NovelToon NovelToon
Pendekar Sang Penakluk

Pendekar Sang Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: SATU TAMPARAN UNTUK SERIBU IBLIS

Dalam perjalanan menuju medan perang perbatasan Klaten dan Boyolali, Bima Samudra dan kedua wanita di sisinya, Amelia dan Intania, sangat menikmati keindahan alam Tanah Jawa dari atas punggung Phoenix Raksasa Sekar Lestari.

Gunung Merapi terlihat gagah menjulang, hamparan sawah di Sleman tertata rapi, dan Sungai Bengawan Solo berkelok indah menghiasi sepanjang perjalanan. Angin pagi menerpa wajah mereka dengan sejuk.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Sebuah lembah luas yang bernama Lembah Kematian Merapi. Semua orang dari berbagai perguruan dan faksi sudah berkumpul di sana. Ada Perguruan Mawar Merah dari Solo, Perguruan Naga Hitam dari Yogyakarta, Pasukan Keraton dari Solo dan Jogja, pendekar-pendekar dari Surabaya, Malang, hingga Bali. Semuanya berkumpul untuk satu tujuan, menghadang Ras Iblis Ekstratoritorial yang segelnya sudah hampir pecah.

Tak lama setelah mereka mendarat dengan megah dan menjadi pusat perhatian, datang seorang Tuan Muda dari Kerajaan Barat, yaitu dari wilayah Banten dan Lampung, yang sangat angkuh. Namanya Raden Bagas, cucu dari seorang tetua yang terkenal kejam.

Dengan sombongnya, ia berjalan mendekati Amelia dan Intan, menatap mereka dengan tatapan merendahkan.

"Hei, dua gadis cantik dari Anggrek Putih. Daripada ikut perguruan kecil seperti ini, lebih baik kalian berdua menemani ku saja di tenda Kerajaan Barat. Aku jamin kalian akan aman dan hidup mewah," kata Raden Bagas dengan nada merayu namun menghina.

Namun Amelia dan Intan hanya mengabaikannya, bahkan tidak menoleh sama sekali. Mereka tetap berdiri di samping Bima.

Tuan Muda yang tidak terima diabaikan oleh dua wanita di depan ratusan pendekar itu pun marah besar, mukanya memerah karena malu, dan berniat menyerang dengan menarik tangan Intan secara paksa.

Melihat itu, Bima Samudra tidak tinggal diam. Ia melangkah maju satu langkah dan langsung menghadangnya dengan sangat mudah, hanya dengan mengibaskan tangannya pelan.

"Plak..."

Tangan Raden Bagas terpental jauh.

"Pergilah sebelum kau menyesal. Jangan pernah menyentuh teman ku tanpa izin," ujar Bima dengan suara yang dingin dan dalam.

Sontak, melihat hal itu, Tuan Muda yang sudah geram karena diabaikan oleh Amelia dan Intan segera ingin menjadikan Bima sebagai pelampiasan kemarahannya.

Namun saat Tuan Muda itu melayangkan pukulan Jurus Racun Pamungkasnya ke arah Bima, Bima hanya menatapnya dengan tatapan bosan.

Bima langsung menamparnya dengan satu tamparan ringan yang terlihat santai.

"Plakkk... Duuuaarrr..."

Tuan Muda itu terbang seperti layang-layang putus, melayang sejauh dua puluh meter dan mendarat dengan tersungkur di atas lumpur hingga memuntahkan seteguk darah segar. Jubah mahalnya robek dan kotor.

Sontak, melihat itu, semua orang yang ada di Lembah Kematian itu kaget bukan kepalang. Bagaimana tidak, Tuan Muda dari Kerajaan Barat yang sangat berbakat dan sudah di tingkat Alam Bumi, malah tak berdaya sama sekali di depan pemuda yang tidak tahu asal usulnya ini, yang hanya mengenakan pakaian sederhana.

Bima tak menghiraukan tatapan orang-orang di sekitarnya, dia terus berjalan pelan menuju Tuan Muda itu yang masih tergeletak. Melihat tatapan dingin Bima yang sangat mengerikan dan penuh wibawa, Tuan Muda itu menjadi ketakutan dan mencoba mengancam.

"Awaaasss... Jangaaann mendeeekat... Kau tidak tahu siapa kakek ku...! Kakek ku adalah Racun Barat yang terkenal...!" kata Tuan Muda itu yang mencoba menggunakan latar belakang keluarganya untuk menakuti Bima.

Dengan dingin, Bima pun mengejeknya dengan kalimat yang membuat semua orang terdiam lalu tertawa.

"Aku tidak peduli dengan kakek mu. Jika kau mau tahu siapa kakek mu yang sebenarnya, harusnya kau bertanya dengan nenek mu, bukan dengan ku," ejek Bima dengan dingin dan santai.

