Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.
Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.
Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.
Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.
Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Part 35
Diandra mengusap kasar air mata yang berada di pipinya, tatapannya begitu dingin saat membayangkan bagaimana sikap Alfan padanya terutama saat bersama dengan calon istrinya, Tina. Seorang wanita yang akan menjadi musuhnya dan saingannya untuk memiliki Alfan seutuhnya, ya Diandra akan mengalahkannya. Tak peduli dia siapa, karena hanya dengan melihatnya saja, sudah membuat Diandra merasa muak, merasa sangat membencinya meski tidak ada yang salah darinya.
Kali ini adalah kesempatan terakhir Diandra untuk mendapatkan cinta Alfan, setelah kedua orang tuanya memberinya sebuah pilihan. Karena setelah acara pertunangannya yang sempat kacau kemarin, Mama tiri dan papanya mengatakan hal yang tidak pernah Diandra duga sebelumnya.
Saat itu, Diandra masih menangis di sebuah taman, tidak memedulikan tamu undangan yang sudah jauh-jauh datang. Hatinya hancur saat tahu Alfan akan menikah, dan yang lebih membuatnya terpuruk, wanita itu adalah Tina, kakak tirinya yang tidak pernah ditemuinya.
"Diandra," panggil mamanya saat itu, sedangkan papanya juga berada di belakangnya.
"Ada apalagi, Ma? Mama mau suruh aku melanjutkan pertunangan ini? Aku enggak mau, aku enggak cinta sama Andra, Ma." Diandra menatap ke arah mamanya yang tersenyum lembut.
"Enggak kok."
"Mama malah mau kasih kamu pilihan yang menarik?"
"Maksud Mama apa?" tanya Diandra bingung sembari bergantian menatap ke arah Mama dan papanya.
"Kita akan pindah ke Jakarta dan kamu akan ikut, tapi kamu harus bisa menggoda Alfan supaya dia bisa menyukai kamu."
"Kenapa aku harus melakukan itu? Kak Alfan kan akan menikah?"
"Ya karena Alfan akan menikah, makanya Mama kasih kamu kesempatan untuk mendekati dia kalau perlu menggagalkan pernikahannya. Atau kamu mau di sini, menangis tapi harus tetap melanjutkan pertunangan kamu dengan Andra. Bagaimana?" ujar sang mama yang tidak bisa Diandra jawab dengan mudah, karena pada dasarnya ia memang ingin memiliki Alfan, namun orang tuanya menentang dan bahkan memaksanya untuk bertunangan dengan Andra. Sekarang, mereka justru mendukungnya, tentu saja Diandra tergiur melakukannya dari pada harus bertunangan dengan lelaki yang tidak ia cintai.
"Aku mau memiliki Kak Alfan, Ma. Aku mau menikah sama dia, bukan Andra."
"Kalau begitu kamu mau pindah ke Jakarta?"
"Iya, itu pasti." Diandra menjawab mantap yang disenyumi penuh arti oleh kedua orang tuanya.
***
Alfan keluar dari mobilnya dengan mata keheranan, karena ada mobil lain yang tidak dikenalinya berada di halaman rumahnya. Alfan sempat berpikir mungkin mobil itu milik teman papanya, ia juga berusaha untuk tidak memikirkannya. Sampai saat Alfan masuk ke dalam rumah, dan mendapati orang-orang yang sangat dikenalinya berada di ruang tamunya.
Mereka adalah Diandra dan kedua orang tuanya, mereka tampak berbincang-bincang dengan akrabnya, membuat Alfan merasa tak percaya dengan keberadaan mereka yang bisa-bisanya berada di rumahnya.
"Alfan. Kamu sudah pulang, Sayang? Sini dulu, ada Diandra, Om Harris, dan Tante Ratna loh." Mamanya tersenyum sembari melambaikan tangan ke arah Alfan yang dengan sangat terpaksa berjalan ke arah sofa.
"Kamu tahu enggak, sekarang mereka pindah di kota ini loh, mereka akan membangun bisnis mereka juga di sini."
