NovelToon NovelToon
Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:737
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.

Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.

Rania menolak.

Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.

Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.

Sistem ingin Rania mengikuti takdir.

Rania justru memilih menolaknya.

Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 — Cendol Putri Wanunggalih

Bab 4 — Cendol Putri Wanunggalih

Pagi-pagi sekali, sebelum ayam jantan pun sempat berkokok dengan sungguh-sungguh, Rania sudah berada di dapur kecil belakang paviliunnya.

Di depannya tersusun rapi kelapa parut, gula merah yang sudah diserut, santan segar dalam kendi tanah, dan tepung beras dalam mangkuk besar. Ia menguap lebar sambil mengaduk adonan cendol dengan gerakan setengah sadar, matanya masih setengah terpejam.

"Kenapa jualan harus bangun pagi banget sih," gerutunya, menyeka pipi yang belepotan tepung tanpa sadar.

Sari yang duduk di sampingnya, sudah rapi dan segar seperti tidak pernah tidur larut, tersenyum kecil.

"Karena pasar ramai sejak pagi, Putri."

"Pasarnya rajin sekali," Rania mendesah, mengaduk lebih cepat seolah itu bisa membangunkan dirinya sendiri.

[Tantangan perdagangan: 27%.]

Rania melirik tulisan transparan yang tiba-tiba melayang di depan matanya, hampir menabrak panci saking kagetnya.

"Masih 27? Padahal aku udah capek banget kemarin."

[Belum viral.]

"Padahal kemarin sudah banyak yang beli!" protesnya, suaranya mulai naik.

[Terkenal di pasar belum sama dengan viral.]

Rania mendengus, mengaduk adonan dengan sedikit lebih kasar seolah adonan itu yang salah. "Banyak aturan. Kirain jualan cuma modal senyum sama jujur."

Beberapa jam kemudian, setelah meja kecil dengan papan MINUMAN MANIS kembali berdiri di sudut pasar, keramaian yang datang jauh lebih heboh dari hari sebelumnya.

"Itu minuman putri!"

"Yang kemarin!"

"Dua!"

"Yang tanpa santan satu!"

"Punya saya pakai madu!"

Rania mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi, keringat mulai membasahi pelipisnya.

"Antre dulu! Saya bukan gurita, tangan cuma dua!"

Sari langsung sigap membantu mencatat pesanan di atas daun pisang yang dipotong kecil-kecil, tulisannya cepat namun rapi. Pasar semakin ramai, suara tawar-menawar dari lapak lain bahkan mulai kalah oleh riuh orang-orang yang berebut antre di meja Rania.

Beberapa orang bahkan datang bukan karena haus, melainkan sekadar penasaran ingin melihat langsung sosok putri kerajaan yang katanya berjualan sendiri di pasar sebuah pemandangan yang jelas tidak pernah terjadi sebelumnya di Wanunggalih.

Rania tidak terlalu peduli alasan mereka datang. Selama mereka membeli, ia akan tetap tersenyum sambil menuangkan cendol sampai lengannya terasa mau lepas.

Tiba-tiba

[Ting!]

[Popularitas meningkat.]

Rania yang sedang menuang santan langsung mendongak, matanya berbinar penuh harap.

"Naik?"

[43%.]

"YES!" Ia mengepalkan tangan penuh semangat, hampir menumpahkan gelas di tangannya sendiri. "Sedikit lagi! Latte, tunggu aku!"

Namun belum sempat euforia itu reda, suara sistem kembali terdengar, kali ini dengan nada yang terasa berbeda.

[Peringatan.]

Senyum Rania langsung luntur seketika.

"Apa lagi sekarang?"

[Perubahan alur cerita terdeteksi.]

"Perubahan apa?" Ia menurunkan gelas, mulai waspada.

[Pangeran Mukti Samudera telah memasuki Wanunggalih.]

Rania membeku di tempat. Gelas di tangannya hampir terlepas jatuh, untung saja Sari cepat menangkapnya.

"...Mukti?" suaranya nyaris berbisik.

[Benar.]

Rania menelan ludah, jantungnya mulai berdegup lebih cepat dari biasanya.

"Yang sepupu itu?"

[Benar.]