Mendengar ejekan Bima yang sangat cerdas dan menohok itu, sontak orang-orang di sana tidak kuasa menahan tawa. Mereka tertawa terbahak-bahak. Tuan Muda yang sudah merasa sangat malu dan terhina di depan ratusan pendekar itu segera menyuruh anak buahnya untuk meminta bantuan kepada kakeknya yang ada di tenda utama.

"Setelah kakek ku datang, kau akan habis, bajingan...! Kau akan menyesali perbuatan mu ini...!" ancam Tuan Muda itu sambil terbatuk darah.

"Kurasa kau yang akan menyesal karena telah mengajak kakek mu yang sudah bau tanah itu untuk mati bersama mu di sini," kata Bima dengan acuh tak acuh, tangannya berada di saku.

"Sombong...! Kau tidak tahu siapa kakek ku...! Cepat berlutut dan minta maaf, mungkin dengan begitu aku masih bisa memaafkan mu...!" bentak Tuan Muda itu dengan geram, masih berusaha menjaga gengsinya.

"Plakkkkk...!!"

Terdengar suara keras yang ternyata Bima kembali menampar Tuan Muda itu untuk kedua kalinya hingga Tuan Muda itu berteriak kesakitan dan berguling-guling di tanah.

"Anak muda, keberanian mu sungguh besar, berani menyakiti keturunan ku...!"

Terdengar suara berat dan serak dari langit. Ternyata itu adalah kakek dari Tuan Muda itu, seorang kakek tua berjubah hitam kehijauan yang wajahnya penuh racun. Julukannya adalah Racun Barat, tetua dari Banten yang terkenal kejam.

Orang-orang di lembah itu mulai saling berbisik ketakutan bahwa Bima akan mati mengenaskan di tangan Racun Barat, karena Racun Barat sudah berada di tingkat Alam Surgawi.

"Hai, Pak Tua, semua orang di sini melihat dengan jelas kalau cucu mu lah yang mengganggu kedua teman ku terlebih dahulu. Makanya aku memberi nya sedikit pelajaran sopan santun. Jika kau ikut campur membelanya tanpa melihat kebenaran, jangan salahkan aku jika aku tidak akan menghormati mu sebagai orang yang lebih tua," kata Bima memperingatkan si Racun Barat itu dengan berani, tanpa rasa takut sedikit pun.

"Jangan menggertak ku, Anak Muda...! Mari kita lihat apakah setelah ini kau masih bisa bicara sombong...!" kata orang tua yang dipanggil sebagai Racun Barat itu.

Ia segera mengeluarkan teknik andalannya, Teknik Racun Pencair Semesta. Sebuah kabut hijau pekat yang sangat berbau busuk dan bisa melelehkan baja dalam sekejap, melesat ke arah Bima.

Menurut rumor di dunia persilatan Jawa Barat, teknik ini sangat mengerikan, siapa pun yang terkena pasti akan mati mengenaskan dengan tubuh meleleh.

Melihat itu, Bima hanya mencibir pelan, "Sampah."

Seraya menyelimuti tubuhnya dengan Api Nirvana keemasan dari warisan Phoenix nya. Api itu tidak panas bagi Bima, namun terlihat sangat suci dan agung.

Sontak begitu serangan racun hijau itu mendekat, dalam sekejap musnah, terbakar habis tanpa sisa oleh Api Nirvana. Bahkan udaranya menjadi harum kembali.

Melihat itu, Racun Barat sontak kaget tak percaya, matanya melotot.

"Tidak mungkin... Tidak mungkin... Bagaimana ini bisa terjadi...? Racun ku tidak pernah gagal...!" kata Racun Barat yang kebingungan dan mulai ketakutan.

"Tentu saja bisa terjadi, karena racun mu ini hanyalah kentut babi yang bau. Bagaimana mungkin bisa menyakiti ku," ejek Bima dengan malas, membuat para pendekar di sekitarnya tertawa lagi.

"Siapa kamu sebenarnya...?" tanya Racun Barat dengan terbata-bata, kakinya mulai gemetar.

"Aku hanyalah orang biasa yang mencintai perdamaian, tapi hari ini aku tidak keberatan menjadi dewa kematian untuk mu dan cucu mu itu jika kalian terus mengusik teman ku," kata Bima dengan suara yang tiba-tiba berubah sangat dingin.

"Wusssshhht..."

Jarum Suci Dewa nya melesat dengan kecepatan cahaya, mengunci pergerakan Racun Barat hingga menjadi patung yang tidak bisa bergerak sama sekali.

"Wusssshhh..."

Api Nirvana Bima lemparkan ke tubuhnya untuk membakarnya. Jeritan pilu dan penuh keputusasaan memenuhi seluruh lembah.

