Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.
Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.
Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.
Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.
KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Berselimut kerinduan.
"Satu suap lagi..!!" Bujuk Bang Oscar saat Pitta menolak makanan apapun.
Sebenarnya Pitta sudah mulai sehat, hanya saja saat berada di sel kemarin kesehatannya mulai menurun. Perawatan rumah sakit pun seakan tidak bisa membuatnya tenang, reda sebentar kemudian kambuh lagi.
"Pak Oscar, ibu kan sedang hamil. Perasaannya tidak menentu. Mungkin sebelum ini, Ibu punya trauma yang teramat sangat, apalagi Bapak sempat jauh beberapa saat. Saya rasa ini adalah akumulasi perasaan ibu yang masih terpendam."
Bang Oscar melihat paras wajah Pitta yang pucat. Ia mengusap keningnya dengan lembut.
"Terima kasih banyak Bu Bagus." Ucap Bang Oscar pada istri 'senior' sepuhnya yang berada di asrama Kompi.
"Sama-sama Pak Oscar."
...
Bang Oscar memeluk Pitta dari belakang. Rumah dinas mereka sudah lebih dari sekedar dingin. Puncak pegunungan memang terasa menusuk tulang.
Istrinya itu tidak bisa tidur. Pitta terus menatap sisi dinging dengan pandangan kosong.
"Pitta nggak mau cerita sama Abang??" Tanya Bang Oscar membujuk dengan sabar.
Pitta masih tetap diam. Bang Oscar mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut.
"Sebenarnya ada apa?? Istri Abang kepikiran apa??"
"Waktu Abang ditahan, ibunya Bang Samuel bikin cerita kalau anak ini... Anaknya Bang Sam. Papa, Mama menuntut Bang Sam dan Bang Satria.. menghajar Bang Sam sampai babak belur." Kata Pitta.
"Kenapa nggak ada yang bilang sama Abang?? Hal seperti ini sangat fatal, dek." Bang Oscar berusaha menanggapi awal cerita sang istri yang kurang mengenakan. "Samuel pindah di Batalyon bawah, kan???? Besok Abang temui dia."
"Inilah salah satu alasan Papa nggak mau cerita sama Abang. Bang Samuel bisa mati di tangan Abang, apalagi kemarin Bang Satria pun kalap. Jangan berantem lagi ya, Bang. Pitta nggak mau Abang di hukum lagi." Pitta sungguh takut jika suaminya harus mendapat hukuman lagi.
Bang Oscar hanya mengulas kilas senyum lalu kembali mengusap perut Pitta.
"A_bang... Percaya kan, kalau ini anak Abang?" Tanya Pitta.
"Percaya. Abang yang ngadonin sampai napas putus sambung, nggak mungkin Abang nggak percaya." Jawab Bang Oscar tegas.
Seketika tangis Pitta pecah. Ia sempat menyangka suaminya itu akan marah dan pergi meninggalkan dirinya setelah mendengar kabar pahit itu. Baru saat ini ia benar berani mengungkapkan ketakutan yang ia rasakan.
"Tapi, Bang. Pitta masih bingung. Kita melakukannya hanya sekali, tapi keesokan harinya Pitta sudah hamil."
Bang Oscar tersenyum geli meskipun hatinya masih terasa begitu sesak. Jujur kabar ini membuat hatinya panas. Ia menarik Pitta lebih dekat ke dalam pelukannya, menatap matanya dalam-dalam dengan senyum yang lembut, menekan segala amarah dalam diri.
"Sudah berapa kali Abang harus jelaskan, sayang... Dengarkan lagi Abang bilang, dengarkan baik-baik..!!" ucapnya pelan namun tegas, jari telunjuknya mengusap lembut sudut mata Pitta yang masih basah. "Sebenarnya... Setelah Abang mengucapkan ijab qobul yang kamu anggap syarat perjanjian drama, saat malam pertama kita bersama, disaat itu juga hati Abang sudah begitu penuh sesak merasakan rindu padamu. Abang mencoba menahan diri, takut menyakitimu karena kamu masih merintih kesakitan, tapi Abang nggak sanggup, Abang nggak kuat. Jujur... Dengan kesadaran penuh, Abang sudah menitipkan harapan terbesar Abang ke dalam rahimmu. Abang melepaskan seluruh kelegaan dan kerinduan yang selama ini Abang tahan di sana, sepenuhnya, tanpa ragu. Abang bahkan tidak menyangka Tuhan begitu cepat mengabulkannya. Hanya sekali, satu kali saja, dan di sana... di dalam dirimu, benih kita mulai tumbuh."
