Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAMU MONSTER ARIS
"Rahasia terakhir... tentang kematian Ayah?"
Suara Sora tercekik di tenggorokan. Air hujan yang mengalir deras di wajahnya tak sanggup menyamarkan lelehan air mata yang kembali merebak panas.
Genggaman Danu di kedua bahunya terasa mencengkeram begitu kuat, memenjarakan tubuh Sora yang sudah gemetar hebat. Di bawah kegelapan TPU yang diselimuti guyuran hujan badai, sosok Danu yang selama ini tampak tenang dan hangat kini bermutasi menjadi monster baru yang mengancam.
Danu tidak langsung menjawab. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata Sora, menyunggingkan senyuman tipis yang dingin—senyuman yang membuat darah Sora seketika mendidih sekaligus membeku.
"Ayahmu tidak meninggal hanya karena serangan jantung biasa setelah kebakaran gudang itu, Sora," bisik Danu. Nadanya amat pelan, namun mampu menggelegar mengalahkan suara dentum petir di atas langit malam.
Sora meronta sekuat tenaga. Ia memukul dada tegap Danu dengan sisa tenaganya, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman beracun tersebut.
"Lepaskan aku, Danu! Kamu pembohong! Kamu, Aris, dan Rian... kalian semua iblis!" jerit Sora histeris. Payung hitam di tangannya sudah lama terlepas, melayang dihantam angin malam yang menusuk tulang.
"Aku memang iblis kalau itu artinya aku bisa memilikimu secara utuh, Sora!" bentak Danu keras, justru makin mempererat rangkulannya di pinggang Sora, memangkas habis jarak di antara tubuh mereka yang basah kuyup.
Napas Danu yang hangat dan memburu berembus di perpotongan leher Sora. Aroma parfum kayu cedar yang basah bercampur aroma tanah hujan menyelimuti indra penciuman Sora—aroma yang dulu memberinya rasa aman, kini berubah menjadi mimpi buruk yang mencekik.
"Dengar aku, Sora!" desis Danu, menahan tengkuk Sora agar wanita itu terpaksa menatap matanya. "Malam setelah gudang itu terbakar... ayahmu mendatangi rumahku. Dia tahu ada permainan kotor di balik kebangkrutannya. Dia memohon pada ayahku untuk menyelamatkan sisa sahamnya demi kamu!"
Sora membelalakkan mata. Dada wanita itu naik-turun tak beraturan. "Lalu... apa yang ayahmu lakukan?"
Danu tertawa tawar di tengah guyuran hujan. "Ayahku menolaknya mentah-mentah. Ayahku mengusirnya dalam hujan deras malam itu, membiarkan serangan jantungnya kumat di dalam mobil tanpa pertolongan... Dan kamu tahu siapa yang memegang obat jantung ayahmu saat dia sekarat malam itu?"
Sora menahan napasnya, tangannya membeku di atas dada Danu.
"Aku, Sora..." bisik Danu penuh pengakuan gila. "Aku yang berdiri di luar mobil ayahmu, memegang botol obat itu, dan membiarkan ayahmu mengembuskan napas terakhirnya di depan mataku."
Kata-kata Danu bagaikan sembilu yang menyayat dada Sora hingga hancur berkeping-keping. Dunia di sekitarnya seakan runtuh sepenuhnya. Pria di hadapannya ini... tidak hanya terlibat dalam konspirasi kebangkrutan keluarganya, tapi dia juga secara tidak langsung membunuh ayahnya secara dingin!
"Kamu... kamu membunuh Ayahku..." cicit Sora dengan suara yang pecah.
"Aku membalas dendam untuk keluargaku!" tegasmya tanpa penyesalan. "Tapi setelah ayahmu mati, setelah Rian merebutmu, dan Aris mengurungmu... aku sadar kalau hukumanku untuk keluargamu sudah cukup. Cuma kamu yang tersisa, Sora. Kamu satu-satunya takdirku!"
Dengan dorongan histeris yang lahir dari rasa benci dan dendam yang mendalam, Sora mengumpulkan seluruh sisa kekuatannya. Ia menghentakkan kepalanya ke depan, menghantam hidung Danu dengan keras!
Bugh!
Danu meringis kesakitan, refleks melepaskan cengkeramannya saat darah segar mengucur dari hidungnya bercampur air hujan.
Sora tidak membuang detik. Tanpa memedulikan sandal tumit tingginya yang terlepas di lumpur, ia berlari kencang menerobos kegelapan TPU menuju mobilnya. Langkah kakinya yang bertelanjang kaki menghantam genangan air becek, namun rasa takut dan amarah memberinya tenaga ekstra.
Sora masuk ke dalam mobil, mengunci seluruh pintu dari dalam dengan jemari yang gemetar hebat, lalu menancap gas sekuat tenaga!
Mobil sedan milik Sora meluncur kencang meninggalkan TPU, memercikkan air lumpur ke arah Danu yang berdiri mematung di bawah guyuran hujan. Melalui kaca spion tengah, Sora melihat Danu menyapu darah di hidungnya, lalu melangkah santai menuju mobil sedan putihnya untuk mengejar.
