NovelToon NovelToon
Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda

Status: tamat
Genre:Fantasi / Pendekar / Perubahan Hidup / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sigi Tyo

Seorang Dewa Perang yang terbuang dari Alam Dewa karena ulah nya yang dianggap "nakal", hingga membuat kaisar Dewa memohon kepada sang pencipta untuk membuang nya ke alam manusia.

Jalan takdir yang membawa nya ke alam yang baru dengan ingatan yang hilang dan kekuatan yang tersegel.

Mampukah Sang Dewa Perang menemukan jati dirinya..? ikuti kisah ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sigi Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dewi Mata Iblis

Pasukan sebanyak limaratus orang dari kerajaan Agung Wukir Asri yang di pimpin Senopati Anjar Gumelar mulai mengawasi dan mengatur strategi.

Mereka nampak duduk dan mengawasi keadaan.

"Kita pikirkan bagaimana cara menyingkirkan ular ular ini agar kita bisa masuk di gua sebelah sana, karena menurut perasaanku di sanalah letak zirah pusaka itu berada."

"Bagaimana jika kita gunakan api ndoro Senopati..?," usul salah satu anak buahnya.

"Maksud mu..?."

"Kita bakar tempat ini.., dengan begitu seluruh ular mati."

"Itu sama saja membakar bukit ini, dan itu tidak mudah karena bukit ini sangat luas," balas Anjar Gumelar sambil matanya memutar memandang sekitarnya.

"Kalau kita bakar yang kita lalui saja, hingga sampai ke gua bagaimana Ndoro Senopati..?."

"Bodoh kau..!, lhaa..kalau kita Sampai di gua, terus ular ular mengepung kita.., kamu mau jadi mangsa empuk ular ular tersebut." seru Anjar Gumelar kesal dengan usul konyol salah satu prajurit nya itu.

Prajurit itu menggaruk rambutnya yang tak gatal, hingga nampak dari sisi yang lain serombongan orang berjumlah seratusan orang menatap ke arah gua dengan seksama, lalu orang orang itu menatap pasukan Anjar Gumelar.

"Kita harus hati hati dengan pasukan itu..!," teriak Wereng Ireng, rupanya yang baru saja datang adalah pasukan dari Api Suci yang di pimpin Wereng Ireng.

Sementara di sisi lain juga terlihat para Pendekar entah dari mana masih mengawasi lokasi tersebut.

**

Kumala masih berjalan jalan di lokasi Markas Utama, menatap sebuah panggung arena yang akan di jadikan sebagai tempat pengujian bagi para wanita calon selir Pemimpin Agung.

"Waah..megah sekali tempat ini..," gumam pelan Kumala tak mampu menutupi kekagumannya terhadap tempat tersebut, mulai dari bangunan maupun semua prasarana nya.

"Kamu suka tempat ini..??," terdengar suara berat seorang pria penuh wibawa dengan usia empat puluhan kurang.

Kumala menatap sosok tersebut sesaat, kemudian mengangguk menjawab pertanyaannya.

"Iya...saya suka paman, tempat ini sangat hebat..," kata Kumala kemudian.

"Ha..ha...ha... ," Lelaki itu tertawa terbahak mendengar jawaban Kumala, entah apa yang menyebabakan dia tertawa terbahak seperti itu, apa karena jawaban gadis muda cantik tersebut atau karena dirinya yang di panggil paman.

"Jika kau suka, kau bisa menjadi pemilik tempat ini..cantik..." kata pria tersebut, kemudian pergi melenggang dengan masih tertawa tawa kecil.

Kumala hanya terbengong tak memahami apa perkataan laki laki tersebut, hingga sang lelaki pergi.

Nampak sepasang mata mengawasi interaksi dua orang tersebut dengan seksama.

Kumala masih berkeliling hingga mendekat ke arah arena pertandingan.

"Kumalaaa...!," teriakan sebuah suara mengagetkan gadis tersebut dari kegiatannya mengawasi arena pertarungan.

Kumala menoleh, nampak terlihat Jambumangli berlari ke arahnya, "Ayah cari dari tadi rupanya kau disini anakku.." kata Jambumangli.

"Kenapa ayah mencari ku..?."

"Kau harus bersiap siap anakku, malam nanti pertandingan para calon selir akan di lakukan," balas Jambumangli mengajak Kumala agar kembali ke hunian yang telah di siapkan.

"Aaah..aku tak lolos jadi selir juga tak apa ayah.., lagian aku masih muda masih ingin berkumpul bersama Ayah," kata Kumala pelan, namun terdengar bagai geledek di telinga Jambumangli.

"Jangan berkata begitu..kau mengecewakan Ayah anakku..!." Jambumangli berkata keras kepada Kumala.

