Nama Cahaya Mirwa Pelangi, biasa dipanggil Pelangi usia 20 tahun, seorang gadis yang bekerja di Satuan Polisi Pamong Praja, hidupnya nampak aneh karena dihadapkan oleh tuan muda yang kaya raya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon viole, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Keesokan harinya
Pagi-pagi sekali seperti biasa Pelangi pergi ke kantornya dengan mengendarai motor miliknya, pagi hari ini jalanan lumayan padat karena sudah banyak kendaraan yang berlalu lalang dijalan raya.
Jarak kantornya dari rumahnya lumayan agak jauh, meskipun begitu tetapi ia sudah sangat biasa mengendarai motor miliknya sendiri setiap pulang & pergi ke kantornya sendiri.
Suasana hatinya saat ini lebih tenang daripada tadi malam, setelah mendengar sedikit nasehat ibunya & melakukan sholat istikharah kembali ia sedikit mendapatkan sedikit pencerahan.
" loh-loh kenapa nih motor, kok goyang-goyang " kata Pelangi sendiri.
Ia mulai menepikan motor yang ia kendarai karena terasa agak oleng di bagian belakang, ia menurunkan standar motornya & segera turun. Dilihatnya ban motor belakangnya yang terlihat sudah sangat kempes.
" astagfirullah bannya bocor pula, ya gimana dong, mana jauh lagi dari bengkel tambal ban " katanya sendiri.
Diambilnya ponsel miliknya yang ia letakan di dalam saku celana yang ia kenakan, ia berniat akan menghubungi Aldo & meminta tolong agar Aldo membantu dirinya.
Tetapi saat ia membuka kontak di ponsel miliknya ia sangat terkejut karena kontak di ponsel miliknya sudah kosong & hanya tersimpan satu nomer saja.
" calon suami?, lah nomer gue kok tinggal ini?, siapa lagi ini calon suami?" kata Pelangi yang membaca satu-satunya nama kontak yang tersisa di ponsel miliknya.
Pelangi agak berpikir memperhatikan nama kontak tersebut serta nomer yang tertera, ia seperti sangat asing dengan nomer tersebut. Sedari kemarin sore setelah ponsel miliknya kembali ke tangannya lagi, ia tak sedikitpun memeriksa ponsel miliknya, ia tak menyadari jika kontak-kontak di ponselnya ternyata sudah kosong seperti saat ini.
" hp gue diapain nih sama mas Zarow, ya allah "
Reflek ia menepuk jidatnya, Pelangi tau jika semua ini pasti ulah tuan muda Zarow, bahkan ia juga baru menyadari jika ponsel miliknya saat ini sudah di reset ulang.
" terus gimana caranya gue ke kantor kalo kaya gini, gak bisa hubungi siapa-siapa "
Ia hanya bersedakep dengam satu tangannya & tangan lainnya memegang kepalanya, di saat seperti ini ia justru tak tau harus kepada siapa ia meminta pertolongan, jika ia tak melakukan sesuatu maka ia tak akan bisa sampai ke kantornya sampai nanti.
Pelangi hanya mampu memandangi ban motornya yang bocor sambil berjongkok seolah putus asa karena tak bisa menghubungi siapapun untuk dimintai pertolongan, jika saja ia bisa menghubungi Aldo mungkin saat ini ia sudah berada di bengkel tambal ban.
Kring....
Tiba-tiba ponsel miliknya berdering, di lihatnya nama yang tertera di layar ponselnya calon suami, tak menunggu lama ia langsung mengangkat nomer ponsel tersebut berharap jika seseorang yang menghubunginya saat ini bisa menolong dirinya.
📞" hallo assalamuallaikum " katanya menjawab telponnya.
Ia masih diam setelah mengucapkan salam tetapi ia tak mendengarkan sepatah katapun jawaban dari seberang teleponnya.
📞 " hallo assalamuallaikum, siapa ya? " sekali lagi ia memberikan salam & bertanya.
Ia menatap kembali ke layar ponselnya karena tak kunjung mendapatkan jawaban, ia menggeleng-gelengkan kepalanya merasa seseorang di sebrang telponnya tersebut hanya mempermainkan dirinya.
