Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.
Sialnya, itulah nasib Vivienne.
Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.
Persetan dengan alur asli!
Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.
"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."
Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ekspedisi Mencari Nona Cengeng
Setelah insiden "Ayam Panggang" di meja makan pagi tadi, statusku di kediaman Hart berubah drastis.
Para pelayan kini menatapku dengan campuran rasa takut dan bingung. Mungkin mereka berpikir aku kena gangguan jiwa karena jetlag, atau mungkin mereka kagum karena aku satu-satunya orang yang berani minta makan ke Damian dan masih hidup. Entahlah. Yang jelas, Marie sekarang memberiku porsi makan siang double tanpa diminta. Good job, Marie.
Namun, masalah baru muncul: Kebosanan.
Ternyata, kehidupan bangsawan itu 90% gabut dan 10% basa-basi. Tidak ada WiFi. Tidak ada Netflix. Tidak ada gosip lambe turah terbaru. Yang ada cuma suara jam dinding antik dan Bianca yang sibuk menyulam sapu tangan. Serius, siapa yang butuh sapu tangan sebanyak itu di tahun ini?
"Oke, cukup," gumamku sambil melempar buku puisi yang isinya cuma soal bunga layu dan hati retak. "Gue harus cari hiburan. Dan hiburan terbaik di novel ini tentu saja adalah melihat The Main Character."
Freya Lark.
Gadis yatim piatu yang tinggal di pondok tukang kebun, yang nasibnya lebih tragis daripada sinetron azab. Di novel aslinya, Freya digambarkan sering keluyuran di hutan Hartfield, menyanyi bersama burung, dan tidak sengaja bertemu Damian.
Aku harus menemukannya. Bukan apa-apa, aku cuma penasaran seberapa cringe adegan aslinya kalau dilihat secara live.
Dengan semangat 45, aku melangkah keluar dari mansion megah itu menuju taman belakang.
Dan disitulah penyesalanku dimulai.
"Siapa sih arsiteknya?!" teriakku frustrasi setelah berjalan selama dua puluh menit tanpa arah.
Aku berhenti sejenak, bertumpu pada batang pohon ek besar sambil memijat betis. Napasku ngos-ngosan. Keringat mulai menetes di punggung, membuat korset sialan ini terasa makin mencekik.
Hartfield itu bukan sekadar luas. Hartfield itu tidak ngotak.
Deskripsi di novel bilang: "Taman Hart adalah surga duniawi yang membentang sejauh mata memandang, dengan labirin mawar dan hutan pinus yang menyejukkan."
Realitanya: "Taman Hart adalah simulasi tersesat di hutan Amazon versi Eropa."
Kenapa harus seluas ini? Apa mereka menyembunyikan pangkalan militer rahasia di balik semak mawar itu? Atau landasan pacu pesawat UFO? Aku sudah berjalan melewati tiga air mancur, dua patung Cupid yang pipinya tembem, dan satu rumah kaca yang untungnya kosong, tapi aku belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan sungai atau pondok tukang kebun.
Dan mari kita bicara soal sepatu.
Sepatu yang kupakai adalah heels setinggi 5 cm dengan ujung runcing. Sangat cantik kalau dipakai duduk manis di salon. Tapi dipakai jalan di atas jalan setapak berkerikil dan rumput tebal? Ini bunuh diri.
Setiap tiga langkah, tumit sepatuku menancap ke tanah lembek. Sret. Copot. Sret. Copot. Aku berjalan seperti bangau yang kena stroke.
"Aduh!" Aku menepuk leherku keras.
Seekor nyamuk—yang ukurannya lebih besar dari nyamuk kosan—baru saja mendarat di sana. Aku melihat bercak darah di tanganku.
"Sialan," umpatku. "Di novel katanya hutan ini ajaib, burung bernyanyi, angin berbisik. Kok nggak ada yang bilang kalau nyamuknya ganas kayak vampir kurang gizi?"
Inilah kebohongan terbesar fiksi romantis. Mereka tidak pernah membahas soal serangga, keringat, dan bau matahari. Mereka cuma bahas soal gaun yang berkibar tertiup angin. Padahal realitanya, gaunku sekarang penuh duri-duri kecil yang nempel, dan rambutku lepek.
Aku melirik matahari yang mulai condong ke barat. Langit berwarna oranye kemerahan, menciptakan suasana melankolis yang sempurna.
Saat itulah aku mendengarnya.
Suara isak tangis.
Suaranya halus, tersendat-sendat, dan... sangat sopran. Jenis tangisan yang kalau didengar di film horor bikin lari, tapi kalau di film romantis bikin cowok pengen ngelindungin.
"Bingo," bisikku.
Aku mengikuti arah suara itu, menerobos semak-semak berry liar yang durinya sukses merobek sedikit ujung rendaku, damn it, hingga akhirnya pemandangan di depanku terbuka.
Sebuah sungai kecil mengalir jernih. Di tepiannya, di bawah naungan pohon willow yang dahannya menjuntai menyentuh air, duduk seorang gadis.
Dia memeluk lututnya. Bahunya bergetar. Rambut pirang keemasannya bersinar ditimpa cahaya matahari sore, menciptakan halo malaikat di sekelilingnya.
Itu Freya Lark.
Dan dia sedang melakukan adegan klise nomor 1 di buku panduan Heroine: Menangis sendirian di pinggir sungai sambil menunggu pangeran atau dalam kasus ini, Duke psikopat, datang menemukannya.
Aku bersembunyi di balik pohon, mengamati sejenak.
"Oke, Viv," batinku. "Skenario aslinya: Damian bakal lewat sini naik kuda, liat dia nangis, terus turun dan ngasih sapu tangan dengan tatapan dingin tapi hot. Terus Freya bakal takut-takut tapi terpesona."
Aku melihat sekeliling. Tidak ada tanda-tanda Damian. Bagus.
"Maaf ya, Duke," seringaiku lebar. "Kali ini yang nemuin Tuan Putri bukan Pangeran Berkuda Putih, tapi Nenek Sihir yang kakinya lecet dan lagi bad mood."
Aku melangkah keluar dari persembunyian, sengaja menghentakkan kaki keras-keras biar dramatis.
"HEI!" teriakku, membuat burung-burung di pohon kabur ketakutan.
Freya tersentak kaget. Dia menoleh patah-patah, matanya yang basah dan bengkak membelalak melihatku.
"N-nona?" cicitnya.
"Nangisnya ditahan dulu," kataku sambil berjalan mendekat dengan gaya preman pasar (susah sih, pakai gaun). "Gue butuh arah pulang. Dan gue butuh lo berhenti buang-buang air mata buat nyiramin rumput yang udah basah."
Ekspedisi mencari Nona Cengeng sukses. Sekarang saatnya sesi training.