[Judul sebelumnya: Highest Life]
Taufan Ravael, seorang pemuda yang selalu menebar senyum dan keceriaan pada orang orang di dekat nya. Setidaknya itu yang orang lain lihat dari nya, tanpa mengetahui jika itu hanyalah topeng belaka.
menyembunyikan duka dan rasa sakit karena kehilangan kedua orang tua nya, dan menghabiskan 6 tahun hidupnya tanpa kasih sayang.
Orang tua nya meninggal akibat kebakaran di rumah nya dan kedua saudara nya membenci nya sejak saat itu.
Harus terus bertahan melawan penyakit yang semakin lama kian menggerogoti dirinya, apa Taufan bisa terus bertahan dan kembali mendapatkan kebahagiaan dan kehangatan keluarga seperti apa yang selalu ia impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilaura Callisto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Kepergian si keping salju
Suara detikan jarum jam mengisi keheningan waktu. Cuaca terik di luar tak berpengaruh banyak pada suhu ruangan yang didominasi biru itu. Sang empunya baru saja masuk dengan membawa sebuah kotak dengan tanda plus dipermukaan nya. Surai hitamnya yang basah dan pakaian santai yang ia kenakan menandakan ia baru saja mandi.
Ia duduk bersila di lantai, sambil bercermin ia memandangi dirinya sendiri. Penampilannya cukup kacau. Beberapa memar masih terlihat jelas di wajah, mungkin baru akan hilang beberapa hari lagi. Luka lecet ditubuhnya perlahan mulai mengering, namun luka di dahinya sepertinya akan sembuh lebih lama.
"Aduduh, sakit! Akh..."
Rintihan lolos dari seorang Taufan Ravael ketika ia mengoleskan obat merah pada lukanya. Padahal ia juga sudah sering berkelahi, tapi ia belum terbiasa dengan rasa sakitnya.
"Semoga aja ngga membekas." Harapnya usai menutup lukanya dengan plester.
Ia menyenderkan punggungnya di tepi kasur sembari menatap langit-langit kamarnya. Ia menghela nafas panjang, pandangannya terlihat kosong. Entah kenapa perasaan nya menjadi tak menentu.
Ia sama sekali tak menyangka akan tiba hari dimana kakaknya menolongnya, meski itu hanyalah berawal dari kebetulan. Seharusnya ia senang, tapi di satu sisi ia merasa aneh karena sudah lama tak merakan hal seperti itu.
Selama 6 tahun terakhir ia hidup layaknya orang yang ditelantarkan. Tak dipedulikan dan tak dianggap, membuatnya terbiasa menjalani kehidupan tanpa kehangatan keluarga. Meskipun sebenarnya ia masih mengharapkan keluarganya bisa kembali seperti dulu.
Tubuh ringkih itu meringkuk, ia hanya bisa memeluk dirinya sendiri karena tak akan ada orang lain yang akan memeluknya untuk menenangkannya. Sekali lagi kenyataan pahit menamparnya. Keluarga nya tak akan pernah utuh, itu mustahil karena sudah terlalu banyak hal yang telah terjadi. Ia mengharapkan hal yang sia-sia. Berharap terlalu besar hanya karena perubahan kecil yang terjadi.
Drrrrrtttt... Drrrrtttt
Getaran yang berasal dari ponsel di atas meja menarik perhatian lelaki ber iris blue sky itu. Layar ponsel yang menyala menunjukan adanya panggilan masuk, tertulis nama Arga di sana.
"Dia pasti mencemaskan ku." Taufan tersenyum simpul. "Kenapa? Kau merindukanku?" katanya begitu mengangkat telfon.
Ekspresi Taufan berubah menjadi masam usai mendengar suara dari sebrang sana, "Apa?"
"...."
"Ngga mungkin!"
Lidahnya kelu tak sanggup lagi berkata usai mendengar kabar yang begitu mendadak. Ia langsung menyambar hoodie birunya tanpa sempat ia akhiri panggilan itu.
Langkahnya terus terpacu, tanpa memedulikan kondisi tubuhnya. Luka yang kembali terbuka dan nyeri di sekujur tubuhnya ia abaikan. Paru-paru yang juga mulai memberontak memintanya berhenti, sama sekali tak ia indahkan. Ia berlari seperti orang kesurupan, sekali dua kali ia menabrak pejalan kaki lainnya. Tujuannya kini hanyalah satu tempat, rumah sakit.
Keringat membasahi keningnya, deru nafas yang tak beraturan menjadi saksi perjuangan nya mencapai tempat itu. Jantungnya berdegup kencang ketika melihat 3 sosok yang tak asing baginya terpaku di sebuah ruang berkaca transparan. Menggantung papan bertuliskan ICU di atas pintunya.
"Taufan?! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau babak belur begitu?" Seru Arga yang pertama kali menyadari keberadaan Taufan.
"Apa yang terjadi? Dimana dia? Dimana Yuki?" seru Taufan tak terkontrol.
Arga menepuk bahu Taufan, memintanya untuk mengontrol diri, "Tenangkan dirimu Taufan."
Taufan menepis tangan itu, "Bagaimana aku bisa tenang setelah mendapat kabar kalau Yuki masuk rumah sakit dan kondisi nya kritis?" Ujarnya. "Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana keadaannya sekarang?"
