Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — Kehidupan yang Hilang
Angin pagi yang berembus dari utara membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Namun, Yana tetap berdiri mematung di tepi tebing batu itu, memandangi wilayah Suku Serigala yang ada di bawahnya dengan tatapan campur aduk.
Dua bulan. Hanya dua bulan waktu yang ia miliki sebelum gadis transmigrator itu muncul di hutan utara dan memutarbalikkan roda takdir mereka.
'Aku tidak boleh panik,' batin Yana sambil mengepalkan tangannya di balik lengan baju kulit. 'Di kehidupan lalu, aku hanya gadis yang tidak tahu apa-apa. Tapi sekarang, aku tahu persis apa yang akan terjadi.'
"Yana! Mengapa berdiri di sana sambil melamun? Ayo cepat turun! Sarapanmu akan segera dingin!"
Suara lantang seorang wanita paruh baya memecah lamunan Yana. Yana menoleh dan melihat Bibi Nora—wanita juru masak suku yang bertubuh agak gempal—sedang berkacak pinggang di bawah tebing sambil melambaikan tangan ke arahnya.
Mata Yana berkaca-kaca seketika.
Bibi Nora ... wanita hangat yang selalu memberinya porsi daging ekstra saat kecil, wanita yang di kehidupan sebelumnya tewas berdarah-darah demi melindungi anak-anak suku dari serbuan suku asing yang terprovokasi. Kini wanita itu berdiri segar bugar dengan celemek kulit yang bernoda jelaga perapian.
"I-iya, Bibi! Aku turun sekarang!" sahut Yana cepat. Ia menyapu sudut matanya yang basah sebelum berlari kecil menyusuri jalan setapak berbatu menuju area pemukiman utama.
Suasana pagi di pemukiman Suku Serigala terasa sangat hidup dan sibuk. Asap tipis membumbung tinggi dari belasan perapian batu. Di sudut kanan, para pria bertubuh kekar sedang membelah kayu bakar dan mengasah tombak tulang mereka. Suara dentangan batu beradu dan gelak tawa menggema ramah di udara.
Di sudut lain, beberapa wanita sibuk menumbuk biji-bijian dan mengeringkan daging hasil buruan kemarin di atas panggangan kayu. Anak-anak suku yang masih kecil berlarian ke sana kemari, saling mengejar sambil menirukan suara aungan serigala dengan gembira.
Semua ini adalah pemandangan yang dulu hilang dilahap api dan kemiskinan. Pemukiman yang indah dan hangat ini pernah berubah menjadi kuburan massal yang bau amisnya tercium hingga berhari-hari.
Yana berjalan perlahan melewati deretan gua tempat tinggal. Setiap kali ada warga suku yang lewat dan menyapanya, dada Yana terasa seperti teremas ketat.
"Selamat pagi, Yana! Wajahmu sedikit pucat, apakah kamu kurang tidur?" sapa Paman Barek, seorang prajurit tua yang kakinya agak pincang akibat gigitan beruang di masa mudanya.
"Selamat pagi, Paman Barek. Aku baik-baik saja, hanya sedikit kelelahan," balas Yana sambil berusaha tersenyum semanis mungkin.
*Paman Barek ... di kehidupan lalu, dada Paman tertembus tiga panah saat memblokir pintu masuk gua tempat anak-anak bersembunyi,’ bisik Yana dalam hati dengan kepedihan yang ditahan erat-erat.
"Ayo makan dulu, Yana. Ayahmu sudah pergi ke gua rapat bersama para tetua," ucap Bibi Nora seraya menyodorkan semangkuk sup daging hangat dan sepotong umbi bakar.
"Terima kasih, Bibi Nora." Yana menerima mangkuk batu itu dengan kedua tangan yang gemetar tipis.
Ia duduk di atas bongkahan kayu dekat perapian umum, menyesap sup hangat itu perlahan. Rasa gurih dan hangat mengalir ke dalam tenggorokannya, menghangatkan badannya yang dingin. Namun rasa sakit di hatinya sama sekali tidak berkurang.
