"My Secretary"
Elsa adalah seorang sekretaris yang ditakdirkan menikah dengan atasannya karena hal buruk yang menimpanya.
Edward adalah CEO muda tampan yang besar di London, memiliki sifat temperamen dan pergaulan yang bebas.
Apakah pertemuannya dengan sekretarisnya akan membuat hidupnya berubah?
Follow IG@rr_maesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 Kabar Edward bertunangan di London
Diruang tunggu, Winda tampak gelisah, ternyata yang ikut interview lumayan banyak. Dia merasa lelah menunggu, pakaiannya yang rapihpun sudah mulai kusut.
Di sebelahnya duduk seorang laki laki seusianya, dia juga terlihat gelisah.
“ Hai, “ sapa winda, mencoba mengurangi kejenuhan dengan mengobrol.
“ Hai “ jawab laki laki itu.
“ Kau ikut interview ? “ tanya Winda, yang membuat laki-laki itu kesal, memangnya dari tadi duduk disana buat apa kalau bukan interview.
“ Sangat banyak yang melamar “ keluh Winda
“ Tentu saja, karena ini sebagian operan dari perusahaan XX “ ujar seorang gadis disebelahnya Winda, sepertinya gadis ini suka bergosip.
“ Operan bagaimana ? “ tanya winda.
“ Iya, karena saking banyaknya yang melamar di perusahaan XX “
Winda mengernyitkan alisnya. Dia mengingat ingat nama perusahaan itu, bukannya itu perusahaan tempat kakaknya bekerja ?
“ Apa yang terjadi disana ? “
“ Perusahaan itu membuka kantor cabang di London, jadi sebagian karyawan disana banyak yang ditarik ke London, jadi disini banyak posisi yang kosong “
“ Oh begitu…kau sendiri sudah melamar kesana ? “
“ Tentu saja, tapi mereka memilih yang berpengalaman saja, karena CEO nya juga baru, CEO yang lama pindah ke London “
“ Begitu ya ? “ tiba tiba Winda jadi ingin tau, mungkin gadis ini tau sesuatu diperusahaan itu.
“ Siapa nama CEO itu ? “
“ Mr Steve “
Winda merenung, bukannya kakak iparnya itu namanya Edward. Berarti benar kakak iparnya itu kembali ke London dan meninggalkan kakaknya ? Tapi bukankah kakak iparnya bilang kalau yang bernama Steve itu juga pindah ke London ? Dan yang memegang perusahaan disini saudara mertua kakaknya ?
“ Kemana CEO yang sebelumnya ? “
“ Tentu saja pindah ke London, kalau tidak salah, dia sudah bertunangan, jadi pindah ke London “
Mendengar penjelasan gadis itu, tangan Winda tampak gemetar, dia merasa sedih mendengarnya. Bagaimana kalau kakaknya tau kalau suaminya berhianat ? “
“ Kau tau tidak, nama CEO yang bertunangan itu “ tanya Winda lagi, dia heran karena kata kakaknya teman temannya di perusahaan itu tidak tau keberadaaan kakak ipar. Sungguh aneh.
“ Kok kamu tau tentang cerita ini “ tanya Winda lagi.
“ Ayahku yang cerita saat pulang dari London. Ayahku pernah ikut study banding dengan salah satu perusahaan grup XX di London“
“ Apakah kau punya nomor telpon ? Boleh aku memintanya ? Siapa tau nanti kita jadi teman “ ujar Winda lagi, langsung mengeluarkan hpnya. Gadis itu tampak tidak suka.
“ Baiklah, kau catat nomorku, namaku Nindi “ ujarnya dengan berat hati.
“ Oh Iya kau tau nama CEO yang bertunangan itu ? Barangkali ayahmu mengatakannya “
“ Siapa ya ? Aku lupa “ Nindi menggeleng gelengkan kepalanya.
“ Edward, namanya Edward bukan ? “ tanya Winda dengan tidak sabar.
Nindi melihat pada Winda, merasa kaget dengan reaksi Winda, yang memegang tangannya.