"Aaampuuunn...! Ampun, Anak Muda...!" teriak Racun Barat dengan putus asa, namun semua itu sudah terlambat. Api Nirvana adalah api penyucian yang tidak akan padam sampai dosanya bersih.

"Kakek...!!" teriak Tuan Muda itu melihat kakeknya terbakar hidup-hidup.

Bima melirik Tuan Muda itu dengan tatapan dingin.

"Wusssshhh..."

Bima juga membakarnya dengan Api Nirvana. Tuan Muda itu berguling-guling di tanah mencoba memadamkan api, namun Api Nirvana itu tidak mungkin bisa dipadamkan dengan cara biasa. Sampai mati pun, cucu dan kakek itu masih tidak percaya mereka dimusnahkan oleh seorang pemuda yang mereka anggap remeh.

Tak lama setelah itu, jeritan mereka bertukar menjadi keheningan dan abu yang tertiup angin.

Bima berbalik dengan tenang untuk kembali ke tempatnya di sisi Amelia dan Intan, seolah tidak terjadi apa-apa.

Semua orang yang melihat kejadian barusan menjadi bergidik ngeri melihat Bima. Mereka kini tahu, ada monster baru yang jauh lebih mengerikan dari Racun Barat di lembah ini.

Tak lama kemudian, datang seorang mata-mata dari tim pengintai Keraton Solo yang berlari dengan napas terengah-engah.

"Lapor...! Lapor...! Iblis Ekstratoritorial sudah bergerak...! Mereka sudah berhasil menghancurkan segel terakhir...! Paling lama setengah jam lagi akan sampai di tempat kita...!" teriaknya.

Mendengar itu, semua orang pun langsung bersiap, menghunus pedang, menyiapkan jurus, menyambut kedatangan para Iblis Ekstratoritorial dengan wajah tegang.

Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba terdengar suara bergema yang sangat marah dari langit barat.

"Siapa...? Siapa yang telah membunuh keluarga ku...? Siapa yang berani membunuh anak dan cucu ku...?"

Ternyata itu adalah Raja dari Kerajaan Barat, ayah dari Racun Barat dan buyut dari Raden Bagas, bersama para pasukan elitnya yang berjumlah ratusan orang datang dengan kapal perang terbang.

Dengan santai, Bima menjawab dengan suara yang jelas terdengar oleh semua orang.

"Aku yang membunuh mereka. Mereka terlalu sombong karena status yang mereka miliki. Mereka mengganggu teman ku dan meremehkan nyawa orang lain. Mereka memang pantas mati. Apa kau juga mau menyusul mereka ke neraka...?" tanya Bima dengan santai sambil berdiri di depan Amelia dan Intan.

"LANCANG...!!!!" teriak Raja Barat dengan marah, matanya merah. Sejak kapan seorang raja yang dihormati di Banten dan Lampung bisa terhina seperti ini di depan umum.

Saat Raja Barat hendak melakukan penyerangan besar-besaran kepada Bima dengan seluruh pasukannya, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang sangat dahsyat dari arah Gunung Merapi.

"Duuuaaarrr... Groooaarrr..."

Ternyata itu adalah suara auman dari kelompok besar Ras Iblis Ekstratoritorial yang sudah berhasil menghancurkan segel dan sedang menuju tempat mereka untuk menyerang dengan jumlah ribuan.

Melihat itu, Raja Barat menahan serangannya untuk sementara dan berjanji di dalam hati kalau dia akan menghancurkan pemuda itu setelah peperangan melawan iblis ini selesai.

Semua orang pun sudah bersiap di garis depan untuk menyerang.

Bima berkata kepada Ketua Perguruan Anggrek Putih, Pak Wijaya Kusuma, dengan sopan,

"Maaf, Paman Wijaya, bolehkah saya memberi usulan...?" tanya Bima.

"Tentu, katakan, Nak, apa usul mu...?" tanya Ketua Perguruan Anggrek Putih dengan ramah, karena kini ia sudah sangat percaya pada Bima.

"Begini, Paman, untuk mengurangi korban dari pihak kita, saya minta Paman dan semua anggota Perguruan Anggrek Putih tetap di sini, di belakang. Biarkan saya sendiri yang mewakili Perguruan Anggrek Putih maju ke depan," kata Bima dengan santai namun penuh tanggung jawab.

"Apa...? Tidak mungkin...! Itu sangat berbahaya, Nak...! Di depan sana ada ribuan iblis...! Kau bisa mati...!" kata Ketua Perguruan yang kaget sekaligus menolak permintaan berbahaya Bima.

"Paman, percayalah pada ku," kata Bima menyakinkan dengan menatap mata Pak Wijaya.

" Bima, jangan bertindak bodoh, kami khawatir pada mu...!" ucap Intania yang juga khawatir pada Bima sambil memegang erat tangan Bima.

"Bagaimana jika Paman dan yang lainnya melihat aku bertarung terlebih dahulu dari sini. Jika aku terpojok dan butuh bantuan, baru Paman dan yang lainnya membantu ku. Bagaimana...?" kata Bima yang masih berusaha menyakinkan mereka semua dengan senyum tenangnya.

Pak Wijaya terdiam sejenak, melihat kesungguhan di mata Bima, akhirnya ia mengangguk berat.

"Baiklah, jika itu memang keinginan mu, Nak. Tapi ingat, kami semua ada di belakang mu," kata Ketua Perguruan yang tak punya pilihan lain selain percaya.

Setelah itu, Bima pun mulai maju sendirian mewakili Perguruan Anggrek Putih, berjalan pelan ke tengah lembah yang luas, menghadapi arah datangnya ribuan iblis.

Orang-orang di lembah itu mulai berbisik-bisik mengejek Bima, terutama dari Kerajaan Barat.

"Walaupun dia berhasil mengalahkan Racun Barat, bukan berarti dia sanggup menghabisi ribuan Iblis Ekstratoritorial seorang diri. Ini sungguh konyol, cari mati," terdengar suara orang-orang mengejek Bima.

Namun Bima tidak memperdulikan omongan orang-orang itu. Mereka akan tahu kebenarannya setelah mereka melihat buktinya sendiri.

Satu persatu, para pendekar dari berbagai perguruan mulai mengeluarkan kekuatan terbaik mereka masing-masing, pedang-pedang pusaka mulai bercahaya.

Begitu juga dengan Bima yang tak mau ketinggalan. Ia berhenti di tengah lembah, memejamkan mata sejenak, lalu membuka matanya.

Dan untuk pertama kalinya di dunia fana ini, ia mulai mengeluarkan kekuatan tingkat Nirvana nya yang sesungguhnya, tanpa ditahan-tahan lagi.

"Wunggg..."

Langit di atas Lembah Kematian Merapi yang tadinya mendung, perlahan berubah menjadi keemasan.

BERSAMBUNG

1
Night Watcher
bosen....
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
Night Watcher
berarti, kemanapun bima pergi, mereka selalu ikut dong?🤭🤭🤭
Night Watcher
bima masa ikut disebut?🤭🤭
Night Watcher
ternyata masih terjebak di jaman kerajaan. 😇😇🤭🤦
Night Watcher
padahal yg cerita tadi intan & amel, berarti penjaga gerbangnya intan & amel ya? 🤭🤭
Night Watcher
padahal dr sejak awal bertemu bima, intan bercerita "adiknya sedang sakit parah".
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
fareva: Halo kak Night Watcher, terima kasih banyak sudah sangat jeli, ini mata pembaca Lv20 memang beda 🙏

Untuk ini saya luruskan biar tidak bingung ke depannya ya:

1. Nama yang benar adalah "Amelia Sri Anggrek" itu adalah nama draft lama sebelum revisi besar. Jadi sekarang semua sudah saya ganti konsisten menjadi Amelia.

2. Statusnya Amelia adalah "Adik" dari Intania. Intania itu Kakak Tertua sekaligus Ketua Perguruan Anggrek Putih di Ngargoyoso, dan Amelia adalah adik kandung kesayangannya yang sakit racun dingin itu.

Terima kasih sudah diingatkan, Sehat selalu kak!
total 1 replies
Night Watcher
yg benar namanya "amelia" atau "sari anggrek"?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?
fareva: Wah terima kasih koreksinya kak, jeli banget.

Yang benar Amelia ya kak. Sari Anggrek itu nama lama sebelum revisi, jadi ada beberapa bab awal yang kelewat belum keganti.

Dan Amelia itu statusnya adiknya Intania, bukan kakaknya.

Sudah saya catat, akan saya bereskan biar konsisten ke depan. Thanks kak!
total 1 replies
Night Watcher
ternyata yg bisa hidup di alam ini hanya satu pria, sisanya wanita semua... 😂😂😂😂🤭
Night Watcher
gak s4 pamit / ketemu sama bu guru ya pas mau turun gunung? atau aku yg kelewat bacanya?
fareva: Kakak tidak kelewat baca kok, memang sengaja tidak saya tulis pamitnya.

Perpisahan Bima Samudra dengan Gurunya, Ratu Ayu Kirana, di puncak Gunung Lawu itu bukan perpisahan biasa. Itu akan jadi salah satu misteri besar dan kunci utama di Babak IV nanti, kenapa Guru meninggalkan pesan "Jika berjodoh pasti bertemu lagi".

Jadi bukan dilupakan, tapi memang sengaja saya simpan untuk plot twist besarnya. Tungguin ya, nanti akan dijelaskan kenapa Guru harus pergi diam-diam.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!