Sambil mengunyah makanan, matanya terus bergerak mengawasi sekeliling suku, memetakan setiap detail yang ada.
Suku Serigala adalah salah satu suku terkuat di wilayah barat pegunungan. Mereka hidup harmonis dengan alam, menghormati aturan Dewa Binatang, dan hanya berburu secukupnya demi menjaga keseimbangan hutan. Tidak ada kerakusan, tidak ada eksploitasi berlebihan.
Namun, semua keseimbangan itu hancur saat gadis transmigrator itu datang.
Gadis itu mengajarkan cara mengeksploitasi hutan secara besar-besaran, membuat perangkap mematikan yang menghabiskan populasi hewan, serta mengajarkan pembuatan senjata besi kasar yang memicu rasa iri dan ketakutan dari suku-suku tetangga. Demi mengejar "kemajuan" dan kekuasaan, keseimbangan alam hancur. Kelaparan hebat melanda, dan Suku Serigala—yang menolak ide gila itu—akhirnya menjadi korban pertama dari keserakahan yang diprovokasi.
Tak hanya itu ... Yana mengingat satu nama lagi yang membuat dadanya makin memanas.
Luka. Tunangannya.
Pria yang dipuji sebagai pemburu muda paling berbakat di Suku Serigala. Pria yang seharusnya memimpin suku bersama Yana, tetapi di kehidupan lalu justru menjadi orang pertama yang terpesona oleh kecantikan dan pengetahuan gila gadis transmigrator itu. Luka bahkan tega meninggalkan Suku Serigala dan berbalik menyerang tanah kelahirannya sendiri hanya demi mendapatkan senyuman dari sang "Wanita Suci" palsu.
"Sedang memikirkan apa, Yana? Begitu serius sampai-sampai supmu hampir menetes ke baju?"
Sebuah suara pria yang renyah dan penuh percaya diri mendadak terdengar dari sampingnya.
Yana tersentak pelan. Ia menoleh dan mendapati seorang pemuda bertubuh jangkung dengan rambut cokelat kemerahan terikat rapi di belakang kepala sedang berjalan mendekatinya. Pemuda itu membawa busur kayu besar di bahunya dan tersenyum tampan ke arah Yana.
Luka.
Melihat wajah pemuda itu, darah Yana terasa mendidih seketika. Ingatan tentang bagaimana Luka menatapnya dengan dingin di kehidupan lalu—saat Suku Serigala terbakar dan Dia bersimbah darah—langsung berkelebat di benaknya.
'Gadis itu membawa keajaiban yang bisa menyelamatkan dunia ini, Yana. Sukumu terlalu kuno dan keras kepala! Jangan menyalahkan siapa pun atas kehancuran kalian!'
Kata-kata kejam yang diucapkan Luka di masa lalu seolah kembali bergema tajam di telinga Yana.
"Luka ..." bisik Yana dengan nada suara yang mendadak dingin. Tatapan matanya yang biasanya hangat, kini berubah datar dan asing.
Luka yang tidak menyadari perubahan emosi Yana justru melangkah semakin dekat, ia lalu duduk di atas batang kayu di sebelah Yana dengan santai.
"Kulihat kamu dari tadi melamun terus. Ada apa? Apakah kamu merindukanku? Maaf ya, kemarin aku berburu sampai larut malam di batas hutan utara," ucap Luka percaya diri, memamerkan senyumannya yang biasanya selalu berhasil membuat Yana malu-malu.
Namun kali ini, Yana tidak merona merah. Tidak ada canggung atau rasa kagum di matanya.
Yana hanya memandang Luka dari atas ke bawah secara dingin. Betapa bodohnya ia di kehidupan lalu sampai bisa mengagumi pria dangkal seperti ini. Pria yang dengan mudahnya berpaling hanya karena ada wanita asing yang membawa hal-hal baru yang menarik perhatiannya.
