Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Gerbang Hijau 31
Pagi itu, udara masih dibalut dingin dan lembap. Namun, dapur kecil di rumah Valaria sudah semarak oleh perpaduan aroma minyak kelapa panas, kunyit segar, dan uap teh melati yang mengepul. Di usianya yang menginjak dua puluh tahun, Valaria tumbuh menjadi gadis yang cekatan membantu orang tuanya.
“Valaria, ini bungkus nasi uduknya. Dua lagi!” seru Ibu. Suaranya agak teredam asap yang membubung dari wajan besar.
Valaria segera membungkus nasi uduk hangat itu ke dalam daun pisang. Aroma rempah dan gurihnya santan seketika menusuk hidung, menggugah selera siapa pun yang menciumnya.
“Siap, Bu. Tapi, apa tidak lebih praktis kalau kita pakai kertas minyak saja? Prosesnya pasti lebih cepat,” usul Valaria sambil tangannya terus bergerak lincah.
Ibu menoleh dengan dahi berkerut. “Cepat bagaimana? Orang-orang justru mencari aroma daun pisang ini. Ini namanya kearifan lokal, Nak. Lagi pula, harga kertas minyak sekarang sedang naik selangit.”
Valaria terdiam. Harga. Lagi-lagi soal harga. Itulah realita pahit tahun 1998 di daerahnya. Segalanya terasa tertahan, bergerak lambat, dan tercekik oleh krisis ekonomi. Setelah semua pesanan siap, Valaria bergegas menyambar tas kain cokelatnya. Hari ini, ia punya misi penting: mencari pintu baru bagi harapannya.
“Aku berangkat ya, Bu, Pak! Jaya sudah bisa bantu di kedai, kan?” tanya Valaria sembari menyampirkan tas di bahu.
Ayah yang sedang sibuk mengiris tempe hanya mengangguk tanpa mendongak. “Iya, pergilah. Hati-hati di jalan. Jangan pulang terlalu larut, sebelum ayah tutup kedai harus sudah sampai rumah!”
Valaria berjalan cepat menuju pasar pagi. Ia sengaja menumpang rombongan orang tuanya agar bisa naik angkutan umum dengan lebih mudah di fajar buta. Begitu tiba, riuh rendah suasana pasar langsung menyergapnya. Jeritan pedagang sayur yang memuji kesegaran dagangannya beradu dengan suara tawar-menawar ibu-ibu yang gigih. Simfoni khas yang tak pernah berubah.
Langkah kaki Valaria membawanya keluar dari labirin pasar menuju jalanan utama kota. Di sana, ia mengamati kerumunan orang dengan pandangan seorang desainer. Ia melihat pakaian yang seragam, warna-warna kusam, dan potongan baju fungsional yang hambar tanpa sentuhan seni.
Kapan semua ini akan berkembang? batin Valaria getir. Kota ini terasa seperti lukisan tua yang enggan diperbarui. Perkembangan terasa mandek, terhalang oleh keterbatasan material dan gejolak politik yang masih menyisakan trauma.
Namun, keterbatasan itu justru memicu percikan ide. Sebagai desainer, ia tahu kain impor berkualitas harganya tidak masuk akal, sementara kain lokal belum mampu memenuhi standar visinya.
“Aku harus memulai dari yang kecil,” gumamnya mantap. Ia akan menggunakan bakat dan sumber daya yang ada untuk mengumpulkan modal. Ia memimpikan masa depan di mana orang-orang mengenakan baju rancangannya yang indah, bukan sekadar kain penutup tubuh yang kaku.
Tujuannya yang pertama adalah sebuah gedung kuno. Lantai bawahnya dihuni kantor redaksi surat kabar, sementara lantai atasnya merupakan Stasiun Radio Nasional. Bangunan itu tampak megah, meski catnya mulai mengelupas dimakan waktu. Di sana, ia menitipkan gulungan puisinya kepada resepsionis.
“Tolong sampaikan ini pada Redaktur Sastra. Katakan dari Valaria. Semoga berkenan,” ucapnya penuh harap.
Setelah itu, ia menyusuri deretan pertokoan di sepanjang jalan utama untuk melakukan riset pasar.
• Toko Pakaian: Isinya hampir seragam. Kemeja polos, celana longgar, dan kebaya sederhana dengan warna-warna bumi yang gelap. Bahannya kasar dan kaku.
