"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.
Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.
Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.
Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Alana Hamil
Satu tahun lalu.
“Papa sayang nggak sama Lana?” tanya Alana tiba-tiba. Alana menyandarkan kepalanya di lengan Dharma.
Dharma menegakkan kepalanya dan menatap Alana penuh keterkejutan lembut. “Pertanyaan apa itu, sayang?”
Dia tertawa kecil. “Tentu saja Papa sayang sekali sama kamu. Kamu satu-satunya putri Papa, orang yang paling berharga dalam hidup Papa. Papa hanya punya kamu di dunia ini, Papa tidak bisa hidup tanpa kamu, sayang.”
Alana menegakkan kepala, tersenyum. Tapi matanya seperti mencari kepastian yang lebih dalam. “Kalau suatu saat Alana buat kesalahan besar, Papa mau maafin Lana?”
Dharma mengerutkan kening sedikit, lalu terkekeh. “Kesalahan besar apa yang bisa kamu lakukan, sayang?”
Alana mengedikkan bahu. “Misal aja,” bisik Alana.
“Kalau suatu waktu Lana bikin Papa kecewa banget. Papa bakal marah sama Lana?”
Dharma menarik Alana ke dalam pelukannya. “Kamu itu dunia Papa, sayang. Kalau Papa tidak memaafkan kamu, gimana Papa bisa hidup?”
“Jadi Papa maafin Lana?”
Dharma mengangguk mantap. “Apapun kesalahan kamu, seberapa besarpun kesalahan kamu, kamu tetap anak Papa, kesayangan Papa. Papa akan selalu melindungi kamu.”
Alana mengulas senyum, memeluk Dharma lebih erat. “Lana sayang sekali sama Papa.”
Dharma tersenyum, mencium pucuk kepala putrinya. “Papa juga sayang sekali sama kamu, sayang.”
...***...
Tubuh Alana yang lemah terbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Setelah videonya terputar di depan umum tepat di momen penting hidupnya, Alana jatuh tidak sadarkan diri di atas panggung.
Malam yang seharusnya penuh kebanggaan itu berubah menjadi penuh rasa malu.
Wajah Alana pucat pasi. Di pipinya masih ada bekas garis-garis air mata yang mengering.
Seorang dokter perempuan berdiri di sisi ranjang, memeriksa kondisi Alana dengan teliti.
Sementara itu, Dharma berada di sisi lain ranjang. Tatapannya terpaku pada wajah putrinya. Wajahnya yang biasanya tenang dan penuh wibawa, kini berantakan. Matanya memerah, bibirnya bergetar, dan setiap helaan napasnya terdengar begitu berat.
Di belakang, Rangga berdiri bersandar pada dinding. Bahunya merosot, matanya kosong. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak tadi. Setiap kali matanya melirik ke arah Alana, dadanya bergerak halus, ada ketakutan, kemarahan, dan kekecewaan yang ditahan kuat-kuat.
“Dia mengalami shock emosional yang cukup berat,” ucap dokter itu setelah memeriksa kondisi Alana. “Kondisinya stabil, tapi tubuhnya masih bereaksi terhadap stres. Dia butuh istirahat.”
Dharma mengangguk pelan, tapi kedua tangannya sedikit bergetar. Tatapannya kembali jatuh pada wajah Alana.
Kemudian, dia menoleh pada dokter itu.
“Putri saya…”
Dharma menelan ludah. “Apa benar dia hamil?”
Dokter itu mengangguk pelan. “Benar, Pak. Usia kandungannya kurang lebih enam minggu.”
Tubuh Dharma limbung beberapa langkah ke belakang. Napasnya tercekat.
Dokter itu refleks menahan lengannya. “Bapak! Bapak baik-baik saja?” tanya dokter itu.
Dharma mengangkat tangan, menolak bantuan, Meski suaranya jelas gemetar. “Saya tidak apa-apa.”
Rangga memejamkan matanya rapat-rapat. Sakit hati dan kecewa, hanya itu yang dia rasakan. Calon tunangannya, perempuan yang dia cintai ternyata sedang mengandung anak dari laki-laki lain.
Dharma melangkah mendekati Alana. Setiap langkah terasa seperti memikul beban berton-ton. Tangannya bergerak perlahan ingin mengusap wajah Alana. Namun begitu jari-jarinya hampir menyentuh, tangan Dharma terhenti di udara. Dharma akhirnya menutup wajah dengan kedua tangannya.
Sementara itu, di depan ruangan, Rayyan berdiri mematung. Sejak tadi dia bersandar di dinding, punggungnya kaku, kedua tangannya terkepal di sisi tubuh. Dia tidak bermaksud menguping, tapi suara dokter terlalu jelas terdengar dari celah pintu yang tidak tertutup sempurna.
Rayyan mendengar semuanya. Dadanya mencelos hebat.
Apa yang dia takutkan ternyata benar-benar menjadi kenyataan.
...***...
Satu bulan lalu.
Rayyan melenguh pelan. Kepalanya terasa berdenyut sakit dan pusing. Dia memegangi kepalanya dengan satu tangan.
Kelopak matanya berat. Ketika terbuka, pandangannya menangkap langit-langit berwarna krem pucat yang terasa asing.
Sebelum dia bisa mengumpulkan pikirannya, Rayyan merasakan sesuatu menindih lengan kirinya. Berat, hangat, dan lembut. Dia menoleh.
Jantungnya langsung melonjak dan berdegup kencang ketika melihat Alana berbaring di sebelahnya.
Perempuan itu terbaring miring, rambutnya kusut dan sebagian menutupi pipinya, napasnya pelan tapi tidak stabil. Dan lengan Rayyan menjadi bantalnya.
Selimut hanya menutupi tubuh mereka sebatas dada. Bahu Alana… telanjang.
Saat Rayyan melihat tubuhnya sendiri, dia juga telanjang.
“Astaga,” desisnya pelan. Wajah Rayyan berubah panik.
Di sampingnya, Alana mendesis dan menggeliat pelan. Tangannya refleks memegang kepala yang terasa berat dan sakit. Mata Alana tiba-tiba terbuka. Fokusnya masih kabur sebentar, sampai akhirnya pandangannya bertemu mata Rayyan dalam jarak yang begitu dekat.
Keduanya terdiam.
Alana terlonjak kecil dan buru-buru duduk. Napasnya tersengal. Mata membesar. Dia menarik selimut ke atas, membungkus diri seperti ingin menghilang.
Rayyan refleks ikut duduk sambil memeluk bantal di pangkuan untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
Alana menatap Rayyan dengan mata terbelalak, antara terkejut dan bingung.
“Ray, kita kenapa?” tanya Alana pelan dengan suara serak, nyaris hilang.
Rayyan menoleh ke sekeliling. Kamar itu rapi tapi asing. Tirai putih yang setengah terbuka, meja samping dengan dua botol air mineral terbuka, lantai marmer yang dingin.
Kepalanya semakin berdenyut.
“Gue… gue nggak inget apa-apa,” jawabnya dengan suara gemetar. Bahunya naik turun dengan cepat.
Alana mencoba berdiri dari ranjang. Selimut masih melilit tubuhnya rapat-rapat. Tapi begitu dia menggerakkan kaki, napasnya tertahan.
“Akh…”
Dia menahan suara, merasakan nyeri. Tangannya refleks menahan perut bawahnya.
Melihat itu, wajah Rayyan pucat.
Alana memaksakan diri berdiri sepenuhnya, selimut menjuntai mengikuti gerakannya. Dan di baliknya, di atas seprai putih yang berkerut ada bercak merah dan bekas basah yang samar.
Alana membeku total.
Rayyan menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Hanya terdengar suara napas mereka yang saling bersahutan. Pendek, terputus, dan tidak stabil.
Alana memejamkan mata, berusaha mengingat apa yang telah terjadi dan bagaimana dia bisa ada di tempat itu. Tapi Alana tidak dapat mengingat apapun. Otaknya blank dan itu justru membuat kepalanya semakin berdenyut sakit.
“Alana… gue—”
Tanpa melihat Rayyan sedikit pun, Alana segera mengambil bajunya yang tercecer di lantai. Gerakannya cepat dan kaku. Kemudian berjalan cepat menuju kamar mandi, tanpa menghiraukan rasa nyeri di perut bawahnya.
Rayyan hanya bisa terdiam, otaknya cukup lama merespons apa yang terjadi. Baru setelah mendengar Alana menutup pintu kamar mandi dengan keras, Rayyan tersadar. Dia melompat turun dari ranjang, buru-buru mengambil pakaiannya yang tercecer. Rayyan memakai celananya dengan tergesa.
“Kaos gue mana, anjir?!”
Suara pintu kamar mandi terbuka mendadak membuatnya menoleh cepat.
Alana sudah memakai kembali pakaiannya. Rambutnya masih sedikit berantakan tapi sorot matanya tajam penuh kemarahan dan rasa frustasi.
Dia melangkah cepat menuju pintu kamar.
“Lana! Tunggu!”
Rayyan mencekal pergelangan tangan Alana, tapi Alana segera menyentakkannya. Dia berbalik badan, menatap Rayyan dengan tajam.
Alana menunjuk Rayyan. “Jangan pernah lo ngomong ke siapapun tentang apa yang terjadi saat ini.”
Mata Rayyan terbelalak. “Cuma itu yang lo peduliin sekarang? Lo bisa hamil, Na! Kita harus bahas apa yang harus kita lakukan setelah ini.”
“Nggak ada yang harus dilakuin. Lo nggak inget, kan, apa yang terjadi? Nggak terjadi apapun di antara kita!”
“Meskipun kita nggak inget, kita sama-sama tahu apa yang terjadi.”
“Nggak terjadi apapun tadi malam!” bentak Alana keras.
“Nggak ada yang terjadi di antara kita. Dan apa yang terjadi saat ini, jangan pernah bocor ke siapapun!” tegas Alana.
...----------------...