Bumi dan Bulan bukanlah sebuah nama planet dan satelit dalam tata surya melainkan nama seorang pria dan wanita yang saling membenci tapi dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Perjodohan mereka telah direncanakan sejak mereka kecil oleh kedua orang tua mereka. Bagaimana kisah selanjutnya? Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvani Rosita Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mama Lina minta cucu
Tuk, tuk, tuk, suara sepatu melangkah menuruni anak tangga. Bulan duduk sambil menyeruput segelas kopi hangat ditangannya. Ia memalingkan wajahnya saat melihat Bumi yang sudah lengkap dengan jasnya menuruni anak tangga.
"Aku akan berangkat kerja, jika kamu mau ikut bersamaku juga boleh." Bumi berdiri didepannya dan merapikan kembali jas yang dia gunakan.
"Apa kamu bercanda? Ikut bersamamu kekantor?" Ucap Bulan merasa lucu dengan perubahan sifat Bumi.
"Aku ingin memperkenalkanmu kepada semua karyawan bahwa kamu adalah istriku."
"Ide yang bagus, agar mereka membandingkan kecantikan Sarah dan kecantikanku? Atau aku akan jadi bahan perbincangan karena telah diselingkuhi begitu?"
"Ya sudah kalau tidak mau, aku akan menguncimu dari luar agar kamu tidak bisa kemana-mana hari ini dan yang lebih penting agar kamu tidak bisa membukakan Reno pintu rumah ini."
"Bumi jangan gila kamu, kamu kira aku tahananmu? Aku bukannya nggak mau ikut kamu, tapi wajahku masih lebam dan tidak mungkin aku keluar dengan wajah seperti ini."
"Oke..aku pergi, bye.." Bumi tak menghiraukannya dan malah melangkah menjauh darinya.
"Bumi tunggu!" Bulan mengejarnya tetapi Bumi benar benar menguncinya dari luar.
"Ya ampun apa dia sudah gila? Bumi! Buka pintunya! Bumi!!"
"Aku akan cepat pulang hari ini. Ingat! Jangan berani untuk kabur." Teriak Bumi dari luar.
"Bumi!! Oh tidak, dia memang sudah kehilangan akalnya." Bulan kembali lagi berjalan ketempat duduknya dan menghabiskan kopinya dengan rasa kesalnya.
Sudah satu setengah jam kepergian Bumi, Bulan masih saja berada diposisi yang sama tetapi kali ini dia menonton televisi. Saat dia mengganti chanel televisi, dia melihat Sarah sedang bejalan dengan cantiknya diatas panggung, berjalan dengan senyumannya dengan menampilkan tubuhnya yang indah.
"Pantas saja Bumi tidak mampu melepasnya. Dia sangat cantik, tubuhnya juga sangat indah tapi sayang mulutnya sangat kasar saat berbicara. Kalau aku jadi laki-laki pasti aku juga akan menyukai Sarah." Ucap Bulan seorang diri menatap layar televisi.
"Kamu lebih cantik nak." Suara seorang wanita berdiri disampingnya tanpa dia sadari kehadirannya mengagetkan Bulan.
"Mama?" Bulan terperanjat dari tempat duduknya. Bulan bangun dan memeluk ibu mertuanya yang ada disampingnya.
"Ma, sejak kapan mama datang? Bukannya Bumi mengunci pintu rumah ini?"
"Tadi dia menjemput mama. Katanya mama disuruh menginap dirumah ini untuk seminggu. Tumben-tumben dia mau ajak mama kerumahnya dengan alasan yang tidak pasti."
"Lalu Bumi mana, ma?" Ucap Bulan setengah tak percaya dengan kehadiran mertuanya.
"Balik lagi kekantor. Katanya dia mau cepat pulang karena sudah tidak sabar bertemu kamu."
"Hehehe.. ada ada saja dia."
"Sialan kamu Bumi. Rencana apa yang dia akan perbuat lagi? tidak biasanya dia mau ajak mama menginap dirumah ini. Pasti ada sesuatu yang dia rencanakan." Pikir Bulan.
"Kenapa wajahmu lebam begitu?" Ucap mama Lina memegang pipi kiri Bulan.
"Oh, aku terjatuh ma."
"Dia tidak menyakitimu kan?"
"Tidak ma, Bumi sangat baik."
"Oh syukurlah, kamar mama dimana Bulan? mama mau istirahat dulu. Setelah mama istirahat, mama akan membuatkan masakan kesukaan Bumi." Ucap mama Lina.
"Kamar?" Bulan panik.
Kamar? Astaga mama bakalan tahu kalau aku dan Bumi tidak sekamar.
"Dilantai dua ma, oh bukan, dikamar itu saja ma." Bulan menunjuk kamarnya sendiri.
"Eheemm kenapa kamu sampai panik begitu?" Tanya mama Lina melihat Bulan yang kebingungan sejak tadi.
"Tidak ma, aku hanya.." Bulan terhenti berbicara saat mama Lina melangkah mendekati kamarnya dan membuka pintu.
"Oh astaga apa kalian pikir pernikahan ini permainan? Mengapa semua barangmu ada didalam kamar ini? Dan di kamar ini tak ada satupun milik Bumi? Jangan bilang kalian pisah kamar?" Mama Lina terlihat marah, Bulan menundukkan kepalanya.
"Ma, maafkan aku." Ucap Bulan sambil menunduk.
"Bukan kamu yang salah, pasti Bumi masih berhubungan dengan gadis itu. Mama akan melakukan pertemuan keluarga untuk membahas masalah kalian." Ucap mama Lina tegas.
"Ma, maafkan Bulan."
"Mama tidak akan pergi dari rumah ini sebelum kamu hamil."
Mata Bulan melotot sempurna mendengar perkataan mama Lina. Bukan hanya panik tapi ini akan menjadi hal terburuk dalam hidupnya.
"Aku tahu maksudmu untuk membawa mama kemari Bumi, kamu kembali menang kali ini. Ahhh... Mengapa dia senekat ini dengan kemauannya." Batin Bulan bergejolak.
seru kayaknya🥰
asekkk udah berubah judul lagu kita🙆🙆
iya kan thoorrt...