ALVINA ....
Itu namaku. Gadis berumur 17tahun baru lulus SMA. Aku yatim piatu yang diasuh oleh seorang wanita berhati mulia bernama Ardhina Devi. Wanita yang rela menghabiskan seluruh hidupnya untuk membesarkanku, mengorbankan kebahagiaannya demi merawatku dan merelakan cintanya untuk menyayangiku.
Hidupku berubah setelah kepergiannya, ditinggal untuk selamanya oleh satu-satunya orang yang aku sayangi, membuatku seperti kehilangan sebagian diriku.
Ini bukan kisah tentang anak angkat yang mencari siapa dan darimana dia sebenarnya. Tapi ini tentang diriku dan cintaku.
Maaf, jika ada kesamaan nama, karakter dan penggambaran tokoh yang aku ambil. Semua hanya buat pelengkap saja. Semoga suka dan menarik kalian baca sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sita Azzaky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
•Membesarkan Hati•
Namanya Sarah. Gadis yang mengalihkan dunia Mas Rizal itu bernama Sarah. Ibu Mas Rizal terus meluapkan perasaannya, aku hanya menguatkan dengan mengelus punggung tangannya yang menggenggam erat di telapak tanganku. Entah seperti apa atau siapa sebenarnya Sarah itu, pengaruhnya begitu besar buat Mas Rizal apalagi buat keluarga Mas Rizal.
"Dia yang dulu selalu menghabiskan malam bersama Ibu di paviliun belakang, tidur di pangkuan Ibu sambil belajar atau cerita tentang bagaimana harinya berlalu. Sekarang bahkan untuk menyuruhnya datang menemui Ibu, Ibu harus pura-pura sakit." Isakan Ibu Mas Rizal mulai terdengar. Aku memeluknya.
"Ibu, please! Aku udah bukan anak kecil lagi." Mas Rizal pindah duduk bersimpuh di lantai, dia juga genggam tangan Ibunya. "Aku udah kemari, Ibu minta aku ajak Alvi, aku udah bawa dia. Aku nggak pernah nyuruh dia nolak perjodohan ini, tapi dia sendiri yang nolak. Dia udah punya pacar Bu. Mengertilah, kami udah punya masa depan yang kami rencanakan." Ibu melihat ke arahku, aku mengangguk mengiyakan ucapan Mas Rizal. Sebenarnya nggak enak banget melakukan ini. Aku nggak tega melukai perasaannya.
"Ibu, selama ini aku hanya menganggap Kak Dhina Ibu, Ayah, kakak juga teman sekaligus. Tapi hari ini, Alvi benar-benar ngerasa punya keluarga." ucapku sedikit bergetar. Aku tahan air mata di pucuk mataku dengan jari kelingkingku agar tidak jatuh dan semakin membuat suasana tidak mengenakkan. Ibu Mas Rizal mencium keningku.
"Ibu, masalah ini jangan di bahas lagi ya. Aku janji, aku bakal sering-sering bawa Alvi kesini." ucap Mas Rizal sambil mencium tangan Ibu. Sifatnya gampang banget berubah-ubah, sebentar penuh amarah, sebentar tiba-tiba berubah penuh kasih sayang.
"Udah selesai kan Bu? Ayo, waktunya minum obat lalu istirahat," seru Dokter Arifin dan berdiri dari duduknya. "Ma, antar Ibu ke kamarnya!" Perintah Dokter Arifin ke Mbak Mika. Dengan bantuan tangan Dokter Arifin, Mbak Mika bangun dari duduknya. Ibu hamil tua, susah bergerak.
"Boleh Alvi yang antar Ibu ke kamarnya?" Aku menawarkan diri. Ibu tersenyum senang. Mbak Mika ngangguk setuju. Mas Rizal bangun dari duduknya lalu membantu Ibu berdiri.
"Kamu nggak kapok kan maen kesini?" Suara Ibu Mas Rizal membuyarkan ketakjubanku pada furniture yang ada di kamar ini. Aku geleng sambil tersenyum. "Sebenarnya apa alasanmu menolak menikah dengan Rizal?" Ibu Mas Rizal setengah berteriak dari dalam kamar mandi, ganti baju.
Apa semuanya belum jelas? Kenapa di bahas lagi?
"Ibu, sekarang istirahat dulu." ucapku. Aku bantu Ibu Mas Rizal minum obat. "Kalo Ibu masih berharap aku jadi bagian dari hidup Mas Rizal, minta aja ke Allah. Biar Allah yang nentuin," seruku dengan senyum semanis mungkin. Ibu Mas Rizal tersenyum, kayaknya dia senang dengarnya. "Percaya takdir Allah Bu, jika aku dan Mas Rizal berjodoh, entah kapan itu pasti bersatu. Pada waktu itu, aku atau Mas Rizal nggak bisa menghindarinya." Aku naikkan selimut menutupi separuh tubuh Ibu.
"Kalau gitu, boleh kan Ibu minta di setiap doa Ibu?" ujarnya lagi.
"Itu hak Ibu!" Aku tersenyum membesarkan hatinya.
Eh, Mas Rizal! Tanpa sengaja aku melihat sosoknya, di pantulan cermin meja rias Ibunya.Dia berdiri di balik pintu kamar Ibunya yang sedikit terbuka. Emang dasar tukang intip!
"Makasih ya sayang udah mampir ke rumah." ucap Ibu Mas Rizal.
"Alvi juga makasih banget Ibu. Alvi pamit ya. Kalau ada waktu, Alvi pasti kesini lagi. Pastinya nggak sendiri, Alvi ajak Kak Dhina juga." pamitku. Aku cium tangan Ibu Mas Rizal lalu berjalan keluar kamarnya.
"Ayo! Aku antar kamu pulang!" Seru Mas Rizal menyambutku di depan pintu. Dia menatapku tajam. Kenapa? Apa ada yang salah?
"Tunggu bentar, Dek. Mbak nyuruh Pak Edi beli makanan buat oleh-oleh Alvi." Mbak Mika setengah teriak. Di temani Dokter Arifin, Mbak Mika nonton TV sambil makan camilan. "Ajaklah Alvi jalan-jalan keliling rumah dulu!" seru Mbak Mika.
"Masih lama Mbak?" tanya Mas Rizal. Matanya masih tidak lepas dari menatapku. Aku mulai risih dengan tatapannya yang seakan-akan menelanjangiku.
"Baru berangkat." jawab Mbak Mika.
HBD 😘😘🎉🎉🎂🎂🎁🎁🦀♋🦀♋🌷🌷💜💜😂😂
Welcome Cancer ♋🦀♋HBD Author 🎉🎉🎉🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎂🎂🎂🎉🎉🎁🎁🎁
HBD 🎂🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎁♋♋♋♋♥️♥️♥️♥️🦀🦀🦀🦀💜💜💜💜🌷🌷🌷🌷🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎉🎉🎉🎉
HBD
🎂🎂🎂💜💜💜♋♋♋🦀🦀🦀
🎂🎂🎂♥️♥️♥️🎁🎁🎁🌷🌷🌷
HBD ♋♋♋💜💜💜🎁🎁🎁♥️♥️♥️