Lalu Argadana anak laki - laki yang memiliki garis darah keturunan setengah manusia dan setengah siluman. Di umur sepuluh tahun telah diangkat menjadi raja di Kerajaan Siluman Darah.
Tetapi sebelum dapat memimpin takhta, sang ibu memberinya misi untuk menghabisi seorang pengkhianat kerajaan selain mencari ayah kandungnya yang merupakan seorang manusia.
Dapatkah Argadana menyelesaikan misinya itu?
Silakan ikuti ceritanya dalam kisah 'Ksatria Lembah Neraka' yang akan kami update in sya allah 1 chapter/hari
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pangeran Buluk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ilmu Naga Guntur: Tubuh Petir
Salah satu dari kesembilan orang itu menoleh ke arah Ki Barnawi dengan mata mendelik.
"Urusi urusanmu sendiri, Kakek Botak. Jangan suka usilan"
Yang membentak itu bernama Lodaya. Dia memiliki codet melintang di dahinya.
"Hehehe. . . Aku tidak akan melarang jika kalian memang ingin mencari mati, silakan saja kalian coba" kata Ki Barnawi si Tangan Seribu masih dengan senyumannya. Lodaya yang melihat orang tua botak tak dikenalnya cengengesan seperti orang tidak waras jadi semakin geram dan berniat ingin membungkam orang tua botak itu. Tapi langkahnya ditahan oleh kawan di sebelah nya yang tampaknya merupakan pemimpin mereka. Pemimpin sepuluh pengawal itu bernama Gondo, dia mengenakan jubah merah dengan motif ular kobra di dada kanannya. Senjata andalannua adalah sabit panjang yang biasa digunakan menggaet leher musuh. Gondo yang merasa familiar dengan penampilan sang kakek lalu bertanya untuk memastikan dugaannya.
"Boleh saya bertanya, apakah orang tua ini adalah Ki Barnawi yang di dunia persilatan dijuluki si Tangan Seribu?"
Ki Barnawi lagi - lagi tersenyum
"Hehehe . . . Hanyalah gelaran kosong semata, buktinya tanganku sekarang hanya ada dua. Tidak sampai seribu jumlahnya" kata Ki Barnawi mengejutkan semua orang di tempat itu. Ki Barnawi, seorang pendekar golongan putih yang terkenal bersifat angin - anginan tetapi memiliki ilmu silat yang tinggi.
"Ternyata memang benar dugaan saya" kata Gondo.
"Lalu apakah Ki Barnawi mengenal dua orang muda ini?" tanyanya lagi.
"Hm... Hehehe. . ." Ki Barnawi terkekeh ringan membuat orang terasa mangkel melihat wajahnya yang sebentar - sebentar nyengir seperti kuda.
"Kenal mereka sih tidak, tapi gurunya aku pasti betul siapa. . . Makanya aku peringatkan kalian supaya tidak menyesal nantinya" jawab Ki Barnawi santai
"Mmm... Memangnya siapa guru mereka itu, Ki?"
"Hmm . . . Karena kau sudah berinisiatif untuk menghormatiku, maka aku akan memberi sedikit petunjuk. Aku tidak mungkin menyebutkan nama guru mereka, karena bisa mengundang kemarahannya yang tidak suka namanya disebut - sebut" Ki Barnawi menjelaskan dengan santai sambil ingkang - ingkang kaki di kursi yang dekat dengan pintu masuk kedai.
"Kalian lihat saja pedang yang menyembul di punggung gadis itu" kata Ki Barnawi menunjuk ke arah punggung Ningrum.
Ningrum diam saja namun tetap memasang ekspresi waspada.
"Jika kalian beruntung mengenal senjata itu, maka segeralah pergi agar terhindar dari bahaya. Pemuda manja itu yang buta. Dia tidak tahu siapa orang yang telah disinggungnya" Ki Barnawi berkata sambil melotot kan matanya pada Danuswara yang belingsatan sendiri melihat pengawal bayaran ayahnya tidak segera menuruti perintahnya.
"Dia bisa mendatangkan bala bagi keluarganya sendiri jika tidak mau merubah tabiat buruknya" lanjutnya kemudian.
Gondo mengikuti saran Ki Barnawi, menoleh kepada Ningrum. Penglihatannya dipertajam untuk meneliti bentuk gagang pedang Ningrum. Dahinya berkerut dalam karena merasa pernah mendengar ciri - ciri pedang pusaka dengan gagang yang sama seperti yang terlihat di balik punggung gadis itu.
"Pedang dengan gagang menyerupai sisik berbentuk naga berwarna merah. Itu seperti pedang pusaka yang beberapa puluh tahun lalu menjadi rebutan para pendekar di dunia persilatan. Kalau tidak salah namanya adalah 'pedang naga guntur' dan pemiliknya adalah Dewi Obat, wanita dari Sepasang Pendekar Naga"
Memikirkan hal itu, wajah Gondo berubah pucat pasi, tengkuknya terasa seperti dihembus angin dingin. Seluruh bulu di tubuhnya serasa berdiri mengingat kehebatan sepasang pendekar itu yang sangat ditakuti bahkan oleh guru mereka sekalipun.
