Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Perjalanan yang cukup melelahkan bagi laki - laki berparas tampan itu tiba dirumah sambil membawa tas kerja yang ia jinjing lalu masuk kedalam rumah dan melihat sekitarnya tidak ada orang yang menunggunya lagi di ruang tamu seperti biasanya kosong,
dengan langkah gontai laki - laki itu berjalan masuk kedalam kamarnya yang berada di lantai 2, membuka knop pintu dan melihat wanita cantik yang sudah tidur dengan tenang seperti tidak ada yang menggangu sama sekali. Laki - laki itu hanya bisa menghela nafas melihatnya dan berlalu masuk kedalam kamar mandi yang ada didalam kamarnya. 15 menit berlalu ia pun keluar kamar mandi dan ingin menaruh pakaian kotornya tak melihat kedepannya ada istrinya yang tiba-tiba berdiri dihadapannya. Pakaian kotornya pun diserahkan kepada istrinya, tapi istrinya hanya diam saja seraya mengambil pakaian kotor itu tak biasanya dia akan mengoceh panjang kali lebar.
"Lanjutkan tidurmu lagi, maaf menganggu tidurmu Luna" ucap Akbar. Luna hanya menggangguk tanpa sepatah kata lagi.
Akbar hanya bisa menghela nafasnya lagi. Biasanya satu kata itu berhasil menciptakan sebuah drama panjang dengan sendau gurau kini tak ada lagi senyuman itu.
"Sudah makan malam mas?" tanya Luna kepada suaminya.
"Tadi sudah dikantor saat meeting sekalian" Jawab Akbar
Istrinya mendengar jawaban dari suaminya pun hanya diam, Istrinya yang sudah nikahi selama 4 tahun itu melenggang kembali keatas tempat tidurnya.
Sudah seminggu ini Akbar tak mendengar keluh manja istrinya, bahkan ia tak lagi mendapat laporan dari sang ibu tentang aduan Luna atas sikap dinginnya. Rumah kini seketika hening ia begitu berbeda, seperti dua orang asing.
"Ada apa denganmu?" tanya Akbar
"Aku baik-baik saja" Jawab Luna dengan singkat.
"Bukan itu, sikapmu berubah? kenapa jadi berbeda begini?" kata Akbar
"Tidak ada yang aneh, masih seperti biasanya" kata Luna
Akbar menghela nafas panjang.
"Besok aku tidak akan pulang malam lagi" Ucap Akbar ke istrinya.
Luna hanya mengangguk seraya tak peduli apa yang diucapkan suaminya.
mereka berdua pun melanjutkan tidur malamnya dengan saling membelakangi satu sama lain. Akbar yang melihat istrinya menatap lama sulit diartikan.
- -
Esok paginya seperti biasa Luna akan bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan dan pakaian kerja Akbar, dilihat suaminya yang setia ditempat tidurnya hanya bisa menatap nanar sulit diartikan.
"Mas bangun sudah pagi" Ucap lirih Luna seolah suaminya tidak akan mendengar apa yang udah diucapkannya.
selang beberapa lama Akbar pun bangun dan meraba di sisi ranjangnya, istrinya kembali sudah bangun lebih dulu tak seperti biasanya yang akan membangunkannya dengan ocehan manjanya. Ia seperti merasa kehilangan hal yang sudah biasa dilakukan istrinya.
Seharusnya ia merasa senang ini yang diharapkan istrinya tak lagi merengek manja pagi dan membuat dirinya kesal dan marah akan sikap kekanakan istrinya itu. diamnya Luna saat ini harusnya membuat lega tapi kenapa Akbar semakin kesal.
Akbar yang sudah mandi dan memakai pakaian kerjanya sudah terlihat rapi dan lalu turun lantai bawah dan melihat kearah meja makan isrinya sudah duduk dengan manis disitu tanpa menghiraukan dirinya lagi.
"Ini buatmu pakailah, kamu bisa menghabiskan waktu untuk mengusir bosan." kata Akbar
Luna melihat debit card itu pasti isinya seperti biasa.
"Simpan saja, debit card yang ada di aku bulan lalu masih ada sisa banyak" ucap Luna.
"Aku memberimu itu bulan lalu Luna!" Tegas Akbar
"Iya dan itu masih ada mas" ucap Luna
Akbar tak percaya sama sekali menatap heran dengan perubahan drastis istri manjanya itu. Istri yang selalu menyebalkan tingkahnya dimatanya, istri luar biasa manja dan boros, istri yang selalu memandang sesuatu hanya dengan uang, istri yang tidak ingin tersaingi oleh orang lain. Istri yang berhasil menumbuhkan rasa benci dan kesal dihati Akbar selama 4 tahun ini.
