Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.
Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.
Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.
Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.
Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.
Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.
“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”
“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”
Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Melepas Putri Pertama
Siang hari akhirnya tiba.
Hari yang sejak beberapa waktu lalu sudah diketahui akan datang, tetapi tetap terasa berbeda ketika benar-benar harus dijalani.
Jove akan meninggalkan rumah keluarga Dewantara.
Bukan untuk pergi jauh.
Bukan pula untuk meninggalkan keluarganya.
Namun kali ini berbeda.
Ia pergi sebagai seorang istri.
Dan ini pertama kalinya, kamar yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya pulang tidak lagi menjadi tempat ia tidur setiap malam.
Di lantai atas, Alaska dan Jihan masih berada di dalam kamar.
Jihan berdiri di depan cermin, mencoba memastikan wajahnya terlihat baik-baik saja. Namun matanya sedikit sembab.
Alaska yang berdiri tidak jauh darinya memperhatikan istrinya dalam diam.
Sejak pagi, pria itu sudah beberapa kali menguatkan Jihan.
Namun sebenarnya, hatinya sendiri tidak jauh berbeda.
Ia juga berat.
Jove adalah putri pertamanya.
Putri yang sejak kecil selalu berada di dekatnya.
Putri yang tumbuh menjadi perempuan yang membuatnya bangga.
Kini, putri itu akan pergi mengikuti suaminya.
Alaska menghela napas panjang.
“Mommy…”
Jihan menoleh.
“Bagaimana ini, Daddy berat harus melepas Jove.” Suara Alaska terdengar lebih berat dari biasanya.
Jihan menatap suaminya. “Mommy juga berat.”
Ia tersenyum tipis, meski matanya kembali berkaca-kaca.
“Harusnya Daddy jangan menyuruh Jove cepat-cepat menikah. Kita harus melepas Jove.”
Alaska mendekat. Tanpa banyak kata, ia memeluk istrinya.
Jihan membalas pelukan tersebut.
Keduanya sama-sama tahu bahwa keputusan ini adalah keputusan yang mereka dukung.
Mereka juga tahu Jove sudah memilih jalannya sendiri.
Namun mengetahui hal itu tidak membuat hati mereka menjadi lebih ringan.
Anak tetaplah anak.
Tidak peduli sudah berapa pun usianya.
Bagi orang tua, seorang anak akan selalu menjadi seseorang yang ingin mereka lindungi.
Beberapa saat kemudian, Alaska melepaskan pelukannya.
Ia mengusap wajah Jihan dengan lembut.
“Jangan menangis lagi.”
“Kamu juga.”
Alaska tersenyum kecil.
“Aku akan berusaha.”
Jihan menarik napas panjang.
“Kalau begitu kita keluar.”
Mereka saling mengangguk.
Setelah merasa cukup tenang, keduanya keluar dari kamar.
Di depan kamar, mereka sudah melihat Jove dan Nic yang telah bersiap.
Jove membawa beberapa barang yang memang akan dibawanya ke apartemen. Sebagian besar barang pribadinya sudah lebih dulu dipindahkan.
Jove melihat kedua orang tuanya.
Ia tahu.
Mereka sedang berusaha terlihat biasa saja.
Namun mata Jihan tidak bisa berbohong.
Jove kemudian menghampiri ibunya.
“Mom.”
Jihan tersenyum.
“Sudah siap?”
Jove mengangguk.
“Sudah.”
Jihan berusaha mempertahankan senyumnya.
Sesuai permintaan Jove, tidak ada seorang pun yang akan mengantar mereka sampai apartemen.
Jove tahu jika kedua orang tuanya ikut, mereka justru akan semakin berat melepasnya.
Karena itu ia memilih pergi bersama Nic.
“Mommy sama Daddy tidak perlu ikut,” kata Jove sebelumnya. “Kalau ikut sampai apartemen, nanti malah sedih terus.”
Dan sekarang, keputusan itu terasa tepat.
Jihan menatap putrinya cukup lama.
Kemudian ia mendekat.
“Sering-seringlah main dan menginap di sini.”
Suaranya mulai bergetar.
“Rumah ini tetap rumahmu. Mommy tetaplah Mommymu.”
Jove tidak mampu menjawab.
Ia langsung memeluk ibunya.
Begitu tubuh mereka bertemu, air mata yang sejak tadi ditahan Jihan akhirnya jatuh.
“Maaf jika Mommy belum bisa jadi Mommy yang baik untukmu, ya, Jove.”
Jove mengusap punggung ibunya.
“Mommy jangan bicara begitu.”
“Mommy cuma berharap kamu selalu bahagia.”
Jihan menarik napas di sela tangisnya.
“Bahagia bersama Nic.”
Jove terdiam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena kebahagiaan yang dimaksud ibunya ternyata berdiri di atas sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Pernikahan mereka bukan seperti yang keluarga bayangkan.
Tidak ada cinta yang menjadi alasan mereka menikah.
Hanya kesepakatan.
