NovelToon NovelToon
PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.

Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.

Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.

Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.

Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.

Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.

Mereka belum tahu…

perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Terjebak dalam Bayang-Bayang Cinta Pertama

Tantya baru saja hendak merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur ketika ponsel yang diletakkan di samping bantal tiba-tiba berdering. Nama Rendra tertera di layar. Dia sempat menghela napas sebelum mengusap layar ponsel untuk menerima panggilan tersebut.

"Assalamualaikum."

"Packing segera. Besok pagi kita pulang ke Jakarta. Masa cutiku sudah habis."

Bukannya menjawab salam, Rendra justru langsung menyampaikan perintah dengan nada tegas. Seolah-olah Tantya tidak punya hak untuk menentukan keinginannya sendiri.

"Maaf, Mas. Aku nggak bisa. Aku mau tinggal di sini dulu selama satu atau dua minggu. Mas pulang sendiri saja."

"Apa? Nggak bisa begitu! Lama banget sampai dua minggu? Kamu mau dipecat baru tahu rasa?"

"Iya, nggak apa-apa kalau dipecat juga," jawab Tantya enteng tanpa sedikit pun menunjukkan kekhawatiran.

"Jangan sombong kamu! Kalau benar-benar dipecat, baru nangis bombay kamu!"

Tantya memutar bola matanya. Dia sudah terlalu lelah menghadapi sikap Rendra yang selalu merasa berhak mengatur hidupnya.

"Sudahlah, Mas. Aku mau tidur."

Namun, sebelum panggilan itu berakhir, Rendra kembali melontarkan permintaan lain.

"Kalau memang kamu nggak pulang ke Jakarta besok, gak apa-apa, tapi mobilnya mau aku pakai."

"Maaf, nggak bisa, Mas. Aku masih membutuhkan mobil itu untuk mobilitas selama di sini."

"Terus aku pulang ke Jakarta bagaimana?"

"Itu masalah Mas, bukan masalahku."

"Tantya!"

"Sudah, ya. Aku ngantuk. Assalamualaikum."

Belum sempat Rendra kembali melayangkan protes, Tantya sudah lebih dahulu mengakhiri panggilan. Dia meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian menarik selimut dengan perasaan lega.

Kini, dia tidak lagi merasa harus menuruti semua kemauan suaminya. Jika selama ini Rendra selalu memaksakan kehendak tanpa memikirkan perasaannya, sekarang Tantya pun berhak melakukan hal yang sama: menentukan apa yang terbaik untuk dirinya sendiri.

Sementara itu, di tempat berbeda, Rendra langsung meledak dalam kemarahan. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal kuat menggenggam ponsel.

"Kurang ajar! Brengsek! Bisa-bisanya dia mempermainkan aku seperti ini. Mentang-mentang sudah berani melawan, sekarang seenaknya sendiri!"

Rendra mondar-mandir dengan langkah kasar. Dia benar-benar tidak menyangka Tantya akan berani menolak perintahnya, bahkan menolak menyerahkan mobil yang selama ini biasa digunakannya.

"Lihat saja nanti, Tya! Kamu pikir bisa seenaknya mempermainkan aku? Aku akan kasih kamu pelajaran!"

Amarah Rendra semakin membara. Namun, ada satu hal yang belum disadarinya. Tantya yang selama ini selalu mengalah dan berusaha menjaga keutuhan rumah tangga mereka, perlahan sudah berubah. Perempuan itu tidak lagi mudah ditakut-takuti dengan ancaman.

"Ada apa sih, Ren? Kedengarannya dari tadi marah-marah terus?" tanya Bu Martha yang mulai penasaran melihat putranya terus mengomel sejak tadi.

"Gimana nggak marah, Bu. Tya nggak mau pulang besok. Katanya mau tinggal di rumah ibunya selama satu atau dua minggu."

"Ya biarin aja. Paling nanti juga dipecat kalau dia nggak masuk kerja selama itu," jawab Bu Martha enteng, seolah persoalan tersebut bukan sesuatu yang perlu dipikirkan serius.

