Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Suasana kafe pinggir jalan dekat stasiun kota terasa cukup bising siang itu.
Suara mesin blender minuman dan obrolan para pengunjung berpadu menjadi satu di dalam ruangan ber-AC itu.
Bima duduk tenang di sudut ruangan dekat jendela kaca besar.
Ia mengenakan jaket hitam kesayangannya sambil memesan secangkir es americano dingin.
Sruut...
Bima menyeruput kopi hitamnya pelan-pelan sambil mengawasi pintu masuk kafe.
Matanya melirik jam tangan digital di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul dua kurang lima menit.
Waktunya hampir pas, gumam Bima pelan dalam hati.
Tidak lama kemudian, pintu kaca kafe terbuka dan sesosok pria paruh baya berjas kusut masuk dengan terburu-buru.
Pria itu adalah Edi, orang kepercayaan Hendra yang kemarin tampak sangat arogan.
Wajah Edi tampak pucat pasi dengan keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
Edi mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kafe mencari keberadaan Bima.
Begitu melihat Bima duduk tenang di sudut, langkah kaki Edi langsung mendekat dengan cepat.
Brak!
Edi menarik kursi kayu di depan Bima dan langsung mendudukinya dengan kasar.
Bocah sialan, berani sekali kamu memeras kami! bentak Edi tertahan dengan suara bergetar karena emosi.
Bima menatap Edi sekilas tanpa sedikit pun mengubah ekspresi wajahnya yang dingin.
Silakan pesan minum dulu, Pak Edi, kita bisa bicara santai seperti rekan bisnis terhormat, jawab Bima tenang.
Jangan banyak basa-basi busuk! potong Edi dengan napas memburu dan mata melotot.
Mana buktinya? Hapus semua rekaman dan serahkan sertifikat itu sekarang juga! ancam Edi penuh geram.
Bima meletakkan gelas plastiknya perlahan di atas meja kayu.
Kluntung...
Suara gelas bersentuhan dengan meja terdengar renyah di tengah ketegangan mereka.
Santai saja, Pak Edi, darah tingginya nanti kambuh lho, sindir Bima dengan senyum tipis.
Aku tidak akan menyerahkan apa pun sebelum sepuluh miliar rupiah itu berpindah ke rekeningku, tegas Bima tanpa gentar.
Edi mengepalkan kedua tangannya sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Sepuluh miliar itu uang yang tidak sedikit, bocah gila! Perusahaan kami sedang krisis! teriak Edi frustrasi.
Bukan urusanku apakah perusahaan kalian mau bangkrut atau musnah, balas Bima dingin.
Pilihannya cuma dua: bayar sepuluh miliar atau aku kirim video semalam ke kantor polisi sekarang, ancam Bima telak.
Edi menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa begitu kering.
Ia tahu persis kalau Bima tidak sedang menggertak kosong saat ini.
Baiklah... kita sepakat dengan harga itu, ucap Edi dengan suara melemah penuh kepahitan.
Tapi siapkan kuitansi jual beli sah dan surat pelepasan hak waris di hadapan notaris, tambah Edi mengatur syarat.
Bima mengangguk pelan menyetujui syarat logis dari Edi tersebut.
Tentu saja, aku anak yang taat hukum, tidak seperti kalian yang suka merampas hak orang lain, sindir Bima tajam.
Edi mendengus kesal mendengar ucapan menyakitkan dari pemuda di hadapannya itu.
Kirim nomor rekeningmu sekarang, uang muka lima miliar akan kutransfer hari ini juga, tukas Edi pasrah.
Bima mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan nomor rekening baru yang ia buat khusus pagi tadi.
Kirim sekarang, dan kita buat akta notarisnya besok pagi, kata Bima instruktif.
Edi mencatat nomor rekening tersebut di ponsel miliknya dengan tangan masih sedikit gemetar.
Jangan coba-coba menipuku setelah uang itu cair, atau aku ratakan nama kalian, ancam Bima sekali lagi.
Edi bangkit dari kursinya, menyisakan sisa-sisa amarah yang bergemuruh di dalam dadanya.
Aku pergi sekarang, urusan kita belum selesai, Bima! ancam Edi sebelum berbalik badan melangkah pergi.
Bima hanya menatap kepergian Edi dengan senyum kemenangan yang terukir di wajahnya.
Sruut...
Bima kembali menyeruput sisa es americano di gelasnya dengan sangat santai.
Langkah pertama untuk menghancurkan kekayaan Hendra sudah resmi dimulai hari ini.
Uang lima miliar pertama akan segera masuk ke rekeningnya sebagai modal mendirikan perusahaan tandingan.
Bima berdiri dari kursi kafe dan melangkah keluar menuju udara sore kota yang sejuk.
Keluarga Hendra, nikmati sisa harta kalian sebelum semuanya kutarik satu per satu, batin Bima penuh percaya diri.