"Gue tiba-tiba PMS setiap ngeliat lo. Hormon gue jadi gak terkendali," ucap Chilla.
Karena sebuah tragedi berdarah pada masa pengenalan lingkungan sekolah, Achilla jadi sangat membeci Arnas dan menyukai Jonas yang notabenenya saudara kembar. Hormonnya seketika kacau balau saat melihat Arnas, dan berbunga-bunga bila di dekat Jonas. Namun sebuah ide menghampiri Chilla, sebuah ide untuk memanfaatkan Arnas mendekati Jonas.
Maka dengan sebuah kesepakatan, Arnas dan Chilla berkomplot melakukan banyak usaha pendekatan. Perlahan mereka mulai akrab meski pertengkaran tetap tak terelakan. Hingga Arnas menjadi tempat favorit Chilla untuk singgah dalam segala kesulitannya.
Akankah pada akhirnya Chilla lebih memilih menetap di tempat favoritnya? Atau ia tetap konsisten menuju tempat tujuannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Surat Beramplop Biru
Dear Jo,
Aku tahu kamu lagi sibuk banget belakangan ini, karena minggu depan akan ikut olimpiade sains. Semangat terus ya. Kalo capek, istirahat dulu, terus banyak makan makanan yang manis biar semangat lagi.
Oh iya, jari tangan kamu pasti lecet karena kamu terlalu banyak belajar. Jadi aku sertakan plester luka di dalam amplop.
Sincerely,
Summer
NB: Aku lagi bahagia banget belakangan ini. Kuharap kamu juga.
Jonas berdiri di samping jendela yang mengarah ke halaman belakang. Di tangannya terjepit selembar surat bersama amplop biru dan beberapa setrip plaster luka. Surat itu telah berhasil membuatnya tersenyum di Senin pagi ini.
Kelasnya sepi. Masih sangat pagi. Baru dua-tiga orang siswa dan siswi yang datang. Embun bahkan belum mengering dari rumput dan dedaunan.
Sembari melipat surat yang sudah tandas ia baca, Jonas memandang sepasang murid yang berlari memasuki halaman belakang, ke dalam frame jendela di depannya. Si gadis meloncat-loncat kegirangan dengan tangan yang tertaut pada laki-laki yang tampak kurang antusias.
Itu Achilla dan Arnas.
Jonas tak dapat menangkap apa yang diocehkan Chilla dengan wajah seberbinar itu. Yang jelas, ia kira itu sesuatu yang bagus. Chilla bahkan menari-nari mengelilingi Arnas sekarang.
Walau tadi terlihat tak acuh, sekarang Jonas menemukan bahwa diam-diam Arnas tersenyum senang tanpa sepengetahuan Chilla. Tipikal Arnas sekali, pikirnya, sok tak peduli.
Jonas merogoh saku celananya guna mengambil ponsel. Dengan cepat jemarinya mengetik pesan: Bahagia banget kayaknya. Lalu mengirimnya.
Ketika ia mengangkat wajah kembali, didapatinya Chilla telah berhenti menari-nari. Gadis itu meraih ponsel, menatapnya sebentar sebelum mulai celingak-celinguk.
Jonas melambai-lambaikan tangannya, mencoba menarik perhatian Chilla. Usahanya segera mendapat hasil. Cepat sekali Chilla menemukannya dan balas melambai bersama senyum yang kian bersinar.
Sementara itu, Arnas yang terabaikan, menoyor belakang kepala Chilla sebagai cara berpamitan. Ia menghilang dari balik salah satu sisi bingkai jendela. Menjadikan Chilla sebagai satu-satunya fokus Jonas di tengah hamparan hijau rumput, membelakangi rimbun pepohonan, diterpa sinar matahari pagi yang lembut. Indah sekali.
Untuk pertama kalinya, Jonas menyadari jika Achilla adalah seorang gadis, bukan tetangga depan rumah atau teman sekelas kembarannya.
Literally a girl.
∆∆∆
Chilla ingin mengumpat dan balas menggeplak kepala Arnas, tapi karena sedang diperhatikan Jonas, sebisa mungkin ia menahannya. Dan untunglah Arnas cepat pergi.
Selepas kepergian Arnas, ia melangkah lurus ke depan, menghampiri Jonas.
"Kenapa kayaknya bahagia banget?" tanya Jonas, saat Chilla sudah ada di hadapannya. Meski dibatasi dinding kelas, mereka bersua lewat jendela yang terbuka.
"Aku dibolehin Kak Largha ikut ekskul drama," ucap Chilla, gembira.
Sampai sekarang ia masih merasa seperti bermimpi. Saat Kak Largha sama sekali tak bicara padanya, ia kira ia dalam masalah besar. Namun ternyata, menjelang tengah malam yang lalu, kakaknya berkata bahwa ia boleh ikut ekstrakurikuler drama. Tampaknya saran Arnas untuk memberontak terbukti ampuh.
Jonas tersenyum. "Bagus."
"Iya." Chilla mengangguk-angguk antusias.
"Jadi kamu abis ngasih tahu itu ke Arnas?"
"Iya," sahut Chilla. Mendadak wajah ceriannya jadi cemberut. "Tapi dia malah biasa aja. Padahal aku kira dia bakal happy karena usaha kita berdua berhasil."
"Arnas happy kok," kata Jonas. "Dia memang suka gitu, sok cool."
"Masa, sih?" Chilla meragukan kebenaran ucapan Jonas. Kesannya seperti Jonas hanya mencoba membuatnya merasa senang.
Jonas mengangguk. "Memangnya kalian ngapain aja buat minta izin Kak Largha?"
"Ada, deh."