Sebuah drama yang semakin hari justru terasa semakin nyata.
Jove semakin erat memeluk ibunya.
“Mommy sudah menjadi ibu yang hebat.”
Suaranya ikut bergetar.
“Maaf jika Jove belum bisa membahagiakan Mommy.”
Jihan menggeleng.
“Mommy bahagia kalau melihatmu bahagia.”
Ia kemudian melepaskan pelukan dan memegang kedua sisi wajah putrinya.
“Berbahagialah bersama Nic, Jove.”
Jove hanya mengangguk.
Ia tidak berani mengatakan apa pun.
Jika ia membuka mulut, mungkin air matanya akan semakin deras.
Ia kemudian mengusap pipi ibunya.
Setelah pelukan itu terurai, Alaska berdiri di hadapan putrinya.
Tidak seperti Jihan yang banyak mengucapkan kata-kata, Alaska justru hanya diam.
Ia menatap Jove.
Lama.
Kemudian memeluk putrinya.
Pelukan seorang ayah kepada anak perempuannya.
Tidak terlalu erat.
Namun cukup untuk membuat Jove merasa kembali menjadi gadis kecil yang dulu selalu mencari pelukan ayahnya ketika sedang sedih.
Alaska menepuk punggung putrinya pelan.
Tidak banyak kata.
Hanya satu kalimat.
“Kamu tetap anak Daddy selamanya.”
Kalimat sederhana itu justru menghancurkan pertahanan Jove.
Air matanya akhirnya jatuh.
Ia memejamkan mata dalam pelukan ayahnya.
“Aku menyayangimu, Dad.”
Alaska mengusap rambut putrinya.
“Daddy juga.”
Di belakang mereka, Nic berdiri dalam diam.
Ia melihat semuanya.
Untuk pertama kalinya, Nic benar-benar melihat seberapa besar arti Jove bagi keluarganya.
Bukan sekadar putri seorang konglomerat.
Bukan sekadar CEO Dewantara Group.
Jove adalah putri pertama yang tumbuh di tengah keluarga yang begitu menyayanginya.
Dan sekarang ia membawa Jove pergi dari rumah itu.
Meskipun Jove sendiri yang memilih.
Meskipun semua ini sudah mereka sepakati.
Tetap saja, ada sesuatu yang mengganggu hati Nic.
Untuk pertama kalinya ia merasa sedikit menyesal.
Bukan menyesal menikahi Jove.
Tetapi menyesal karena menyeret perempuan itu ke dalam sebuah drama yang mungkin akan membuat keluarganya terus berharap.
Padahal mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Nic mengembuskan napas perlahan.
Namun semuanya sudah berjalan.
Dan tidak mungkin dihentikan begitu saja.
Di sisi lain, Jonathan dan Jordi yang sejak tadi berusaha menahan diri akhirnya ikut mendekat.
Biasanya kedua pria itu tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menggoda kakaknya.
Namun kali ini tidak ada candaan.
Mata mereka bahkan terlihat berkaca-kaca.
Jonathan lebih dulu memeluk Jove.
Jordi ikut merangkul dari sisi lain.
Jove sampai tertawa kecil di tengah air matanya.
“Kenapa malah berdua?”
“Supaya Kakak tidak kabur,” jawab Jordi.
Jove tertawa kecil.
Untuk sesaat suasana menjadi sedikit lebih ringan.
Jonathan kemudian berkata,
“Berbahagialah, Kak.”
Suaranya terdengar lebih serius.
“Apapun yang terjadi, kami akan selalu ada untuk Kakak.”
Jove mengangguk.
“Jaga Mommy dan Daddy.”
“Itu pasti, Kak,” jawab Jordi.
Jove menatap kedua adiknya.
“Jangan sering bikin mereka pusing.”
Jonathan langsung tersenyum.
“Itu tidak bisa dijamin.”
Jove tertawa kecil sambil menggeleng.
Begitulah cara mereka mengurangi rasa haru yang mulai memenuhi suasana.
Setelah itu, Jove berpamitan kepada orang-orang di rumah.
Tidak ada acara khusus.
Tidak ada perpisahan yang dibuat berlebihan.
Hanya pelukan, ucapan hati-hati, dan beberapa kali Jihan meminta putrinya untuk sering pulang.
Nic pun berpamitan kepada Alaska, Jihan, Jonathan, dan Jordi.
“Terima kasih sudah mengizinkan aku membawa Jove.”
Alaska menepuk bahu Nic.
“Jaga dia.”
Nic mengangguk.
“Aku akan berusaha.”
Jihan kemudian tersenyum.
“Jangan lupa bawa dia pulang sesekali.”
“Pasti, Mom.”
Setelah semuanya selesai, Jove dan Nic berjalan menuju mobil.
Kali ini Nic yang mengendarai sendiri.
Jove masuk ke kursi penumpang.
Sebelum menutup pintu, ia kembali menoleh.
Alaska, Jihan, Jonathan, dan Jordi masih berdiri di teras.