📞 " Assallamualaikum bapak, ibu, kakak atau siapapun yang ada di sana kalau gak ada kepentingan yang mendesak lebih baik saya tutup ya telpon anda " kata Pelangi
*******
Ditempat lain
Zarow masih diam mendengarkan suara Pelangi dari seberang telpon seluler miliknya, mendengar Pelangi mengucapkan salam ia seketika terdiam terpaku, lidahnya serasa kaku ingin menjawab salam dari Pelangi.
📞 " Assallamualaikum bapak, ibu, kakak atau siapapun yang ada di sana kalau gak ada kepentingan yang mendesak lebih baik saya tutup ya telpon anda " kata Pelangi
📞 " waallaikum salam, lo dimana? " akhirnya Zarow menjawab salam Pelangi.
Sesaat mereka berdua saling terdiam, Zarow yakin saat ini Pelangi telah mengenali suaranya, mungkin saat ini gadis tersebut sedikit agak terkejut mendengar suaranya.
Zarow akhirnya berdiri berjalan menuju kaca jendela tempat ia biasa menghabiskan waktunya disaat waktu senggangnya, tempat favoritnya, ia menghadap kearah luar melihat kearah gedung-gedung kecil yang berderet yang berada di dekat perusahaannya seperti biasa.
📞 " lo udah di kantor? " tanya Zarow lagi.
📞 " belum, ini masih dijalan? " jawab Pelangi.
Reflek Zarow melihat jam ditangannya, saat ini jam telah menunjukan pukul 08.30 pagi seharusnya saat ini Pelangi sudah berada di kantornya, Zarow mulai bertanya-tanya mengapa sudah sesiang ini Pelangi belum sampai juga.
Ia yakin jika saat ini pasti Pelangi bersama seseorang dijalan, mungkin saat ini Pelangi bersama dengan Aldo pikirnya, Zarow mulai berkacak pinggang, perasaan jengkelnya mulai muncul kembali.
" pasti Pelangi sekarang lagi sama Aldo " kata Zarow dalam hati.
📞 " mas, bisa gak tolong gue? " kata Pelangi dari sebrang telpon.
📞 " apa? " singkat Zarow
Mendengar Pelangi ingin meminta tolong padanya ia segera menjawabnya, ia sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya karena ia merasa Pelangi sedang mengandalkan dirinya & hanya dirinya, hal ini menandakan jika Pelangi saat ini sedang sendiri.
📞 " motor gue bannya bocor mas, gue sekarang masih dijalan sendirian, tambal ban jauh " terang Pelangi.
Mendengar Pelangi sedang sendirian dijalan ia segera bergegas mengambil kunci mobilnya yang berada di atas mejanya, ia segera berjalan kearah luar ruangannya.
📞 " lo sekarang ada di mana? " tanya Zarow.
📞 " gue dijalan mawar mas " jawab Pelangi.
Setelah mengetahui Pelangi berada di jalan ia segera mematikan ponselnya tanpa mengucapkan salam, Pelangi saat ini sangat membutuhkan bantuan dirinya sehingga ia harus cepat-cepat mendatangi Pelangi.
Sebelum pergi Zarow tak lupa menemui sekertaris nya terlebih dahulu agar jadwalnya pagi ini di kosongkan terlebih dahulu, pak Amar sudah sibuk dimeja kerjanya sendiri.
" pak Amar tolong kosong kan jadwal saya pagi ini, saya ada keperluan mendadak " kata Zarow yang sudah berdiri di depan meja pak Amar.
Pak Amar langsung berdiri begitu melihat tuan muda Zarow berdiri di depan mejanya, tuan muda Zarow memerintahkan dirinya untuk mengosongkan jadwalnya pagi ini secara mendadak padahal satu jam lagi akan ada rapat membahas tentang perusahan kecil di daerah selatan.
" baik pak " kata pak Amar.
Zarow langsung pergi tanpa berbasa basi kepada pak Amar lagi, ia langsung masuk kedalam lift menuju arah bawah, ia mulai membuka ponselnya untuk mencari tau dimana titik koordinat dimana berada saat ini Pelangi.
Setelah berada di bawah ia segera melangkahkan kakinya menuju arah parkiran, ia menemui pak Handoko yang saat ini berada di pos sekuriti.
Pak Handoko langsung menghampiri tuan muda Zarow begitu melihat tuan mudanya keluar dari gedung kantornya menuju arah tempat saat ini ia bernaung.
