Usia 50 tahun. Menantu durhaka, anak tak tahu diuntung, dan suami yang membuang Suparti Wijaya di depan umum hanya delapan hari setelah ibu mertuanya meninggal.** Tapi Tuhan memberinya kesempatan kedua — Suparti terlahir kembali, kembali ke hari paling menghinakan dalam hidupnya. Kali ini, ia tidak menangis. Ia tidak memohon. Ia menandatangani surat cerai dengan tangan gemetar penuh dendam, lalu menampar Prof. Handoko Susanto dan simpanannya, Jenny Wongso, di depan seluruh kantor catatan sipil — membongkar rahasia kelam 34 tahun pernikahan yang selama ini ia telan sendirian: uang bulanan receh, penghinaan tanpa henti, dan pengorbanan yang dibalas pengkhianatan.
Diusir tanpa sepeser pun harta, Suparti justru bangkit dari titik paling rendah — memulung sampah, mencuci piring di warung orang, tidur beralaskan kardus. Tapi wanita yang dulu dianggap "sudah tidak berguna" ini justru membangun **Bank Sampah Hidup Baru**, dari gerobak rongsokan kecil menjadi kerajaan bisnis daur ulang yang disegani seantero kota. Setiap orang yang dulu meremehkannya kini harus menunduk memanggilnya Bos.
Dan di tengah kebangkitannya, muncul sosok yang tak pernah ia duga: **Jenderal Alexander Sena Wiranata**, pria berkuasa yang selama ini selalu "kebetulan" ada di dekatnya — melindunginya diam-diam selama tiga puluh empat tahun tanpa pernah mengaku. Semua orang mengira ini keberuntungan. Tapi benarkah semua "kebetulan" itu murni kebetulan? Ataukah ada rahasia yang jauh lebih besar, yang menyangkut nyawa Suparti di kehidupan sebelumnya — rahasia yang baru akan terungkap ketika cinta mereka sudah tak bisa lagi dipisahkan? Balas dendam sudah dimulai. Kerajaan sudah dibangun. Tapi cinta sang jenderal... baru saja akan berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
"Oma juga akan buang aku?"
Pertanyaan Timmy tidak hilang meski malam sudah lewat.
Di kamar hotel, Suparti menyuruhnya mandi, makan nasi hangat, lalu tidur. Anak itu menurut, tetapi setiap beberapa menit ia menoleh, memastikan Suparti masih ada. Ketika lampu dimatikan, ia memegang ujung selimut seperti memegang tali.
Suparti duduk di kursi dekat jendela sampai napas Timmy teratur.
Paginya, ia membatalkan rencana istirahat. Ada satu janji yang tidak boleh ditunda lebih lama. Setelah Cindy ditahan dan perceraian selesai, ia harus menemui ibu Yuyun.
Cynthia sempat menyarankan agar Suparti menunggu satu dua hari. Tubuhnya baru melewati sidang, perjalanan polisi, dan malam menjaga Timmy. Tetapi Suparti menggeleng. Selama ini terlalu banyak orang meminta korban menunggu waktu yang tepat. Yuyun sudah tidak punya waktu. Marlina mungkin tidak punya banyak tenaga.
Perjalanan dari Surabaya menuju Bandung terasa panjang. Timmy duduk di sampingnya, lebih diam dari biasanya. Suparti membawa bekal roti, air mineral, dan satu kantong kecil obat mabuk perjalanan. Di stasiun, Timmy sempat merengek minta permainan di tablet, tetapi ketika Suparti menatapnya, ia menurunkan suara.
"Boleh main nanti?"
"Setelah makan dan setelah kamu bicara baik-baik."
"Baik-baik itu gimana?"
"Tidak berteriak. Tidak memaksa. Kalau kecewa, bilang kecewa."
Timmy berpikir lama, lalu berbisik, "Aku kecewa Mama pergi."
Suparti mengusap kepalanya. "Itu sudah lebih baik."
Rumah perawatan di Bandung berdiri di jalan yang lebih sepi. Udara lebih dingin, dan bau obat antiseptik menyambut mereka begitu masuk. Vanessa Lienardi menunggu di lobi. Perempuan itu berusia tiga puluhan, memakai kemeja sederhana dan membawa laptop tipis di tas selempang.
Di dinding lobi ada papan jadwal terapi dan kotak sumbangan kecil. Suparti melihat beberapa keluarga datang membawa buah, lalu pergi cepat setelah tanda tangan buku tamu. Tempat itu bersih, tetapi kesepian tetap terasa menempel di kursi tunggu.
"Bu Suparti?" tanyanya.
"Iya. Vanessa?"
Vanessa mengangguk. Matanya tampak lelah, tetapi suaranya mantap. "Bu Marlina menunggu sejak pagi."
Mereka masuk ke kamar kecil di ujung koridor. Marlina Kurniawan berbaring di ranjang dengan tubuh kaku. Separuh wajahnya sulit bergerak, tetapi matanya hidup. Di samping ranjang ada foto Yuyun dalam bingkai murah: gadis muda dengan senyum canggung, memakai jas almamater.
Suparti berhenti di depan foto itu.
Ia tidak pernah bertemu Yuyun. Namun nama itu sudah menjadi luka di dalam hidupnya. Gadis itu bukan sekadar korban dalam berkas. Ia anak seseorang. Ia pernah belajar, bermimpi, mungkin pernah tertawa karena hal kecil seperti semua anak muda lain.
"Bu Marlina," kata Suparti pelan. "Saya Suparti."
Marlina menggerakkan tangan dengan susah payah. Vanessa membantu mengangkat bantal agar ia bisa melihat lebih jelas.
"Saya tahu," kata Marlina terbata. "Yang... buka suara."
Suparti duduk di kursi samping ranjang. "Saya terlambat."
Mata Marlina basah.
"Yang salah... bukan Ibu."
Kalimat itu membuat tenggorokan Suparti mengeras. Ia datang untuk meminta maaf, tetapi justru perempuan yang paling kehilangan itu yang lebih dulu membebaskannya dari rasa bersalah.
Ia membuka tas dan mengeluarkan amplop. "Ini bukan harga nyawa Yuyun. Tidak mungkin ada harga untuk itu. Ini hanya bantuan untuk perawatan Ibu. Kalau Ibu menolak, saya tetap akan mencari cara lain agar perawatan tidak berhenti."
Vanessa melihat amplop itu. "Seratus dua puluh juta rupiah?"
Marlina menggeleng kuat. Napasnya menjadi berat. "Tidak. Saya... tidak jual anak."
"Bu Marlina..."
"Saya mau... orang tahu." Air mata mengalir di pipinya. "Yuyun bukan gadis lemah. Dia pintar. Dia buat ide... suara hati."
Vanessa membuka laptop. Di layar muncul tampilan sederhana dengan nama proyek: Suara Hati AI.
"Yuyun punya gagasan membuat sistem pendamping suara untuk korban yang sulit bicara langsung," jelas Vanessa. "Bukan pengganti psikolog atau polisi. Hanya alat awal, supaya orang bisa mencatat pengalaman, menyimpan bukti, dan diarahkan mencari bantuan yang benar."
Suparti menatap layar itu. Ada rekaman suara, catatan waktu, tombol darurat, dan ruang jurnal. Sederhana, belum selesai, tetapi ia bisa melihat niat di dalamnya.
"Dia ingin orang lain punya tempat bicara," kata Vanessa. "Setelah kasusnya... saya berjanji meneruskan. Tapi proyek ini berhenti."
"Kenapa?"
Vanessa tersenyum pahit. "Yang kurang bukan niat, Bu. Yang kurang uang."
Ia membuka folder lain. Ada rancangan kerja, kebutuhan server, biaya pendamping psikolog, dan pelatihan relawan. Semua tertulis rapi. Tidak ada janji muluk. Tidak ada kalimat besar seperti brosur yayasan palsu. Justru karena rapi, Suparti percaya Vanessa sudah lama menahan proyek itu dengan kuku sendiri.
"Yuyun menulis sebagian alur percakapan sebelum meninggal," kata Vanessa pelan. "Kami tidak memakai isi pribadinya untuk tontonan. Hanya strukturnya. Bagaimana seseorang yang takut bisa mulai dari kalimat paling sederhana: saya tidak baik-baik saja."
Suparti menatap layar lebih lama. Kalimat itu pendek, tetapi ia membayangkan berapa banyak perempuan yang tidak pernah diberi ruang bahkan untuk mengucapkan itu.
Timmy yang sejak tadi diam di dekat pintu memandang foto Yuyun. "Dia kakak yang sudah meninggal?"
Suparti menoleh. "Iya."
"Karena orang jahat?"
Vanessa membeku. Suparti menunduk di depan Timmy, memastikan jawabannya tidak membawa beban yang terlalu berat untuk anak seusianya.
"Karena ada orang dewasa yang melakukan hal sangat salah. Tugas kita sekarang bukan membicarakan hal buruknya, tapi memastikan nama Kak Yuyun tidak hilang."
Timmy mengangguk pelan. "Berarti aplikasinya buat orang minta tolong?"
"Iya."
"Kalau aku takut, aku juga boleh minta tolong?"
Suparti memegang tangannya. "Harus."
Marlina menangis tanpa suara. Vanessa menutup laptop pelan.
Di luar kamar, Suparti berdiri lama di koridor. Amplop bantuan tetap ia titipkan untuk biaya perawatan atas nama administrasi, bukan kompensasi. Marlina tidak menjual duka. Suparti tidak akan memaksa duka itu berubah menjadi transaksi.
Vanessa menyusulnya sambil membawa map proyek. "Saya tidak ingin membebani Ibu. Tapi kalau proyek ini berhenti, semua catatan Yuyun berhenti jadi folder di laptop."
Suparti menatap map itu.
Ia baru memegang uang hasil cerai. Jumlahnya tidak besar. Ia harus membawa Timmy, pindah ke Jakarta, mulai hidup yang belum punya bentuk. Tetapi mata Marlina di kamar tadi membuatnya sadar: kebebasan yang hanya dipakai untuk dirinya sendiri terasa terlalu sempit.
"Saya belum bisa janji hari ini," kata Suparti. "Saya harus menghitung tempat tinggal, sekolah, dan biaya Timmy."
Vanessa mengangguk cepat. "Saya mengerti."
"Tapi jangan tutup proyeknya."
Vanessa menatapnya.
"Kalau belum ada uang, simpan dulu semua catatan dengan baik. Jangan sampai hilang. Orang seperti Handoko menang bukan hanya karena punya kuasa, tapi karena bukti orang kecil sering tercecer."
"Berapa dana awal yang paling kecil agar proyek bergerak?"
Vanessa menarik napas. "Yang kurang bukan niat, Bu. Yang kurang tiga puluh juta rupiah."