NovelToon NovelToon
PENDEKAR NAGA SAKTI

PENDEKAR NAGA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:42
Nilai: 5
Nama Author: Adih Supriadi

Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 21

PENDEKAR MATA MALAIKAT

Jendral Tongji duduk menghadap Pangeran Juling, pemimpin tertinggi pasukan Khan dalam peperangan melawan pasukan Rinjani.

Dengan suasana santai, Pangeran Juling menanyakan tentang kejadian yang membuat dua desa utama dan titik paling depan direbut oleh pasukan lawan.

"Bagaimana ceritanya, Paman? Dua desa utama dan titik paling depan bisa direbut oleh pasukan lawan," tanya Pangeran Juling dengan rasa penasaran.

Jendral Tongji menjelaskan, "Semua di luar prediksi, kami tak menduga akan dapat serangan. Saat itu, separuh pasukan ditarik ke belakang guna melakukan pergantian pasukan yang lebih segar dan siap."

"Pasukan pengganti belum tiba, kami sudah diserang. Awalnya kami mampu bertahan, namun mereka datang dengan pasukan tambahan yang lebih banyak, sehingga membuat kami harus mundur daripada mati di tempat," ucap Jendral Tongji dengan nada yang sedikit sedih.

Pangeran Juling tersenyum dan berkata, "Saya dengar Paman diputar-putar lalu dilempar ke semak oleh pendekar dari Kerajaan Rinjani tersebut."

Pangeran Juling tidak bisa menahan tawanya, membuat Jendral Tongji merasa sedikit tidak nyaman.

Jendral Tongji adalah jendral nomor satu di Kerajaan Khan dan dipercaya untuk membantu Pangeran Juling dalam menguasai Nusantara.

Sebagai pendekar sakti nomor satu di Kerajaan Khan, nama besar Jendral Tongji seolah ternoda dengan kejadian tersebut.

"Iya, kejadian itu tak terduga. Dia begitu kuat, saya salah memprediksi dan akhirnya saya yang dihajar olehnya," ucap Jendral Tongji dengan nada yang sedikit mengakui kekalahan.

Pangeran Juling mengangguk dan berkata, "Ternyata di Nusantara ini banyak terdapat pendekar sakti."

Jendral Tongji mengangguk setuju dan menambahkan, "Beliau bergelar Pendekar Naga Putih, namun saya tak mengetahui nama aslinya. Dia masih muda."

Pangeran Juling dan Jendral Tongji terdiam sejenak, memikirkan tentang kekuatan dan kemampuan Pendekar Naga Putih yang telah mengalahkan Jendral Tongji.

Pangeran Juling bertanya tentang jumlah pendekar Nusantara yang berpihak kepada mereka.

Jendral Tongji menjawab, "Pendekar sakti bayaran yang membela kita awalnya ada 20 pendekar. Setelah beberapa bulan berperang, yang tersisa hanya 5 orang pendekar saja, dan sudah dibagi untuk menjaga di beberapa titik penting."

Pangeran Juling memikirkan strategi untuk memperkuat pasukan mereka dan bertanya, "Kenapa tak suruh penyusup untuk masuk wilayah Nusantara untuk mencari para pendekar sakti guna memperkuat pasukan kita?"

Jendral Tongji menjelaskan, "Penyusup kita sudah ditarik untuk ikut dalam peperangan karena saat ini tak ada ruang gerak, karena pasukan lawan sudah mengepung kita. Kami tidak bisa membiarkan mereka beroperasi secara efektif dengan pasukan lawan yang begitu dekat."

Pangeran Juling mengangguk paham, memahami situasi yang dihadapi oleh pasukan mereka.

Dia memikirkan strategi lain untuk memperkuat pasukan mereka dan mengalahkan musuh.

Pangeran Juling merenung dan memikirkan tentang perjalanan peperangan yang telah berlangsung hampir satu tahun.

"Di luar prediksi, saya mengatakan kepada ayah saya dapat menguasai Kerajaan Rinjani dalam waktu 5 bulan, dan ternyata sekarang sudah hampir satu tahun," ucap Pangeran Juling dengan nada yang sedikit kecewa.

Jendral Tongji menjelaskan, "Medan pertempuran berbeda, kita wilayah tandus dan kering, di sini banyak hutan, lembah, rawa, dan pohon-pohon.

Situasi yang sangat berbeda." Pangeran Juling mengangguk paham, memahami bahwa perbedaan medan pertempuran dapat mempengaruhi strategi dan hasil peperangan.

Pangeran Juling berkata, "Negeri yang subur, tapi kita bawa pasukan banyak, jenderal."

Jendral Tongji menjawab, "Banyak, tapi masih berkumpul di pantai, sebab kami tak bisa asal masuk ke dalam. Mereka menunggu dalam hutan."

Jendral Tongji menambahkan, "Dan yang lebih berat, ternyata Kerajaan Rinjani dibantu oleh Kerajaan Kencana dan Kerajaan Andalas."

Pangeran Juling mengangguk, memahami bahwa peperangan ini tidak hanya melawan satu kerajaan saja.