"Oke deh, kalo rahasia," Jonas menerima. "Tapi aku seneng lihat kamu sama Arnas deket kayak gitu."
"Aku sama Arnas cuma temen, Jo..." rengek Chilla.
"Iya..." Jonas mengulurkan sebelah tangannya, mengacak pelan rambut Chilla. "Aku suka kamu cuma temenan sama Arnas."
Tubuh Chilla menegang merasakan sentuhan Jonas di rambutnya. Mendadak ia merasa bahwa kondisi mereka yang hanya terhubung lewat jendela kelas ini amat romantis. Yang mana bukanlah suatu pikiran yang baik bagi jantungnya.
"Cie, cie...!"
"Ehm!"
"Gaskeun, Joooo!"
"Jonas go public, nih?!"
Riuh rendah seruan teman sekelas Jonas membuat Chilla malu. Ia merasa wajahnya memerah.
"Aku ke kelas dulu!" pamitnya dalam bisik. Mendesak. Lalu berlalu begitu saja meninggalkan Jonas dan segala macam ledekan yang sebenarnya cukup menyenangkan.
∆∆∆
Arnas mengobok-obok laci meja belajar Jonas, mencari flashdisk. Ia perlu menyalin tugas dari laptopnya untuk presentasi besok di sekolah.
Sebisa mungkin ia tak mengacak barang-barang Jonas yang telah ditata sesuai warna atau abjad. Ia tak mau membuat Ibu mengomel. Sebab Jonas adalah tipe yang lapor ke Ibu bila punya keluhan dan membiarkan Ibu yang mengeksekusinya. Itulah salah satu alasan mereka tak pernah bertengkar, selain Jonas memang hampir selalu mengalah jika terjadi suatu perebutan.
Ia merenggut salah satu laci. Terkunci. Otomatis tangannya merayap ke bawah meja, menarik sebuah kunci yang ditempelkan Jonas menggunakan magnet.
Ketika laci terbuka, ia mendapati berjajar surat beramplop biru yang disusun rapi bersama beberapa flashdisk yang sejak semula dicarinya. Namun melihat surat itu menggelamkan minatnya pada flashdisk. Sekarang ia lebih tertarik pada isi amplop-amplop biru itu.
Arnas duduk di kursi. Ia menarik salah satu amplop secara acak. Sekilas ia melirik pintu—hanya untuk ritual, sebab ia tahu Jonas masih sore nanti baru pulang.
Dibukanya surat itu. Melihat tulisan buruk rupa Chilla menyapa mata.
Dear Jo,
Apa kabar?
Dua minggu gak nulis surat ke kamu karena libur rasanya aneh banget. Kayak ada yang kurang, ada yang gak pas.
Gimana libur semester kamu? Semoga menyenangkan. Libur aku lumayan bagus, walau pun cuma sebentar.
Oh iya, selamat jadi juara umum semester ini. Aku seneng banget waktu denger pengumumannya dan lihat kamu naik ke podium dan ngasih speech singkat. Kamu keren banget! Asal kamu tahu, banyak banget cewek-cewek yang bisik-bisik di belakang aku ngagumin kamu. Bikin panas. Hehe.
Sekali lagi selamat ya, the number one student Jonas.
Sincerely,
Summer
Agak alay sih, pikir Arnas. Tapi ya, mengingat ini adalah Chilla, ia tak akan heran.
Setelah mengembalikan surat ke posisi semula, Arnas tergoda menghela sebuah surat lagi. Dan kembali ia membaca.
Dear Jo,
Lewat surat pertama ini aku mau berterima kasih untuk semua yang udah kamu lakukan. You're really great person. Dan maaf aku gak bisa berterima kasih secara langsung. Karena aku takut malah kehilangan kata-kata kalo berhadapan sama kamu langsung.
Sincerely,
Summer
Terang itu adalah surat pertama. Membuat Arnas perasaran sejak kapan Chilla mulai mengirip surat. Ia cukup yakin bila itu tak lama setelah insiden MPLS, tapi kapan tepatnya? Tak ada tanggal yang jelas.
Sekali lagi, Arnas menarik sebuah surat lain. Dan sekali lagi pula ia menekuri selembar surat dari Si Gadis Tetangga.
Dear Jojo,
Arnas berdecak. Jijik sekali. Apa Jonas tidak geli membaca namanya dipanggil begitu?
Monday again!
Dulu aku benci banget hari Senin, tapi semenjak mulai nulis surat buat kamu, aku jadi excited setiap hari Senin. Aku harap kamu juga gitu. Semoga Senin kamu sama menyenangkannya kayak Seninku.
Gak kerasa banget, ini udah surat ke dua belas yang aku kirim ke kamu, Jo. Dan bersama setiap surat yang aku tulis, aku kira aku jadi semakin yakin bahwa ada rasa yang lebih dari kagum buat kamu. Rasa yang masih aku terka-terka apa itu saat nulis surat ini.
See you next Monday, Jo.
Sincerely,
Summer
NB: I think i like you.
Perut Arnas terasa mengejang ketika membaca catatan tambahan yang Chilla bubuhkan di ujung kertas. Ada perasaan asing tak terdeskripsi bangkit dari dalam dirinya. Perasaan yang tak ia kenal. Padahal tadinya ia mengira hanya akan merasa mual saat membaca surat-surat Chilla. Nyatanya tak begitu. Ia malah merasa tak keruan.
Aneh sekali.
∆∆∆
pendek ya? baru sadar aku
oh iya, apa pesan dan kesan kalian yang udah baca cerita ini? ceritain dong, biar aku bisa improve ceritaku dan bikin adegan-adegan yang lebih menarik
S2 yuk kak....
kenapa baru sekarang nemunya....
sungguh