Kumala hanya terdiam, menjadi dilema dengan pikiran nya sendiri.

**

Setelah pertemuan itu, kini Pelangi makin sering bertemu dengan Prabu Danar Kencono.

Meskipun pertemuan tersebut tak di lakukan di istana tapi di lakukan di tempat tempat yang sudah di tentukan.

Tetap saja Pelangi di dampingi oleh Jaya Sanjaya dan Jayeng Rono, mereka yang menjaga gadis itu kini.

"Romo sebenarnya tak ingin terus menerus seperti ini anakku, tapi kita bisa apa, jika para pemburu pusaka itu tau hal ini kejadian waktu itu pasti terulang kembali."

"Iya.., Romo Prabu tak usah khawatir, hamba cukup senang bisa melihat siapa orang tua Pelangi," sahut Pelangi pelan menyembunyikan kesedihannya.

Bagaimana pun dirinya ingin hidup selayaknya orang lain yang bisa menikmati kebebasan berkumpul dengan keluarga nya.

"Yakinlah suatu saat kita pasti akan berkumpul tanpa tekanan seperti ini," kata Sang Prabu dengan raut wajah muram.

"Romo Prabu akan membangun kekuatan yang tak akan bisa di remehkan oleh orang lain," kata Prabu Danar Kencono kembali sambil mengelus rambut anaknya.

Pelangi mengangguk anggukan kepala nya.

"Ibunda Ratu titip salam untuk mu anakku, jika nanti ada kesempatan pasti Romo akan mempertemukan kalian," kata Prabu Danar Kencono, membuat Pelangi terkesima dan mata berbinar.

"Benarkah Romo Prabu...?."

"Iya...bahkan ibu Ratu sudah tak sabar bertemu dengan mu anakku."

Pelangi tersenyum mendengar hal itu.

Jaya Sanjaya dan Jayeng Rono hanya tersenyum mendengar pembicaraan tersebut, mereka berdoa semoga semua itu bisa cepat terlaksana, Bagaimana pun kebahagiaan Pelangi adalah prioritas bagi kedua pria tersebut.

Tanpa di sadari oleh semua orang nampaknya pertemuan Sang Prabu dan Putrinya mulai di awasi oleh seseorang.

Entah bagaimana asal muasalnya dan siapa yang membocorkan rahasia tersebut hingga ada yang bisa mengendus peristiwa itu.

**

Para gadis calon selir dari Pemimpin Agung sudah di kumpulkan dalam satu ruangan.

Mereka mendapatkan pembekalan bagaimana bersikap dan bertingkah laku sebagai pendamping pemimpin kelompok hebat tersebut.

"Tak hanya cantik tapi juga harus kuat..!, tak hanya kuat..! tapi juga harus cerdas..!."

Begitu kata salah satu sesepuh yang memberikan wejangan kepada para gadis muda itu.

"Bisa memberikan pendapat dan pengaruh yang menguntungkan kelompok ini..!."

"Mampu bertindak dan mengambil keputusan yang tepat dalam situasi apapun..!."

Teriakan teriakan motivasi diberikan oleh sesepuh perempuan tersebut, untuk membangun pribadi dari pendamping Pemimpin Agung meski hanya seorang selir.

Wanita sepuh itu baru berhenti memberikan motivasi dan wejangan ketika seorang wanita dewasa dengan tampilan lumayan cantik dan dandanan yang mewah masuk ke dalam ruangan tersebut.

"Hormat kami Ratu Dewi Mata Iblis..!." Sambut semua orang sembari menunduk dan menjura.

Rupanya wanita tersebut adalah sang permaisuri, pendamping utama Pemimpin Agung.

Wanita yang terlihat cantik dengan dandanan menor namun terlihat sangat sombong itu memutar matanya menatap gadis muda gadis muda di depannya.

Pandangannya berputar hingga tiba saat menatap ke arah Kumala, wajahnya seakan makin merah pandangan matanya seakan berkobar menatap gadis muda tersebut.

Dewi Mata Iblis menghampiri wanita sepuh itu, entah apa yang di katakannya kepada wanita sepuh yang memberikan wejangan tadi hingga wanita sepuh itu membungkuk dan mengangguk.

Setelah berkata Dewi Mata Iblis meninggalkan tempat tersebut tanpa berkata apapun.

"Sekarang kalian bubar, persiapkan diri kalian untuk pertarungan di atas panggung," perintah wanita sepuh tersebut, membubarkan para calon selir Pemimpin Agung.

Kumala pun beranjak berdiri dari duduknya, gadis cantik tanpa polesan itu berniat meninggalnya tempat tersebut, namun sebelum benar benar pergi wanita sepuh itu menahannya.

"Kamu..ikut aku menghadap Dewi Mata Iblis.."

"Saya ..??.''