Jendral Tongji melanjutkan, "Kita ini berperang melawan 3 kerajaan, dan kita berhasil menguasai 20 persen wilayah Kerajaan Rinjani. Itu sudah merupakan pencapaian yang luar biasa."

Pangeran Juling tersenyum, memahami bahwa pencapaian tersebut memang patut dibanggakan.

Pangeran Juling berkata, "Seandainya kerajaan lain tak membantu, saya yakin Kerajaan Rinjani susah dapat kita kuasai sepenuhnya."

Jendral Tongji mengangguk setuju, memahami bahwa bantuan dari kerajaan lain telah membuat peperangan ini menjadi lebih sulit.

***

Perahu besar yang berjarak 500 meter dari pantai menjadi markas besar Pangeran Juling untuk mengatur strategi menguasai Kerajaan Rinjani.

Sisi kanan perahu terdapat perahu sedang yang berisi amunisi senjata dan emas, sementara sisi kiri berisi makanan dan obat-obatan medis.

Pangeran Juling berdiri di tengah perahu, tempat markas besarnya, sambil mengatur strategi dengan Jenderal Tongji.

"Rencana berikutnya, saya ingin sisi kanan dan kiri maju kuasai wilayah," ucap Pangeran Juling dengan tekad yang kuat.

"Jika berhasil, perkuat dia sisi itu untuk kita menyerang wilayah tengah," tambahnya dengan perhitungan yang matang.

Jenderal Tongji mendengarkan dengan saksama, lalu mengangguk setuju.

"Di wilayah tengah saat ini kita bertahan, sisi kanan kiri kita menyerang," ucap Pangeran Juling dengan strategi yang jitu.

"Seperti itulah ide bagus, baiklah saya akan laksanakan hal itu," ucap Jenderal Tongji dengan kesanggupan.

Setelah berbicara cukup lama, akhirnya rapat selesai.

Jenderal Tongji kembali ke daratan dengan menggunakan perahu kecil, siap melaksanakan rencana yang telah disusun.

Pangeran Juling memantau dari jauh, yakin bahwa rencana ini akan membawa kemenangan bagi mereka.

***

Sementara di kubu Kerajaan Rinjani, Panglima Perang Kerajaan Kencana, Jenderal Nebula, sedang ngobrol dengan Arden, Pendekar Naga Putih.

"Bagaimana luka mu, Arden? Sudah pulihkah?" tanya Jenderal Nebula dengan kepedulian.

"Sudah pulih 100 persen dan siap untuk bertarung kembali," ucap Arden dengan senyum percaya diri.

"Sabar, Arden. Saat ini kita bertahan dan fokus memperkuat dua desa ini sambil menunggu beberapa peralatan pelindung untuk kita menyerang nanti," ucap Jenderal Nebula dengan strategi yang matang.

Di Desa Jati Jajar, situasi sangat sibuk. Para prajurit Kerajaan Kencana bekerja keras membuat benteng pertahanan dan menata desa untuk dijadikan markas utama pasukan.

Beberapa prajurit sibuk menggali parit dan membangun tembok pertahanan, sementara yang lain sibuk mengumpulkan bahan-bahan bangunan.

"Percepat pekerjaan ini! Kita harus siap menghadapi serangan musuh kapan saja!" teriak salah satu komandan prajurit.

Para prajurit bekerja dengan giat, berusaha menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin.

Suasana desa dipenuhi dengan suara palu dan gergaji, serta aroma tanah yang baru digali.

Jenderal Nebula dan Arden memantau dari jauh, memastikan bahwa segala sesuatu berjalan sesuai rencana.

***

Jenderal Tongji memanggil para pemimpin pasukan dan memberitahukan rencana minggu depan.

"Dua sisi kanan dan kiri akan melakukan penyerangan secara besar-besaran di hari yang sama," ucap Jenderal Tongji dengan tekad yang kuat.

Selain itu, Jenderal Tongji juga memiliki rencana lain.

"Saya ada tugas khusus untuk satu pendekar yang mau dan berani," ucap Jenderal Tongji kepada 5 pendekar bayaran yang hadir.

"Ada imbalan keping emas jika berhasil menjalankan tugas, yaitu menghabisi Pendekar Naga Putih," tambahnya dengan serius.

Pendekar Mata Malaikat langsung menyanggupi tugas tersebut.

"Saya bersedia, Jenderal, untuk masuk ke wilayah musuh dan menantang Pendekar Naga Putih untuk berduel," ucapnya dengan percaya diri.

Jenderal Tongji tersenyum puas. "Ok, jika kamu bersedia, jalankan tugas minggu depan. Kamu ke sana dan ini sepertiga bayarannya," ucap Jenderal Tongji seraya memberikan beberapa keping emas.

Rapat selesai, dan rencana besar minggu depan telah selesai direncanakan.

Jenderal Tongji yakin bahwa dengan strategi ini, mereka dapat mengalahkan musuh dan mencapai tujuan mereka.

Sementara itu, Pendekar Mata Malaikat sudah memikirkan strategi untuk mengalahkan Pendekar Naga Putih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!