik duduk di bawah pohon beringin pinggir lapangan. Tak lupa Aleta di samping Elvan. Bukan, bukan Aleta yang mau. Dia tadi sempat ditarik-tarik oleh Rio dan juga Gavin agar mau duduk di sana bersama bosnya.

"AYO SEMUA MERAPAT! KITA PUNYA INFORMASI PENTING!" suara Gavin berhasil menggema membuat keributan. Tak hanya di tengah lapangan, siswa dan siswi yang malas turun hanya memilih berdiri dan melihat dari lantai gedung atas.

"PENGUMUMAN-PENGUMUMAN SIAPA YANG MAU BANTU TOLONG AKU." Suara Alam menggelegar menyanyikan lagu kesukaannya.

"AKU YANG KENA MALU SAMA TEMAN-TEMANKU KARNA CUMA DIRIKU YANG TAK LAKU-LAKU." Sekarang bukan hanya Alam, tapi Gavin dan Alam. Mereka bernyanyi sambil berebut toa, jadi suaranya agak-agak kabur. Bisa bayangin?

"ASIK, TERUS MANG!" Ucap Gavin sambil menggoyangkan pinggulnya seirama dengan Alam.

"HEI! YANG ADA DI SANA, YANG ADA DI SINI SEMUA IKUT BERJOGET!"

"Temen kamu itu?" tanya Aleta menatap Elvan sedikit ragu.

Elvan membalas dengan gelengan kepala. "Bukanlah."

"Ish, jahat amat gak akuin temen!" kata Aleta sambil mencubit Elvan gemas. Elvan sendiri meringis kesakitan.

"Kan kamu nanya, ya aku jawab dong," kilah Elvan sambil mengusap-usap lengannya yang kena cubit Aleta.

"SINI-SINI! YANG JAUH MENDEKAT, YANG DEKAT MERAPAT!" teriakan Alam terdengar dari toa.

"HEY! KALIAN SINI!" teriakan kali ini diperuntukkan untuk Elvan dan yang lain. Tangan Alam juga ikut melambai agar mereka mendekat.

Diiringi decak malas Elvan berdiri menarik Aleta diikuti yang lain. Ah sampai lupa, kalian ada yang mencari Aksa?

Dia sekarang ada kok, di sana. Tepat di belakang Aleta. Cowok dengan penampilan yang lebih kusut dari biasanya, dia hanya mampu memandang Aleta sendu. Namun, dia juga masih waras untuk marah ataupun melampiaskan cemburunya, dia tetap bersikap sebiasa mungkin, berusaha untuk seolah tidak terjadi apa-apa.

"Sa," panggilan Alam berhasil menyadarkan Aksa yang kini sedang melamun.

Ternyata dia dan temannya beserta Aleta sudah ada di tengah kerumunan. Ah, kenapa dia tidak sadar?

"Kok ngelamun sih, tumben?" kata Alam kembali membuat Aksa tersadar.

"Gue cuma gak enak badan aja," sahut Aksa cepat.

Kini fokus kembali melihat Aleta tangan cowok di sampingnya setia menggandeng tangan Aleta. Ah, ingin sekali Aksa melepas tautan tangan mereka. Dipikir Aleta buta apa sampai digandeng-gandeng?

Akibat sikap Elvan itu banyak siswa dan siswi yang berbisik-bisik.

"Itu Aleta sama Elvan?"

"Awalnya aja sok gak mau, akhirnya juga nyantol."

"Eh, serius itu? Dasar, awalnya aja sok jual mahal."

"Wih ada yang mau nembak nih."

Aleta yang mendengar bisikan-bisikan itu hanya mampu tersenyum kecut. Matanya melirik Elvan yang kini menatapnya penuh dengan perhatian atau kasihan? Entahlah.

"Van ... gimana?" tanya Aleta yang membuat Elvan tersenyum tipis.

"Kita umumin aja tanpa kamu nembak aku," kata Elvan lembut, ah entahlah rasanya cowok itu menjadi lebih perhatian.

"Tapi ... aku gak mungkin tarik apa yang waktu itu aku bilang," kata Aleta sambil menunduk dalam. "aku tembak kamu ya, Van. Tapi kamu terima aku loh!" lanjutnya sambil meremas tangan Elvan.