"Ya...kamu..!, kamu anak Jambumangli kan..??." kata wanita sepuh itu lagi.

Kumala mengangguk lalu berjalan mengikuti langkah kaki wanita sepuh tersebut menuju sebuah ruangan.

**

Di dalam ruangan yang cukup mewah, dengan di sebelahnya ada sebuah taman yang cukup indah duduk seorang wanita cantik dengan dandanan menor.

Dewi Mata Iblis nampak duduk di kursi semacam singgasana di sana dengan sikap arogan nya.

"Kami menghadap Dewi Mata Iblis.." Salam dari wanita sepuh dengan diikuti Kumala.

"Hmm.., tinggalkan kami.." sahutnya pelan dengan sedikit dengusan.

Wanita sepuh itu undur diri, namun sebelum nya nampak menjura penuh hormat.

Kumala masih berdiri mematung di sana tanpa tau apa yang harus dilakukan nya.

Dewi Mata Iblis menatap garang ke arahnya, entah apa yang membuat wanita paruh baya itu begitu geram.

"Siapa namamu..!!," terdengar suara Dewi Mata Iblis bertanya dengan nada yang terdengar kasar.

"Kumala nyonya.."

"Panggil aku ratu...aku bukan orang biasa..!." seru Dewi Mata Iblis dengan menekankan kata Ratu.

Kumala sedikit tercubit hatinya.

"Baik Ratu.."

"Kamu tau kenapa aku panggil kemari hah..!," bentaknya sedikit keras, membuat Kumala sedikit terperanjat.

Kumala lalu menggelengkan kepalanya, menandakan dia tak tau apapun.

"Jangan pura pura bodoh..!!."

"A..aa.. saya benar benar tak tau Ratu.." kata Kumala pelan.

"Cuih...Jangan harap kau bisa merebut posisi ku sebagai permaisuri disini..!," bentak Dewi Mata Iblis dengan garang.

Kumala mengangkat wajahnya menatap Dewi Mata Iblis.

"Maaf Ratu..aku tak berniat menjadi selir... apalagi permaisuri," kata Kumala memberanikan diri.

"Ha.ha.ha.ha..Jangan pura pura membodohi ku... kau..!, mana ada wanita kelompok pengguna Mata Iblis menolak menjadi selir, apalagi permaisuri..," sindir wanita itu.

Seketika itu Kumala makin muak dengan semua yang berurusan dengan kelompok pengguna Mata Iblis.

"Maaf Ratu..orang lain boleh berambisi menjadi selir atau ratu di tempat ini, tapi saya tak berminat sama sekali, jadi saya mohon ratu tak perlu khawatir."

"Saya juga tak pernah tau atau bertemu dengan Pemimpin Agung kelompok ini jadi anda jangan khawatir."

Kata Kumala dengan berani.

"Gadis pembohong..!! kau bahkan berbincang dengan nyaman dengan Pemimpin Agung di dekat arena pertandingan..kau pikir aku tak tahu.. perempuan S*nd*l..!!."

Kumala hanya menganga.

"Berarti laki laki yang ku panggil paman adalah Pemimpin Agung..??."

___________

Jangan lupa tinggalkan jejak nya....

1
Raysonic Lans™
duh duh
Reza bima
iya,musuhnya lari ga dibunuh, terus bikin perguruan lagi bikin ulah lagi.. begitu seterusnya...ya orangnya itu2 saja
Reza bima
berhenti,tunjukkan surat2nya.. dewa kok begini
Markinyo
rasa kemanusiaan apa? gimana dengan korban yg di bantai oleh perusuh itu?

jgn naif dunk thor..
Markinyo
kelamaan, knp tdk langsung d ikuti ke markas penjahat, langsung d tumpas sekalian..?
Reza bima: bertele-tele..ceritanya
total 1 replies
Markinyo
katanya pembela kebenaran? kelompok pemeras di biarkan..
Markinyo
katanya kl ketemu zirah sayapnya, akan kembali ke Jaya, krn ada roh di zirahnya..
lha ini ktmu kok g kembali ke Jaya thor..

yg bnr mn thor?
Bagian Pendaftaran Cristal Biru Meuligo
Luar biasa
Iskandar Yunaeni
Sepertinya mau jadi kuat nih
Iskandar Yunaeni
Baru mulai
Iskandar Yunaeni
WAH RAME NIH
muh syahlan
mantap.............,/Good//Good//Good//Good/
teguh andriyanto
Luar biasa
Irfan tejo laksono
top
Agus Susanto
Lumayan
left
Luar biasa
left
Lumayan
Dewi Yani
mcnya gila jalan makan istrahat....jalan makan istrahat....lha pusaka udah diambil semua orang...
Zacky yulianto
Luar biasa
Zacky yulianto
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!