Ia mengecup kening Pitta dengan lembut. Punggung jarinya menyusuri lekuk pipi Pitta.
"Jadi tidak heran beberapa minggu setelahnya, Pitta sudah merasakan tanda-tandanya. Anak ini adalah bukti bahwa perasaan Abang juga perasaanmu tidak pernah sia-sia, bahkan dalam momen yang singkat sekalipun. Abang yakin sepenuhnya. Anak ini adalah buah hati dari cinta kita berdua. Tidak ada keraguan sedikit pun di hati Abang. Abang juga yakin istri Abang tidak akan mungkin menusuk punggung Abang."
Pitta balas mengusap punggung tangan Bang Oscar. Ada perasaan tertahan di balik sebuah kelegaan.
"Ibunya Bang Samuel bilang ke orang-orang kalau Pitta masih selingkuh sama anaknya, tapi... Berita buruk itu bertambah, Bu Mieke juga bilang Pitta selingkuh sama Bang Satria." Imbuh Pitta.
Sejenak Bang Oscar memejamkan mata. Perasaannya mendadak tidak enak mendengar nama adiknya di sebut. Daripada mendengar nama Samuel, nama Satria lebih mengganggu lintas alam bawah sadarnya.
"Kenapa sampai ada masalah sama Satria?? Sedekat apa kamu sama dia saat Abang nggak ada??" Tanya Bang Oscar.
"Selama Abang nggak ada, Bang Satria yang lebih banyak menuruti ngidamnya Pitta. Bahkan saat tengah malam sekalipun Bang Satria selalu siap kalau Pitta sedang menginginkan sesuatu." Jawab Pitta.
Bang Oscar terdiam sejenak, lalu tarik napas dalam. Tatapannya berubah seakan ada sesuatu yang mendesak di matanya, cemburu yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
"Abang tau... Abang tau Satria hanya bermaksud baik." suaranya rendah. "Tapi maafkan Abang... maafkan kalau hari ini pikiran Abang sedang tidak menentu."
Satu tarikan membuat Pitta perlahan mendekat, semakin mendekap istrinya dengan lembut di atas kasur. Ia menopang tubuhnya di atas Pitta tanpa menyakiti, wajahnya hanya berjarak setengah jengkal.
"Abang cemburu, Pitta. Jujur, Abang sakit mendengarnya. Bo*oh memang, tapi Abang ingin jadi satu-satunya orang yang kau cari saat kamu inginkan sesuatu. Apalagi saat kau sedang mengandung anak kita... Abang ingin momen ini, semua tentang kita, hanya milik kita berdua. Abang kesal sempat tidak ada saat kamu butuh suamimu."
Ciuman lembut mendarat di kening lalu turun perlahan ke bibir Pitta, ia menuntut perhatian, menegaskan kepemilikan, sekaligus memohon pengertian. Malam itu, dengan lembut namun penuh kerinduan yang mendesak, ia 'mengajak' istrinya. Bukan karena marah, tapi karena ia butuh merasakan bahwa Pitta benar-benar miliknya, dan ia juga milik Pitta sepenuhnya.
"Pitta nggak kangen Abang??" Bisiknya lembut meremangkan bulu kuduk Pitta.
...
Saat semuanya selesai, Bang Oscar memeluk istrinya erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Pitta. Napasnya masih sedikit memburu, erangan pun masih terdengar pelan menguraikan perasaan sayangnya sekaligus membuat hatinya jauh lebih tenang.
"Pitta suka?? Sudah puas??" Suara tersebut menggema pelan di telinga Pitta.
Pitta menggeleng pelan malu-malu.
Bang Oscar pun tersenyum puas melihatnya, ia tidak ingin gagal menyenangkan hati istrinya.
Siapa sangka, Pitta dengan beraninya balas mengecup bibir Bang Oscar. "Si Adek masih kangen Papa."
"Adek atau Mama??" Bang Oscar sampai gemas melihat ekpresi wajah Pitta, apalagi pipi Pitta sudah semerah tomat matang.
Pitta kesal dan menghindar, tapi Bang Oscar langsung kembali mendekapnya. "Ayooo.. Mau Mamanya atau si Adek.. Sama saja.. Mamanya Abang cintai, si Adek yang Papa lindungi." Suara bariton itu terdengar renyah di telinga. "Suami itu senang sekali kalau istrinya mau inisiatif, Abang merasa Pitta hargai dan Pitta inginkan." Tanpa banyak bicara lagi. Bang Oscar beralih posisi, membiarkan sang istri mengambil kendali namun masih dalam penjagaannya.
.
.
.
.
ditunggu lanjutanya mba
ditunggu lanjutannya mba Nara
lanjut mba Nara👍