"Yang disuruh aku nikahi?"

[Benar.]

Rania langsung meletakkan gelas dengan kasar ke meja, membuat beberapa pembeli di depannya berjengit kaget.

"KENAPA DIA DATANG SEKARANG?!"

Beberapa pembeli menoleh, bingung dengan reaksi tiba-tiba itu.

Rania buru-buru memasang senyum kaku. "Ti-tidak apa-apa. Lanjut antre saja, ya."

Setelah pembeli-pembeli itu kembali sibuk sendiri, Rania mendekatkan wajahnya ke udara kosong, berbisik penuh tekanan.

"Dengar."

[Ya, Host.]

"Kalau dia datang dan bilang mau menikahiku..." Rania menunjuk dirinya sendiri dengan gerakan dramatis, "aku kabur."

[Misi utama akan gagal.]

"Biar!"

[Poin akan berkurang.]

"Biar!!"

[Kesempatan kembali ke dunia asal semakin kecil.]

Rania terdiam. Gerakan tangannya yang tadi menunjuk-nunjuk perlahan turun.

"...

Ia menarik napas panjang, menahan diri agar tidak berteriak lebih keras lagi di tengah pasar. Kemudian menunjuk ke arah kosong dengan mata menyipit kesal.

"Kamu curang."

[Sistem hanya menyampaikan konsekuensi.]

"Pokoknya," Rania mengepalkan tangan, "aku tidak mau menikahi sepupu sendiri. Titik."

Ia melirik ke arah jalan utama pasar yang biasanya hanya dilewati pedagang dan pembeli. Kali ini berbeda beberapa prajurit berseragam rapi dengan lambang kerajaan mulai terlihat berjalan di depan, membuka jalan. Di belakang mereka, sebuah kereta kayu berukir emas dengan tirai sutra bergerak pelan namun pasti mendekati pasar.

Wajah Rania langsung pucat pasi.

"Jangan bilang itu dia."

Sari menoleh, mengikuti arah pandangan Rania, matanya melebar. "Putri?"

Rania buru-buru menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik topi caping yang kebetulan tergeletak di meja jualannya.

"Kalau ada yang tanya, aku bukan Wening."

Sari terbelalak, hampir menjatuhkan daun pisang catatan pesanan. "Putri?!"

"Aku pedagang."

"Putri!!"

"Namaku..." Rania berpikir cepat, matanya melirik ke arah panci cendol di depannya.

"Cendolwati."

Sari menutup mulut dengan kedua tangan, antara mau tertawa dan mau menangis saking paniknya.

"Cendolwati?"

"Diam. Pura-pura kenal aja."

Kereta itu semakin dekat, suara roda kayunya berderit pelan di jalanan tanah pasar. Beberapa pedagang lain mulai membungkuk hormat, bisik-bisik mulai menyebar di antara kerumunan.

Rania mulai panik, tangannya meremas ujung capingnya erat-erat.

"Kenapa harus sekarang, sih," gumamnya frustrasi.

Ia baru saja menemukan cara mendapatkan uang. Baru hampir menyelesaikan tantangan pertamanya. Popularitasnya baru saja naik ke angka yang membanggakan.

Dan sekarang, lelaki yang menurut sistem harus dinikahinya itu sepupunya sendiri, entah wajahnya seperti apa sedang menuju tempat yang sama persis dengan tempatnya berdiri sekarang.

Rania mengambil satu gelas cendol penuh, menggenggamnya erat seperti senjata terakhir.

"Kalau dia mendekat..." Ia menatap kereta yang semakin dekat dengan tatapan penuh perhitungan, seperti prajurit menghadapi musuh di medan perang.

"Aku siram."

[Host tidak disarankan melakukan kekerasan terhadap target misi.]

"Ini bukan kekerasan," Rania mengangkat gelasnya lebih tinggi, matanya berkilat penuh determinasi.

"Ini cendol."

Sari yang berdiri di sampingnya hanya bisa menepuk dahi sendiri, sudah tidak tahu lagi harus tertawa atau ikut panik menghadapi apa yang akan terjadi selanjutny karena kereta itu kini benar-benar berhenti tepat di depan meja kecil bertuliskan MINUMAN MANIS.

-

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!