"Tapi kalau wanita ini memanglah Dewi Obat kenapa bisa masih begitu muda? Lalu pemuda itu, jika dia Anung Pramana pemegang cambuk pusaka pasangan 'pedang naga guntur' kenapa aku tidak melihat cambuk itu di tubuhnya?"
"Apa yang kau bicarakan, pak botak tua? Aku sudah melihat gagang pedang gadis itu, tapi masih tidak mengerti juga" kata Serik, anggota termuda dari pengawal bayaran.
"Kawan - kawan, ayo kita serang saja. Soal resikonya nanti saja kita pikirkan"
"Tunggu sebentar. . ." cegah Gondo. Namun kawan - kawannya tidak menggubris. Mereka tetap menyerang Argadana dan Ningrum.
"Hmm... Orang - orang bebal ini. Bahkan aku saja akan berpikir dua kali untuk menyerang gadis itu yang pastinya kalau bukan anak ya pasti murid mereka"
Kekuatan gadis itu tidaklah rendah. Kalau menurut perkiraanku tenaga dalamnya lebih tinggi beberapa tingkat dari mereka semua. Dan pemuda kekasihnya itu, terlihat dia tadi menggunakan 'jurus tanpa bentuk' andalan Sepasang Pendekar Naga.
Tapi entah kenapa aku merasakan lalu dia seperti anggota perguruan misterius itu. Aku menolak untuk mempercayai kata hatiku, tapi memang hanya anggota perguruan itu saja yang dapat memberikan tekanan yang membuat seluruh tubuhku gemetar sesaat.
Sepasang Pendekar Naga dulu dijuluki pendekar terkuat pun sebenarnya belum tentu benar - benar mereka paling kuat. Hal itu tidak ada yang bisa membantah karena antara Sepasang Pendekar Naga tidak pernah bertarung dengan ketua perguruan itu, bahkan beberapa orang berpendapat bahwa antara Sepasang Pendekar Naga terjalin hubungan persahabatan. Mungkinkah mereka mendidik pemuda ini bersama - sama? Hal ini sangat aneh?
"Aarghh. . ." suara teriakan salah seorang yang terlempar karena hantaman tinju Ningrum menyadarkan Ki Barnawi dari lamunannya.
"Ahh. . . Apa yang aku pikirkan, itu urusan pribadi orang. Dari pada memikirkan orang - orang bodoh itu mending aku lanjut makan saja, hehehe"
'Ilmu Naga Guntur': Tubuh Petir'
Sekujur tubuh Ningrum yang mengeluarkan kilat menyambar - nyambar membuat bergidik orang yang melihatnya. Akibatnya semua pengunjung kedai kehilangan selera makan karena takut lalu akhirnya melarikan diri satu - persatu.
"Celaka. . . Perempuan ini lebih berbahaya dari Dewi Obat" pekik Gondo dalam hati.
"Berhenti. . . Kalian bukan lawannya ...!!!" teriakan Gondo tidak dihiraukan.
"Kalian telah memaksaku sampai ke titik ini, jadi jangan berfikir untuk menyudahi sebelum kalian menerima konsekuensinya" kata Ningrum keras.
Sring. . .
Melihat delapan orang anggotanya mengeluarkan pedang masing - masing Gondo yang tidak punya pilihan lain pun akhirnya ikut menghunus sabit panjangnya dan maju menyerang Ningrum.
Tubuh Ningrum yang diselimuti petir bergerak lincah menyambut serangan sembilan orang pengawal Adipati Renggana. Setiap gerakan tangan maupun kakinya membawa kesiur angin yang panas menyengat dan ledakan - ledakan keras.
Suatu ketika tepukan telapak tangan Ningrum tepat menghantam dada Serik menyebabkan bunyi ledakan memekakkan telinga. Debu - debu beterbangan menutup pandangan semua orang.
Duaarrr. . .!!!
"Aaagkhh. . ."
Teriakan kematian Serik yang terhantam tapak tangan Ningrum terdengar menyayat hati membuat para penyerang seketika menghentikan serangannya.
Beberapa detik kemudian setelah debu mulai menghilang terlihatlah Serik tergeletak di tanah dengan tubuh menghitam hangus terpanggang.
"Serikk. . ." teriak sepuluh pengawal yang kini tersisa hanya tinggal delapan orang. Gondo yang sangat terpukul melihat kematian salah satu anggotanya hanya dapat menggeleng lemah, menyayangkan perilaku Serik yang seberono.
Sedangkan Ki Barnawi di tempat duduknya melotot seolah bola matanya hampir terlepas keluar. Mulutnya terbuka lebar tanpa disadarinya. Pendekar sakti itu bertanya - tanya dalam hati.
"Aku tidak pernah melihat ilmu sedahsyat itu digunakan oleh Sepasang Pendekar Naga. Apakah mereka menciptakan ilmu baru?"