**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Satu Perahu Melawan Melati
Dua hari kemudian, Kirana membentangkan tiga lembar kertas di meja sudut kantin.
"Yang merah untuk kebohongan, yang biru untuk hal yang benar, dan yang hitam untuk tanggal," katanya.
Bagas menatap tiga pena di tangannya. "Kenapa tidak satu warna saja?"
"Karena kalau semua hitam, kita bisa lupa mana fakta dan mana cerita orang."
"Aku tidak akan lupa."
"Kamu juga bilang tidak akan memutus telepon sebelum aku selesai bicara. Kemarin kamu tetap memutusnya."
"Ada alarm latihan."
"Tetap saja diputus. Berikan pena merahnya."
Bagas menyerahkannya tanpa berdebat lagi.
Mereka duduk di area terbuka dekat jendela. Orang masih bisa melihat, tetapi suara mereka tertutup bunyi piring dan kipas tua. Kirana menuliskan tanggal malam di vila, akad, permohonan cerai, serta hari ketika pengaduan sampai ke kesatuan.
"Sekarang ceritakan semua yang belum kamu katakan tentang kamar 207," ujarnya.
Bagas menyandarkan punggung. "Sore itu aku menerima pesan anonim dengan inisial R. Isinya meminta aku memeriksa keadaan seseorang di kamar 207."
"R bisa dibuat agar kamu mengira Rangga."
"Atau orang lain dari keluarga Adiningrat."
"Melati menyuruhku naik ke kamar yang sama. Katanya Rangga ingin menjelaskan perubahan acara keluarga tanpa diketahui orang tua."
Kirana menulis dua panah menuju angka 207.
Bagas melanjutkan, "Petugas yang mengantar minuman memakai identitas palsu. Rekaman koridor hilang pada jam tertentu. Aku baru menemukan catatannya setelah kembali ke Magelang."
"Kenapa tidak langsung melapor?"
"Saat itu keluargamu sudah memutuskan akad. Setelah cerai, aku pikir tidak ada gunanya membuka aib yang akan membuat namamu diseret lagi."
Kirana berhenti menulis. "Kamu melindungiku tanpa memberitahuku."
"Ternyata itu juga membuat kita kehilangan waktu."
"Bagus. Kamu mulai bisa mengakui kesalahan tanpa dipaksa."
Bagas meliriknya. "Jangan terlalu senang."
Kirana menahan senyum, lalu menuliskan akses Melati terhadap surat keluarga, contoh tulisan, alamat lama, dan akun yang biasa dipakai untuk mengurus administrasi.
"Dia sering menjawab pesan atas namaku," katanya. "Awalnya hal kecil. Jadwal makan keluarga, ukuran pakaian untuk acara, ucapan terima kasih. Lama-lama aku tidak memeriksa lagi."
"Apakah dia tahu tahun lahirmu dan nomor dokumenmu?"
"Dia pernah memegang salinannya."
Pena Bagas berhenti.
Semua jalur mengarah ke orang yang sama, tetapi belum satu pun cukup untuk menjadi bukti tunggal.
"Kita tidak boleh mendatanginya hanya dengan kertas ini," kata Kirana.
"Aku tahu."
"Kamu pernah mendatanginya sendiri."
"Sekarang aku tahu dia sudah mulai melawan."
Kirana melipat lembar kronologi. "Berarti kali ini kita bergerak bersama."
Kata bersama terasa asing sekaligus tepat.
Bagas mengangguk. "Satu perahu. Kalau bocor, jangan saling mendorong keluar."
"Perumpamaanmu buruk."
"Tapi kamu paham."
Sebelum kembali bertugas, Bagas menyerahkan salinan kronologi kepada Gunawan. Bramantyo telah memberi izin terbatas untuk meminta surel asli dari administrasi dan memeriksa jalur penerusan di grup keluarga, tanpa menyebarkan isinya lebih luas.
"Saya hanya mencari catatan yang memang sudah ada," kata Gunawan. "Tidak membobol akun, tidak mengambil ponsel orang."
"Benar," jawab Bagas. "Catat siapa yang pertama menerima, kapan diteruskan, dan dari nomor mana."
"Bagian administrasi masih punya surel dalam arsip masuk. Saya minta mereka menyimpan salinan utuh beserta kepala pesannya, bukan hasil tangkapan layar. Untuk grup keluarga, saya akan bicara dengan admin dan penerima pertama."
Kirana menunjuk map. "Jangan beri tahu mereka bahwa kami mencurigai Melati. Kalau namanya bocor, dia bisa menutup jalur lain."