Rendra mengembuskan napas kasar. "Masalahnya, dia juga nggak mau menyerahkan mobil itu. Dia tetap mau membawanya sendiri. Terus aku pulang ke Jakarta bagaimana? Mau berangkat kerja juga bagaimana?"

"Oh iya, ya." Bu Martha mengangguk-angguk. Baru sekarang dia menyadari bahwa keputusan Tantya ternyata cukup merepotkan putranya.

"Ancam aja, Mas. Apa susahnya?" Farah yang baru saja datang tiba-tiba ikut nimbrung dalam pembicaraan.

"Nggak bisa diancam. Sekarang dia sudah berani melawan. Dulu masih bisa diatur, sekarang malah berani membantah semua perkataanku," gerutu Rendra kesal.

"Ya sudah, ceraikan aja, Mas. Kembali saja sama Mbak Andin. Dia lebih mapan, pekerjaannya keren karena lulusan S1. Jadi, nggak bikin malu keluarga," celetuk Selina yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka.

Rendra terdiam sesaat. Namun, bukannya tersinggung, dia justru tersenyum lebar.

"Bener juga kamu, Lin." Rendra terkekeh sambil mengangguk. Matanya berbinar seolah baru saja menemukan sebuah jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapinya. Usulan Selina terdengar begitu menarik baginya. Bahkan, untuk sesaat, dia mulai membayangkan kemungkinan kembali menjalin hubungan dengan Andin.

Sementara itu, tak seorang pun di ruangan tersebut memikirkan bagaimana perasaan Tantya. Seolah-olah perempuan itu hanya seseorang yang bisa disingkirkan begitu saja ketika sudah tidak lagi memenuhi keinginan mereka.

"Benar. Lebih baik cari pengganti saja kalau istri sudah nggak mau diatur. Memangnya dia siapa berani melawan kamu? Orang miskin kok belagu!" Niken ikut memanaskan suasana. Baginya, Tantya memang tidak pantas bersikap seperti itu kepada Rendra.

"Btw, dia sekarang kaya juga, lho. Buktinya punya uang banyak. Mau merenovasi rumah ibunya saja berani mengeluarkan lima puluh juta," sahut Arga yang biasanya lebih banyak diam. Kali ini dia ikut angkat bicara.

"Ah, paling juga uang pinjaman," timpal Farah enteng, seolah tak percaya Tantya bisa memiliki uang sebanyak itu.

"Tapi, penampilan dia kemarin juga keren, lho," lanjut Arga.

"Iya, bajunya itu pasti mahal," Arya ikut mendukung perkataan adiknya.

Niken langsung mendelik. Dia merasa heran melihat suami dan adik iparnya justru membicarakan penampilan Tantya dengan penuh kekaguman.

"Kalian ini kenapa, sih? Kok seperti terpesona begitu?" sindirnya.

"Bukan terpesona. Kami cuma ngomongin fakta. Kemarin Tya memang tampil keren. Baju dan riasannya kelihatan berkelas," jawab Arga santai.

"Penampilan biasa saja dibilang berkelas. Atau jangan-jangan Mas malah naksir, ya?" Niken menatap suaminya tajam. Nada suaranya terdengar penuh kecurigaan.

"Lho, kok kamu ngomongnya begitu? Sudahlah, nggak usah membahas itu lagi." Arga mulai merasa tidak nyaman. Dia segera bangkit dari tempat duduknya, lalu meninggalkan mereka yang masih asyik membicarakan Tantya.

Niken hanya bisa menatap kepergian suaminya dengan wajah masam. Entah mengapa, pembicaraan sederhana tentang penampilan Tantya tadi justru membuatnya merasa kesal. Sepertinya, dia tidak suka jika ada orang lain yang memuji perempuan yang selama ini mereka anggap tidak sepadan dengan keluarga mereka.