" pak ayo kita pergi sekarang " perintah Zarow.
" baik tuan " kata pak Handoko.
Tanpa bertanya kemana mereka akan pergi pak Handoko langsung menyalakan mesin mobilnya, mobil segera berjalan menjauh dari tempat parkiran, sesekali pak handoko menatap ke arah tuannya yang terus menatap kearah ponselnya.
" pak jalan mawar ya, tolong agak cepat sedikit " perintah Zarow kembali.
" baik tuan " kata pak Handoko singkat.
Mendengar perintah tuan mudanya lagi ia segera melajukan mobilnya dengan kekuatan cepat, ia masih tetap diam hanya menuruti perintah tuannya.
Zarow sedikit agak cemas karena mendengar Pelangi saat ini sedang berada di jalanan sendiri, untung saja kemarin ia berhasil menyuruh seseorang untuk menyadap ponsel milik Pelangi sehingga ia dengan mudah bisa melacak dimana pun Pelangi berada.
Setelah beberapa puluh menit akhirnya mereka sampai juga ditempat tujuan, dilihatnya Pelangi saat ini sedang berdiri bersedakep didekat motornya, Zarow tersenyum begitu melihat Pelangi masih menunggu dirinya.
Setelah mobil menepi ia segera turun untuk menghampiri Pelangi, ia berjalan sambil merapikan jas yang ia kenakan, penampilan Zarow saat ini sangat berwibawa, siapapun yang melihat Zarow pasti akan terpana.
Pak Handoko hanya memanggut-manggutkan kepalanya sambil ber oh ria melihat tuan mudanya yang langsung turun berjalan menemui Pelangi, ini bukan untuk pertama kalinya tuan muda Zarow menemui Pelangi sehingga ia sudah tidak kaget lagi melihat hal ini.
Pelangi menoleh kearah dimana mobil milik Zarow diparkirkan, ia tak menyangka pria kaya raya yang awalnya ia pikir sombong tersebut mau datang menemui dirinya saat ini, ia tak menyangka harus meminta tolong kepada Zarow disaat ia dalam kesulitan seperti saat ini.
" mas tolong maskernya " kata Pelangi yang melihat Zarow tak memakai masker.
Ia berusaha mengingatkan Zarow akan pentingnya kesadaran memakai masker, ia berpikir pria kaya yang berada di hadapannya tersebut sangat tak memikirkan kesehatannya sendiri.
Padahal di masa seperti ini kita harus terus waspada karena kita benar-benar tak bisa melihat virus yang ukurannya sangat kecil dengan mata telanjang kita sendiri tanpa alat bantu.
Zarow berkacak pinggang sambil melihat kearah lain mendengar kata-kata Pelangi yang seolah memberi dia teguran karena tak mengenakan masker.
Karena terburu-buru ia sampai lupa mengenakan maskernya, ia kemudian menoleh kearah pak Handoko & memberikan kode untuk mengambilkan masker miliknya.
Pak Handoko yang baru saja melihat kearah tuan muda Zarow segera keluar untuk membawakannya masker setelah tuan mudanya tersebut memberikan bahasa isyarat kepadanya.
Tak lupa juga ia mengenakan maskernya saat berjalan kearah tuan mudanya & Pelangi, kebetulan jarak antara mobil terparkir & tempat mereka berdua berdiri jaraknya tak begitu jauh.
" ini tuan " kata Pak Handoko memberikan masker untuk tuan mudanya.
Zarow langsung mengambil masker yang di berikan pak Handoko kepadanya & langsung memakainya, setelah memakai masker tersebut ia kemudian menghadap kearah Pelangi kembali.
" sudah kan? " kata Zarow.
Pelangi hanya memanggut-manggutkan kepalanya mendengar kata-kata Zarow yang saat ini telah mengenakan masker setelah ia tegur karena tak mengenakan masker.
" ya udah ayo masuk mobil " ajak Zarow sambil membalikan tubuhnya.
" mau ngapain mas? " tanya Pelangi
Zarow yang telah membalikan tubuhnya membelakangi Pelangi kemudian berbalik kembali sambil bersedakep melihat Pelangi.
" lo mau kekantor kan? " tanya Zarow singkat.
" iya mas " kata Pelangi singkat.
" ya udah ayo naik mobil, urusan motor lo gak usah khawatir tar gue suruh anak buah gue buat urus motor lo " kata Zarow yang saat ini fokus melihat kearah Pelangi.
Pelangi hanya diam menatap kearah Zarow yang telah membelakanginya kembali & berjalan menuju arah mobilnya, ia kemudian melihat ke arah motornya karena harus meninggalkan motornya di jalanan.
" mas " kata Pelangi mulai membuka suara.
Zarow menoleh kearahnya setelah ia panggil, ia tak yakin harus meninggalkan motornya di tepi jalan seperti ini, ia hanya memiliki kendaraan itu saja untuk dikendarainya saat pulang pergi dari rumah ke kantornya.
" mas ini beneran motor gue gak papa ditinggal disini? " kata Pelangi yang akhirnya mengeluarkan pertanyaannya.
Zarow lagi-lagi berkacak pinggang mendengar pertanyaan Pelangi, ia kembali melihat kearah lain, ia yakin jika motor milik Pelangi merupakan motor yang sangat berkesan untuknya sehingga ia sangat khawatir sekali.
" lo gak percaya sama gue, kalo motor lo ilang gue bakal gantiin, lo gak usah khawatir kalo perlu kalo sampe motor lo ilang gue gantiin mobil " terang Zarow.
" is gak segitunya juga kali mas mau gantiin motor gue pake mobil " Pelangi lalu berjalan menuju arah mobil milik Zarow.
" habis lo gak percaya sama gue " jawab Zarow lagi.
Pelangi lalu berjalan menuju kearah Zarow yang saat ini telah berada di dekat mobilnya, Zarow membukakan pintu mobil tersebut lalu mempersilahkan dirinya untuk masuk kedalam.
Setelah Pelangi masuk kedalam Zarow pun juga ikut masuk kedalam mobil tersebut, Pelangi menggeserkan duduknya karena Zarow duduk disebelahnya.
Tanpa menunggu lama mobil segera berjalan menuju arah depan kearah dimana kantornya berada, ia menoleh kearah belakang memperhatikan motor miliknya yang masih terparkir ditempat tadi.
Zarow melihat kearah Pelangi yang saat ini sedang menoleh kearah belakang, ia tahu saat ini gadis tersebut sedang memperhatikan motor miliknya yang masih terparkir di tempat, ia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi pak Amar sekertaris andalannya.
📞 " hallo pak Amar, tolong kirim kan anak buah ke jalan mawar, nanti di sana ada motor tolong bawa ke bengkel, nanti saya kirim alamat lengkapnya " perintah Zarow.
Pelangi melihat kearah Zarow yang baru saja menelpon seseorang & memerintahkannya untuk mengurus motor miliknya, ia merasa tidak enak karena harus merepotkan Zarow saat ini.
Zarow menutup ponselnya & memasukannya kembali ke saku bajunya, dengan begini ia berharap Pelangi tak terus mencemaskan motornya lagi.
" makasih ya mas, maaf gue udah ngerepotin lo " kata Pelangi berterimakasih & meminta maaf.
" gak masalah, sudah sepatutnya gue bantu lo jadi jangan sungkan " jawab Zarow.
Entah mengapa Zarow merasa senang bisa membantu Pelangi, ia merasa jika dirinya adalah pria terpenting di hidup Pelangi & hanya padanya lah Pelangi bisa mendapatkan bantuan.
Pelangi memperhatikan Zarow yang saat ini sedang fokus menatap kearah depan, ia tak mengerti mengapa pria kaya disebelahnya ini melakukan sesuatu pada ponselnya, kontak ponselnya saat ini telah kosong.
Bahkan yang membuatnya lebih heran lagi mengapa tuan muda Zarow menyimpan nomernya di ponsel milik Pelangi dengan nama calon suami, ia reflek menggeleng-gelengkan kepalanya.
" kenapa geleng-geleng? " kata Zarow bertanya sambil menaikan satu alisnya.
Zarow yang melihat Pelangi menggeleng-gelengkan kepalanya langsung bertanya kepada Pelangi mengapa ia menggelengkan kepalanya, Zarow yakin jika gadis yang berada di sebelahnya tersebut sedang memikirkan sesuatu.