Ketika pertanyaan itu terlontar, semuanya terdiam. Arga menunduk dalam, Sevan memalingkan wajahnya, sementara Leon, kakinya yang lemas tak lagi mampu menahan berat tubuhnya. Ia terpuruk di depan ruang bercat putih sambil memeluk lutut, menenggelamkan wajahnya di sana.
"Kenapa kalian diam saja!? Jawab aku!" seru Taufan tak sabar. Tangannya bergerak menarik kerah Arga, meminta penjelasan.
"Yuki... dia," Arga menggantungkan kalimatnya, lelaki berkaca mata itu tak sanggup berkata.
Takdir punya rencananya sendiri untuk menunjukan kenyataan pahit itu pada Taufan. Dengan kedua matanya ia melihat sosok yang ingin ditemuinya -Yuki- terbaring di sana. Wajahnya pucat, matanya terpejam, itulah saat terakhir Taufan bertemu dengannya sebelum akhirnya sosok itu terbalut kain putih.
"Yuki meninggal dunia." Lanjut Sevan, suaranya gemetar menahan tangis. Leo mencengkram erat kepalanya, sangat frustasi. Ia tak lagi mampu membendung air matanya.
Taufan nyaris tak percaya, "K-kalian pasti bercanda, haha, iyakan?"
"Apakah sesuatu yang berhubungan dengan kematian bisa dijadikan suatu candaan?" Gumam Sevan terdengar putus asa.
"T-tapi bagaimana bisa? Dia masih baik-baik saja saat kita bertemu dengannya malam itu. Apa yang sebenarnya terjadi?" Ujar Taufan.
"Ini rahasia Yuki yang tidak ingin kalian mengetahuinya, juga beberapa hal yang kami sembunyikan dari kalian." Tatapan sendu terpancar dari sepasang mata Sevan.
Arga mengerenyitkan dahi, "Sebuah rahasia?"
Sevan mengangguk sesaat, ia menghela nafas panjang, bersiap untuk menceritakan sebuah kenyataan yang pahit, "Dari kecil Yuki sudah sering sakit-sakitan. Sejak lahir dia memiliki daya imun yang lemah, itu karena dia terjangkit HIV yang diturunkan oleh ibunya. Ibunya juga meninggal karena hal yang sama."
Detik itu nafas Taufan tercekat, matanya bulat sempurna, bibirnya terkatup rapat tak mampu berkata-kata.
"Selama ini dia tak pernah sekolah, ia menghabiskan waktunya hanya di rumah sakit dan rumahnya."
"Tunggu, tapi kau pernah bilang Yuki sekolah kan?" Potong Arga.
Sevan tersenyum tipis, "Itu hanya sebuah kebohongan, selama ini dia tak pernah sekolah, lebih tepatnya home schooling karena tubuhnya lemah. Teman yang dia miliki hanyalah aku dan Leon, itupun berawal dari pertemuan yang tak sengaja di taman bermain."
Ia terdiam sesaat, menarik nafas meski terasa begitu menyesakkan, "Yuki itu sangat menyukai musik, satu-satunya kegiatan yang membuat hidupnya lebih berarti. Karena itu, saat Leon memberitahu akan membuat band bersama kalian, dia sangat senang."
Namun kemudian senyuman itu luntur, "Akhir-akhir ini keadaanya semakin membaik, tapi saat kita kembali dari gunung, kondisinya tiba-tiba saja drop, dan dia langsung masuk ICU. Sampai akhirnya ia tak bisa lagi bertahan dari penyakit itu dan akhirnya, dia.. hiks.. hiks.." Sevan tak bisa lagi menyembunyikan tangisnya. Tangan nya sudah lebih dulu membekap mulutnya sendiri, menahan diri agar tak ada isakan yang terdengar.
Saat itu Taufan dan Arga hanya terdiam, tak ada isak tangis, hanya anak sungai mengalir dari kelopak mata. Terlalu berat bagi mereka menerima kenyataan seperti yang diceritakan Sevan.
Tak mereka sadari, bagaikan keping salju yang indah, namun rapuh. Mencoba untuk terlihat kuat meski dirinya mencair tergerus suhu.
Hari itu juga, upacara kematian Yuki diselenggarakan. Kerabat dan orang terdekat datang melayat. Air mata mengantarkan kepergiannya, kelabu menyelimuti hati mereka yang kehilangan. Tak terkecuali Taufan, meski ia belum lama mengenal gadis itu namun mereka pernah berdiri di panggung yang sama, menghabiskan waktu bersama meski terbilang singkat untuk ditulis dalam buku harian.
Sekali lagi ia kehilangan orang terdekatnya.
Matahari selalu menandai kepergiannya dengan senja..
Cahaya yang menelusup dari celah jendela selalu menceritakan kisah mentari yang menemani kehidupan sepanjang hari..
Kisah bahagia.. Kisah duka.. Kisah pilu..
Selalu seperti itu..
Sayang kepergian mu tak sehangat mentari pagi atau selembut cahaya. Bagaikan kepingan salju yang mulai mencair dan menghilang...
Kepergian mu meninggalkan duka..
Kata maaf tak sempat terucapkan..
Salam perpisahan tak tersampaikan..
Andai waktu bisa terulang, setidaknya ijinkan aku mengantar kepergian mu..
TBC
hali ravael? atau halilintar ravael?