Jove tersenyum.
Tangannya melambai kecil.
Mereka membalasnya.
Kemudian pintu mobil tertutup.
Nic menyalakan mesin.
Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah keluarga Dewantara.
Jove masih melihat ke belakang.
Semakin lama rumah itu semakin jauh.
Sampai akhirnya hanya terlihat dari spion.
Jove menatapnya cukup lama.
Dad.
Mom.
Jonathan.
Jordi.
Rumah yang selama ini selalu menjadi tempatnya pulang.
Kini perlahan menghilang dari pandangan.
Air mata kembali mengalir.
Jove menundukkan wajah.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tangisnya tidak keras.
Ia hanya berusaha menahan sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, Nic melihat Jove seperti itu.
Rapuh.
Tidak seperti Jove yang selama ini ia kenal.
Perempuan yang selalu tegas.
Selalu tenang.
Selalu terlihat mampu mengendalikan semuanya.
Namun kali ini, Jove hanya seorang anak perempuan yang baru saja meninggalkan rumah orang tuanya.
Nic tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya mengemudikan mobil beberapa saat dalam diam.
Kemudian, ketika melihat Jove masih menangis, ia menepikan mobil di pinggir jalan.
Jove yang merasa laju mobil berhenti perlahan menurunkan kedua tangannya.
Ia menoleh.
Nic mengambil beberapa lembar tisu dari tempat penyimpanan di dekatnya lalu mengulurkannya kepada Jove.
Jove menatap tisu itu.
Kemudian mengambilnya.
“Terima kasih.”
Suaranya terdengar parau.
Nic hanya mengangguk.
Ia tidak bertanya apakah Jove baik-baik saja.
Tidak mengatakan agar Jove jangan menangis.
Ia tahu tidak semua tangisan membutuhkan nasihat.
Kadang seseorang hanya membutuhkan waktu untuk mengeluarkan apa yang selama ini ditahannya.
Nic kembali melajukan mobil.
Kali ini Jove tidak lagi melihat ke belakang.
Ia mengusap sisa air mata di wajahnya dan mencoba menenangkan diri.
Perjalanan menuju apartemen berlangsung dalam diam.
Tidak ada percakapan panjang.
Nic tetap fokus mengemudi.
Jove melihat keluar jendela.
Perasaannya perlahan mulai tenang.
Hingga akhirnya mobil memasuki area apartemen mereka.
Rumah baru.
Kehidupan baru.
Dan sebuah pernikahan yang belum benar-benar mereka pahami akan membawa mereka ke mana.
Begitu sampai, Nic membawa beberapa barang yang diperlukan.
Jove berjalan menuju ruang tamu apartemen yang akan menjadi bagian dirinya.
Sebelum masuk, Nic berkata,
“Istirahatlah.”
Jove mengangguk.
“Iya.”
Tidak ada kata lain.
Jove masuk ke kamarnya.
Pintu tertutup.
Ia berdiri di tengah ruangan dan melihat sekeliling.
Kamar itu tidak seluas kamar di rumah orang tuanya.
Tidak memiliki begitu banyak kenangan.
Tidak ada suara langkah Jihan yang terkadang masuk tanpa mengetuk.
Tidak ada suara Jonathan dan Jordi yang saling berteriak dari lantai bawah.
Tidak ada Alaska yang sesekali memanggil namanya.
Hanya sebuah kamar baru.
Namun semuanya sudah dibuat senyaman mungkin.
Jove berjalan menuju jendela.
Ia memandang pemandangan kota dari sana.
“Mulai sekarang…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Hanya menghela napas panjang.
Kamar ini akan menemani hari-harinya ke depan.
Rumah ini akan menjadi tempatnya pulang.
Dan Nic akan menjadi orang yang tinggal bersamanya.
Jove kemudian duduk di tepi tempat tidur.
Ia menatap kosong ke depan.
Sementara itu, di kamar lain, Nic juga belum melakukan apa-apa.
Ia berdiri di dekat jendela.
Pikirannya terus kembali pada kejadian beberapa jam terakhir.
Pelukan Jihan.
Tatapan Alaska.
Jonathan dan Jordi yang menahan tangis.
Dan terutama wajah Jove ketika melihat rumahnya semakin jauh dari spion mobil.
Nic mengusap wajahnya perlahan.
Kesepakatan mereka kembali terlintas di kepalanya.
Pernikahan ini seharusnya sederhana.
Tidak ada cinta.
Tidak ada tuntutan.
Tidak ada kewajiban untuk saling memiliki.
Namun hari ini, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Ia melihat seorang keluarga yang begitu menyayangi Jove.
Dan dirinya menjadi pria yang membawa perempuan itu pergi dari rumahnya.
“Aku pria yang jahat sekali.”
Nic menggumam pelan.
Ia mengusap wajahnya sekali lagi.
Kemudian menghela napas panjang.
“Aku harus bagaimana?”
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan apartemen yang mulai menjadi rumah baru mereka.