Sebelah tangan Inara yang hendak membuka pintu tiba - tiba saja langsung terhenti dan melayang di udara. Ketika ia tak sengaja mendengar pembicaraan Brian dengan Melisa - mertuanya.
" Aku akan menikahi Anita ma.."
" Apa maksud kamu Brian? Kamu itu sudah menikah dengan Inara. Kenapa kamu malah ingin menikah dengan wanita tak tahu diri itu."
" Maaf ma. Aku harus segera menikahi Anita. Saat ini dia telah mengandung anaku. Yang berarti penerus dari keluarga Atmaja."
Kedua mata Melisa langsung terbelalak lebar.
Begitu pula dengan kedua mata Inara yang sedari tadi tak sengaja menguping pembicaraan rahasia dari kedua orang yang ada di dalam ruangan sana.
Perih , sakit , dan sesak langsung menyelimuti hati Inara.
Wanita berkulit putih itu tak menyangka. Jika selama ini pria yang selalu ia cintai dan sayangi sepenuh hati . Malah menorehkan luka sebesar ini pada hatinya yang rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INNA PUTU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Brakk.
Pintu di buka kasar oleh Brian.
Pria itu nampak tergesa mencari keberadaan Anita yang ia tahu telah jatuh di kamar mandi.
" Anita...."
" Brian.. Aku di sini." Anita terdengar merintih kecil. Hingga kedua kaki Brian yang sedang mencari, langsung berlari cepat ke arah datangnya suara.
Dan alangkah terkejutnya Brian. Ketika mendapati Anita yang ia lihat tengah terbaring lemah di sisi ranjang dengan ponsel tergeletak taj jauh dari sisi wanita itu.
" Anita... " Brian berteriak kencang. Dengan kondisi jantung yang hampir jatuh ke lambung, pria itu pun langsung berlari menghampiri Anita. Dan segera menggendong tubuh lemah tak berdaya wanita itu agar bisa ia bawa menuju rumah sakit terdekat.
" Brian.. Sakit.."
" Tenanglah Anita. Aku akan segera membawamu kerumah sakit."
Dengan langkah yang ia usahakan secepat mungkin, Brian pun keluar unit apartement yang selama ini Anita tempati.
Tanpa memperdulikan jika akan ada orang lain yang mengenalinya bersama wanita lain selain Inara.
Brian seolah tak perduli akan semua itu
Yang ada di dalam pikiran Brian saat ini adalah bagaimana caranya ia bisa menyelamatkan Anita dan juga bayi mereka yang saat ini ada di dalam kandungan Anita.
" Ugh.. Sakit." noda merah terlihat terus mengucur keluar dari sela kaki Anita.
Dan tentu saja pemandangan itu membuat Brian yang sudah merasa panik di awal, jadi semakin bertambah panik.
" Sial. Kenapa lift ini lama sekali berjalannya." Brian menggerutu kesal.
Hingga pintu lift pun akhirnya terbuka. Dengan tubuh tegap pria itu yang langsung membawa tubuh mungil Anita menuju ke arah mobil yang telah ia parkir secara sembarang.
" Tuan... " seorang pria sudah siap sedia berjaga di depan mobil mahal Brian.
Seorang pengawal yang sebelumnya memang sudah Brian hubungi untuk membantunya membawa Anita menuju rumah sakit.
Mengingat dalam kondisi panik seperti ini. Tentu saja ia tak akan bisa menyetir dengan benar.
Bahkan bukan hanya satu pengawal saja ada disana.
Melainkan beberapa pengawal yang Brian sebar. Dan pria itu perintahkan , untuk menutupi semua berita. Agar kedekatannya dengan Anita tak sampai terekspos ke awak media.
Terutama Inara.
Entah kenapa. Hati Brian merasa belum siap jika sosok wanita yang saat ini tengah berstatus sebagai istrinya itu tahu akan kedekatannya dengan Anita lagi.
Serasa ada secercah rasa takut menyelimuti sisi lain pada dinding hati Brian.
Rasa yang sangat sulit ia jabarkan dengan kata - kata. Sekaligus sangat sulit ia pikirkan menggunakan logika manusia , yang selama ini ia gunakan untuk berpikir.
" Cepat jalankan mobilnya kerumah sakit."
" Baik tuan."