Pukul delapan malam.
Jalanan tol yang menghubungkan Jakarta dan Bogor tampak licin diselimuti kabut tebal dan derasnya hujan. Sora mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, air matanya tak henti-hentinya menetes membasahi baju yang basah kuyup.
Setiap kali ia melihat kaca spion, sepasang sorot lampu depan mobil sedan putih Danu terus menempel ketat di belakangnya. Danu tidak memberi celah. Pria itu terus mengejarnya bagaikan pemburu yang menargetkan mangsanya.
Ponsel Sora yang tergeletak di dasbor mendadak menyala dan berdering nyaring. Panggilan masuk dari nomor asing.
Dengan tangan gemetar, Sora menekan tombol speaker di layar mobilnya.
"Sora! Jangan matikan teleponnya!"
Bukan suara Danu. Bukan pula suara Rian. Suara wanita di ujung telepon itu terdengar asing namun sangat panik.
"Siapa ini?!" teriak Sora di tengah deru mesin dan bunyi wiper mobilnya.
"Aku Siska, mantan sekretaris Aris di Singapura!" sahut suara wanita itu cepat. "Sora, kamu harus dengarkan aku sekarang! Jangan percaya pada siapapun yang mengejarmu malam ini!"
"Apa maksudmu?!"
"Aris belum mati, Sora!" seru Siska panik. "Kabar kematian Aris di penjara itu rekayasa! Aris membayar polisi dan narapidana untuk memalsukan kematiannya agar dia bisa keluar dari Lembaga Pemasyarakatan secara ilegal malam ini!"
Sora membelalakkan mata, jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya hendak meledak dari dada. "Ngg-nggak mungkin... Polisi sendiri yang memberi tahu aku..."
"Itu jebakan Aris untuk membuatmu lengah!" potong Siska histeris. "Danu dan Aris... mereka sebenarnya tidak pernah saling memusuhi, Sora! Semua pertengkaran mereka dari awal adalah skenario gila untuk memanipulasi pikiranmu agar kamu menyerahkan diri secara sukarela!"
BRAAKK!
Belum sempat Sora mencerna kebenaran yang mengerikan itu, benturan keras menghantam bagian belakang mobil Sora dari arah belakang!
Mobil Sora terdorong hebat ke depan, oleng melintasi jalanan tol yang licin. Sora menjerit histeris sambil memutar lingkar kemudinya sekuat tenaga untuk mempertahankan kendali.
Melalui kaca samping, mobil sedan putih Danu kini melaju sejajar dengan mobilnya. Kaca mobil Danu terbuka, memperlihatkan Danu yang mengemudi dengan tatapan dingin tanpa ekspresi.
Namun yang membuat seluruh bulu kuduk Sora berdiri hingga puncak ketakutan adalah sosok pria yang duduk di kursi penumpang di samping Danu.
Pria yang seharusnya sudah menjadi mayat di dalam penjara... Aris.
Aris duduk di sana dengan pakaian serba hitam, menyunggingkan senyuman miring yang mengerikan melalui kaca mobil yang basah, melambaikan tangannya pelan ke arah Sora.
Mobil Danu kembali sengaja membanting stirnya ke kanan, menghantam pintu samping mobil Sora dengan hantaman yang sangat dahsyat!
DUAARR!
Ban mobil Sora meletus seketika. Mobilnya berputar hilang kendali di atas aspal licin, menabrak pembatas jalan tol hingga terguling dua kali sebelum akhirnya berhenti dalam posisi terbalik di dasar pembatas jalan yang gelap.
Keheningan yang mencekam langsung menguasai ruangan mobil yang hancur.
Asap putih mengepul dari kap mesin. Sora terbaring lemah dalam posisi terbalik, tertahan oleh sabuk pengaman. Darah segar mengalir hangat dari keningnya, menetes ke atap dalam mobil yang pecah. Pandangannya kabur, tubuhnya terasa remuk dan mati rasa.
Di dalam kesadarannya yang perlahan menghilang, suara langkah kaki tegap yang menembus genangan air hujan mendekati bangkai mobilnya.
Pintu mobil yang ringsek ditarik paksa dari luar hingga terlepas.
Sepasang tangan tegap berbalut sarung tangan kulit merangkul tubuh Sora yang tak berdaya, memotong sabuk pengamannya, lalu menariknya keluar dari dalam mobil yang terbakar pelan.
Sora berusaha membuka matanya yang berat. Di antara rintik hujan dan samar cahaya lampu jalanan, wajah Aris mendekat, menatapnya dengan binar mata yang penuh kemenangan dan rasa kepemilikan yang murni gila.
Aris mengusap darah di kening Sora dengan jemarinya yang hangat, lalu membisikkan kata-kata yang membuat jiwa Sora tenggelam dalam kegelapan yang tak bertepi.
"Sudah kubilang kan, sayang..." bisik Aris dengan suara bariton yang amat sangat lembut di telinga Sora.
"Kamu nggak akan pernah bisa lari dari aku... bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun."