Judul Novel: TUMBAL 1000 NYAWA
Sinopsis:
Sekte ghaib Kala Hitam berniat membangkitkan sosok Penguasa Abadi yang haus darah. Untuk mewujudkannya, sekte ini menebar teror Sumpah Sewu—sebuah ritual kelam yang menuntut seribu tumbal nyawa manusia di tujuh cabang wilayah terisolasi di Pulau Jawa.
Arya, seorang pemuda wewaris kekuatan kuno Minyak Naga Sakti, mendapati takdirnya terikat pada ancaman besar ini. Didampingi oleh Baskara—ayahnya yang merupakan petarung veteran penuh trauma masa lalu, Mbak Sekar—seorang praktisi mystik senior, serta Kirana—putri pakar gaib yang dibekali rajah ular beracun, Arya memulai perjalanan berbahaya untuk memutus rantai sumpah terlarang tersebut.
Satu per satu jangkar ritual harus mereka hancurkan: mulai dari teror ilmu pelet di Desa Alas Mayit, ilusi ingatan Pasang Tuwuh di Hutan Kelabu Gunung Lawu, gending nyanyian kematian Langgam Sukma di Lembah Rawa Bangkai, hingga kekejaman tempaan pusaka jiwa di Kawah Candradimuka. Baca untuk melanjutkan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banjoriuga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh Cabang Sumpah Hitam
Aroma minyak cendana yang keluar dari gulungan kain mori hitam itu merebak perlahan, menembus sisa-sisa bau belerang yang telah memudar di dalam Gua Langse. Gulungan kain mori tua yang terikat serat rotan kering itu terbaring kaku di atas basahnya batu kapur, seolah-olah sengaja menanti tangan yang ditakdirkan untuk membuka rahasia kelamnya.
Arya melangkah mendekat dengan napas kian teratur. Rasa letih di tubuhnya memang belum sepenuhnya hilang, tetapi ketenangan yang kini mengalir di dadanya memberi kekuatan baru. Tanpa keberadaan belati perunggu yang telah meluruh menjadi abu, jemari Arya dengan perlahan meraih kain mori hitam tersebut lalu memotong tali serat rotan pengikatnya.
Saat lipatan kain mori hitam terkapar terbuka, sebuah peta kulit lembu tua terhampar di depannya. Di atas permukaan kulit yang kusam itu, terlukis simbol-simbol Jawa Kuno yang digambar menggunakan tinta darah yang membatu. Sebuah lingkaran utama berada di tengah—menandai lokasi Desa Alas Mayit—dan dari lingkaran tersebut menjalar enam garis merah kehitaman yang membentang ke enam penjuru mata angin yang berbeda.
"Sumpah Alas Mayit... hanyalah satu dari tujuh cabang ritual Kala Hitam," bisik Kirana seraya berlutut di samping Arya. Matanya menyusuri setiap ulasan tinta darah pada peta tersebut dengan tatapan tidak percaya. "Setiap cabang dipimpin oleh pimpinan sekte yang berbeda, menagih seribu nyawa di wilayahnya masing-masing demi membangkitkan sosok Penguasa Abadi."
Baskara menyentuh bahu Arya, matanya menatap tajam ke arah simbol-simbol di peta tua itu. "Artinya, Mbah Suro, Mbah Jarwo, dan Kakekmu hanyalah penguasa di cabang pertama. Enam wilayah lain masih berada di bawah bayang-bayang kutukan yang sama."
Mbak Sekar mendekat seraya menyapu sisa-sisa beras kuning di tangannya. "Jika rantai di Alas Mayit sudah terputus, pimpinan di enam cabang lainnya pasti sudah merasakan hancurnya cermin perunggu di tempat ini. Mereka tidak akan tinggal diam."
Tiba-tiba, dari dalam peta kulit lembu di tangan Arya, salah satu dari enam garis merah—garis yang mengarah ke wilayah Hutan Kelabu di lereng Gunung Lawu—memancarkan pijar api redup. Suara desisan halus keluar dari simbol tersebut, diiringi aroma asap kemenyan bakar yang mendadak menyeruak memenuhi ruangan gua.
Arya menatap ayah dan kawan-kawannya dengan pandangan mantap. "Teror di tanah ini memang telah usai, tetapi kita tidak bisa membiarkan enam wilayah lainnya membusuk dalam ketakutan yang sama. Kita harus mendatangi Hutan Kelabu."
Asap kemenyan yang keluar dari rajah di atas peta kulit lembu membubung tinggi sebelum meliuk hilang disapu hembusan angin laut dari mulut gua. Garis merah yang menunjuk ke arah Hutan Kelabu di lereng Gunung Lawu menyala kian redup, meninggalkan bekas hitam gosong yang menandakan bahwa pimpinan cabang kedua di wilayah tersebut telah mulai menyadari jatuhnya cermin perunggu di Gua Langse.
Baskara membantu Mbak Sekar berdiri seraya membenahi sisa rantai besi yang melilit lengannya. "Hutan Kelabu adalah wilayah kekuasaan Ki Ageng Larang. Dulu, sewaktu kakekmu mengikat janji Alas Mayit, Ki Ageng Larang adalah orang yang menyumbang ilmu pelet darah dan pasang tuwuh seribu kemenyan untuk ritual Kala Hitam."
"Dia bukan sekadar pengabdi biasa," potong Kirana seraya menggulung kembali peta kain mori hitam dengan hati-hati. "Ki Ageng Larang memanfaatkan ilmu tuwuh itu untuk mengikat seluruh desa di kaki Gunung Lawu dalam bayang-bayang ilusi hantu kelabu. Di sana, warga tidak mati sekaligus, melainkan digerogoti jiwanya sedikit demi sedikit hingga mereka lupa akan wujud mereka sendiri."
Arya berdiri tegak, menyapu pandangannya ke sekeliling rahim Gua Langse yang kini hening dan terang oleh pantulan air laut yang jernih. Meskipun belati perunggu peninggalannya telah hancur menjadi debu, pendar keemasan dari Minyak Naga Sakti masih menyatu halus di dalam aliran darahnya. Ia merasakan aura gaib di dalam tubuhnya kini mengalir jauh lebih tenang namun bertenaga.
"Kita kembali ke desa terlebih dahulu untuk memastikan warga Alas Mayit aman dan menyiapkan perbekalan," kata Arya seraya menyelipkan peta kulit lembu ke dalam saku jaketnya. "Perjalanan menuju lereng Lawu akan melintasi wilayah-wilayah terisolasi yang mungkin sudah dipasang jebakan oleh utusan Ki Ageng Larang."
Mereka berempat bergerak menaik undakan tangga batu kapur, meninggalkan dasar Gua Langse yang telah terbebas dari kutukan puluhan tahun. Saat mereka keluar menyusuri tebing pantai selatan, sinar matahari pagi melimpah hangat menyirami laut lepas yang membiru, menyapu setiap sisa kepekat aura teror yang pernah membayangi kawasan tersebut.
Tiba di garis batas Desa Alas Mayit, warga desa yang dipimpin oleh para tetua kampung menyambut kedatangan mereka dengan haru. Tidak ada lagi raungan ghaib, tidak ada lagi bau belerang yang mencekik dada. Namun, Arya tahu keberadaannya di desa itu tidak bisa berlangsung lama; bayang-bayang Hutan Kelabu sudah mulai memanggil dari kejauhan.
mampir juga diceritaku yah😊