“ Benar, namanya Edward ? “
“ Aku tidak tau kalau itu “
“ Bisakah kau menelpon ayahmu ? Tolong tanyakan nama CEO yang bertunangan itu. Please “
“ Kau ini kenapa ? kau aneh sekali “ Nindi memberengut.
“ Aku akan senang mentraktirmu, kalau kau mau membantuku. Ayolah “ pinta Winda.
“ Ya sudahlah, aku menelpon ayahku dulu ya ? “ Nindi beranjak mengambil Hpnya, keluar sebentar dari ruangan itu. Winda menunggunya dengan tidak sabar. Dia harus meyakinkan kabar itu sebelum memberitahu kakaknya.
Tidak berapalama, Nindi masuk kembali ke ruangan itu.
“ Siapa namanya ? “
“ Iya, Mr Edward namanya, anak tunggalnya Mr Smith, tunangannya bernama Olivia, anak pengusaha kaya di London “
Mendengar kabar itu, hati Winda merasa sakit, dia sedih, tidak tau harus bagaimana cara menyampaikan kepada kakaknya. Kalau tidak, dia tidak akan tega melihat kakaknya menunggu suaminya terus.
Perlahan winda menitikan air mata, dia sedih melihat kakaknya menderita.
“ Hei, kau kenapa ? Kau baik baik saja ? “ tanya Nindi, merasa cemas melihat reaksi Winda.
“ Tidak apa apa. Terimakasih ya. Aku berhutang traktir makan ya “ ujar Winda, menghapus air matanya.
Nindi hanya mengangguk meskipun dia bingung dengan keanehan sikap Winda.
************
Elsa memasuki ruangan kantor pengacara ternama di kota itu. Rencananya dia akan konseling tentang rencana pembukaan kantor cabang baru di kota ini, untuk pertimbangan barangkali nanti dia kan melebarkan sayap perusahaannya, bukankah sekaranga ada janin yang dikandungnya, diapun harus memikirkan masa depan yang baik untuk anaknya.
Saat dia menunggu di ruang tunggu, seseorang masuk ke gedung itu, Seorang pria yang sepertinya pernah melihatnya tapi dia lupa dimana. Akhirnya dia ingat, dia pria salahsatu pengacara yang ikut ke rumahnya bersama Mr Federik.
“ Tuan, Selamat siang Tuan “ sapa Elsa, berdiri menghampiri pria itu.
“ Iya Selamat siang, siapa ya ? “ dia tampak mengingat ingat Elsa.
“ Bukankah anda salah satu pengacara temannya Pak Edy ? yang mengurus jual beli perkebunanku “ tanya Elsa, memastikan.
“ Oh iya aku ingat ingat, ada keperluan apa kau kemari ? “
“ Aku bahkan tidak tau tau kalau anda berkerja di kantor ini “ ujar Elsa.
“ Iya benar, karena sebenarnya klien kami, Mr Simth tinggal disini, Pak Edy yang menangani asset diluar kota, salah satunya perkebunan anda, “
“ Tunggu, tunggu, apa maksudmu dengan Mr Smith ? Bukankah nama pemilik itu
Mr. Robert ? “ tanya Elsa tidak mengerti.
“ Saya menandatangani surat surat itu dengan nama Mr Robert “ lanjut Elsa.
“ Benar, tapi sebenarnya pemilik aslinya Mr Smith, tapi dilimpahkan pada Mr Robert, masih salah satu keluarganya juga “
Elsa semakin bingung dengan semua ini. Jadi pemilik sebenarnya Mr Smith ? Apa mungkin benar perkiraannya kalau Edward menukar perkebunannya dengan meninggalkannya ?
“ Mr, apa anda sempat bertemu dengan Mr Edward ? “ tanya Elsa, nada suaranya semakin gugup, tiba tiba saja hatinya terasa sakit dan hancur.
“ Maaf nyonya, tidak. Semua di urus pengacara Mr Smith, karena beliau tinggal di London “
Jawaban pengacara itu membuat kepala Elsa semakin pusing, kemana lagi dia harus mencari kebenaran ini ? Kenapa Edward menghilang seperti tertelan bumi ?
Apa dia harus bertemu Mr Smith ? Ada apa ini ? Kenapa Mr.Smith dulu membeli perkebunan ayahnya ? Apa mereka mengenalnya ?