Gunawan menatap Kirana, lalu Bagas. "Sekarang kalian benar-benar satu tim?"
"Ada masalah?" tanya Bagas.
"Tidak. Saya hanya perlu tahu siapa yang memberi perintah kalau pendapat kalian berbeda."
"Fakta yang memberi perintah," jawab Kirana.
Gunawan tersenyum lebar. "Bagus. Akhirnya ada orang yang bisa mengalahkan pangkat Mas dengan satu kalimat."
Gunawan melihat tiga warna tinta. "Ini kerja Mbak Kirana?"
"Kenapa?"
"Kronologi Mas biasanya seperti laporan patroli. Semua hitam dan sulit dibaca."
"Kerjakan saja."
"Siap. Tapi kalau nanti menikah lagi, pertahankan sistem warna ini. Hidup Mas kelihatan lebih teratur."
Bagas menutup map tepat di depan wajahnya.
Siang itu, ia dan Kirana mendatangi KUA untuk konsultasi awal. Petugas memeriksa salinan akta cerai dan bertanya apakah perceraian tersebut talak pertama.
"Pertama," jawab Bagas.
"Ibu sedang hamil?"
Kirana mengangguk. "Sekitar sembilan sampai sepuluh minggu."
Petugas mencatat. "Kalau hasil pemeriksaan dokumen menegaskan talak raj'i dan Ibu masih dalam masa iddah, jalurnya rujuk, bukan akad baru. Karena hamil, masa tunggunya perlu dibuktikan dan dihitung sesuai keadaan kehamilan."
Ia menyerahkan daftar persyaratan.
"Siapkan KTP, kartu keluarga, surat pengantar dari kelurahan, akta cerai asli beserta salinan putusan, dan keterangan yang diperlukan untuk memastikan masa iddah. Saat pencatatan, keduanya harus datang. Kami juga akan memastikan Ibu setuju."
Bagas membaca daftar dua kali. "Setelah itu?"
"Kalau syarat terpenuhi, ikrar rujuk dilakukan di hadapan petugas dan dicatat dalam Akta Rujuk. Jangan menganggap konsultasi hari ini berarti sudah sah kembali."
"Kami mengerti," kata Kirana.
Ia masih memegang ujung daftar, belum berdiri. "Ada satu hal yang harus saya jelaskan. Kehamilan ini bermula sebelum akad kami yang dulu. Apakah itu mengubah proses rujuk?"
Bagas menoleh. Kirana memaksa dirinya tidak menunduk.
Petugas itu tidak menunjukkan keterkejutan. "Yang kami periksa untuk rujuk adalah perkawinan yang tercatat, jenis dan urutan talak, akta cerai, masa iddah, serta persetujuan kedua pihak. Jangan menyembunyikan keadaan kehamilan. Bawa keterangan dokter dan putusan lengkap supaya petugas dapat menilai berdasarkan dokumen, bukan cerita."
"Lalu untuk kedudukan anak?" tanya Bagas.
"Pencatatan kelahiran dan hubungan perdata punya dokumen serta penilaian sendiri. Saat waktunya mendekat, tanyakan ke Dukcapil atau Pengadilan Agama dengan berkas lengkap. Yang penting, jangan membuat pernyataan palsu untuk terlihat rapi."
Bagas mengangguk. "Kami akan menulis sesuai fakta."
Kirana melepaskan napas yang sejak tadi ditahan. Petugas itu tidak menyebutnya perempuan kotor atau menjadikan masa lalu sebagai alasan menolak pelayanan. Di atas meja, kisah hidup mereka berubah menjadi daftar dokumen yang bisa disiapkan satu per satu.
Di luar kantor, Bagas memasukkan daftar itu ke map bening.
"Kamu yakin?" tanyanya.
"Aku yakin ingin menyiapkan dokumennya. Untuk keputusan akhirnya, aku akan mengatakannya di depan petugas."
"Baik."
"Jangan pasang wajah kecewa."
"Aku tidak kecewa."
"Alismu turun."
Bagas sengaja mengangkat kedua alis. Kirana tertawa kecil.
Telepon Bagas bergetar sebelum tawa itu habis. Pesan dari Gunawan masuk bersama foto catatan waktu.
`Surel asli sudah ditemukan. Saya juga dapat nomor yang pertama meneruskan ke grup keluarga. Nomor itu pernah muncul di lingkaran orang dekat kediaman Adiningrat.`
Bagas menyerahkan layar kepada Kirana.
Senyum di wajah Kirana lenyap. Mereka saling pandang.
Jaring itu mulai menyempit.