Elvan mengacak-acak rambut Aleta gemas. "Kamu kan pacar aku ya jelas aku terima lah," katanya sambil tersenyum seolah meyakinkan Aleta jika dia serius.

Aleta mengangguk kecil. Kemudian cewek itu melepas tautan tangan mereka dan berjalan menghampiri Gavin yang kini sedang asik berjoget bersama Alam dengan lagu Goyang Dua Jari.

"AYO KITA GUYANG DUA JARI, BIAR KITA-"

"Vin!"

Lagu yang dinyanyikan Gavin terpaksa terputus. Cowok itu langsung menatap Aleta dengan kening berkerut.

Aksa yang ada di samping Elvan ikut mengernyit bingung. Terlihat Aleta membisikan sesuatu kepada Gavin dan Gavin juga menjauhkan toa itu agar apa yang Aleta ucap tidak terdengar. Gavin seperti mengangguk setuju dan menyerahkan toa itu kepada Aleta.

"Tes. Em ... maaf sebelumnya kalau saya menganggu kalian yang asik melihat Gavin dan Alam. Sebelumnya, di sini saya Aleta ketua OSIS di SMA Angkasa Raya ingin mengatakan sesuatu." Aleta terlihat mengambil nafas dalam-dalam. Aksa yang melihat itu langsung paham, mereka pasti akan segera mengumumkan berita itu.

"Saya ingin memenuhi janji saya," Aleta sedikit berbalik, tatapan matanya tepat bertemu dengan Aksa. Dan secepat mungkin ia mengalihkannyake pemilik manik mata coklat secoklat susu yang menatapnya penuh harap. Dengan sedikit senyum Aleta kembali membuka bibirnya.

"Elvan, gue sayang sama lo. Gue gak tau kapan dan gimana bisa gue keluar dari rule gue sendiri. Dan di sini gue mau nembak lo, sesuai perjanjian itu."

Kalimat Aleta terpaksa terhenti karena sekarang Elvan berjalan mendekat kearahnya. Seketika dadanya bergemuruh, detak jantungnya seperti sehabis lari maraton.

Sekarang tangan cowok itu telah merebut toa yang Aleta bawa. Aksinya berhasil membuat semua orang bersorak dan bertanya-tanya.

"Loh ... Van aku-"

"SIANG SEMUA." Suara Elvan telah menggema memotong apa yang ingin Aleta ucapkan. Aleta, dia sekarang dengan raut cemberut menatap Elvan sebal. Merajuk.

"SIANG!" teriakan dari beberapa orang terutama perempuan.

"Jadi gue di sini mau nerusin apa yang Aleta bilang. Gue gak akan biarin dia yang nembak gue di tengah lapangan begini."

"HUUUUU." Sorakan tanda kekecewaan mulai terdengar. Suara dan ocehan beberapa orang yang tidak terima ikut membuat suasana menjadi lebih gaduh.

"TENANG! Gue mau bilang sesuatu. Sebenernya, gue sama Aleta-" ucapan Elvan terpotong, sengaja. Karena cowok dengan baju yang sudah jelas tidak rapi sama sekali telah menggandeng tangan seorang cewek yang jauh berbeda penampilannya jika dibandingkan dengan dia.

"Gue sama Aleta udah dari kemarin pacaran."

Krik krik

Mendadak suasana menjadi hening beberapa saat. Ya, semua orang termasuk guru dan pekerja sekolah sibuk berpikir. Jangan-jangan Elvan baru ngeprank.

"Gue serius. Gue tembak dia di tempat paling spesial," ucap Elvan mencoba menyadarkan orang-orang di sana. Ya, kecuali Aksa dan teman satu gengnya.

Siulan dari Alam dan Gavin mulai terdengar, membuat Rio dan beberapa siswa lainnya juga bersiul.

Teriakan kecewa dan tak terima banyak juga. Bahkan ada yang terang-terangan melempari Aleta dengan sepatu ataupun tisu yang telah diremas.

Elvan yang melihat reaksi beberapa siswi itu langsung memeluk Aleta dari depan. Entah kenapa dia ingin melindungi cewek di depannya ini.

