NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Wanita / Ibu Tiri / Ruang Ajaib / Romansa pedesaan
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: ICHA Lauren

Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.

Jenara menolak akhir itu.

Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.

Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.

Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.

Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.

Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menolak Cemburu

Menyadari bahan-bahan yang dibawanya terjatuh ke tanah, Jenara segera menunduk. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan hanya karena takut bahan itu rusak, melainkan karena ada perasaan tak enak yang merambat di tengkuknya.

Tangan Jenara bergerak cekatan, memungut satu per satu kantong tepung yang terbalik dan botol minyak yang berguling. Di saat bersamaan, langkah kaki terdengar mendekat.

Ketika Jenara mengangkat wajahnya, di hadapannya berdiri Seran. Untuk sesaat, waktu terasa berhenti.

Mata mereka bertaut, dan di dalam tatapan itu ada sesuatu yang tidak terkatakan. Seran memandang barang-barang di tangan Jenara, lalu beralih kepada wajahnya.

“Kau dari mana saja? Aku baru akan mencarimu," tanya Seran. Suaranya datar, tetapi ada nada khawatir yang tersirat.

Jenara menegakkan tubuh. Ia merapatkan bahan-bahan itu ke dadanya, seolah takut akan terjatuh lagi. Sebelum bibirnya terbuka untuk menjawab, langkah kaki lain mendekat dari sisi kebun.

“Jenara, akhirnya kau muncul juga.”

Nada sinis itu terasa familiar di telinga Jenara. Ranisya melangkah mendekat dengan seringai dingin. Tatapannya menyapu Jenara dari kepala hingga kaki, lalu beralih ke barang-barang di pelukan wanita itu.

“Aku dan Kak Seran sempat mengira kau kabur dari rumah,” lanjut Ranisya, suaranya meninggi setengah oktaf.

“Takut ketahuan, ya? Setelah semua yang kau lakukan pada anak-anak itu. Aku sudah memberitahukan perbuatanmu pada Kak Seran.”

Jenara mendengus pelan. Ia mengenali ritme ini, cara Ranisya merangkai kalimat seakan kebenaran sudah mutlak tanpa ada celah pembelaan.

Daripada membalas, Jenara memilih menahan diri. Tak ada gunanya menyalakan api di tengah ladang kering.

Tentu saja wanita yang tadi mengelap keringat Seran adalah Ranisya. Tak mengherankan karena mereka adalah pasangan utama, dua garis yang seharusnya bertemu dan berjalan beriringan.

Mungkin inilah awalnya. Tahap pendekatan yang selalu dimulai dengan alasan-alasan kecil dan kebetulan yang terlihat wajar.

Jenara pun memeriksa kantong tepungnya lagi, menolak uluran tangan Seran yang hendak membantu. Namun, Ranisya justru mendekat dan membungkuk sedikit.

“Wah, dari mana kau mendapatkan tepung dan minyak? Jangan-jangan mencurinya dari warung sekitar sini," sindirnya sambil terkekeh kecil.

“Pantas saja kau menghilang. Kebiasaanmu mengambil barang tanpa izin ini sangat menakutkan, Jenara," lanjut Ranisya.

Alih-alih marah, Jenara berdiri tegak sambil mendekap tepung dan minyak. Dari sudut matanya, ia menangkap Seran yang diam menunggu. Sepertinya, pria itu berharap mendengar penjelasan yang bisa ia terima tanpa harus memihak.

“Aku mendapatkan bahan makanan ini dengan usaha,” kata Jenara tenang. Suaranya tidak meninggi, tidak pula bergetar.

“Kalau kalian tidak percaya, tidak apa-apa.”

Jenara maju satu langkah ke depan, menatap lurus ke arah Seran dan Ranisya.

“Tunggu saja hari ini. Jika ada orang yang datang mencariku karena tuduhan mencuri, silakan anggap aku salah. Tapi, kalau tidak ada,” ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap, “berarti kalian yang menuduh tanpa dasar.”

Setelah berkata demikian, Jenara berbalik hendak pergi. Toh, ia memang harus memberi kesempatan kepada pasangan utama untuk menyatu. Namun, Seran mencoba untuk mencegahnya.

“Biar aku bantu."

“Tidak usah,” tolak Jenara singkat. “Temani saja Ranisya. Dia merindukanmu selama kau pergi, bahkan sampai memata-matai kondisi rumah ini. Kau tidak perlu sungkan padaku," tukas Jenara dengan nada datar.

Seran mengernyit. “Kau bicara apa? Ranisya baru saja datang, dan aku bersiap untuk mencarimu. Gita bilang kau belum juga kembali dari bilik mandi.”

Jenara akhirnya menoleh. Wajahnya tenang, seakan ucapan Seran tidak lagi menyentuh bagian dalam dirinya.

“Aku tidak keberatan sama sekali kalau kau dekat dengan Ranisya. Aku masak dulu."

Kalimat itu terlontar seperti batu ke air yang tenang. Bukan ledakan, melainkan riak panjang yang terasa dingin.

Tepat ketika Jenara berbalik, Ranisya segera mendekat. Ia sengaja bergelayut di lengan Seran sambil menyunggingkan senyum manis.

"Kak Seran, mau aku temani berkebun lagi? Atau Kak Seran ingin makan di rumahku bersama anak-anak?” tawar Ranisya penuh kelembutan.

"Aku akan memasak ayam panggang dan sup sayuran. Jenara juga sudah pulang, jadi Kakak tidak perlu khawatir.”

Enggan berurusan lagi dengan Ranisya, Jenara memilih pergi. Keputusannya sudah bulat, tidak mau menjadi pengganggu dalam kisah cinta orang lain.

Di belakangnya, Seran berdiri tercengang tanpa bergerak. Lengan yang digelayuti Ranisya terasa lebih berat dari sebelumnya. Entah mengapa gema kata-kata Jenara masih terngiang di telinganya, sederhana tetapi menusuk.

Selepas punggung Jenara benar-benar menghilang di balik pintu, barulah Seran menoleh.

Ranisya masih berdiri di sisinya. Jemari wanita itu setengah terangkat, berharap tangannya akan digenggam erat.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Seran dengan tenang melepaskan pegangan tangan Ranisya.

“Pulanglah ke rumahmu, Ranisya,” kata Seran datar.

“Tidak baik seorang gadis bertamu terlalu lama di rumah pria yang sudah menikah. Ibumu pasti mencarimu.”

Ranisya terperangah, tangannya perlahan jatuh ke sisi tubuh. Matanya membesar, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Kak Seran mengusirku?” tanya Ranisya dengan nada meninggi, bercampur kaget dan tersinggung.

“Aku cuma ingin menemanimu. Kita sudah lama tidak bertemu. Kau tahu betapa lega dan bersyukurnya aku bisa melihatmu kembali dengan selamat.”

Seran menghela napas pendek, kemudian bergeser sedikit untuk memberikan jarak yang tegas di antara mereka.

“Terima kasih atas perhatianmu, aku menghargainya. Tapi tindakanmu yang menyeka keringatku dan memegang tanganku, itu kurang pantas."

Ketegasan Seran membuat Ranisya tersentak. Sorot matanya berubah, bukan lagi manja, melainkan kecewa yang diselimuti amarah tipis.

“Kak Seran, apa kau takut pada Jenara?” tanyanya tajam. “Dia sudah kejam pada anak-anakmu, menjual hartamu, dan merusak rumahmu.”

Ranisya mendekat satu langkah seraya menatap Seran lekat-lekat.

“Bukankah lebih baik Kak Seran segera menceraikan Jenara? Kasihan anak-anak kalau punya ibu yang jahat seperti dia. Lagi pula, Kak Seran tidak mencintai Jenara, kan?"

Wajah Seran yang semula datar mendadak berubah dingin. Rahangnya mengeras, dan matanya yang biasanya tenang kini memancarkan peringatan jelas.

"Masalahku dengan Jenara adalah urusan rumah tangga kami. Orang luar tidak berhak ikut campur," tukasnya penuh penekanan. "Pulanglah sekarang, Ranisya.”

Tanpa menunggu jawaban, Seran berbalik. Langkahnya mantap saat menjauh, meninggalkan Ranisya yang berdiri kaku seorang diri di tengah kebun.

Merasa ditolak, jemari Ranisya mengepal. Bibirnya terkatup rapat, menahan rasa kesal dan kecewa yang berbaur menjadi satu.

"Aku tidak akan menyerah, Kak Seran. Cepat atau lambat kau pasti akan sadar, siapa yang lebih pantas menjadi istrimu," gumam Ranisya penuh tekad.

1
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
Endingnya di kasih gratis gak tuh🤣🤣apa balik modal?
Amriati Plg
Biasanya ruang dimensi ini ada nama baru ruang wiji😄
Hary Nengsih
lanjut
Lala Kusumah
semangat Jenara 👍👍💪💪
Azura75
mana lanjutannya. kok nggak bs scroll ke atas lagi? ☺
@Mita🥰
lanjut 😍😍
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
semoga mereka langgeng dan bahagia, tidak berpisah ya 🙏🙏🙏
Wulan Sari: iya betul say biyar bahagia walau ada kerikil2 tajam tetap bersama 👍❤️
total 1 replies
Hary Nengsih
lanjut
SENJA
laaaah lu kenapa yah jadi provokator banget 😶
SENJA
wah wah wah 😶
SENJA
buseh tukang nyiksa anak, tukang judi waduh 🤣
@Mita🥰
semangat jenara
Lala Kusumah
good job Jenara 👍👍👍
Lala Kusumah
kemana ya anak-anak Jenara 🤔🤔🤔
@Mita🥰
seperti nya di bawa si cewek yang suka sama seran
Wulan Sari
lhaaa pada ke mana tu anak2 3G, membuat panik sj semoga cepat ketemu yaaaa ayo Thor lanjut critanya terimakasih semangat 💪 salam ❤️
Hary Nengsih
wah kemana ya
@Mita🥰
emang gak bisa ya sekali jentik kan jari langsung hilang semuanya 🤭🤭
Hary Nengsih
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!