"Aku tidak memikirkanmu," jawab Yana singkat, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke mangkuk supnya.
Luka sedikit terkejut dengan kepatuhan Yana yang hilang secara tiba-tiba. Biasanya, gadis di depannya ini akan tersenyum lembut dan menanyakan bagaimana hasil berburunya.
"Kamu ... kenapa, Yana? Apakah aku membuat kesalahan?" tanya Luka heran sambil mengerutkan dahi. "Gaya bicaramu dingin sekali pagi ini."
"Aku hanya sedang tidak ingin diganggu, Luka," pungkas Yana tegas, berdiri dari duduknya tanpa memandang wajah pemuda itu lagi. "Aku harus membantu para tetua memilah tanaman obat."
Luka membelalakkan mata, tidak percaya bahwa Yana baru saja meninggalkannya begitu saja di tengah percakapan. "Hei, Yana! Tunggu dulu! Nanti siang kita ada latihan panahan bersama!" panggil Luka dengan nada agak kesal.
Yana tidak menghentikan langkahnya sedikit pun. Ia terus berjalan menuju gua penyimpanan obat tanpa menoleh lagi.
Bagi Yana, hubungan pertunangan konyol ini sudah mati sejak kehidupan sebelumnya. Ia tidak punya waktu untuk melayani ego pria pengkhianat seperti Luka.
Fokus utamanya saat ini hanyalah menyelamatkan ayahnya dan mempersiapkan suku dari bencana yang akan datang.
Yana melangkah masuk ke dalam gua penyimpanan yang hangat dan berbau harum dedaunan kering. Di dalam gua, tampak Nenek Greta—tetua pendoa suku yang sudah sangat tua—sedang duduk menyortir akar-akar tanaman di atas kain tenun.
"Ah, Yana ... kamu datang, Nak?" panggil Nenek Greta dengan suara serak namun lembut.
"Iya, Nenek. Aku datang untuk membantu," kata Yana, mengambil tempat duduk di dekat sang tetua.
Yana mengulurkan tangannya, mengambil segenggam akar obat yang mengering. Mengingat kembali kehidupan lalu, penyakit batuk darah sempat menyerang beberapa prajurit suku satu bulan sebelum transmigrator datang, membuat kekuatan tempur suku melemah. Di kehidupan lalu, mereka kekurangan akar herbal ini hingga beberapa prajurit tewas.
'Aku harus memastikan persediaan obat ini cukup. Musim dingin kali ini tidak boleh ada prajurit yang mati sia-sia,' tekad Yana dalam hati.
Nenek Greta mengamati jemari Yana yang dengan terampil dan cepat memilah akar obat beracun dan akar penyembuh. Sang tetua mengerutkan alisnya yang keriput, merasa ada yang berbeda dari cara kerja gadis remaja di depannya.
"Yana ..." panggil Nenek Greta pelan.
"Ada apa, Nenek?" Yana mendongak.
Nenek Greta menatap dalam-dalam ke dalam mata abu-abu kehijauan milik Yana. "Mata anak muda biasanya penuh dengan keraguan atau keceriaan. Tapi matamu pagi ini ... terasa sangat berat dan tua. Seperti mata seseorang yang sudah melihat ribuan kematian."
Yana membeku sejenak.
Jantungnya berdetak agak kencang.
Ia lupa, bahwa para tetua pendoa memiliki kepekaan batin yang sangat tinggi.
Namun, Yana dengan cepat menguasai dirinya lagi. Ia menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna, lalu menunduk kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Aku hanya bermimpi tentang masa depan yang gelap, Nenek," jawab Yana dengan nada suara yang mantap. "Dan aku berjanji ... tidak akan membiarkan kegelapan dalam mimpi itu menjadi kenyataan di suku kita."
Nenek Greta terpaku mendengar jawaban itu, lalu mengelus janggut tipisnya sambil mengangguk pelan tanpa bertanya lebih lanjut.
***
Bersambung ....