Akhirnya Elsa mengakhiri pebicaraannya dengan pengacara itu, keplanya pusing, pikirannya kalut, sehingga memutuskan untuk pulang ke apartemennya.
********
Memasuki apartemennya, matanya melihat ke sekeliling, dia masih ingat saat pertama menginjakan kakinya disini, dengan pakaian basah kuyup karena hujan, bahkan Edward terkena flu waktu itu gara gara menunggunya pulang di koskosan.
Elsa merebahkan badannya di sofa, tubuhnya terasa begitu lelah. Di sentuhnya sofa itu yang lembut. Barang barang yang Edward berikan untuknya.
Bahkan pria itu bersedia meninggalkan hartanya hanya untuk bertanggungjawab menikahinya. Tapi sekarang dia meninggalkannya, rasanya sangat tidak mungkin.
Air mata mulai menetes membasahi pipinya. Di usapnya perutnya, bahkan Edward tidak tau kalau dia sedang mengandung anaknya. Dia pun menangis memiringkan tubuhnya menghadap sofa, air matanya menetes membasahi sofa warna kuning itu.
Tidak disadarinya sesorang sudah berada di dalam. Winda berdiri melihat kakaknya yang sedang menangis, diapun mulai meneteskan air mata. Apa dia harus menceritakan kalau kakak iparnya itu sudah bertunangan dengan wanita lain ?
“ Kak “ panggilnya dengan suara serak, menahan air matanya jatuh.
Elsa menghapus airmatanya, dan bangun melihat kearah adiknya, berusaha tersenyum.
“ Kau sudah pulang ? Bagaimana interviewmu ? berjalan lancar ? “ tanya Elsa, menutupi kesedihannya.
Winda tidak bicara apa apa lagi, dia langsung berhambur memeluk kakaknya dan menangis.
“ Kenapa kau menangis ? Kau tidak lulus ? Tidak apa apa. Bukan masalah, masih ada kesempatan yang
lain “ ujar kakaknya mengusap punggung adiknya yang malah membuat adiknya semakin keras menangis.
Setelah berapa lama, akhirnya Winda berhenti menangis, di tatapnya kakaknya.
“ Kenapa ? Tidak masalah kau gagal interview, jangan merasa sedih “ hibur kakaknya.
Winda menggeleng. Membuat Elsa keheranan.
“ Terus apa ? “ tanya Elsa.
“ Ada kabar soal kakak Edward “ jawab Winda.
“ Kabar ? Kabar apa ? “ tanya Elsa, menatap adiknya dengan hati berdebar debar,
“ Dia sudah bertunangan kak, dengan Olivia di London, mereka tinggal di London “ ujar Winda.
“ Kau tau dari mana ? “ tanya Elsa, masih tidak percaya, meskipun dia pernah berfikir kesana tapi dia tidak mengira itu benar benar akan terjadi.
“ Dari seorang teman interview yang kebetulan ayahnya pulang dari London “ ujar Winda, sambil memegang tangan kakaknya yang bergetar dan terasa dingin.
“ Laki laki itu menghianati kakak, bahkan dia tidak tau kalau kakak sedang hamil “ ujar winda, merasa kesal pada suami kakaknya itu.
Elsa menundukkan mukanya, airmatanya kembali berjatuhan.
“ Lupakan laki laki itu kak, jangan mencarinya lagi, kita pulang “ ujar Winda lagi.
“ Kakak jual saja apartemen ini, biar kakak tidak terkenang lagi dengan laki laki penghianat itu “ Winda tampak semakin marah dan kesal pada Edward yang telah menyakiti kakaknya
“ Bagimana kakak bisa melupakannya ? Ada anaknya di perut kakak ? Bayi ini berhak tau ayahnya “
“ Tapi kak, tidak ada gunanya mencarinya lagi. Kalau dia peduli pada kakak, dia tidak akan meninggalkan kakak dan malah bertunangan dengan wanita lain, meskipun suatu saat dia tau, kondisinya sudah tidak memungkinkan. Dia sudah bertunangan dan mungkin sebentar lagi akan menikah “ ujar Winda meyakinkan kakaknya.