"Kamu aman. Kita keluar kerumunan pelan, ya," bisik Elvan lembut menatap Aleta dengan penuh rasa sayang.

............

"Van," panggil Aleta ragu.

Kini mereka, Elvan dan Aleta, sedang berada di rooftop sekolah. Setelah berhasil keluar dari kerumunan yang dibuat oleh Gavin dan Alam, mereka langsung menuju tempat ini. Tempat di mana tidak ada satu orang pun yang bukan anggota The Charmer yang berani menginjakkan kakinya.

Semilir angin dan suara seperti deburan ombak menemani mereka. Rambut Aleta terbang mengikuti arah angin yang datang.

"Apa kita gak apa-apa kalau tetap pacaran?"

Entah kenapa Aleta menanyakan hal ini. Dalam hatinya seperti ada keraguan. Ia takut terluka. Entah itu dari Elvan ataupun dari orang disekitarnya.

Elvan menoleh, manik matanya menatap Aleta tajam. Rasanya sakit saat mendengar Aleta bertanya seperti itu. Pertanyaan yang menunjukkan keraguan. Elvan memang tidak pernah serius, tapi entah kenapa kali ini dia tidak terima dikatakan seperti itu.

"Kenapa? Kita baru satu hari jadian, Ta." Elvan berkata dengan nada mendesis. Menahan emosi.

Aleta menundukkan kepalanya, ia tak berani menatap manik mata yang sebenarnya indah itu.

Elvan meraih dagu Aleta dan menariknya lembut. "Jangan nunduk. My princces gak boleh menunduk."

"Yakin sama aku, Ta. Aku bakalan bikin kamu bahagia." Elvan kembali menatap mata Aleta dengan penuh kasih. "apapun yang terjadi tetep bertahan sama aku ya, Ta. Aku benar-benar udah jatuh hati sama kamu." Jangan tinggalin gue saat lo tau gue awalnya cuma gak mau anak Angkasa jadian sama anak Cempaka.

"Gue gak janji, Van. Tapi gue bakalan usaha kok," jawab Aleta dengan senyuman.

Jauh di belakang mereka berdiri Gavin dan juga Aksa. Keduanya menatap Aleta dan juga Elvan.

"Lo belum kasih tau dia?" tanya Gavin dengan suara sinis.

Aksa hanya menggeleng sebagai jawaban.

"Harusnya lo kasih tau dia. Gue bener-bener gak suka liat Elvan mainin cewek lagi. Dan kali ini cewek itu gak pantes buat dimainin."

Aksa memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya . "Dia bahagia. Gue gak mungkin ngerusak kebahagiaan dia, Vin. Biar waktu yang kasih tau dia. Karena, belum tentu dia percaya sama gue."

Gavin menatap Aksa dengan sorot mata peduli. "Gue tau lo suka Aleta. Dan gue harap Elvan gak tau kalian kenal."

Setelah mengatakan itu, Gavin memilih berbalik pergi. Dia tidak ingin menyaksikan adegan nyata tapi berlandaskan kepalsuan.

"Dan gue juga berharap gitu. Karena gue tau, Elvan udah bener-bener jatuh, tapi dia masih setengah sadar."

......

1
shimaizha
lanjutt dong Thor.. nanggung in critanya
Dinda
Luar biasa
Nurmalasari
ku kira nyium ahahaha
Nur Hayati
aku mampir thor 🥰
Ipulgita Ipul
ipul
Muna Maulina Maulina Muna
lnjut dong thorrrt
Neno
tukang bw besi kuningan😂😂😂
astaga thor,2X aku ngulang bc dialog ini baru ngeh maksudnya apa...
Lola banget kyknya aku😂😂😂😂
Agus Purnama
up up up up up up up
Agus Purnama
up upup up up
Nurwana
lnjut....
Elvandraa
mana lanjutanya
Tina Chu
like
Kirana
oke sipp
Naa
like
Naa
like
Biruuuu
Up terus thor.
Semangatt..
Jangan lupa mampir juga dicerita ku yaa🙏😉
Biruuuu
Semangat
Biruuuu
Hadir thor
Biruuuu
😍
Maryati Subur
ayah nya kok jahat banget sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!