• Toko Buku: Ruangannya remang-remang, beraroma kertas tua dan debu. Rak-rak didominasi buku politik dan sejarah perjuangan. Bagian fiksi hampir tidak mendapat tempat.
• Toko Sembako dan Barang Impor: Di sinilah mata Valaria membelalak. Di balik etalase kaca, ia melihat kemewahan yang kontras: biskuit dalam kaleng timah berkilau dan beberapa gulung kain sutra dengan warna cerah yang berani.
“Ini dari mana, Pak?” tanya Valaria penasaran.
“Luar negeri, Nona. Belanda, Amerika... Tapi harganya? Mahal sekali. Susu kaleng ini saja setara upah buruh seminggu,” bisik pemilik toko, seolah takut transaksi mahalnya terdengar orang lain.
Kesenjangan itu memberinya ide brilian. Jika kain sutra terlalu jauh dari jangkauannya, ia punya senjata lain: cokelat. Ia ingat sisa cokelat buatannya yang lezat. Cokelat adalah kemewahan kecil yang bisa ia jual dengan harga menjanjikan.
Dalam perjalanan pulang, Valaria melewati persimpangan jalan yang dijaga ketat. Sekelompok tentara berseragam hijau tua dengan senjata laras panjang berdiri waspada. Meski tahun 1998 seharusnya menjadi masa transisi menuju damai, kehadiran militer yang dominan tetap menghadirkan atmosfer mencekam.
Valaria menundukkan pandangan, tak berani menatap mata para penjaga itu. Udara di sekitar mereka terasa berat dan hening. Masih seketat ini, pikirnya cemas. Ia mempercepat langkah, ingin segera sampai di rumah yang aman.
Setibanya di desa, Valaria mendapati kerumunan di depan rumah keluarga Laksmin. Suasana tampak gaduh dan penuh ketegangan.
“Ada apa, Bibi? Kenapa ramai sekali?” tanya Valaria pada Bibi Siti yang berdiri di pinggir jalan.
“Astaga, Valaria! Kamu baru pulang?” Bibi Siti menjawab dengan wajah berapi-api. “Si Damian itu benar-benar tidak tahu diri! Dia diam-diam menikah lagi dan berani membawa istri barunya ke sini!”
Valaria terperanjat. “Lalu bagaimana dengan Laksmin?”
“Terjadi pertengkaran hebat! Laksmin menjerit-jerit saking marahnya, sampai... kasihan sekali, dia keguguran, Valaria! Dia melampiaskan kemarahannya hingga bayinya tak tertolong. Dia benar-benar hancur sekarang.”
Rasa pedih menyelimuti hati Valaria. Ia tahu betapa keras Laksmin berjuang mempertahankan rumah tangganya. “Terima kasih infonya, Bi,” ucap Valaria pelan. Ia segera melangkah pergi, tak sanggup mendengar isak tangis yang menyayat hati dari dalam rumah itu.
Sesampainya di rumah, suasana tenang langsung menyambutnya. Di ruang tengah, Tirta dan ibu sedang duduk bersimpuh di atas tikar pandan. Cahaya sore yang lembut menyinari jari-jari mereka yang terampil menyulam kain katun putih.
“Valaria! Akhirnya kamu pulang. Kami khawatir kamu terlalu lama di kota,” ujar Tirta dengan senyum lega.
Valaria mendekat, duduk di samping bibinya, dan menyandarkan kepala di bahu sang ibu. “Aku baik-baik saja, Bu. Hanya saja... kota terasa melelahkan, dan di sini pun ada keributan.”
Ibu mengelus rambut Valaria dengan lembut. “Keributan di luar akan selalu ada, Putriku. Itulah sebabnya kita harus menjaga kedamaian di rumah sendiri. Kamu sudah lihat sendiri, kan? Nafsu dan pengkhianatan hanya membawa kehancuran.”
Valaria menarik napas panjang, matanya tertuju pada sapu tangan yang sedang disulam ibunya. Benang merah di sana membentuk sebuah inisial: 'V'.
“Sulamannya indah sekali, ibu. Sangat rapi,” puji Valaria tulus.
“Kami sedang mencoba pola baru untuk dijual di kedai nanti,” jawab Ratri semangat.
Melihat semangat keluarganya, secercah harapan kembali mekar di hati Valaria. Ia bergegas masuk ke dalam untuk menyimpan barang-barangnya, sambil memutar otak menyusun rencana bisnis cokelatnya. Akankah mimpi Valaria menembus keterbatasan ekonomi tahun 98 ini membuahkan hasil?