“ Percayalah kak, kalau dia peduli pada kakak, dia akan pulang “ lanjut Winda lagi, dia kembali sedih mengingat kakaknya selalu menunggu kepulangan suaminya.
“ Kakak akan selalu menunggunya “ ucap Elsa lrih.
“ Tidak kak, jangan, lupakan dia, kakak berhak bahagia, jangan hidup dalam bayang bayangnya. Kita pulang “ Winda menggeleng gelengkan kepalanya.
“ Jangan mencarinya lagi, kita segera pulang ya kak, jangan menunggunya “
“ Kakak harus bertemu dengan dia, kakak ingin tau penjelasan dari dia “
“ Kakak, sudahlah, dia tinggal di London dengan tunangannya, untuk apa mencarinya ? “
“ Kakak butuh penjelasan dia. Bahkan sebenarnya kakak ingin bertemu dengan Mr Smith “
“ Untuk apa kak ? “ tanya winda.
“ Kau tau dek, sebenarnya perkebunan kita Mr Smith yang membelinya “
“ Bagimana bisa kak ? “
“ Ya sebenarnya bisa siapa saja yang membeli perkebunan kita. Hanya saja kakak merasa ada yang aneh, apa semua ini benar benar kebetulan ? Dengan menghilangnya Edward ? “
“ Benar juga ya kak. Bisa juga begitu Kak Edward tau perkebunan milik ayahnya, dia meminta ayahnya untuk mengembalikannya pada kakak dan sebagai gantinya kak Edward mau bertunangan dengan oLivia. Mungkin begitu kan kak ? “ tanya Winda, yang di angguki kakaknya.
“ Tapi kenapa kakak merasa bukan itu saja alasannya ? “ Elsa menggeleng
“ Alasan apa ? “
“ Kakak juga tidak tau. Kakak hanya merasa, Edward tidak mungkin meninggalkan kakak hanya karena itu “
“ Tentu saja bisa kak, harga perkebunan dan pabrik pabrik itu sangat mahal. Hanya dalam satu hari semua itu kembali pada kita. Tentu saja itu harus dibayar mahal “ ujar Winda lagi, sambil mengambil air minum di meja.
“ Oh iya kakak, temen kakak itu yang benama Steve itu dia masih CEO disini, dia tidak pindah ke London “
“ Bagaman kau tau ? kata bu Mirna dia pindah ke London “
“ Mungkin sementara kak” winda kembali mengambil minumnya, dia merasa sangat haus sekali.
“ Kakak harus pergi “ ujar Elsa, mengambil tas yang tergeletak di Sofa.
“ Kakak mau kemana ? “
“ Kakak mau menemui Steve “
“ Buat apa kak ? Kau harus menjaga kesehatanmu dan bayimu, jangan terlalu capek “ seru Winda. Tapi Elsa tidak menggubrisnya, dia sudah keluar dan menutup pintu apartemenya.
Elsa memarkir mobilnya di halaman gedung itu. Sudah berbulan bulan yang lalu dia tidak meninjakan kakinya di gedung ini.
Memasuki loby, semuanya berubah, orang orang yang bertugas di depan semuanya orang orang baru. Bahkan resepsionispun sudah ganti.
“ Siang Nona, saya ingin bertemu CEO disini “ ujar Elsa, pada reseptonis itu yang di mejanya tertulis nama Angel.
“ Apa anda sudah membuat janji ? “
“ Belum, apakah dia ada ? “ tanya Elsa lagi.
“ Nanti coba saya tanyakan dulu pada sekretarisnya “ baru juga Angel akan menelpon, Elsa langsung pergi masuk lift khusus langsung ke lantai atas, ruanagn CEO.
“ Nona, nona, kau tidak boleh kesana !! “ teriak angel.
“ Satpam, satpam, tolong hentikan orang itu “ teriaknya lagi pada satpam, yang segera berlari mengejar tapi lift sudah tertutup. Akhirnya satpam menggunakan lift karyawan.
“ Aduh, bagaimana ini ? Nanti aku dipecat gara gara wanita aneh itu “ gerutu Angel.
********************