Rendra sama sekali tidak menanggapi ketika kedua kakaknya memuji penampilan Tantya yang terlihat memesona. Dia hanya mendengus pelan, seolah tak tertarik dengan pembicaraan tersebut. Baginya, penampilan sang istri tidak ada yang istimewa. Tantya tetaplah perempuan biasa yang jauh dari kesan elegan.

Pikirannya justru melayang kepada perempuan lain, Andini. Sosok yang pernah menjadi cinta pertama dalam hidupnya. Di mata Rendra, Andini jauh lebih berkelas dan memiliki penampilan yang selalu berhasil membuatnya terkesan.

Setiap kali berangkat ke kantor, Andini selalu mengenakan pakaian kerja yang elegan. Perpaduan busana, riasan, dan pembawaannya membuat perempuan itu terlihat anggun sekaligus profesional. Sangat berbeda dengan Tantya yang menurutnya lebih sering tampil santai.

Ya, maklum saja pelayan toko. Mana bisa dibandingkan dengan pegawai kantoran? batinnya meremehkan.

Tanpa sadar, Rendra kembali membandingkan dua perempuan itu. Dia seolah lupa bahwa selama ini Tantya adalah istrinya yang telah mendampingi dan mengurus banyak hal dalam kehidupannya. Namun, karena terlalu sibuk mengagumi masa lalu, dia justru gagal melihat kelebihan perempuan yang kini berada di sisinya.

1
Heny
What lagi asyik baca thor.. Lanjut
Heny
Jng mau di bujuk di rayu tya jng banyak mengalah
Heny
Gercap tya jng tunggu lama2 amankan aset ygkm punya
Heny
Sudah lah tya lbh baik pisah dr pada dimanfaatkan
Heny
Duh tantya besok2 klau diajak jng mau lbh baik jln sendiri
Ma Em
Keluarga Rendra rencananya mau permalukan Tantya eh ga taunya malah mereka yg malu sendiri karena baju yg dipakai Tantya lbh bagus dari mereka pakai , lbh baik Tantya cepat berpisah dgn Rendra .
Mundri Astuti
bis acara lamaran...hempasin laki" mokondo itu tantya
stela aza
kurang gercep terlalu mengalah trs ,,, di hina di injak injak harga dirinya diem Bae balas donk ,,,, g seru bgt
Mundri Astuti
hempasin aja laki modelan gini
Putri Wulandari
lanjut
stela aza
lemmot
mama
kelamaan,kurang sat set.. tinggal in aj suami macam kyk gitu..
Suhaida Tania
menantu kurang ajar, tidak ada sopan santun kepada ibu mertua
Ma Em
Tantya jgn mau bila diajak pulang sama Rendra biar saja Rendra pulang sendiri , Tantya jgn mau lagi disuruh suruh karena Tantya bkn pembantu apalagi Tantya selalu dihina dan diremehkan sama keluarganya Rendra biar mereka sadar tanpa bantuan dari Tantya Rendra dan keluarganya tdk punya apapa .
Ma Em
Tantya saja yg bodoh kenapa kamu mau saja bantu Rendra dan keluarganya meskipun selalu dihina dan direndahkan karena Tantya selalu diam tdk melawan makanya mereka berani menghina dan menginjak injak harga dirimu Tantya , lbh baik mulai sekarang tdk usah bantu lagi orang orang yg tdk tau diri tdk tau terima kasih biarkan mereka hdp nya susah tanpa bantuan Tantya , Rendra dan keluarganya pasti akan menderita
Ma Em
Tantya kamu jgn istri bodoh mau saja diperlakukan seperti pembantu dihina dan dikucilkan , bangkit Tantya kamu hrs berani melawan Rendra dan keluarganya dan kalau Rendra atau ibunya minta uang sama Tantya jgn kasih biar saja Rendra yg kasih uang untuk ibunya , Tantya jgn mau diremehkan lagi tinggalkan saja suami modelan si Rendra untuk apa dipertahan kan kalau tantya cuma jadi bahan ejekan dan hinaan .
ros
Tunggu byk episode Dan hampir end baru baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!