NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Langitan

Pendekar Pedang Langitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Heryando Palar Vinkoert

Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.

Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.

Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Adipati Muncak Gede

Sang Adipati berjalan didepan. Ada senyum ramah terukir di wajah tampan sang Adipati. Bagaga melirik sekilas kearah Adipati muda itu. Dia kaget. Ni Kirana dan Danang juga melihat kepada sang Adipati melihat Bagaga Alam yang kaget.

Tiba-tiba sang Adipati juga melihat kearah meja Bagaga. Sang Adipati muda, tampan itu tertegung sejenak. Kemudian dia berseru lantang. Suaranya penuh rasa gembira dan senang.a

"Saudara tua ku Bagaga ?!" Dia langsung bergegas menuju meja yang ditempati Bagaga.

Bagaga Alam berdiri. Dia mau menjura kepada sang Adipati. Tapi sebelum itu terjadi, sang Adipati memeluk erat Bagaga Alam.

Bagaga Alam tersenyum dan balas memeluk sang Adipati. Bagaga Alam lalu menyapa hormat kepada sang Adipati.

"Lama sekali tidak bertemu. Bagaimana dengan khabar mu tuan Adipati ?"

"Saudara tua ku. Apakah kau lupa dengan nama ku ?  Sejak kapan kita dibatasi oleh aturan ??"

"Ha ha ha haa... Tapi kau sekarang telah menjadi orang nomor satu di wilayah ini pangeran Muncak Gede. Tidak pantas jika aku berlaku tidak sopan pada mu."

"Aturan itu tidak berlaku untuk mu, saudara tua ku."

Danang Wesi dan Ni Kirana tertegun melihat hubungan yang sangat baik antara Adipati Daeyuh Sundasebawa dengan Bagaga Alam. Ini semua benar benar berada jauh diluar bayangan mereka. Saudara tua ku. Bukankah itu berarti Adipati Muncak Gede sangat menghargai dan menghormati Bagaga Alam ?

Bukan hanya Danang Wesi dan Ni Kirana. Dua pria tengah baya juga tidak kalah kagetnya. Bagaimana bisa Adipati pangeran Muncak Gede yang agung. Memeluk pria dari kalangan biasa saja di resto umum. Tidakkah itu akan sangat merendahkan Adipati pangeran Muncak Gede ?

Pemilik resto juga hanya bisa melihat semua kejadian itu dengan mata membesar dan hampir lepas dari tempat nya. Namun dia adalah seorang pebisnis. Dia segera menjura dalam kepada Bagaga Alam. "Tuan muda, maafkan jika mataku buta dan tidak mengenal Tuan sebelumnya."

Pandeka Pedang Suling Kumala tersenyum dan mengangguk. "Tidak ada yang salah Engko."

"Terimakasih Tuan Muda, terimakasih."

"Saudara tua ku Bagaga. Mari kita keatas." Adipati Muncak Gede juga mengajak Danang Wesi dan Ni Kirana bergabung di lantai dua.

Mereka akhirnya naik bersama ke lantai dua. Mereka segera duduk melingkari sebuah meja yang besar.

"Aah saudara ku Bagaga. Izinkan aku mengenalkan paman Patih Maung Sakti dan paman Suta Nanta, penasihat ku.

Paman Maung Sakti dan paman Suta Nanta. Inilah saudara ku Bagaga Alam yang lebih dikenal Pandeka Pedang Suling Kumala. Pahlawan besar kerajaan Sunda Galuh."

Kedua pria tengah baya itu kaget. Mereka buru buru berdiri. Untung tadi aku belum sempat berlaku tidak mengeluarkan kata kata tidak baik. Pati Maung Sakti bergumam dalam hati.

"Sungguh satu kehormatan besar bagi kami bisa bertemu dengan pendekar super sakti Pandeka Pedang Suling Kumala."

Bagaga Alam mengangguk kecil. Dia merasakan perobahan sikap dari pria tengah baya itu. Namun Bagaga Alam mengabaikan hal itu. Biasa manusia yang punya jabatan bersikap angkuh bin sombong bila bertemu orang lain yang tidak dia kenal. Apalagi penampilan orang yang ditemui biasa saja.

"Saudara Muncak Gede, ini saudara Danang Wesi dan nona ini Ni Kirana putra dan putri ki Agenga."

Danang Wesi dan Ni Kirana segera bangkit dan menjura.

"Oh ya. Apakah kalian berdua putra dan putri ki Ageng ?"

"Salam dari Danang Wesi untuk Anda, tuan Adipati. Hamba memang putra tertua ayahanda ki Ageng."

"Salam sejahtera tuan Adipati. Hamba putri bungsunya ki Ageng."

"Ha ha haa haaa kalian berdua terlalu sungkan. Jika kalian berdua adalah sahabat saudara tua ku Bagaga. Maka kalian berdua juga adalah sahabatku."

"Terimakasih kasih Tuan Adipati. Anda sungguh mulia."

Lima orang pelayan wanita yang cantik muncul menghidangkan berbagai macam hidangan. Tuak manis dan air niro juga dihidangkan bersama air teh.

Mereka lalu makan dan minum bersama. Sesekali diselingi dengan obrolan ringan.

Selesai makan, pelayan membersihkan meja. Lalu menghidangkan kopi dan kue kering serta buah.

"Saudara tua ku Bagaga. Aku ingin mengundang Anda bersama saudara Danang Wesi dan nona Ni Kirana ke istana kadipaten."

Bagaga Alam tersenyum kecil dan melihat kepada Danang Wesi dan Ni Kirana. Namun kedua orang itu menyerahkan keputusan pada Bagaga.

"Maafkan aku saudara Muncak Gede. Kami kebetulan sudah menginap di Bumi Alus."

Wajah Adipati Muncak Gede terlihat agak kecewa. Bagaga Alam menyadari itu semua. Dia juga merasakan ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan oleh Adipati Muncak Gede.

"Begini saja. Besok pagi utus orang mu menjemput kami. Kita sarapan bersama di istana kadipaten. Setelah itu kita bisa ngobrol banyak hal."

Wajah tampan Adipati Muncak Gede langsung terlihat cerah. Kabut yang tadi bergayut telah hilang entah kemana

"Baiklah kita berpisah dulu. Aku tunggu besok ada prajurit kadipaten yang datang menjemput."

"Baik baik, sampai bertemu besok pagi saudaraku Bagaga."

Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana mengundurkan diri. Mereka kembali ke penginapan Bumi Alus.

 

Hari masih sangat pagi, ketika sebuah kereta kadipaten dengan di kawal 12 orang prajurit serta seorang Bekel prajurit muncul di penginapan Bumi Alus. Penginapan langsung menjadi heboh.

Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana turun dengan dikawal Bekel prajurit dan dua orang prajurit. Semua orang yang ada di situ melihat kearah mereka. Bisik bisik diskusi merebak di antara para pengunjung.

Bagaga Alam segera mengatur Ni Kirana untuk naik kereta. Sementara dia menunggang kuda disebelah Bekel prajurit kadipaten. Mereka bergerak menuju istana kadipaten. Sepanjang perjalanan, Bagaga mendapatkan banyak informasi dari Bekel prajurit.

Adipati Muncak Gede telah menunggu bersama Pati Maung Sakti dan penasehat Suta Nanta.

Usai sarapan bersama. Adipati Muncak Gede mengajak mereka pindah ke pendapa timur istana. Tiga orang pelayan segera datang membawa minuman hangat dan kue basah serta kue kering yang lezat.

"Saudara ku. Kenapa engkau bisa ada disini ?  Aku dengar khabar engkau sudah menikah dengan Dewi Rimau Kumango ? Kapan engkau sampai lagi di tataran Sunda ini ?"

"Wah wah wah... Kenapa kau sekarang lebih cerewet Muncak Gede. Aku harus jawab yang mana dulu ?" Gelak tawa segera pecah diantara mereka.

"Baik baik. Akan ku jelaskan satu persatu..." Bagaga kemudian menuturkan berbagai hal.

"Jadi sekarang ini engkau dalam perjalanan menuju wilayah timur Jawa Dwipa ?"

"Yaa. Hmm sejak kapan kau diangkat menjadi Adipati."

"Sekitar tiga purnama setelah kembali dari Dharmasraya. Ayahanda menugaskan aku untuk membersihkan dan mengatur kembali kadipaten ini.

Kadipaten ini menjadi berantakan. Setelah kita berhasil menumpas kelompok Iblis Darah.

Untungnya ada paman Maung Sakti dan paman Suta Nanta yang sangat membantu ku."

Pangeran Muncak Gede menarik nafas panjang dan terdengar berat.

"Saudara ku Bagaga. Ada satu ganjalan dalam pemerintahan ku. Ternyata kejahatan terus saja muncul dan tumbuh. Meski kita telah berusaha menekan sebanyak mungkin. Tapi pasti ada saja yang lolos.

Begitu juga disini. Sekarang muncul satu kelompok penjahat yang sangat kuat. Pemimpin kelompok itu adalah seorang pendekar yang berada ditingkat suci tengah. Kami tidak mampu mengatasi masalah yang satu ini."

"Coba jelaskan secara lebih jelas tentang kelompok itu."

Adipati pangeran Muncak Gede memperbaiki posisi duduknya. Dia mulai menuturkan semua informasi tentang kelompok itu.

Bagaga menyesap kopinya dan mendengar penuturan Adipati pangeran Muncak Gede.

\=\=\=\=\=***\=©

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!