"Oh, itu bagus. Tapi jangan harap bisa bekerja sama lagi dengan perusahaan kita ya, Ma." Alfan menjawab serius, membuat papanya yang biasanya tidak memedulikan masalah perusahaan merasa penasaran.
"Apa maksud kamu, Al? Jangan bilang kamu memutus hubungan kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan Harris?" tanya sang papa kali ini.
"Iya, Pa."
"Kenapa kamu melakukannya? Kita itu sudah bekerja sama dengan mereka itu enggak setahun dua tahun, tapi sudah puluhan tahun."
"Memangnya kenapa kalau aku memutus hubungan kerja sama itu? Toh, enggak akan berdampak di perusahaan kita kan?" Alfan menatap ke arah papanya yang terlihat heran dengan sikapnya.
"Sebenarnya ini juga yang ingin aku bicarakan dengan kalian, masalah kerja sama ini tidak seharusnya diputus apalagi Alfan kan akan menikah dengan Tina." Harris berujar serius yang ditatap tak mengerti oleh orang tua Alfan.
"Jangan bawa-bawa Tina ya, Om." Alfan menunjuk ke arah Harris yang hanya tersenyum seolah tidak peduli dengan peringatan Alfan.
"Memangnya ini ada apa sih? Kenapa Alfan sampai memutus hubungan kerja sama kalian, ini pasti ada penjelasannya kan? Alfan juga enggak mungkin melakukan itu kalau bukan karena ada hal penting yang sudah menyinggung perasaan dia. Sebenarnya ini ada apa, Al?" tanya sang mama terdengar khawatir.
"Aku juga enggak tahu, tiba-tiba di pertunangan Diandra, Alfan berbicara hal itu, padahal Ratna kan ibu kandung dari calon istrinya. Tapi dia justru bersikap tidak sopan dengan kita, calon mertuanya sendiri," sahut Harris yang tentu saja membuat Alfan geram melihatnya. Merasa tak menyangka saja lelaki seperti Harris bisa berbicara licik, seolah akan memanfaatkan kesempatan di dalam sebuah permainan.
"Tunggu. Apa maksud kamu? Ratna adalah ibu kandung Tina? Bagaimana mungkin? Aku memang belum bertemu dengan orang tua Tina, tapi setahuku kalian tidak memiliki anak lagi selain Diandra kan?" Mama Alfan bertanya bingung, merasa belum mengerti dengan apa yang terjadi.
"Ceritanya panjang, Jeng. Sebenarnya Tina itu anak kandung saya dari suami saya yang dulu. Saat Tina masih kecil, saya bercerai dengan suami saya lalu Tina ikut papanya." Ratna menjawab menyedihkan seolah ceritanya begitu memengaruhi perasaannya saat ini.
"Iya, tapi saat di pertunangan Diandra, Anda malah tidak mengakuinya kan? Anda bahkan menghinanya, itu lah kenapa saya memutuskan untuk membatalkan kerja sama diantara perusahaan kita." Alfan menyahut tegas, merasa marah saat mengingat kejadian buruk itu, ia bahkan harus melihat Tina menangis hingga tertidur.
"Iya, Al. Tante ingat itu, tapi Tante melakukannya karena Tante masih membenci papanya Tina, jadi Tante tidak bisa mengakui Tina saat itu."
"Membenci papanya Tina? Bukannya seharusnya mereka ya yang membenci Tante? Tante yang sudah mengkhianati mereka, Tante juga sudah mengusir mereka," jawab Alfan tak percaya, bisa-bisanya wanita itu berbicara seolah tak memiliki salah.
"Iya, Tante tahu itu. Tapi kan kamu tidak tahu masalahnya apa, Tante juga sudah berusaha melupakan kesalahan mereka, tapi saat itu Tante syok melihat Tina, jadi Tante tidak mengakui dia. Sekarang Tante ingin memperbaiki hubungan dengan Tina, Tante juga mau minta maaf sama dia, Tante cuma ingin semua seperti dulu meskipun tidak bisa menjadi istri papanya Tina lagi tapi setidaknya Tante masih ibu kandungnya Tina kan?" Ratna menjawab penuh kelembutan sembari menyentuh dadanya seolah ucapannya adalah kebenaran yang sebenarnya.