"Ambil saja debit card itu, kamu pakai apapun terserah." Ucap Luna seraya beranjak dan membawa piring kotor kedapur, kemudian membersihkannya.
Sekali lagi membuat Akbar terperangah dengan tingkah Luna saat ini sebelumnya istrinya tidak pernah memegang semua urusan rumah, Akbar sudah menyediakan asisten rumah tangga lebih dari dua dirumahnya. Merasa geram dengan sikap Luna, Akbar lalu mendekat dan menarik tangan istrinya sampai piring yang ia pegang jatuh kelantai. Tapi wajah Luna masih datar tanpa melihat ke arah Akbar.
"Ada apa denganmu, kamu sedang menyindirku?" ucap Akbar
Luna pun diam saja
"Ini bukan kamu, ngomong jangan seperti ini! ada apa?" ucap Akbar ke istrinya
"Aku tidak apa-apa mas, sudahlah berangkat ke kantor" jawab Luna sambil memalingkan wajah. genggaman tangan Akbar ditangannya membuat Luna meringis menahan sakit.
Biasanya Luna akan bergelayut manja ketika menghadapi sikap dingin dan marah Akbar, tapi kali ini ia hanya diam membisu. Membuat Akbar semakin jengah, kesal dan akhirnya pergi meninggalkan Luna begitu saja.
Piring yang berserakan pun dibersihkan asisten rumah tangga, sementara ia langsung naik keatas dan masuk kedalam kamar, ia duduk menghadap jendela, menatap taman yang indah dari lantai dua. Tak terasa air matanya luruh.
Ia pikir Akbar mencintainya dan mensyukuri keadaan dirinya, 4 tahun merasa paling memiliki suaminya, 4 tahun menjadikan Akbar ada dalam jangkauannya dunianya ia begitu dimanjakan, ini menjadi kebanggaan luar biasa Luna untuk ditunjukkan pada teman-temannya.
Tapi..
Semua itu hanya semu, Akbar tak pernah sekalipun mencintai dirinya. Satu minggu yang lalu ia baru tahu dengan mesra dan penuh kelembutan, ia sampaikan rasa sayang pada Dita, karyawan dikantornya termasuk sahabat dekatnya wanita cantik dan sederhana.
"Aku mencintai kesederhanaanmu, Dita. Aku mencintai lembut dan hatimu, aku sungguh mencintai caramu bersikap. Sungguh aku sangat mencintaimu, sebuah perasaan yang tidak pernah aku dapatkan dari Luna. Aku masih bersedia, menyediakan diri untuk mencintaimu, tetaplah menetap di hatiku Dita sayang. Menatapmu adalah sebuah keteduhan."
Pesan itu Luna baca dengan hati yang sesak dan sedih, namun ia tak bisa marah pada sahabat suaminya itu, wanita itu tak secantik dirinya, tapi sudah merebut seluruh dunia Akbar sementara dunianya sendiri hancur lebur.
- -
{ Akbar, ini tidak benar apa yang kita lakukan! sebaik-baiknya wanita adalah istrimu, Luna.}
Satu baris kalimat balasan dari pesan Dita kepada Akbar membuat seketika tidak fokus pada pekerjaannya. Dita memang ia kagumi sejak masa kuliah dulu, jauh sebelum ia menikah dengan Luna. Gadis sederhana yang membuatnya terpukau, kepintarannya dibalut dengan kelembutaan hatinya yang sempurna, sosok yang begitu sempurna dimata Akbar.
Hingga satu langkah menggapai cinta Dita pupus, ketika Luna mendatanginya denga binar penuh cinta. Sebuah perasaan yang tidak bisa ditolak, satu kenyataan yang membuat Dita mundur perlahan.
Seketika lamunan Akbar berhenti, ketika satu hal ia sadari, ponselnya sepi. Biasanya dari mulai ia berangkat ke kantor, ponsel miliknya terus berbunyi, entah itu telepon atau deretan chat dari Luna.
{Aku nanti pulang lebih cepat enggak larut malam.} pesan Akbar
Akbar memancingnya dengan satu pesan
{Iya mas!}
Pria itu mengernyitkan dahi,benar-benar bukan Luna yang selama ini ia kenal.
"Ada apa denganmu Luna?" tanya Akbar dalam hati.
se BADAS apa kamu luna
apa mau berbagi lendir dengan mereka lun OMG
biar kamu ga sama Kaya yg lain cuma mewek doang 🤦