Pengawal berbadan tegap berjas hitam itu pun dengan gegas duduk di balik kemudi.
Dan dengan kecepatan setan. Mobil itu pun di lajukan menembus jalanan. Hingga pada beberapa menit kemudian. Tubuh Anita yang terkulai lemas karena sempat mengeluarkan banyak darah pun akhirnya bisa mendapatkan perawatan dokter.
Tentu saja dengan pelayanan kelas atas. Mengingat jika rumah sakit yanh saat ini mereka datangi adalah salah satu rumah sakit milik keluarga Atalarich.
___
Brian meraup wajah kasar.
Dengan raut wajah cemas. Pria itu senantiasa menunggu Anita yang masih berada di unit ruang gawat darurat untuk mendapatkan penanganan dari dokter.
Sampai seorang pengawal terlihat mendekati Brian. " Tuan... Baju anda."
Brian sedikit menunduk. Dan melihat , jika setelan kemeja yang ia kenakan saat ini telah ternoda dengan banyak tetesan warna merah akibat menggendong tubuh Anita yang lumayan mengeluarkan banyak darah.
Dan hal itu pun baru ia sadari sekarang.
Setelah beberapa menit yang lalu. Ia hanya terfokus pada keselamatan Anita seorang , tidak dengan yang lain termasuk dengan keadaan dirinya sendiri.
" Saya telah meminta seorang pengawal untuk membawakan anda baju ganti tuan."
" Terima kasih Daniel."
" Sama - sama tuan."
Ya.. Sosok pria yang membawa Brian dan Anita kerumah sakit adalah Daniel.
Karena hanya pria itulah yang sampai saat ini bisa Brian percayai dan sangat bisa ia andalkan untuk mengurus segala sesuatu tentang dirinya dan Anita.
Itu semua terbukti dengan hubungannya yang sudah terjalin kembali dengan Anita , tidak ada satu orang pun yang tahu bahkan oleh keluarganya sendiri. Jika tidak Brian sendiri yang menceritakan hal itu kepada Melisa pada beberapa hari yang lalu di ruang kerja karena Anita sudah dalam kondisi hamil.
Mungkin sampai saat ini hubungan Brian dan Anita tak akan pernah terbongkar.
___
Setelah mengganti pakaian di sebuah ruangan yang ada di rumah sakit.
Brian pun memilih untuk melihat keadaan Anita kembali.
Sebelum keadaan Anita di katakan membaik. Brian tak akan pernah bisa tenang. Dan akan tetap setia menunggu hingga wanita itu berubah siuman.
Sampai di lorong rumah sakit. Brian tak sengaja bertemu dengan seseorang yang berhasil membuatnya terkejut.
Deg.
" Papa..." langkah Brian terhenti. Dengan tatapan mata yang saling beradu tegang antar satu sama lain dengan sosok pria bertubuh tegap di depannya.
Sampai pria penuh karisma itu melanjutkan langkahnya lagi dan tepat berdiri di sisi Brian yang masih dalam posisi mematung di tempat.
" Sepertinya saat ini banyak hal yang harus kau jelaskan padaku, Brian." dengan tatapan menghunus dingin. Zadith pun menepuk pundak tegap Brian dengan pelan.
Dan melanjutkan langkah tegapnya lagi. Hingga pria itu terlihat masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di dalam rumah sakit sana.
Brian yang masih tetap berdiri di posisinya terdengar menghembuskan nafas kasar.
Mata pria itu terpejam sejenak.
Seolah tengah menguatkan diri. Akan amukan yang mungkin saja akan ia dapatkan dari Zadith.
Melihat dari ekpresi tak menyenangkan yang pria itu perlihatkan secara terang - terangan di hadapanya.
Brian bisa memastikan. Bukan hanya Melisa. Tapi Zadith - ayah kandungnya pun saat ini sudah mengetahui tentang hubungan rahasianya bersama Anita.
" Aku tak menyangka akan secepat ini."
Secara perlahan Brian mulai berjalan. Dan ikut memasuki ruangan yang lebih dulu Zadith masuki.
Hingga pintu yang telah di jaga oleh dua orang penjaga itu tertutup rapat kembali. Dengan suasana mencekam yang langsung menyelimuti.
____
Yang bener Naura atau Inara Thoor
ok kita lihat sebadast apa kau Ra